Tuban semakin menjerit

Kota Tuban merupakan salah satu kota yang nampaknya semakin kian terjepit. Rakyatnya yang menjerit  semakin redup terdengar menyuarakan batinnya.

Semen Gresik yang sudah sejak lama beroperasi disana berencana memperluas kawasan pertambangannya, dan banyak warga masyarakat yang berbondong-bondong menolak rencana tersebut. Penolakan tersebut dikarenakan banyak warga yang mengkhawatirkan mata pencaharian mereka sebagai petani akan terancam. Read more »

Si umur panjang yang tidak pernah tua

Beberapa bulan lalu tepatnya July 2010, salah satu artikel yang terbit di Biology Letters” telah mengguncang dunia karena diyakini akan merevolusi pandangan tentang ilmu penuaan.

Temuan ini nampaknya akan menentang segala macam prediksi yang selama ini ditawarkan oleh teori-teori penuaan. Selama ini diyakini, bahwa umur panjang dari Proteus disebabkan oleh ukuran tubuh yang besar, tidak ada predator, lambatnya laju metabolisme dan diperkirakan karena karena hasil metabolisme menyebabkan kerusakan pada organisme yang diperbaharui terus menerus sepanjang hidupnya. Read more »

Karst Sukolilo: dianggap rusak, dirusaklah sekalian….

Salah satu sudut Karst Maros, Sulawesi Selatan

Mungkin judul itulah yang tepat untuk mensarikan pendapat Bupati Tasiman seperti yang diberitakan Koran Tempo sebulan yang lalu.

Pemerintah Kabupaten Pati, menurut Tasiman, tetap berpendapat Kawasan Kendeng tepat untuk pabrik semen karena di atasnya ada kapur dalam jumlah besar. “Kalau dibiarkan, selamanya tidak bisa untuk penghijauan karena di atasnya ada kandungan kapur,” ujarnya. Dia juga menjamin pabrik semen tidak akan mengganggu sumber mata air seperti yang selama ini dikhawatirkan warga. “Sudah ada standar dan mekanisme bagaimana mengelola pabrik penambangan.”

Dari ungkapan tersebut tercermin betapa bapak bupati yang terhormat menganggap Kawasan Kendeng layak ditambang karena tidak mungkin dihijaukan karena diatasnya ada kandungan kapur. Read more »

Haruskah caver asing perlu mempunyai ijin penelitian?

Cave diver asal Australia di salah satu gua di Pulau Muna, hasil kerjasama LIPI-MNHN-IMEDEA

Indonesia merupakan salah satu tujuan para caver dunia untuk melakukan kegiatan eksplorasi. Kekayaan alam Indonesia dengan bentang alam karst-nya mengundang berbagai pegiat penelusuran gua  untuk habis-habisan mengeksplorasi misteri di dalamnya.

Sebut saja kawasan karst Maros, bertubi-tubi penelusur gua dari Perancis keluar masuk gua untuk memetakan gua yang akhirnya Indonesia memiliki gua terpanjang, salah satunya Gua Salukan Kallang.

Selain itu, pada tahun 1982-84, bukan hanya penelusur gua dari Perancis yang datang ke Indonesia, caver dan speleolog Inggris mengeksplorasi gua di Gunung Kidul. Beberapa adalah ilmuwan yang bertugas mengeksplorasi sistem perguaan dan sekaligus memetakan sistem hidrologi yang ada disana.

Kegiatan ini telah memberi kontribusi yang signifikan bagi perkembangan dunia penelusuran gua dan sekaligus pengetahuan keilmuan tentang speleologi.

Dari hasil kegiatan penelitian BCRA di Gunung kidul tersebut telah memberikan sumbangsih bagi daerah Gunung Kidul khususnya untu ketersediaan air bersih.

Selain dari Perancis dan Inggris, penelusur gua dari Australia dan beberapa negara lain juga intensif melakukan kegiatan eksplorasi gua.

Read more »

Sejak kapankah kala-cemeti ada di muka bumi?

Kala-cemeti, atau nama ilmiahnya dikenal dengan Amblypygi, merupakan salah satu kelompok Arachnida yang mempunyai bentuk menyeramkan.

Tubuhnya yang pipih dengan capit berduri yang tajam ditambah dengan kaki depan yang memanjang seperti antena, dan tiga pasang kaki untuk berjalan yang panjang menambah kesan seakan kala-cemeti merupakan hewan beracun yang berbahaya.

Namun, semua itu ternyata tidak benar. Kala cemeti merupakan salah satu kelompok yang tidak beracun, penampakan yang seram tidak menggambarkan bahaya yang sesungguhnya.

Sampai saat ini, di dunia baru dikenal sekitar 150 jenis kala-cemeti yang tersebar di lingkar tropis yang terdiri dari 17 marga, di dalam lima famili.

Dari seluruh jenis yang dikenal, ada beberapa jenis yang sudah tidak lagi ditemukan di muka bumi ini dalam keadaan hidup, melainkan dalam bentuk fosil yang terawetkan dalam batuan. Read more »

Safety First – Caving next!

Safety, mungkin itu salah satu kata yang akrab bagi kita-kita yang giat di penelusuran gua. Para pegiat maupun penikmat penelusuruan gua pasti akan ditekankan prosedur keselematan.

Pecinta alam maupun kelompok caving akan menekankan keselamatan sebagai ‘materi’ dasar yang harus dikuasai oleh para calon penelusur gua atau lebih keren dipanggil “Caver”. Read more »

Ketika aku ingin menjadi guru

Menjadi guru mungkin saja adalah cita-citaku ketika SD kelas 1, ketika waktu itu setiap anak ditanya satu persatu apa cita-cita ketika besar nanti.

Waktu itu yang jelas terbersit adalah Guru, karena waktu itu tidak pernah terbersit bahkan tidak pernah tahu kalau ada yang namanya profesi Peneliti apalagi Taksonom.

Profesi Guru merupakan satu profesi yang paling pertama dikenal oleh kita, karena ketika pertama kali sekolah kita langsung dihadapkan dengan seorang Guru.

Namun berbeda dengan aku, sebelum sekolah aku sudah mengenal apa dan siapa itu guru. Bapakku seorang guru SMP yang mengajar mata pelajaran IPS salah satunya Geografi. Setiap senin pagi, pagi-pagi benar bapak sudah berangkat menuju terminal bus Purworejo, yang waktu itu masih bertempat di Purworejo Plaza, meksipun plasanya sampai sekarang tidak jelas bentuknya. Read more »

Ikan jenis baru dari pedalaman Karst Sangkulirang, Kalimantan Timur

Pada tanggal 3 Agustus 2010, dalam jurnal taksonomi ZOOTAXA No. 2557 Hal. 39-48, salah satu peneliti ikan Puslit Biologi LIPI menemukan ikan jenis baru dari Kawasan Karst Sangkulirang, Kalimantan Timur.

Dalam artikel berjudul “Nemacheilus marang, a new loach (Teleostei: Nemacheilidae) from Sangkulirang karst, eastern Borneo”, Ibu Renny K. Hadiaty, telah berhasil mempublikasikan ikan jenis baru dengan nama Nemacheilus marang Hadiaty & Kottelat 2010 . Ikan yang ditemukan di Sungai marang tersebut merupakan salah satu hasil penelitian LIPI khususnya Puslit Biologi dengan the Nature Conservancy yang melakukan kegiatan eksplorasi selama 5 minggu di belantara karst Kalimantan.

Sebelumnya, beliau juga telah menemukan ikan dari marga yang sama yaituNemacheilus tebo Hadiaty & Kottelat 2009 dari formasi karst yang sama namun berbeda lokasi yaitu Danau tebo yaitu salah satu danau karst yang ada di pedalaman Sangkulirang yang hanya mudah diakses dengan helikopeter. Perjalanan darat bisa memakan waktu 3 hari untuk mencapai desa terdekat, dengan melewati tebing-tebing curam dengan batu yang tajam.

Selamat buat Ibu Renny dan maju terus dengan karya-karyanya.

Opiliones 3: Pangaea – tanah leluhur trah cyphos

Stylocellus

Pada dongeng sebelumnya diceritakan bagaimana trah cyphos khususnya keluarga Stylo dan Siro mengembara sampai tempat di mana saat ini berada. Saat ini saya mencoba berbagi ketika Pangaea kemudian tercerai berai menjadi Gondwana dan Laurasia kemudian Gondwana tercerai berai menjadi benua-benua yang ada saat ini. Konon, trah Cyphos telah menghuni benua raksasa Pangaea jauh sebelum benua tersebut tercerai berai menjadi seperti saat ini.

Dongeng yang akan saya ceritakan, merupakan dongeng yang lebih banyak menerjemahkan dan menyarikan sebuah artikel yang cukup menarik untuk dibagi karena menjelaskan bagaimana bumi yang saat ini kita pijak bergeser satu sama lain hingga membentuk daratan yang ada saat ini sebagai hasil rekrontruksi berdasarkan studi kekerabatan diantara keluarga trah Cyphos.

Read more »

Opiliones 2: Stylos – pengembara Nusantara

Stylos, sang pengembara nusantara (Stylocellidae, sp.)

Setelah dongeng sebelumnya menceritakan bagaimana keluarga Stylo berkelana hingga beberapa marga-nya seperti Megha, Fang, Miop dan Stylos (Lepto) akhirnya sampai di tempat di mana mereka saat ini berada. Ketika kemudian Fang akhirnya memilih negeri gajah putih sebagai tempat untuk menetap hingga akhirnya mempunyai empat keturunan disana.

Sedangkan kerabatnya, Stylos, yang terus mengelana ke selatan dan kemudian ke timur lebih tertantang untuk mengelana di Nusantara yang sebagian besar menjadi apa yang sekarang disebut dengan INDONESIA. Read more »

Taksonomi dan posisi Indonesia

Gedung inilah yang menyimpan koleksi sekaligus tempat dimana orang-orang yang bergelut dalam dunia taksonomi di Indonesia

Taksonomi merupakan satu bidang yang mungkin masih sangat asing bagi bangsa Indonesia. Banyak masyarakat umum pasti tidak menganggap bagaimana taksonomi dapat berperan bagi kemajuan bangsa dan membantu meningkatkan kesejateraan hidup.

Dibandingkan bidang lain seperti teknologi informasi, ekonomi, politik, komunikasi dan lain sebagainya, taksonomi masih menjadi satu hal yang asing dan sulit dimengerti oleh masyarakat umum. Read more »

Opiliones 1: Pengembaraan si kecil dari Gondwana sampai Sundaland

Stylocellus sp. dari Gunung halimun

Hewan kecil berkaki delapan ini mungkin tidak banyak dikenal oleh masyarakat luas, karena tempat hidupnya yang sangat unik dan khas yaitu di kantong-kantong serasah di hutan-hutan yang belum terganggu. Beberapa jenis juga ditemukan hidup di dalam gua-gua di beberapa pulau besar di Indonesia.

Hewan kecil yang masuk ke golongan Arachnida ini dikelompokkan dalam ordo Opiliones sub ordo Cyphophthalmi. Salah satu famili yang dikenal di kawasan Asia Tenggara adalah Stylocellidae yang mempunyai beberapa marga. Read more »

Species Update: Ternyata masih ada katak jenis baru di Lampung

Hari ini, Zootaxa menerbitkan satu artikel tentang temuan katak jenis baru dari Lampung. Di tengah ancaman yang sangat tinggi terhadap keberadaan keanekaragaman hayati Indonesia  akibat kerusakan lingkungan, temuan jenis baru ini memberikan secercah harapan namun sekaligus ironi.

Adalah Amir Hamidy, seorang peneliti di Museum Zoologicum Bogoriense Bogor,  Cibinong dan profesornya yang telah berhasil menemukan katak jenis baru tersebut. Artikel yang berjudul ” A new species of a blue-eyed Leptobrachium (Anura, Megophryidae) from Sumatra, Indonesia” terbit dalam jurnal ZOOTAXA 2395: 34-44 tanggal 10 Maret 2010. Read more »