Skip to content

Jawa 2: Mengukur kegelapan

September 30, 2010
Melanjutkan cerita sebelumnya, kali ini saya mencoba memberikan gambaran bagaimana kami mengeluarkan segala hasrat kami untuk mengungkap apa yang ada di dalam gua yang tersimpan di dalam tanah di Pulau Jawa.

Masih melanjutkan cerita tentang eksplorasi di tanah Banten, saya ingin menyampaikan sisi lain kehidupan kami sebagai biolog yang kadang bekerja dalam tempat yang sulit namun kami sangat menikmati.

Di kegelapan Gua Lalay, saya bersama Sigit Wiantoro dibantu Nanang Supriatna dan Rahmat mahasiswa IPB, kami mencoba melakukan hal yang bisa menghasilkan sebuah data dalam angka-angka yang bisa dimengerti dengan mudah sehingga layak untuk disebut penelitian.
Pertama yang saya lakukan bersama mereka, saya mencoba menjawab seberapa panjang rangkaian lorong-lorong gua yang berliku-liku di Gua Lalay ini. Kami harus menyusuri lekuk-lekuk lorong dengan mengukur panjang lorong, lebar lorong dan bahkan tinggi langit-langit gua.

Saya mencatat dengan pensil ke dalam kertas kalkir semua data yang ada termasuk berapa derajat arah lorong tersebut dari arah utara yang terbaca dari kompas, panjang lorong, lebar lorong, tinggi atap gua dan menggambar potongan lorong.

Lorong-lorong sempit pun tak luput dari jamahan.

Setelah semua selesai, gambar sketsa sekilas gua telah selesai dan dapat dijadikan acuan untuk keperluan selanjutnya.

Menangkap
Sigit dan Nanang pun tak berhenti begitu saja, mereka berdua dengan bersenjatakan jaring dengan tiang yang cukup panjang mencoba menangkap satu persatu kelelawar yang bergerombol di langit-langit gua.

Selain menangkap dengan jaring bertiang panjang, mereka berdua menggunakan jaring kabut atau sering disebut dengan mist net yang dibentangkan searah lorong gua. Bentuk jaring kabut ini persis sama dengan jaring untuk badminton atau bola voli. Namun ukuran lubang jaring dan talinya sangat jauh berbeda.

Jaring kabut berwarna hitam dengan tali semacam nylon yang sangat tipis namun sangat kuat untuk menahan goncangan karena ditabrak kelelawar.

Jaring kabut yang telah dibentangkan di lorong gua dibiarkan, kemudian sekumpulan kelelawar di ganggu. Akhirnya kelelawar pun terperangkap satu per satu di jaring kabut.

Kelelawar yang mempunyai kemampuan navigasi dalam gelap dengan ekolokasi tidak mampu mengindari jaring kabut. Mereka terperangkap dalam jaring dan tidak bisa dengan mudah terlepas dari jeratan jaring.

Dengan ekolokasi kelelawar mampu bermanuver dalam lorong gua yang gelap dan tidak pernah menabrak dinding atau langit-langit gua, tapi mereka gagal untuk mendeteksi keberadaan jaring kabut karena tali jaring yang sangat tipis sehingga tidak tertangkap oleh ekolokasi.

Kelelawar yang tertangkap dikumpulkan dalam kantong kain yang didesain berbentuk kantong dengan tali yang mudah diikat kemudian dibawa ke basecamp untuk dilakukan pengukuran lebih lanjut seperti panjang kaki, rentang sayap dan parameter lain yang penting.

Kondisi lingkungan
Setelah Sigit menganggap cukup dengan hasil tangkapannya, dia melanjutkan dengan jurus-jurus selanjutnya. Jurus yang paling penting dalam kegiatan kita sebagai biolog yakni mempelajari tempat hidup satu hewan yakni habitat kelelawar.

Dengan alat ukur meteran, Sigit mencoba kembali mengukur lebih detail lorong tempat kelelawar bergerombol. Dari panjang lorong, lebar lorong tinggi atap dan kondisi lantai gua dicatat dengan detail. Berbekal handcounter, sebelum menangkap kelelawar dia sudah mencatat berapa banyak kelelawar yang bergerombol disitu.

Kemudian, dia mencoba menggunakan Thermohygrometer untuk mengetahui berapa tinggi suhu di lorong tersebut dan berapa kelembabannya. Setelah melakukan beberapa kali ulangan, dia mencoba selengkap mungkin mencatat semua parameter lingkungan di setiap lorong gua.

Hal yang sama dilakukan ketika dia menemukan koloni kelelawar dari jenis yang berbeda, begitu seterusnya sampai semua koloni kelelawar terdata dengan lengkap.

Dengan data tersebut, dia berharap dapat mengetahui spesifikasi tempat hidup masing-masing jenis yang ada di gua Lalay. Karena kelelawar mempunya mikrohabitat yang khas dan berbeda antara satu jenis dengan jenis yang lain.

Beberapa jenis pun terkadang hanya ditemukan di lubang-lubang sempit yang berbentuk seperti corong atau dikenal dengan bell hole dengan beberapa individu di dalamnya. Sementara jenis lain, sangat banyak ditemukan di lorong gua yang besar dan menggantung di langit-langit gua yang menampakan kerlip-kerlip bintang jika lampu dimatikan meskipun itu adalah pancaran mata kelelawar.

Itulah yang kami lakukan, Sigit begitu menikmati meskipun harus merangkak berbalut lumpur di lorong gua yang sempit hanya untuk mendapatkan data yang dia harapkan.

Kerja belum selesai
Setelah keluar dari gua, pekerjaan bagi kami belumlah berakhir. Saya harus memasukan informasi yagn diperlukan dalam botol-botol koleksi hewan-hewan yang kami temui di dalam gua.

Saya harus mencoba mencatat dalam buku lapangan saya, secara kasar data umum hewan yang saya koleksi.

Setelah selesai, saya memasukkan data hasil pemetaan gua yang kami lakukan dalam lembar kerja di Excel untuk diolah dengan perangkat lunak pemetaan gua yang lain.

Di lain pihak, Sigit dan Nanang harus melihat kembali tangkapannya. Kantong-kantong berisi kelelawar satu persatu dikeluarkan. Ekor demi ekor dikeluarkan dari kantong, beberapa ekor dipilih untuk koleksi di museum sedangkan sisanya dilepaskan kembali ke habitatnya.

Beberapa ekor yang dipilih, dimasukkan dalam kantong yang berbeda untuk dibius dengan chloroform yang diteteskan pada kapas dan dimasukkan ke dalam plastik.

Setelah pingsan, satu persatu kelelawar diukur dengan menggunakan digital calliper untuk mempelajari variasi morfometri setiap populasi.

Sementara, Nanang dengan cekatan mengambil pisau bedah untuk “mengambil hati” kelelawar. Dengan perlahan dia membelah bagian perut kelelawar dan mengeluarkan hati dan dimasukkan ke dalam vial yang telah berisi alkohol dengan kadar 100% untuk keperluan penelitian molekuler berikutnya.

Setelah selesai, Nanang mengambil alat suntik dan mengambil larutan pengawet berupa formalin yang telah diencerkan. Layaknya mantri suntik, Nanang menyuntikkan formalin ke dalam bagian dalam tubuh kelelawar agar bagian dalam tidak mengalami pembusukan.

Setelah dianggap cukup, kemudian dia memasukkan kelelawar ke dalam container berisi cairan formalin agar kelelawar awet dan dapat diproses berikutnya di laboratorium di museum.

Semua ekor diperlakukan sama, beberapa ekor yang tidak diawetkan dilepaskan ke alam bebas setelah data yang dianggap perlu diambil.

Setelah semua selesai, akhirnya kami harus mengakhiri hari-hari berat kami dengan bercengkerama hingga kami terlelap tidur di rumah sederhana yang sediakan untuk kami bermalam selama beberapa hari.

Esok hari kami harus kembali bergumul dalam kegelapan berlumpur yang membuat kami merasa lebih berarti bagi bangsa ini.

Bersambung………

About these ads
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,480 other followers

%d bloggers like this: