Skip to content

Jawa 1: Menjelajah tanah Banten, merangkak di kegelapan gua

September 23, 2010

Tiga tahun lalu, tepatnya 2007-2008, saya berkesempatan berkeliling tanah Jawa dari kawasan TN Ujung Kulon dibagian barat sampai di bagian timur menyeberang dengan kapal roro menjejakkan kaki di Pulau Madura. Sementara saya masih menyisakan PR di kawasan karst malang Selatan ke timur hingga Blambangan (TN Alas Purwo) yang belum sempat kami eksplorasi

Saya bersama Sigit Wiantoro dan beberapa teman yang terlibat, mencoba mengukur aspal hanya untuk menemukan kehidupan lain di tanah Jawa ini.

Berbekal dengan bantuan dana yang mengucur dari beberapa penyandang dana, saya harus berterima kasih kepada Rufford Foundation (Inggris) dan Nagao Foundation (Jepang) yang telah mendukung kegiatan menyusuri kegelapan gua di Jawa ini.

Selain itu, dana pemerintah pun mengucur untuk kami di Puslit Biologi melalui DIPA KSK Karst yang telah berjalan beberapa tahun di kawasan karst Gunung Sewu, Yogyakarta meskipun saya hanya sekedar anggota tim, tapi kecipratan “blusukan” di daerah bergunung seribu ini.

Tulisan ini dan berikutnya merupakan cerita rangkaian perjalanan kami di setiap tempat yang kami telusuri. Beberapa hal yang menarik coba saya ungkapkan berharap bisa bermanfaat dan memberikan gambaran bagaimana kami dan teman-teman bekerja yang terkadang harus berjibaku dengan maut.

Semua serba tidak mudah, tapi kami menikmatinya.


Dari gua ke gua

Saya, Sigit dan Nanang Supriyatna, sempat menghabiskan waktu untuk mengenal lebih jauh kawasan karst di Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak.

Desa yang berpantai indah seperti Pantai Manuk ini dikelilingi dengan pegunungan karst, menawarkan keindahan yang cukup mengesankan. Hamparan padi dengan lumbung-lumbung padi yang khas budaya Banten, begitu memberikan nuansa lain di perjalanan mengungkap kehidupan gua.

Beberapa gua yang terdapat di sekitar desa, menawarkan tantangan yang berbeda antara satu gua dengan gua lainnya. Salah satu gua yang paling panjang adalah Gua Lalay yang berarti gua kelelawar, mempunyai banyak lorong yang bercabang dan lorong utamanya dialiri oleh sungai bawah tanah yang tidak pernah kering yang mengalir ke teras-teras persawahan.

Gua yang dihuni oleh sekumpulan kelelawar ini memberikan nilai lain bagi air yang mengalir keluar dari gua ke persawahan. Air-air ini telah dilaruti oleh kotoran kelelawar yang jatuh dari langit-langit gua dan mengumpul di lanta-lantai gua atau langsung masuk ke dalam aliran sungai.

Gua Lalay dihuni oleh beberapa jenis kelelawar, masing-masing jenis hidup di tempatnya masing-masing yang tidak bersinggungan satu sama lain.

Ketika keluar gua untuk mencari pakan di petang hari pun, secara bergantian mereka keluar di jalan masing-masing atau dalam waktu yang berbeda.

Inilah yang menjadi daya tarik Gua Lalay selain keindahan yang tersimpan di kegelapan yang ada di dalamnya.

Drama di kegelapan

Selain itu, hewan-hewan kecil yang banyak hidup di lantai gua atau dinding-dinding gua semakin melengkapi daya tarik “ilmiah” yang harus saya renggut saat itu juga.

Jenis hewan seperti lipan berkaki panjang, Scolopendra, yang berlari cepat pun banyak ditemukan di lorong gua yang menumpuk kotoran kelelawarnya. Selain itu jangkrik gua (Rhaphidophora sp.) yang bersungut panjang bergerak kesana kemari menyusuri tumpukan guano mengais makanan di tumpukan guano. Di lain tempat, beberapa ekor jangkrik ditemukan bergerombol mengerumuni bangkai kelelawar yang terjatuh dan mati seakan menikmati pesta makanan yang tak berkesudahan.

Di sudut lorong gua yang lain, kala cemeti, Stygophrynussp., yang mempunyai kaki depan berubah jadi sungut seperti cambuk pun merayap di dinding gua mengamati jangkrik gua yang sedang terdiam. Sungutnya yang panjang dijulurkan seakan meraba-raba untuk mengetahuin apa yang ada di dekatnya.

Sementara “rambut-rambut” halus, trichobothria, yang banyak ditemukan di kaki-kakinya mencoba merekam keberadaan jangkrik yang akan dimangsanya.

“Rambut-rambut” yang sangat peka oleh perubahan angin ini, mampu memberikan informasi dimana posisi mangsa diperkuat dengan sungut-sungut yang menjulur kesana kemari semakin meningkatkan akurasi kapan kala cemeti harus bergerak menyergap mangsanya.

Sebagian kecil drama di kegelapan ini semakin memberikan gambaran bagaimana hewan satu dengan hewan lainnya saling bergantung dan berinteraksi membentuk jaring-jaring makanan yang saling terhubung. Hilangnya satu jenis hewan akan mempengaruhi keberadaan hewan lainnya.

Hilangnya kelelawar karena penangkapan atau hilangnya sumber pakan di sekiling gua, menyebabkan berkurangnya sumber makanan bagi jangkrik, ekor pegas atau hewan-hewan lain yang bergantung padanya.

Manfaat

Fungsi keberadaan mereka bagi lingkungan tidak lah dengan mudah dapat dilihat oleh manusia. Namun, keberadaan mereka menjadi bagian penting bagi kelangsungan manusia.

Manusia tidak akan pernah tahu kalau mereka ada di sekeliling kita, hidup di dunianya yang gelap dan sunyi kalau tidak ada orang yang mau menengoknya ke sana.

Semoga ini menjadi bagian untuk menunjukkan kalau “mereka ada” di sana.

Bersambung….


Keterangan Gambar:

  1. Menyusuri gua berbalut lumpur
  2. Lumbung padi tradisional yang banyak ditemukan di Desa Sawarna
  3. Jangkrik gua sedang menikmati kelelawar yang sudah mati
  4. Mempelajari kehidupannya di dalamnya sebuah kenikmatan tersendiri
  5. Lorong gua dengan sungai bawah tanah di Gua Lalay, Sawarna

Tulisan asli dapat dibaca di BLOG LIPI

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,276 other followers

%d bloggers like this: