Skip to content

Amauropelma matakecil, laba-laba gua dari Menoreh

January 10, 2012

Amauropelma matakecil, si mata kecil penghuni gua-gua Bukit Menoreh, (Foto: Sidiq Harjanto)

Penemuan laba-laba jenis baru telah dipublikasikan dalam jurnal taksonomi Zookeys yang terbit pada tanggal 9 Januari 2012 dalam sebuah artikel berjudul ”A troglomorphic cave spider from Java (Araneae, Ctenidae, Amauropelma)” Zookeys 163 halaman 1-11 yang ditulis oleh Jeremy Miller dari Naturalis Leiden Belanda dan Cahyo Rahmadi dari Pusat Penelitian Biologi LIPI. Read more…

Malang – merangkak dan berendam (Part 3)

November 10, 2011

Lorong gua menuju mulut Gua Lou (C. Rahmadi)

Setelah sore tanggal 4 Oktober 2011 kita harus bersesak napas di Gua Siyem, tanggal 5 Oktober Maya dan Baihaqi menemani kita untuk menyusuri gua yang relatif dekat dengan basecamp.

Ketika di basecamp, Maya hanya menyampaikan kalau ada dua gua di dekat basecamp, yaitu Gua Lou dan Gua Bangi. Akhirnya jam 10-an kita berangkat menuju Gua Bangi terlebih dahulu, menyusuri jalan tanah desa.

Sampai di lembah dengan sumur yang masih berair, Maya menunjukkan kalau ada mulut gua di kaki tebing dekat pohon bambu, katanya Gua Lou. Karena guanya nanti akan dilewati lagi, akhirnya kita memutuskan menuju Gua Bangi yang lebih jauh dari Gua Lou. Read more…

Apa yang salah dengan Gua Ngerong, Tuban?

November 4, 2011

Gerombolan kelelawar dari jenis Rousettus sp. di depan mulut gua (C. Rahmadi)

Beberapa waktu lalu, saya diberitahu Sigit Wiantoro, kolega di museum yang baru saja mengunjungi Tuban untuk mengkoleksi beberapa spesimen tambahan kelelawar jenis baru yang dia temukan di gua-gua di Tuban.

Dia bilang, populasi kelelawar di Gua Ngerong lebih sedikit dibandingkan dengan sebelumnya. Dulu, banyak sekali kumpulan kelelawar dari jenis Rousettus yang bergelantungan di sekitar mulut gua.

Namun kini, jumlah itu lebih sedikit dibandingkan tutupan sekarang dengan tutupan beberapa tahun lalu.

Apa penyebab berkurangnya populasi kelelawar disana?

Read more…

Kepiting gua dari Malang Selatan

November 2, 2011

Kepiting gua yang ditemukan di salah satu gua di Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang ini telah menjawab rasa penasaran saya selama ini.

Setelah malam-malam berhasil mencapai gua di tengah hutan ini akhirnya saya yakin, dugaan saya selama ini benar, bahwa kepiting yang ada di Malang ini termasuk dalam Marga Karstarma yang selama ini di Pulau Jawa hanya dikenal satu jenis yang ditemukan di Gunungsewu yaitu Karstarma jacobsoni.

Kepiting dari marga Karstarma merupakan kelompok kepiting dengan nama marga yang baru diusulkan tahun 2007 oleh taksonom dari Singapura.

Marga Karstarma menaungi jenis-jenis yang umumnya ditemukan di daerah karst khususnya gua-gua seperti di Gunungsewu, Malang dan Maros di Sulawesi Selatan.

Read more…

Kalacemeti dari Malang Selatan (Arachnida: Amblypygi)

October 27, 2011

Kalacemeti dari marga Charon di Gua Lo-Bang, ditemukan di dinding gua (Foto C. Rahmadi)

Ada banyak alasan untuk mengunjungi Malang tanggal 3-6 Oktober 2011 lalu, dari sisi hasrat menelusuri gua, saya belum pernah sama sekali menginjakan sepatu bootku di gua-gua di Malang.

Secara ilmiah, Malang masih menyisakan ruang kosong di tanah Jawa yang belum sempat dipenuhi.

Malang Selatan menjadi daerah baru secara ilmiah buatku, meskipun ada beberapa contoh hewan gua yang ada dalam koleksiku. Namun, masih banyak hal yang belum bisa saya jawab sebelum Malang saya susuri.

Read more…

Malang – Krenggosan dan kepanasan di dalam gua (Part 2)

October 26, 2011

Sigit sedang menghirup Oxycan

Sigit yang biasanya masuk duluan karena menghindari kelelawar kabur, telah kembali bersama Baihaqi dan Maya disaat saya sedang asik memanjat dinding gua untuk menangkap kalacemeti di atap gua yang cukup tinggi.

Sambil membawa jaring tangan yang digunakan untuk menangkap, Sigit bilang sudah tidak kuat lagi, terlalu sesak dan pengap. Sementara baihaqi cuma diam tak berbicara.

Setelah menyusuri secara singkat Gua Siem yang pengap dan menyesakkan, akhirnya kami memutuskan untuk segera keluar dari Gua Siem yang baru secuil yang kita susuri.

Read more…

Melepas helm Caving: amankah?

October 25, 2011

Helm PETZL model terbaru

Ada hal yang menurut saya perlu didiskusikan lebih lanjut berkenaan dengan helm caving terutama pemakaian di dalam gua. Mungkin akan ada banyak pendapat dan bahkan mungkin pertentangan tentang bahasan kapan dan dimana helm caving harus dipakai.

Mungkin ada kelompok yang berpendapat helm caving mutlak dan selalu wajib dipakai di dalam gua, mungkin kelompok lain lagi berpendapat, helm caving pada saat tertentu bisa tidak dipakai di dalam gua. 

Lantas bagaimana kita perlu melihat dan memandang helm caving dalam aktivitas caving kita?

Read more…

Memburu Kepiting gua (Karstarma sp.) di Malang Selatan

October 25, 2011

Karstarma sp, kepiting gua dari Malang Selatan (Foto C. Rahmadi)

Sebenarnya, cerita ini bermula ketika suatu saat ada acara TV yang menayangkan kegiatan penelusuran gua di salah satu gua di Malang. Saya lupat tepatnya di stasiun TV mana, tapi yang jelas ada proses menuruni mulut gua vertikal dengan menggunakan SRT Set.

Kemudian, dalam satu adegannya kamerawan menangkap kenampakan kepiting yang sedang berlari di lorong gua yang berlumpur. Dari cara berlarinya, saya ingat dengan salah satu jenis Kepiting jacobson yang hanya ada di gua-gua di Gunungsewu.

Saya lupa persisnya gua apa dan dimana gua tersebut. Sejak saat itu, Malang Selatan masuk dalam Target Operasi yang harus saya kunjungi terutama gua yang menyimpan kepiting yang saya duga dari marga Karstarma yang sudah beberapa kali saya berhasi mengkoleksi jenis-jenis baru. Read more…

Diskusi Biologi gua dan konservasi karst (Cibinong, 15 Oktober 2011)

October 19, 2011

Foto bersama setelah sesi diskusi di Gedung Widyasatwaloka Puslit Biologi LIPI, Cibinong (Foto M. Arid)

Akhirnya, setelah dengan sukses melakukan kegiatan sosialisasi biologi gua di Jogja dan tambahan di Malang, teman-teman Puslit Biologi LIPI berhasil mengadakan kegiatan diskusi di kandang sendiri, yakni di Gedung Widyasatwaloka tempat dimana kami para peneliti sehari-hari mencari nafkah.

Dengan pengumuman dan undangan yang seadanya, sekitar 30 orang bisa berkumpul di Ruang Seminar dengan lesehan sambil menikmati hidangan kacang rebus dan pisang rebus.

Kegiatan diskusi yang dimulai sekitar pukul 9.30 setelah dibayangi oleh rencana pemadaman listrik oleh PLN akhirnya berjalan dengan cair dipandu oleh Hari Nugroho. Read more…

Malang – Menyusuri gua minim oksigen di Malang Selatan (Part 1)

October 11, 2011

Persiapan jaring kabut (Foto Imron Fauzi)

Malang merupakan salah satu kota yang akhirnya bisa saya kunjungi setelah sekian lama saya berangan-angan untuk mengeksplorasi gua-gua di sana.

Akhirnya, tanggal 4 Oktober dini hari, saya meluncur ke Malang bersama Sigit WIantoro dan Hari Nugroho dari Jogja menggunakan Gajayana. Sampai di Malang sekitar jam 09.00 pagi dijemput oleh salah satu anggota IMPALA UNIBRAW, Hamid orang Bogor yang sedang kuliah di sana.

Setelah sedikit terjadi salah paham karena kita sempat tidak akan turun di Stasiun Malang, karena dipikir masih ada stasiun terakhir yaitu stasiun baru, akhirnya kami bertemu Hamid di pintur keluar.

Dengan menahan kantuk karena tidur yang kurang dan belum sempat mandi, kami meluncur ke Impala setelah sebelumnya menjemput teman nge-twit saya mas Imron Fauzi atau lazim dipanggil mas Roim. Read more…

Taksonomi dan posisi Indonesia

March 10, 2010

Gedung inilah yang menyimpan koleksi sekaligus tempat dimana orang-orang yang bergelut dalam dunia taksonomi di Indonesia

Taksonomi merupakan satu bidang yang mungkin masih sangat asing bagi bangsa Indonesia. Banyak masyarakat umum pasti tidak menganggap bagaimana taksonomi dapat berperan bagi kemajuan bangsa dan membantu meningkatkan kesejateraan hidup.

Dibandingkan bidang lain seperti teknologi informasi, ekonomi, politik, komunikasi dan lain sebagainya, taksonomi masih menjadi satu hal yang asing dan sulit dimengerti oleh masyarakat umum. Read more…

Opiliones 1: Pengembaraan si kecil dari Gondwana sampai Sundaland

March 8, 2010

Stylocellus sp. dari Gunung halimun

Hewan kecil berkaki delapan ini mungkin tidak banyak dikenal oleh masyarakat luas, karena tempat hidupnya yang sangat unik dan khas yaitu di kantong-kantong serasah di hutan-hutan yang belum terganggu. Beberapa jenis juga ditemukan hidup di dalam gua-gua di beberapa pulau besar di Indonesia.

Hewan kecil yang masuk ke golongan Arachnida ini dikelompokkan dalam ordo Opiliones sub ordo Cyphophthalmi. Salah satu famili yang dikenal di kawasan Asia Tenggara adalah Stylocellidae yang mempunyai beberapa marga. Read more…

Opiliones 3: Pangaea – tanah leluhur trah cyphos

March 24, 2010

Stylocellus

Pada dongeng sebelumnya diceritakan bagaimana trah cyphos khususnya keluarga Stylo dan Siro mengembara sampai tempat di mana saat ini berada. Saat ini saya mencoba berbagi ketika Pangaea kemudian tercerai berai menjadi Gondwana dan Laurasia kemudian Gondwana tercerai berai menjadi benua-benua yang ada saat ini. Konon, trah Cyphos telah menghuni benua raksasa Pangaea jauh sebelum benua tersebut tercerai berai menjadi seperti saat ini.

Dongeng yang akan saya ceritakan, merupakan dongeng yang lebih banyak menerjemahkan dan menyarikan sebuah artikel yang cukup menarik untuk dibagi karena menjelaskan bagaimana bumi yang saat ini kita pijak bergeser satu sama lain hingga membentuk daratan yang ada saat ini sebagai hasil rekrontruksi berdasarkan studi kekerabatan diantara keluarga trah Cyphos.

Read more…

Opiliones 2: Stylos – pengembara Nusantara

March 12, 2010

Stylos, sang pengembara nusantara (Stylocellidae, sp.)

Setelah dongeng sebelumnya menceritakan bagaimana keluarga Stylo berkelana hingga beberapa marga-nya seperti Megha, Fang, Miop dan Stylos (Lepto) akhirnya sampai di tempat di mana mereka saat ini berada. Ketika kemudian Fang akhirnya memilih negeri gajah putih sebagai tempat untuk menetap hingga akhirnya mempunyai empat keturunan disana.

Sedangkan kerabatnya, Stylos, yang terus mengelana ke selatan dan kemudian ke timur lebih tertantang untuk mengelana di Nusantara yang sebagian besar menjadi apa yang sekarang disebut dengan INDONESIA. Read more…

Species Update: Ternyata masih ada katak jenis baru di Lampung

March 10, 2010

Hari ini, Zootaxa menerbitkan satu artikel tentang temuan katak jenis baru dari Lampung. Di tengah ancaman yang sangat tinggi terhadap keberadaan keanekaragaman hayati Indonesia  akibat kerusakan lingkungan, temuan jenis baru ini memberikan secercah harapan namun sekaligus ironi.

Adalah Amir Hamidy, seorang peneliti di Museum Zoologicum Bogoriense Bogor,  Cibinong dan profesornya yang telah berhasil menemukan katak jenis baru tersebut. Artikel yang berjudul ” A new species of a blue-eyed Leptobrachium (Anura, Megophryidae) from Sumatra, Indonesia” terbit dalam jurnal ZOOTAXA 2395: 34-44 tanggal 10 Maret 2010. Read more…

Ikan jenis baru dari pedalaman Karst Sangkulirang, Kalimantan Timur

August 7, 2010

Pada tanggal 3 Agustus 2010, dalam jurnal taksonomi ZOOTAXA No. 2557 Hal. 39-48, salah satu peneliti ikan Puslit Biologi LIPI menemukan ikan jenis baru dari Kawasan Karst Sangkulirang, Kalimantan Timur.

Dalam artikel berjudul “Nemacheilus marang, a new loach (Teleostei: Nemacheilidae) from Sangkulirang karst, eastern Borneo”, Ibu Renny K. Hadiaty, telah berhasil mempublikasikan ikan jenis baru dengan nama Nemacheilus marang Hadiaty & Kottelat 2010 . Ikan yang ditemukan di Sungai marang tersebut merupakan salah satu hasil penelitian LIPI khususnya Puslit Biologi dengan the Nature Conservancy yang melakukan kegiatan eksplorasi selama 5 minggu di belantara karst Kalimantan.

Sebelumnya, beliau juga telah menemukan ikan dari marga yang sama yaituNemacheilus tebo Hadiaty & Kottelat 2009 dari formasi karst yang sama namun berbeda lokasi yaitu Danau tebo yaitu salah satu danau karst yang ada di pedalaman Sangkulirang yang hanya mudah diakses dengan helikopeter. Perjalanan darat bisa memakan waktu 3 hari untuk mencapai desa terdekat, dengan melewati tebing-tebing curam dengan batu yang tajam.

Selamat buat Ibu Renny dan maju terus dengan karya-karyanya.

Ketika aku ingin menjadi guru

August 28, 2010

Menjadi guru mungkin saja adalah cita-citaku ketika SD kelas 1, ketika waktu itu setiap anak ditanya satu persatu apa cita-cita ketika besar nanti.

Waktu itu yang jelas terbersit adalah Guru, karena waktu itu tidak pernah terbersit bahkan tidak pernah tahu kalau ada yang namanya profesi Peneliti apalagi Taksonom.

Profesi Guru merupakan satu profesi yang paling pertama dikenal oleh kita, karena ketika pertama kali sekolah kita langsung dihadapkan dengan seorang Guru.

Namun berbeda dengan aku, sebelum sekolah aku sudah mengenal apa dan siapa itu guru. Bapakku seorang guru SMP yang mengajar mata pelajaran IPS salah satunya Geografi. Setiap senin pagi, pagi-pagi benar bapak sudah berangkat menuju terminal bus Purworejo, yang waktu itu masih bertempat di Purworejo Plaza, meksipun plasanya sampai sekarang tidak jelas bentuknya. Read more…

Safety First – Caving next!

August 30, 2010

Safety, mungkin itu salah satu kata yang akrab bagi kita-kita yang giat di penelusuran gua. Para pegiat maupun penikmat penelusuruan gua pasti akan ditekankan prosedur keselematan.

Pecinta alam maupun kelompok caving akan menekankan keselamatan sebagai ‘materi’ dasar yang harus dikuasai oleh para calon penelusur gua atau lebih keren dipanggil “Caver”. Read more…

Sejak kapankah kala-cemeti ada di muka bumi?

September 2, 2010

Kala-cemeti, atau nama ilmiahnya dikenal dengan Amblypygi, merupakan salah satu kelompok Arachnida yang mempunyai bentuk menyeramkan.

Tubuhnya yang pipih dengan capit berduri yang tajam ditambah dengan kaki depan yang memanjang seperti antena, dan tiga pasang kaki untuk berjalan yang panjang menambah kesan seakan kala-cemeti merupakan hewan beracun yang berbahaya.

Namun, semua itu ternyata tidak benar. Kala cemeti merupakan salah satu kelompok yang tidak beracun, penampakan yang seram tidak menggambarkan bahaya yang sesungguhnya.

Sampai saat ini, di dunia baru dikenal sekitar 150 jenis kala-cemeti yang tersebar di lingkar tropis yang terdiri dari 17 marga, di dalam lima famili.

Dari seluruh jenis yang dikenal, ada beberapa jenis yang sudah tidak lagi ditemukan di muka bumi ini dalam keadaan hidup, melainkan dalam bentuk fosil yang terawetkan dalam batuan. Read more…

Haruskah caver asing perlu mempunyai ijin penelitian?

September 3, 2010

Cave diver asal Australia di salah satu gua di Pulau Muna, hasil kerjasama LIPI-MNHN-IMEDEA

Indonesia merupakan salah satu tujuan para caver dunia untuk melakukan kegiatan eksplorasi. Kekayaan alam Indonesia dengan bentang alam karst-nya mengundang berbagai pegiat penelusuran gua  untuk habis-habisan mengeksplorasi misteri di dalamnya.

Sebut saja kawasan karst Maros, bertubi-tubi penelusur gua dari Perancis keluar masuk gua untuk memetakan gua yang akhirnya Indonesia memiliki gua terpanjang, salah satunya Gua Salukan Kallang.

Selain itu, pada tahun 1982-84, bukan hanya penelusur gua dari Perancis yang datang ke Indonesia, caver dan speleolog Inggris mengeksplorasi gua di Gunung Kidul. Beberapa adalah ilmuwan yang bertugas mengeksplorasi sistem perguaan dan sekaligus memetakan sistem hidrologi yang ada disana.

Kegiatan ini telah memberi kontribusi yang signifikan bagi perkembangan dunia penelusuran gua dan sekaligus pengetahuan keilmuan tentang speleologi.

Dari hasil kegiatan penelitian BCRA di Gunung kidul tersebut telah memberikan sumbangsih bagi daerah Gunung Kidul khususnya untu ketersediaan air bersih.

Selain dari Perancis dan Inggris, penelusur gua dari Australia dan beberapa negara lain juga intensif melakukan kegiatan eksplorasi gua.

Read more…

Karst Sukolilo: dianggap rusak, dirusaklah sekalian….

September 4, 2010

Salah satu sudut Karst Maros, Sulawesi Selatan

Mungkin judul itulah yang tepat untuk mensarikan pendapat Bupati Tasiman seperti yang diberitakan Koran Tempo sebulan yang lalu.

Pemerintah Kabupaten Pati, menurut Tasiman, tetap berpendapat Kawasan Kendeng tepat untuk pabrik semen karena di atasnya ada kapur dalam jumlah besar. “Kalau dibiarkan, selamanya tidak bisa untuk penghijauan karena di atasnya ada kandungan kapur,” ujarnya. Dia juga menjamin pabrik semen tidak akan mengganggu sumber mata air seperti yang selama ini dikhawatirkan warga. “Sudah ada standar dan mekanisme bagaimana mengelola pabrik penambangan.”

Dari ungkapan tersebut tercermin betapa bapak bupati yang terhormat menganggap Kawasan Kendeng layak ditambang karena tidak mungkin dihijaukan karena diatasnya ada kandungan kapur. Read more…

Si umur panjang yang tidak pernah tua

September 6, 2010

Beberapa bulan lalu tepatnya July 2010, salah satu artikel yang terbit di Biology Letters” telah mengguncang dunia karena diyakini akan merevolusi pandangan tentang ilmu penuaan.

Temuan ini nampaknya akan menentang segala macam prediksi yang selama ini ditawarkan oleh teori-teori penuaan. Selama ini diyakini, bahwa umur panjang dari Proteus disebabkan oleh ukuran tubuh yang besar, tidak ada predator, lambatnya laju metabolisme dan diperkirakan karena karena hasil metabolisme menyebabkan kerusakan pada organisme yang diperbaharui terus menerus sepanjang hidupnya. Read more…

Tuban semakin menjerit

September 7, 2010

Kota Tuban merupakan salah satu kota yang nampaknya semakin kian terjepit. Rakyatnya yang menjerit  semakin redup terdengar menyuarakan batinnya.

Semen Gresik yang sudah sejak lama beroperasi disana berencana memperluas kawasan pertambangannya, dan banyak warga masyarakat yang berbondong-bondong menolak rencana tersebut. Penolakan tersebut dikarenakan banyak warga yang mengkhawatirkan mata pencaharian mereka sebagai petani akan terancam. Read more…

Udang-udangan air tawar terbaru dari Karst Maros, Sulawesi

September 14, 2010

From: Record of the Western Australian Museum

Satu jenis baru yang terlewat saya laporkan telah dipublikasi di jurnal “Record of the Western Australian Museum” nomer 24 pada tahun 2008. Jenis yang dideskripsi oleh Roger N. Bamber dari Natural History Museum, London ini ditemukan di salah satu gua di daerah Pangkajene tepatnya di Gua Dedeleang.

Udang ini pertama kali ditemukan oleh Dr. Louis Deharveng sekitar tahun 2005 ketika saya bersama beliau dan tim lain melakukan eksplorasi di beberapa gua di daerah Maros. Kemudian, pada tahun 2007 tim yang lebih besar dan tergabung dalam ekspedisi Zoologi yang mengambil lokasi di Maros, Sulawesi Selatan dan Muna, Sulawesi Tenggara diorganisir oleh Louis Deharveng bekerjasama dengan saya dan Dr. Yayuk R. Suhardjono. Read more…

Kala-cemeti jenis baru dari kegelapan gua Kalimantan

September 15, 2010
Belantara Kalimantan tak henti-hentinya menyumbang temuan-temuan jenis baru. Hal ini makin menunjukkan betapa kaya belantara Kalimantan dan sekaligus menunjukkan betapa minimnya pengetahuan tentang potensi biodiversitas di pulau terbesar ketiga di dunia ini. Selain itu, masih banyak potensi biodiversitas yang belum tergali sampai saat ini.

Dalam artikel yang terbit di jurnal taksonomi ZOOTAXA no. 2612 pada tanggal 15 September 2010 yang ditulis oleh saya bersama M. S. Harvey dan J. Kojima,  dilaporkan lima jenis yang ditemukan di Pulau Kalimantan dan empat diantaranya merupakan jenis baru dan sebarannya terbatas di Kalimantan.

Empat jenis kala cemeti tersebut ditemukan di kegelapan gua di pedalaman Pegunungan Mueller di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat dan di belantara karst Sangkulirang, Kalimantan Timur. Temuan ini membuktikan betapa masih banyak jenis baru dari kelompok invertebrata yang sampai saat ini belum tergali.
Read more…

Peneliti, terasing di negeri sendiri

September 19, 2010

Beberapa hari terakhir, pembicaraan tentang profesi peneliti dan kesejahteraannya marak diberitakan di berbagai media baik cetak maupun elektronik.

Beberapa waktu lalu, ketika marak perseteruan dengan Malaysia karena kasus penanahan DKP profesi Peneliti ini terbawa-bawa sampai ke negeri jiran. Pada waktu itu, diungkapkan banyaknya peneliti yang hengkang ke Malaysia karena permasalahan tidak ada penghargaan yang layak alias gaji yang minim di Indonesia.

Selain itu, baru-baru ini Angelina Sondakh anggota DPR dari Partai Demokrat bersedih karena banyak peneliti kita yang lari ke Malaysia, dan lagi-lagi negeri jiran ini dibawa-bawa terhadap permasalahan dalam negeri Peneliti Indonesia.

Read more…

Wallacea, alami atau buatan?

September 22, 2010

Publikasi terbaru tentang biogeografi khususnya kawasan Wallacea ditulis oleh Bernard Michaux dalam artikelBiogeology of Wallacea: geotectonic models, area of endemism and natural biogeographical units” yang terbit dalam jurnal Biological Journal of the Linnean Society No. 101: 193-212.

Semua orang sudah mengenal kawasan Wallacea yang memiliki kekayaan biodiversitas endemik yang sangat tinggi dan merupakan daerah transisi yang memisahkan kawasan Oriental dan Australasia.

Kawasan ini dipisahkan oleh garis imaginer yang dikenal dengan Garis Wallace yang membelah antara Bali dan Lombok, kemudian ke utara Kalimantan- Sulawesi dan Sulawesi dengan Mindanau. Sebelumnya, Wallace menempatkan Filipina menjadi bagian kawasan ini namun akhirnya memindahkan pada garis yang sekarang dikenal. Saat ini, garis usulan pertama Wallace ini dikenal dengan Garis Huxley.

Sedangkan di bagian timur dibatasi oleh Garis Lydekker yang memisahkan Papua dari Ambon, Halmahera, Kai, Tanimbar dan Timor. Read more…

SPESIES ENDEMIK: Kalacemeti dari Kalimantan

September 22, 2010

KOMPAS, Rabu, 22 September 2010 | 02:54 WIB

Oleh M Zaid Wahyudi

Meski Indonesia memiliki banyak goa, hanya sedikit goa yang sudah dieksplorasi, termasuk yang ada di Jawa. Akibatnya, banyak biota dalam goa yang belum teridentifikasi.

Salah satu kekayaan hayati goa yang belum banyak terungkap adalah kalacemeti—binatang sejenis laba-laba yang biasa hidup di dinding goa. Saat ini di Indonesia baru teridentifikasi enam jenis. Di seluruh dunia baru 15 jenis kalacemeti teridentifikasi, yaitu dari India sampai Kepulauan Solomon di Pasifik Selatan.

Dari keenam jenis di Indonesia, empat jenis baru dipublikasikan dalam jurnal taksonomi Zootaxa pada 15 September lalu oleh Peneliti Muda Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cahyo Rahmadi. Keempat jenis kalacemeti baru itu adalah Sarax yayukae yang ditemukan di Pegunungan Muller, Kalimantan Tengah, serta Sarax sangkulirangensis, Sarax mardua, dan Sarax cavernicola yang ditemukan di goa-goa Pegunungan Karst Sangkulirang, Kalimantan Timur. Read more…

Jawa 1: Menjelajah tanah Banten, merangkak di kegelapan gua

September 23, 2010

Tiga tahun lalu, tepatnya 2007-2008, saya berkesempatan berkeliling tanah Jawa dari kawasan TN Ujung Kulon dibagian barat sampai di bagian timur menyeberang dengan kapal roro menjejakkan kaki di Pulau Madura. Sementara saya masih menyisakan PR di kawasan karst malang Selatan ke timur hingga Blambangan (TN Alas Purwo) yang belum sempat kami eksplorasi

Saya bersama Sigit Wiantoro dan beberapa teman yang terlibat, mencoba mengukur aspal hanya untuk menemukan kehidupan lain di tanah Jawa ini.

Berbekal dengan bantuan dana yang mengucur dari beberapa penyandang dana, saya harus berterima kasih kepada Rufford Foundation (Inggris) dan Nagao Foundation (Jepang) yang telah mendukung kegiatan menyusuri kegelapan gua di Jawa ini. Read more…

Dalam gelap, ada yang berbeda

September 24, 2010
Gelap sangat akrab dengan hitam, hanya satu warna yang dominan disana. Berbeda dengan putih, semua orang paham di dalam putih tersimpan banyak warna yang bisa bermunculan manakala ada sesuatu yang bisa menampakkanya, seperti pelangi.Begitu pula aneka warna yang berputar dengan cepat, namun mata hanya menangkapnya jadi satu warna, yakni putih.

Namun saya tidak akan berbagi cerita tentang putih dan pelanginya, namun saya mencoba berbagi tentang kegelapan dan apa saja yang ada di dalamnya.

Karena, dari kegelapan inilah saya bisa melihat banyak perbedaan dan banyak hal yang bisa diceritakan dari sana.

Saya seorang pegawai negeri, kata orang profesi saya sebagai peneliti yang akhir-akhir ini banyak diberitakan karena banyak peneliti Indonesia yang kabur, lari, hengkang ke negara lain karena tidak ada penghargaan dan terasing di negeri sendiri.

Lantas bagaimana cerita tentang perbedaan dalam kegelapan?

Read more…

Jawa 2: Mengukur kegelapan

September 30, 2010
Melanjutkan cerita sebelumnya, kali ini saya mencoba memberikan gambaran bagaimana kami mengeluarkan segala hasrat kami untuk mengungkap apa yang ada di dalam gua yang tersimpan di dalam tanah di Pulau Jawa.

Masih melanjutkan cerita tentang eksplorasi di tanah Banten, saya ingin menyampaikan sisi lain kehidupan kami sebagai biolog yang kadang bekerja dalam tempat yang sulit namun kami sangat menikmati.

Di kegelapan Gua Lalay, saya bersama Sigit Wiantoro dibantu Nanang Supriatna dan Rahmat mahasiswa IPB, kami mencoba melakukan hal yang bisa menghasilkan sebuah data dalam angka-angka yang bisa dimengerti dengan mudah sehingga layak untuk disebut penelitian. Read more…

Jawa 3: Menyaksikan parade senja di Pelabuhan Ratu

July 7, 2011

Setelah menyusuri gua-gua di tanah Banten, saya kembali akan melanjutkan cerita tentang bagaimana perjalanan kami dalam mengeksplorasi gua-gua di jawa.

Saat ini, saya akan menceritakan jelajah kami di tatar Sunda, tepatnya di Gua Buniayu, Sukabumi.

Setelah menyusuri jalan berliku dari Desa Sawarna, kami sejenak berhenti di Pantai Pelabuhan Ratu, karena kami harus melihat salah satu gua yang terkenal dengan keberadaan kelelawarnya yang sangata melimpah.

Beberapa kilometer dari Pantai pelabuhan Ratu, Gua Lalay Pelabuhan Ratu dapat dicapai dengan mudah, dan hampir semua orang tahu karena gua ini salah satu obyek wisata. Gua ini terletak di Desa Citarik, Pelabuhan Ratu. Read more…

Kalacemeti juga bisa mancing dan menyelam

September 27, 2010

Tahukah anda kalau kalacemeti, Amblypygi, mempunyai perilaku yang unik yakni memancing dan sekaligus mempunyai kemampuan menyelam.

Perilaku “memancing” kalacemeti ini dilaporkan pada tahun 2003 oleh Ladle & Velander (2003) yang mempublikasikan pengamatannya di Journal of Arachnology 31: 154-156 dalam artikel pendek berjudul “Fishing behavior a giant whip spider”. Read more…

Kalacemeti juga bisa belajar lho!

October 1, 2010

From Santer & Hebets 2009

Selain bisa memancing dan menyelam, ternyata kalacemeti juga bisa belajar. Dalam kontek belajar dan mengingat, kemampuan ini sangat penting untuk semua hewan untuk bisa bertahan hidup seperti mencari tempat hidup atau bahkan mangsa dan pasangan.

Isyarat sensorik dimana hewan dapat belajar dalam situasi tertentu merupakan pengembangan dari spesialisasi sensori. Read more…

Kalacemeti begitu tua tapi miskin jenis, tanya kenapa?

October 4, 2010

Kalacemeti merupakan salah satu kelompok arachnida yang cukup tua meskipun diyakini, kalajengking merupakan kelompok yang paling tua di kelas arachnida.

Jason Dunlop dalam artikelnya melaporkan kalau kalacemeti diyakini muncul dimuka bumi ini sejak Devonian dalm bentuk fosil fragmen cuticle. Sementara, fosil dalam bentuk lengkap di temukan pada periode Carboniferous sekitar 312 juta tahun lalu.

Dibandingkan kelompok lain dalam arachnids, kalacemeti tergolong mempunyai jumlah jenis yang sangat sedikit meskipun Ricinulei dan Palpigradi mempunyai jumlah jenis yang lebih sedikit.

Namun jika dibandingkan kalajengking, laba-laba, opiliones dan kalajengking semu, jumlah jenis kalacemeti masih lebih sedikit. Jika dibandingkan kerabat terdekatnya kalacuka atau Uropygi, jumlah jenis kalacemeti masih sedikti lebih banyak meskipun jumlah famili juga lebih banyak dibandingkan kalacuka yakni 103 jenis dari 1 famili.

Tahun 2003, Mark Harvey melaporkan jumlah total jenis  kalacemeti waktu itu hanya 136 jenis, saat ini jumlah itu telah bertambah, Harvey pada tahun 2007 melaporkan 158 jenis. Read more…

Kalajengking jenis baru dari Pulau Halmahera, Maluku

October 3, 2010

Ilustrasi keragaman Arachnida

Indonesia memang surganya jenis baru, ini satu hal yang patut disyukuri namun juga sekaligus menjadi cermin diri khususnya para taksonom di Indonesia.

Satu lagi jenis baru dipublikasi dalam jurnal Acta Arachnologica 59 (1) terbitan bulan 30 September 2010. Jenis baru yang dilaporakn oleh Wilson Laurenco dan Bernard Duhem ini menjadi jenis yang kedua untuk marga Chaerilus untuk Pulau Halmahera.

Sebelumnya, Laurenco mendeskripsi jenis baru Chaerilus spinatus dari salah satu gua di Sagea yaitu Batu Lubang yang merupakan gua terbesar di Halmahera bagian utara. Meskipun ditemukan di dalam gua, namun jenis ini tidak mempunyai karakteristik morfologi yang khas untuk hidup di dalam gua atau sebagai jenis troglobit. Read more…

Laba-laba jenis baru kembali ditemukan di Indonesia

October 6, 2010

Ilustrasi (Laba-laba dari Buniayu)

Indonesia kembali menambah daftar jenis kekayaan biodiversitas khususnya laba-laba. Tanggal 5 Oktober 2010 kemarin,  di jurnal taksonomi ZOOTAXA, arachnologist dari Thailand Dr. Pakawin bersama koleganya mempublikasikan lima jenis baru laba-laba dari kelompok marga Mallinella anggota suku Zodariidae (Araneae).

Jenis baru tersebut di temukan di beberapa pulau besar dalam paparan Sundaland yaitu Sumatra, Jawa dan Kalimantan dan beberapa dari pulau kecil di sekitarnya seperti Bali dan Pulau Belitung. Read more…

Opini sama di koran berbeda-beda: plagiasi atau error?

October 5, 2010

Opini di Media Indonesia versi Online (28/09/2010)

Beberapa hari yang lalu saya iseng melihat-lihat tulisan-tulisan Opini di media massa. Saya sempat mampir di Harian Sinar Harapan yang cetak versi online tertanggal 1 Oktober 2010, dalam salah satu opini  yang berjudul “Negara Menyerang Balik Teroris” saya kemudian teringat karena saya pernah menemukan artikel dengan judul yang sama.

Kemudian saya ingat, kalau saya pernah menemukan Opini dengan judul tersebut di Media Indonesia terbitan 28 September 2010 dengan judul dan isi yang sama persis. Artikel di media Indonesia juga berjudul “Negara Menyerang Balik Teroris” ditulis oleh penulis yang sama dan alamat penulis yang sama. Read more…

How technology help to conserve the marine life?

October 7, 2010

Sebuah kerja yang sangat mengagumkan, bagaimana teknologi dapat membantu untuk menyelamatkan kehidupan di lautan. Bagaimana teknologi bisa digunakan sebagai alat untuk membantu pertimbangan pengelolaan pemanfaatan sumber daya alam khususnya kekayaan laut.

Sudah saatnya Indonesia yang kaya akan kehidupan laut, menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai panglima dalam memanfaatkan sumber daya alam, bukan semata kapitalisme. Namun lebih pada bagaimana kita memanfaatkannya secara bijak berdasarkan data dan fakta yang ada sebagai hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Enjoy the TED show!

Pemanfaatan Tuna (Blue Fin di Indonesia nampaknya bakal semakin cerah seperti yang diberitakan Media Indonesia, namun apakah kita perlu mempelajari keberadaan Tuna di Indonesia, sebagai bentuk pemanfaatan yang bijak?

Mungkin, para ahli kelautan dan perikanan Indonesia bisa menjawab semua ini.

Enjoy your Sushi!

Keluar dari perut bumi

October 13, 2010

From Telegraph

Saat ini, sudah enam penambang yang terjebak lebih dari dua bulan di salah satu tambang di San Jose, Chile berhasil diangkat ke muka bumi. Penambang yang terjebak sebanyak 33 orang satu persatu telah diangkat menggunakan “kapsul” bertuliskan “Fenix 2″ yang memakan waktu sekitar 15 menit untuk setiap kali proses pengangkatan.

Proses pengangkatan ini sendiri ditunggui langsung oleh Presiden Chile, Sebastian Pinera, yang begitu nyata memberikan perhatian terhadap semua proses penyelamatan 33 orang yang terjeba. Setiap penambang yang berhasil keluar dari kapsul, disambut haru begitu mereka keluar dari kapsul.

Benar-benar penyelamatan yang dramatis dimana orang yang terjebak selama dua bulan lebih berhasil dikeluarkan dari perut bumi yang telah menjebak mereka tanpa mengetahui kapan siang kapan malam.

Foto-foto penyelamatan dapat dilihat disini dan tayangan live disini Read more…

Belajar dari perut bumi Chile

October 14, 2010

From CNN

Hampir selama 22 jam, mata dunia tertuju ke San Jose, Chile dimana proses penyelamatan 33 penambang yang terjebak berlangsung begitu dramatis.

Presiden Chile meluangkan waktunya meskipun harus kurang tidur hanya untuk bisa langsung menyaksikan dan memeluk para penambang yang keluar satu persatu dari kapsul Phoenix 2 kebanggaan Chile.

Tak tanggung-tanggung, Presiden Bolivia juga menyempatkan berkunjung dan menyaksikan proses penyelamatan karena salah satu warganya ikut terjebak selama 69 hari di lokasi tambang.

Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari Chile, perkiraan mereka untuk bisa mengeluarkan dari tambang sekitar empat bulan, ternyata dua bulan mereka sudah bisa keluar dari perut bumi. Read more…

Mencari “model” penguatan kiprah Caving dan Speleologi di Indonesia

October 15, 2010

Caving is death (Coutesy: Okkie)

Indonesia sudah cukup tua untuk mengenal apa itu caving dan speleologi.

Ketika awal-awal kegiatan penelusuran perut bumi ini dikenalkan oleh beberapa aktivis kegiatan alam bebas, salah satunya Norman Edwin dengan “Garba Bhumi” nya selain itu ada Specavina dan akhirnya tinggal HIKESPI yang tersisa saat ini.

Banyak simpul-simpul kegiatan caving maupun speleologi yang mulai berkembang di beberapa daerah baik di Jawa maupun di luar Jawa. Hikespi banyak berperan membuat simpul-simpul itu melalui pelatihan seperti KDKL yang sudah lama dilakukan.

Banyaknya simpul ini sayangnya belum banyak bisa berkontribusi untuk membantu menyelesaikan permaslahan yang kadang melilit kawasan karst maupun gua yang nota bene merupakan tempat bermainnya. Read more…

K20 Maros: sebuah cerita yang tertinggal (Bag.1)

October 17, 2010
tags: , , ,

Sudah lebih dari delapan tahun cerita yang terjadi, sekitar April 2002, dimana saya harus berjuang mati-matian mengingat semua teori tentang rescue dan pengendalian diri.

Selama ini saya tidak pernah menuliskan maupun bercerita panjang lebar tentang kejadian di K20, yang terletak dibelantara hutan Karaenta, Karst Maros. Bahkan, saya pun tidak pernah bercerita kepada teman-teman yang membuat kronologis kejadian waktu itu.

Mungkin saatnya sekarang saya bercerita dengan segala yang masih saya ingat meskipun orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak banyak yang saya ingat. Read more…

K20 Maros: sebuah cerita yang terselip (Bag.2)

October 19, 2010

Setelah saya meninggalkan Karaenta dan  kembali ke Wisma Bantimurung akhirnya saya tidak tahu lagi bagaimana rencana dan kegiatan kojek dan kawan-kawan di Hutan Karaenta.

Di datangi Polisi di pagi buta

Hari itu, hari Kamis dan malamnya konon Kojek dan kawan-kawan memutuskan untuk memasuki K20. Namun saya tidak tahu pasti kapan mereka melakukan penelusuran.

Di saat tidur lelap yang panjang, saya dibangunkan oleh Bu Yayuk, kolega di LIPI, yang mengetok pintu karena kamarnya di ketok oleh penjaga malam Wisma, karena katanya ada Polisi yang mencari. Setahu saya waktu itu sekitar jam 3.30 pagi, dimana ayam pun belum sempat berkokok.

Dengan nyawa yang belum menyatu dengan raga, saya dikasih tahu kalau ada polisi datang dan bilang kalau ada teman yang mengalami musibah di dalam gua. Mendengar itu, saya semakin panik karena saya tahu persis, kalau teman yang sedang caving ya kojek dan kawan-kawan. Read more…

K20 Maros, mengangkat semangat (Bag.3)

October 22, 2010

Perasaan berkecamuk dan tidak tahu apa yang harus dilakukan membuat semua apa yang saya tahu tentang Cave Rescue hilang untuk beberapa saat.

Saya harus mengayun untuk menghampiri Kojek dan Indra yang ada di teras sempit, .

Mata saya tertuju pada sisa bekas bongkahan yang nampaknya terlepas. Sisa bongkahan itu dapat menggambarkan seberapa besar bongkahan tersebut terlepas dari tempatnya. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi waktu itu, hingga kojek harus di rescue oleh Indra untuk diamankan dan diistirahatkan ke teras yang saat ini saya dan kojek, berlindung sambil menunggu bantuan dari Makassar.

Saya hanya bisa menghibur Kojek, kalau nanti kita sudah keluar dari Lubang K20 ini, kita bisa bersama lagi latihan rescue bareng di Jembatan Babarsari. Karena, sejak dulu ketika kita bersama-sama di pecinta alam, dia di Palawa UAJY dan saya di Matalabiogama, kita selalu bersama-sama latihan maupun masuk gua barengan. Read more…

K20 Maros, harapan mulai datang (Bag.4)

October 24, 2010

Setelah saya berjuang habis-habisan untuk mengumpulkan energi dan mental saya harus terus berjuang agar penyangga leher ini bisa terpasang pada tempatnya. Bagaimanapun caranya, yang penting penyangga itu harus terpasang. Saya hanya bisa meminta kojek untuk misuh sepuasnya agar bisa menahan sakit yang menderanya. Read more…

Kalacemeti dari Borneo

October 21, 2010

Sebagai salah satu hasil ekspedisi Pusat Penelitian Biologi LIPI bekerja sama dengan The Nature Conservancy di Sangkulirang Kalimantan Timur dan bersama Pusat Konservasi Tumbuhan LIPI di Pegunungan Muller, Kalimantan Tengah pada tahun 2004, empat jenis baru kala cemeti ditemukan dari gua-gua di wilayah tersebut.

 

Dalam artikel yang terbit di jurnal taksonomi ZOOTAXA 2612 pada tanggal 15 September 2010, empat jenis baru kala-cemeti dari suku Charinidae, bangsa Amblypygi, kelas Arachnida dilaporkan oleh Cahyo Rahmadi bersama peneliti dari Australia, Dr. M. S. Harvey (Western Australian Museum) dan Jepang, Dr. J. Kojima (Ibaraki University).

Read more…

Hidup di dunia sunyi yang gelap

December 3, 2010
Kesunyian dan kegelapan seperti sebuah keabadian.  

Mengapa kita merasa waktu berhenti berdetak ketika kita merebahkan diri di tempat yang sunyi dan gelap.

Tak setitik pun cahaya yang bisa kita temukan manakala kita terjerumus di kegelapan gua-gua yang mengular di dalam bumi. Telapak tangan di depan mata tak sedikitpun menampakkan bentuknya. lantas bagaimana kita bisa mengenal sekeliling kita kalau ujung jari di depan mata saja tidak dapat tertangkap retina kita. Gelap pekat yang hanya mewarnai lensa mata.

Sementara kesunyian hanya dilengkapi dengan melodi tetesan air yang harus patuh mengikuti hukum gravitasi yang kekal.

Lantas bagaimana makhluk hidup di kegelapan itu hidup, mengenal lingkungan dan melanjutkan takdir meneruskan silsilahnya.

Gua merupakan salah satu contoh dimana kesunyian dan “keabadaian” ini berada, keabadian kegelapan telah menciptakan satu keunikan kehidupan tersendiri yang kadangkala kita tidak pernah membayangkan ada bentukan atau fenomena kehidupan lain di dalam sana. Read more…

Kalacemeti jenis baru dari Waigeo, Raja Ampat, Papua

December 6, 2010

Sarax monodenticulatus dari Pulau Waigeo

Kalacemeti jenis baru kembali ditemukan di Indonesia, setelah beberapa bulan yang lalu empat jenis baru ditemukan di gua-gua di pedalaman Kalimantan. Kali ini, satu jenis baru dan satu catatan baru kalacemeti kembali ditemukan dari belantara hutan di Kepulauan Raja Ampat Papua.

Temuan jenis baru ini merupakan salah satu hasil kegiatan ekspedisi yang dilakukan oleh Puslit Biologi LIPI pada tahun 2007 dan 2008 dengan bendera “Ekspedisi Widya Nusantara (e-Win)”. Ekspedisi ini memakan waktu selama satu bulan masing-masing di Pulau Waigeo di tahun 2007, Batanta dan Salawati di tahun 2008.

Dalam publikasi di Journal of Arachnology yang terbit di Amerika Serikat pada tanggal 21 November 2010, Volume 38 Nomer 3, saya bersama J. Kojima melaporkan tiga jenis kalacemeti dari Papua Barat dan Papua Nugini dimana dua jenis diantaranya merupakan jenis baru. Read more…

Krisis biodiversitas dan tantangannya

December 8, 2010
Tahun ini merupakan tahun penting buat biodiversitas di muka bumi ini, karena PBB telah menetapkan tahun 2010 sebagai International Year of Biodiversity (IYB)

Indonesia sebagai negara ‘mega-biodiversity’  perlu mengambil langkah untuk menghadapi isu perubahan iklim dan hilangnya biodiversitas.

Sebagai negara yang kaya biodiversitas sudah selayaknya negara memberi perhatian kepada isu yang satu ini. Kita terkadang selalu terbuai dengan segala kekayaan yang kita punya namun tidak pernah sadar untuk mengungkap seberapa besar kekayaan itu sebenarnya.

Kita terlalu asyik mengeksploitasi kekayaan itu tanpa kita mengerti apa dan bagaimana karakteristik kekayaan yang kita punya tersebut. Kita tidak pernah peduli, sampai kapan kekayaan itu bisa kita nikmati.

Kekayaan biodiversitas kita masih banyak yang belum diketahui. Jumlah pasti kekayaan jenis satwa liar baik hewan bertulang belakang maupun tidak bertulang belakang pun masih dalam angka kisaran. Belum kekayaan flora dengan potensi yang belum banyak tersentuh. Read more…

Melongok kehidupan gua-gua di Jawa Barat

December 10, 2010
Jawa Barat merupakan salah satu propinsi yang mempunyai bentang alam karst yang sangat menawan. Namun sayangnya, beberapa kawasan telah hancur akibat aktivitas manusia seperti penambangan kapur, penambangan fosfat dan bahkan pariwisata. 

Kawasan karst Padalarang dengan Gua Pawon yang dikenal karena peninggalan fosil manusia Bandung telah terusik oleh aktivitas penambangan yang sangat masif. Sementara, karst Cibinong telah dikeruk dua raksasa pabrik semen di Indonesia. Kemudian di satu bukit kecil yang masih tersisa di Ciampea juga sudah terjamah kerakusan manusia. Selain itu, kawasan di pesisir utara seperti Karst  Karawang juga sudah carut marut akibat dieksploitasi kapurnya.

Inilah gambaran kawasan karst yang ada di Jawa Barat, gambaran kerusakan akibat aktivitas manusia yang telah secara berlebihan memanfaatkan karst. Namun, diantara kehancuran itu masih ada harapan di kawasan yang belum banyak terganggu seperti di Sukabumi Selatan, Tasikmalaya-Ciamis dan beberapa kawasan lain yang terlepas dari jangkauan manusia.
Read more…

Mencari serpihan fosil kalacemeti dari masa lalu di Nusantara, mungkinkah?

December 10, 2010

Bryptophygus weygoldti Dunlop and Martill 2002 yang diperkirakan ditemukan dari masa Awal Cretaceous (Aptian, sekitar 115 juta tahun lalu)

Kalacemeti merupakan salah satu kelompok Arachnida yang cukup tua ditemukan hidup di muka bumi ini. Menurut Dunlop (2010), kalacemeti mulai berdiversifikasi sejak 320 juta tahun lalu.

Beberapa fosil yang ditemukan menunjukkan beberapa jenis mempunyai hubungan kekerabatan dengan jenis-jenis yang ditemukan di muka bumi saat ini.

Temuan fosil kalacemeti sudah tidak asing lagi ditemukan di belahan bumi di Amerika Selatan maupun di Eropa. Namun, temuan maupun catatan fosil kalacemeti di Indonesia sama sekali belum ada.

Mengingat, sekali lagi, kalacemeti merupakan kelompok yang cukup tua, saya yakin jenis-jenis ini sudah berkeliaran sejak jaman ratusan juta tahun lalu.

Namun, jenis-jenis yang terjebak menjadi fosil maupun terjebak dalam Amber di Indonesia masih sangat samar dan sama sekali tidak diketahui.
Read more…

Kalacemeti Jawa, mengapa mereka terpisah?

December 13, 2010

Peta Asia Tenggara dengan Sundaland Core dari Smyth dkk. 2007 di "overlay" dengan peta sebaran Stygo (bundar hitam) dan Charo (segitiga hitam)

Buat saya, pulau Jawa merupakan salah satu pulau yang menarik selain karena sebagai pulau dimana saya dilahirkan, tapi sekaligus memiliki tantangan yang harus memeras otak.

Dalam biologi ada ilmu yang disebut dengan biogeografi dimana ilmu ini mempelajari bagaimana suatu organisme tersebar dan bagaimana hubungannya dengan sejarah geologi atau sejarah bumi di suatu kawasan.

Ketika kuliah, saya tidak pernah memperhatikan materi kuliah khususnya biogeografi dan belum menemukan dimana asiknya “makanan” satu ini.

Sekarang saya sedang bertanya-tanya bagaimana Pulau Jawa ini terbentuk dan bagaimana pengaruhnya terhadap sebaran binatang khusunya kalacemeti.

Dan sekarang pula, saya baru menyadari mengapa di awal semester kuliah di Biologi UGM diajarkan mata kuliah Geologi. Bagaimana mengenal batuah dan mengenal jaman di Geologi meskipun semua itu menguap juga. Karena saat itu hanya menghafal dan menghafal dan belum menemukan esensinya kenapa harus ini dan itu.
Read more…

Duri-duri di kalacemeti

December 16, 2010

Capit Sarax sangkulirangensis dari gua-gua di Sangkulirang, Kalimantan Timur

Kalacemeti merupakan salah satu kelompok Arachnida yang mempunyai duri-duri di capitnya. Keberadaan duri-duri ini menjadikan kalacemeti menjadi tampak mengerikan dan berbahaya seperti binatang yang beracun.

Duri-duri yang ada di capit ini mempunyai jumlah dan ukuran yang bervariasi, sehingga duri menjadi salah satu karakter penting untuk membedakan satu marga-dengan marga lainnya.

Sedangkan fungsi duri-duri ini masih belum diketahui secara pasti. Dari sekian banyak kelompok Arachnida, hanya kalacemeti yang mempunyai duri yang sangat berkembang dan bervariasi. Diduga, duri-duri ini berperan untuk membantu ketika kalacemeti menangkap mangsa dengan capitnya.

Gambar di atas adalah salah satu contoh susunan duri yang ada di marga Sarax, dimana duri-durinya mempunyai ukuran yang semakin panjang dari pangkal capit ke arah ujung. Tipe duri seperti ini merupakan ciri khas anggota suku Charinidae.(CR)

Seperti apa kepala kalacemeti?

December 17, 2010

Bagian atas kepala-dada dari kalacemeti dari jenis Sarax mardua yang ditemukan di Gua Mardua, Karst Sangkulirang

Kalacemeti, bersama dengan kelompok arachnida termasuk laba-laba merupakan binatang yang mempunyai kepala yang menyatu dengan dada. Dalam istilah biologi dikenal dengan cephalothorax atau ada yang menyebut dengan prosoma. Di kepala yang menyatu dengan dada ini terdapat beberapa alat yang penting seperti alat untuk melihat (mata), alat makan dan alat untuk bergerak.

Di kepala kalacemeti bagian paling depan terdapat alat mulut yang dikenal dengan Chelicera yang terdiri dari dua ruas. Sedangkan bagian atas, terdiri dari carapace dimana dalam bagian ini terdapat mata. Mata kalacemeti berjumalah delapan terdapat dalam 3 kelompok yaitu mata tengah (2 mata) dan mata samping (6 mata).

Penampakan kepala bagian atas ini bervariasi dari satu kelompok dengan kelompok suku yang lain. Ada yang berbentuk memanjang, ada yang membulat dan ada yang rata.

Gambar diatas adalah tipe membulat yang dimiliki hampir semua anggota suku Charinidae. Di bagian tepi depan terdapat beberapa “rambut” atau dalam istilah dikenal dengan setae yang berjumlah 6 buah.

Ornamentasi kepala pun bermacam-macam tergantung jenis dan marganya, Begitu pula bentuk mata tengah yang umunya sebuah tonjolan dengan dua mata yang menghadapa ke depan-samping. Mata di jenis Sarax mardua menunjukkan kekhasan dimana mata tengah, dua matanya terpisah satu sama lain berbeda dengan jenis dari kelompok lain yang terkadang berupa tonjolan yang tinggi dengan dua ‘rambut’. (CR)

Uang dan kekayaan alam

December 22, 2010

Uang memang bisa membuat orang bisa membeli apa saja, bahkan bagi yang mempunyai banyak uang bisa membeli kekayaan alam yang ada di sekeliling kita.

Namun, sekarang saya tidak akan membicarakan bagaimana uang bisa membeli kekayaan alam tapi lebih pada bagaimana uang bisa menghadirkan kekayaan alam yang ada di suatu negara.

Uang Kertas Baru Filipina

Baru-baru ini, Bank Sentral Filipina mengeluarkan uang dengan model baru dan dengan warna yang cukup menggugah. Terlepas dari kontroversi yang ada, uang tersebut telah memberikan satu kebanggaan tersendiri bagi bangsa Filipina.

Uang-uang baru dengan pecahan dari 20, 50, 100, 200, 500 dan 1000Peso ini menghadirkan kekayaan alam yang ada di Filipina dan termasuk didalamnya keanekaraman hayati yang dimiliki oleh Filipina.

Berikut ini saya hanya menyampaikan bagian yang memuat kekayaan alam saja yang bisa dan relevan saya bicarakan. Read more…

Dengan apa kalacemeti makan?

February 2, 2011

Kalacemeti merupakan kelompok arachnida yang mempunyai alat makan yang disebut dengan Chelicera. Berbeda dengan kelompok lainnya, Arachnida atau secara umum Chelicerata mempunyai alat mulut yang terdiri dari dua ruas atau dua segmen dan biasanya terdiri dari gigi-gigi dan “rambut” halus.

Chelicera dalam kalacemeti merupakan sepasang “tungkai” terdepan yang terdapat di bawah bagian depan karapas. Chelicera yang terdiri dari dua ruas memiliki bagian dasar ruas yang mengarah ke depan dan biasanya berukuran lebih besar daripada ruas lainnya. Sedangkan ruas yang terdepan disebut dengan “fang” atau boleh dibilang sebagai “siung” yang berbentuk cekung dan mengarah ke arah bawah. Read more…

Ketika Komodo cari perhatian

February 4, 2011

Komodo yang eksotis (Foto: Harum Sekartaji)

Beberapa hari ini, Komodo kembali hilir mudik di pemberitaan media online maupun cetak. Salah satu sebabnya adalah terancam dicoretnya nama Pulau Komodo sebagai salah satu kandidat New Seven Wonders yang digagas salah satu yayasan yang berkedudukan di Swis.

Namun, kali ini saya tidak akan membicarakan polemik terancamnya Pulau Komodo dari daftar finalis New Seven Wonders, biarlah Kementrian Budaya dan Pariwisata yang membahasnya dan menyelesaikannya.

Hari Rabu (2/11) yang lalu KOMPAS menurunkan berita tentang Komodo yang judulnya cukup provokatif, Di Indonesia Tak Ada Ahli Komodo. Provokatif disini dalam arti positif artinya menohok bangsa kita akan kesadaran perlunya mempelajari salah satu kekayaan bangsa dan negara kita yaitu keanekaragaman hayati, khususnya Komodo. Read more…

Kumbang gua dari Karst Maros, Sulawesi Selatan

February 8, 2011

Salah satu kumbang gua (illustrasi)

Selama beberapa dekade, penelitian biologi gua di Maros telah menambah daftar panjang kekayaan biodiversitas di Indonesia khususnya biodiversitas gua.

Sejak tahun 80-an, ekspedisi para caver dan peneliti Perancis di kawasan ini telah berkontribusi banyak pada pengungkapan kekayaan biodiversitas di kawasan eksotik ini.

LIPI dimulai tahun 2001, telah berkolaborasi dengan berbagai peneliti dari luar negeri juga telah secara terus menerus melakukan kegiatan penelitian di kawasan ini. Salah satu kekayaan yang menarik dan belum banyak dilirik adalah temuan beberapa jenis kumbang khas gua yang menghuni kegelapan gua-gua di Maros. Read more…

PETZL bajakan dari China

February 13, 2011

Pagi ini, begitu bangun check facebook ada caver dari Venezuela yang berbagi tentang adanya produk PETZL bajakan dari China.

Peringatan tentang ini telah dikeluarkan oleh PETZL tanggal 12 Februari 2011 di link ini.

Ada empat produk PETZL yang dibajak yaitu Croll B16, Attache M35SL, Ascension B17 dan Rescue P50

Dari empat produk yang dibajak, semuanya tidak memenuhi standara keselamatan yang disyaratkan dan sangat berbahaya untuk kegiatana yang beresiko tinggi.

Sebagai contoh, Croll B16 mengalami pembengkokan frame dan terlepasnya tali pada beban 4 kN yang semestinya baru terlepas pada beban 6 kN

Selain itu, attache M35SL mengalami terlepasnya  as utama pada beban 13 kN yang semestinya beban maksimal 20 kN.

Untuk menghindari produk bajakan, belilah produk-produk PETZL dari pengecer yang resmi atau yang telah dikenal kapabilitasnya.

Jangan mudah percaya dengan produk-produk dengan harga MURAH.

SAFE CAVING!! Safety First!!

Laba-laba jenis baru dari Sumatra

April 26, 2011

Trilacuna merapi dari Sumatra (Sumber: Zootaxa)

Beberapa hari yang lalu, di jurnal ZOOTAXA terbit satu artikel tentang jenis baru dari Thailand, Malaysia dan Sumatra dari famili Oonopidae yang ditulis oleh peneliti dari Swiss. Artikel berjudul “ New Trilacuna species from Thailand, Malaysia and Sumatra(Araneae, Oonopidae)” yang ditulis oleh BEATA EICHENBERGER & YVONNE KRANZ-BALTENSPERGER terbit dalam jurnal Zootaxa 2823:1-31. Read more…

Karst, dilema pemanfaatan lahan

July 1, 2011

Pemanfaatan karst yang perlu kajian lebih mendalam (C. Rahmadi)

Beberapa waktu lalu, ramai diberitakan gencarnya masyarakat Sukolilo menentang keras rencana pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pati untuk mengijinkan pendirian pabrik semen dan penambangan kapur di Pegunungan Kendeng Utara.

Masyarakat dan LSM menolak rencana dengan investasi Rp. 5 triliyun tersebut karena dikhawatirkan mengancam mata pencaharian petani akibat terganggunya pasokan air ke lahan persawahan. Read more…

Dengan binatang berkaki delapan (1)

June 27, 2011

Catatan: Entah berguna atau tidak buat orang, namun setelah sekian lama absen menarikan jari untuk menulis di blog ini, saya mencoba berbagi cerita bagaimana saya bisa mulai mencintai binatang berkaki delapan ini yakni kalacemeti, bahasa susahnya Amblypygi (Arachnida). Ada beberapa yang mau saya bagi dalam beberapa artikel pendek. semoga ada manfaatnya. Maaf kalau saya lebih banyak menggunakan “aku” dalam tulisan saya (salam) **

Sewaktu kecil, aku hanya mengenal laba-laba yang sering membuat kotor langit-langit rumah. Laba-laba yang aku kenal pun hanya laba-laba kemlandingan (Nephila sp.) yang membuat sarang sangat besar di antara pohon jambu dan pohon belimbing di depan rumah.

Kalacuka, yang berbau kalau diganggu

Selain itu, aku selalu bermain bersama teman mencari kalajengking. Kita mencari kalajengking di lubang-lubang yang banyak ditemukan di lereng-lereng yang dulu belum banyak di beton seperti sekarang.
Read more…

sekelumit dari kegelapan gua di Waigeo

June 27, 2011

 

Pulau Waigeo tidak hanya menyimpan keindahan bawah laut tapi juga keindahan bawah tanah yang belum banyak diungkap.

Beberapa gua mempunyai dekorasi gua yang sangat unik dan indah. Genangan air payau yang jernih pun menampakkan dasarnya yang kecoklatan.

Waigeo, layaknya surga tak bertepi.

Waigeo – a secret garden

June 28, 2011

Waigeo merupakan satu pulau di gugusan Kepulauan Raja Ampat yang sangat dikenal dengan kekayaan bahari-nya. Berbagai macam kehidupan bawah laut menjadi daya tarik sendiri yang telah mengundang orang untuk berkunjung dan menyelaminya. Read more…

Sebagian kecil penghuni Waigeo, Raja Ampat Papua

June 29, 2011

Fauna khususnya Arthropoda yang menghuni gua-gua di Waigeo, cukup menarik karena beberapa kelompok yang ditemukan merupakan jenis-jenis yang belum dikenal sebelumnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa jenis baru dideskripsi dari Pulau Waigeo seperti kepiting gua Karstarma waigeo dan Karstarma ensifera yang menghuni gua. Read more…

Banten Caves – unearthed the beauty

June 30, 2011

Kawasan selatan Banten merupakan salah satu kawasan dengan potensi gua-gua yang belum banyak dijamah. Adalah Norman Edwin bersama Garba Bhumi nya yang di era 80-an telah mengeksplorasi gua-gua di daerah Bayah.

Gua-gua di Desa Sawarna adalah keindahan lain yang belum banyak di kelola selain keindahan pantai selatan yang telah banyak dikembangkan sebagai tujuan wisata. Read more…

Karst Jawa kian terancam

July 4, 2011

Sebaran karst di Jawa

Jawa tidak dipungkiri memang menjadi pulau segalanya di Indonesia, pusat ekonomi, kepadatan penduduk, bahkan konon penyumbang masyarakat miskin terbesar di Indonesia tapi juga segala macam masalah bisa jadi bersumber dari pulau satu ini, dari masalah politik bahkan sampai masalah kerusakan lingkungan.

Salah satu yang menjadi masalah adalah masalah lingkungan karst yang kian lama kian terpojok dan tergerus oleh aktivitas manusia untuk alasan pembangunan dan kemajuan ekonomi bangsa. Alasan yang tidak salah dan bisa menimbulkan perdebatan panjang.

Di Jawa, luas kawasan karst mencapai 4 persen dari total luas pulau Jawa yang tersebar dari Cibinong, Padalarang, Gombong Selatan, Nusakambangan, Gunung Sewu sampai ke Malang Selatan dan Tuban Lamongan.
Read more…

Segelintir pesona Pulau Muna

July 5, 2011

Pulau Muna merupakan salah satu pulau yang cukup menarik di Sulawesi Tenggara. Dengan kondisi pulau yang tersusun oleh batuan karst, membuat Pulau Muna menjadi pulau yang tampak keras karena di beberapa tempat memiliki kondisi lingkungan yang kering dan tandus.

Read more…

Mendalami gua-gua di Pegunungan Muller

July 6, 2011

Menyusuri Sungai Barito menuju desa terakhir yakni Desa Tumbang Topus, merupakan pengalaman tersendiri. Menggunakan perahu bermotor melewati jeram-jeram yang cukup membuat jantung berdegup cukup keras. Ada kalanya, kita harus turun dari perahu hanya motoris dan penunjuk arah yang menembus jeram menyusuri urat air. Read more…

Wisata gua – bagaimana menyikapinya?

July 13, 2011

Salah satu sudut Gua Wisata "Gua Akbar" Tuban Jawa Timur

Gua merupakan salah satu potensi wisata yang belum banyak dikembangkan meskipun sebenarnya wisata di dalam gua sudah banyak dibuka di beberapa daerah. Lihat saja Gua Jatijajar di Gombong yang telah sekian tahun dibuka untuk umum kemudian Gua Gong Pacitan yang mempunyai ornamen cukup indah. Di Jawa Timur, ada Gua Akbar di Tuban dan Gua Maharani di Lamongan dan masih ada beberapa gua yang dikembangkan untuk “mass tourism”

Read more…

Jomblang-Grubug – untuk lebih baik

July 21, 2011

Pengantar:Tulisan ini merupakan bagian dari urun rembug saya tentang Jomblang dan sekaligus menanggapi beberapa diskusi menarik tentang kondisi Jomblang-Grubug beberapa waktu lalu.

Tulisan ini merupakan gambaran umum dari kondisi-kondisi Jomblang yang mungkin bisa digunakan untuk menjadikan Jomblang lebih baik.

Apa yang sudah ada sekarang perlu disikapi dengan bijak dan bagaimana membantu untuk mengembangkan yang lebih konstruktif dan ramah bagi kondisi Luweng Jomblang itu sendiri.

Selain itu perlu segera dicarikan solusi bersama bagaimana menjaga kondisi Jomblang agar tetap terjaga dan dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Tulisan ini sebagian adalah tulisan saya ditambah Quotes dari salah satu teman (Sunu Widjanarko) yang lebih melihat ada yang perlu dibenahi pada diri kita sendiri para aktivis penelusuran gua. Selain itu bagaimana melihat Jomblang dg fakta dan kondisi yang ada sekarang dan mencoba mengurai permasalahan yang ada dan mencari jalan keluarnya. Semoga hal ini bisa menjadi bagian dari kontribusi “Jomblang-Grubug lebih baik” (note: Cahyo Rahmadi)

Luweng Jomblang merupakan salah satu gua yang dikenal karena memilik keunikan dan keindahan yang tidak terbantahkan. Gua bertipe ”collapse doline” ini memiliki kedalaman lintasan yang bervariasi dari 20 meter sampai 50 meter.

Lorong gua yang menghubungkan Jomblang dan Grubug menjadi daya tarik tersendiri karena menghadirkan pemandangan yang menakjubkan baik ketika menuju ke Grubug maupun sebaliknya menuju Jomblang. Terutama ketika jam tertentu, dimana, sinar matahari yang menerobos mulut Luweng Grubug menampakan lukisan cahaya. Sebuah pemandangan yang sangat indah.

Namun disini saya tidak akan membahas itu semua karena semua orang telah paham dengan potensi yang ada di Jomblang.

Read more…

Kalajengking semu lebih senang perawan

July 27, 2011

Kalajengking semu dari gua

Ada yang kenal kalajengking semu? Kalajengking semu merupakam kelompok Arachnida yang mirip kalajengking yang punya capit tapi tidak memiliki “ekor” yang mempunyai sengat,

Ukuran kalajengking semu juga sangat kecil jika dibandingkan klajengking sesungguhnya. Read more…

Kumbang Cerambycidae jenis baru dari Sulawesi

July 28, 2011

Jenis baru dari Sulawesi Tenggara (dari Komiya & Santos-Silva 2011)

Indonesia kembali menyumbang jenis baru bagi kekayaan keanekaragaman hayati di dunia. Beberapa bulan lalu, tepatnya 10 Juni 2011, telah dipublikasi dua jenis baru kumbang Cerambycidae di jurnal Zookeys.

Dua jenis tersebut salah satunya dari Sulawesi Indonesia yang diberi nama Stenandra saitoae Komiya & Santos-Sylva (2011). Spesimen dari jenis baru tersebut dikoleksi di Konda di Kendari Sulawesi Tenggara oleh orang Jepang yaitu Akiko Saito. Read more…

Kumbang Buprestidae baru dari Lombok dan Sumatra

July 29, 2011

Jenis baru kumbang Buprestidae dari Sumatra & Lombok (dari Bily & Nakladal 2011)

Empat jenis baru kumbang Buprestidae dari marga Philanthaxia dari Asia Tenggara dipublikasi di Jurnal taksonomi Zookeys pada tanggal 6 Juli 2011.

Empat jenis baru tersebut, dua diantaranya berasal dari Lombok dan Sumatra. Jenis dari Lombok diberi nama Philanthaxia lombokana Bily & Nakladal (2011) yang dikoleksi dari Gunung Rinjani oleh kolektor lokal.

Read more…

Keajaiban Kecil dari Gua Indonesia

August 2, 2011

Udang Stenasellus dari Sukabumi

National Geographic Indonesia, September 2007

Louis Deharveng tak banyak bicara. Ahli biologi sekaligus penelusur gua asal Prancis ini tengah sibuk mengeluarkan barang-barang, sendok plastik kecil, penyaring teh, dan kuas gambar, dari dalam tas pinggangnya.

Sementara kedua tangannya bekerja, pandangan Deharveng tetap melekat pada genangan air yang berada di hadapannya. Dengan gerak perlahan, ia jongkok dan membungkukkan postur setinggi 195 sentimeter dan kemudian mulai mendekati permukaan air.

Sendok kecil di tangan kanannya dimasukkan ke dalam air hingga dasar genangan dan tangan kirinya memegang penyaring teh. Hanya dalam hitungan menit, sendok itu telah berisi: seekor hewan, penghuni dasar genangan yang belum diidentifikasi. Ia lalu mengangkat sendok perlahan-lahan dan memasukkan hewan itu ke dalam botol putih yang telah kami siapkan sebelumnya. Read more…

Tak ada tempat bagi peneliti Indonesia di media

August 29, 2011

Ilustrasi

Hal ini berawal dari hasil penelitian kerjasama antara LIPI dan UC DAVIS di Mekongga yang menghasilkan temuan tawon dengan “rahang” yang sangat kekar.

Read more…

Cave biology for all – Jogja

September 19, 2011

Komunitas penelusur gua dan pemerhati karst dan gua berfoto bersama setelah usai kegiatan

Akhirnya, pada tanggal 16 September 2011 bertempat di Fakultas Biologi UGM, tim Puslit Biologi LIPI berkesempatan berbagi tentang “Biologi Gua”  bersama komunitas penelusur gua di Jogjakarta dan para pemerhati dan pemerhati karst dan gua.

Sekitar 80 penelusur gua dan pemerhati karst dan gua berkumpul di Ruang 4 Fakultas Biologi atas undangan Matalabiogama UGM.

Read more…

Cave biology for all – Jabodetabek

September 23, 2011

Gedung Widyasatwaloka, Bidang Zoologi Puslit Biologi LIPI

Hari/tanggal : Sabtu, 15 Oktober 2011

Pukul                : 09.00 WIB

Tempat             : Gedung Widyasatwaloka, Puslit Biologi LIPI – Cibinong Science Center

Pembicara       : Prof. Dr. Yayuk R. Suhardjono, Sigit Wiantoro, M.Sc. dan Cahyo Rahmadi, S.Si.

Kontak Person : Cahyo Rahmadi – 085691691626, twitter: @crahmadi

FREE – snacks and drinks are served

TEMPAT TERBATAS

Pendaftaran disini

Akses

Dari Jakarta via Tol Jagorawi:

Mobil Pribadi – Exit Tol Citeureup menuju Cibinong belok ke kiri di jalan samping ITC CIBINONG

Bis Umum: Turun di ITC CIBINONG naik Ojek ke Gedung Widyasatwaloka Bidang Zoologi, Puslit Biologi LIPI CIBINONG. Ongkos sekitar Rp. 5000,00

Dari Depok via Jl. Raya Jakarta-Bogor

Mobil Pribadi – ke arah Cibinong sampai di Km. 46 setelah pertigaan PEMDA BOGOR sekitar 1 km di sebelah kiri jalan ada logo LIPI, kemudian gerbang masuk LIPI lurus terus, sampai ketemu pertigan Ecology Park, lurus sampai ketemu gerbang di pojok kanan jalan.

Bis Umum – turun di Komplek LIPI/Bakos, jalan kaki sekitar 10 menit atau naik ojek tidak lebih dari Rp. 5000,00

Dari Bogor  via Tol Jagorawi atau Jl. Raya Jakarta-Bogor

Mobil Pribadi: Bisa keluar EXIT SENTUL atau di EXIT CITEUEREUP.

Naik angkot Citeureup 08 turun di Komplek LIPI/Bakos.

Peta:


View Larger Map

Diskusi Biospeleologi di Impala Unibraw, Malang (6 Oktober 2011)

October 10, 2011

Caving di Malang Selatan

Malang, salah satu kota yang selama ini saya impikan untuk bisa dikunjungi terutama gua-gua di sana yang sama sekali belum pernah saya kunjungi.

Namun, kali ini saya tidak akan menceritakan pengalaman menyusuri gua-gua di Malang Selatan tapi akan bercerita tentang kesempatan yang berharga untuk berbagi dan berdiskusi tentang biospeleologi di Impala Unibraw.

Diskusi ini tak lepas dari bantuan dari teman-teman IMPALA UNIBRAW seperti Mas Imron Fauzi yang ditindaklanjuti dengan SMS-an dengan mba Maria dan juga Maya.

Diskusi dengan gelaran di Lobi UKM UB ini dilaksanakan pada tanggal 6 Oktober 2011 pukul 15.00 dengan membawa dua topik yaitu Biospeleologi Indonesia yang saya sampaikan dan tidak kalah penting Kelelawar dan Gua di Indonesia yang disampaikan oleh Sigit Wiantoro. Read more…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 193 other followers