Skip to content

K20 Maros: sebuah cerita yang terselip (Bag.2)

October 19, 2010

Setelah saya meninggalkan Karaenta dan  kembali ke Wisma Bantimurung akhirnya saya tidak tahu lagi bagaimana rencana dan kegiatan kojek dan kawan-kawan di Hutan Karaenta.

Di datangi Polisi di pagi buta

Hari itu, hari Kamis dan malamnya konon Kojek dan kawan-kawan memutuskan untuk memasuki K20. Namun saya tidak tahu pasti kapan mereka melakukan penelusuran.

Di saat tidur lelap yang panjang, saya dibangunkan oleh Bu Yayuk, kolega di LIPI, yang mengetok pintu karena kamarnya di ketok oleh penjaga malam Wisma, karena katanya ada Polisi yang mencari. Setahu saya waktu itu sekitar jam 3.30 pagi, dimana ayam pun belum sempat berkokok.

Dengan nyawa yang belum menyatu dengan raga, saya dikasih tahu kalau ada polisi datang dan bilang kalau ada teman yang mengalami musibah di dalam gua. Mendengar itu, saya semakin panik karena saya tahu persis, kalau teman yang sedang caving ya kojek dan kawan-kawan.

Namun, saya masih agak tenang karena saya ingat masih ada Kojek di sana yang mempunyai kemampuan teknik rescue yang tidak diragukan lagi. Sehingga saya dengan tenang ikut sama Pak Polisi ke Kantor Polsek bantimurung.

Di Polsek saya bertemu dua orang yang masih memakai “cover-all” dengan muka pucat dan panik, saya lupa namnya namun yang saya ingat dia rambutnya panjang dan selalu mengelurkan goejak-gojekan yang lucu. Satu orang lagi kalau nggak salah seorang perempuan, saya benar-benar lupa namanya.

Dari mereka, hati dan nyali saya luluh lantak ketika mereka bilang kalau yang mengalami musibah adalah Kojek. Lemes dan tidak bisa apa-apa untuk beberapa saat. Orang yang sebelumnya saya andalkan bisa menyelesaikan masalah ini ternyta justru yang mengalami musibah.

Pak Polisi yang tadi menjemput saya sudah kembali meneruskan mimpinya di bangku yang ada di Polsek, sementara saya harus mencari jalan gimana kita bisa menuju TKP dan memberikan pertolongan yang sedini mungkin.

Dari mereka saya tahu, kalau kojek masih sadar dan minta ditolong sama saya. Sebuah kepercayaan yang sangat berlebihan yang waktu itu harus saya pikul di pundak saya.

Akhirnya, untuk mencari transport ke lokasi saya harus berpikir keras karena polisi cuma memfasilitasi tdka memmberi jalan keluar untuk membantu trnasport, kemudian saya putuskan untuk mintal tolong Bacho’ yang sering antar saya, kembali saya harus minta tolong sama pak polisi untuk antar keruma dia, dengan ingatan yang sepotong-potong untuk meneumukan rumah baco apalagi di pagi buta sempat saya kesulitan untuk menemukan rumah dia.

Akhirnya,  saya bisa menemukan rumah dia dengan masih berkalung sarung, dia membukakan pintu dan saya langsung bilang kalau harus segera antar saya ke Karaenta.

Setelah transportasi beres, saya bertiga langsung menuju TKP yang memakan waktu sekitar 30-45 menit. Sebelum sampai ke sana, saya putuskan untuk berhenti dulu membeli GOGOS dan air untuk bekal siapa tahu diperlukan.

Dari mereka berdua saya baru tahu, kejadian diperkirakan sekitar tengah malam, salah satu orang harus keluar untuk mencari perolongan dan kembalik ke camp untuk memberi tahu kalau ada musibah. Bisa dibayangkan di tengah hutan Karaenta yang dikenal angker, dua orang menunggu di pinggri jalan yang satu dengan rambut gondrong dan yang satu memakain helm dan cover all lengkap memberhentikan truk yang lalu lalang Makassar-Bone.

Beberapa truk tidak mau berhenti karena mereka pikir ada hantu yang menggoda mereka. Namun akhirnya ada satu truk yang mau berhenti hingga mereka sampai di Kantor Polsek Bantimurung.

Setelah membeli Gogos dan akua, kita melanjutkan perjalanan menuju Karaenta yang letaknya benar-benar di tengah hutan. Saya tidak tahu lokasi gua tersebut sebenarnya namun mereka menunjukkan jalan dan konon patokannya, Pal penunjuk kilometer yang ada persis di mulut “koridor” atau celah yang menuju mulut gua K20.

K20 yang mengerikan

Saya tidak pernah tahu bagaimana profil K20 sebelumnya, jadi sama sekali saya tidak punya persiapan, waktu itu saya cuma berbekal celana pendek dan sepatu. Sesampainya di mulut K20 sekitar jam 5-530 dan hari masih saja gelap. Di depan mulut gua ada satu orang yang menunggu kemudian memberikan SRT set yang bisa saya pakai.

Meskipun sebelumnya saya tidak memikirkan mau masuk ke gua itu untuk terlibat penuh proses “penyelamatan”. Dengan berbekal beberapa akua gelas, yang saya masukkan ke dalam kaos saya karena di luar sudah tidak ada lagi tas, saya juga tidak sempat membawa tas, akhirnya saya menuju mulut gua yang cukup pendek dan sempit yang tidak pernah terbayang kalau mulut itu, menuju gua vertikal dengan kedalaman yang cukup menggetarkan nyali.

Begitu saya mulai memasang tali dan mulai menggantung, sayup-sayup saya mendengar erangan yang sangat memilukan di dengar telinga. Saya tahu persis itu erangan kojek yang menahan sakit yang saya tidak tahu pasti bagaimana kondisinya. Untuk membunuh gundah, dan sekaligus takut, saya bersenandung lagu “PAINT IT BLACK”nya Rolling Stones yang menjadi lagu latar TOUR OF DUTY. Dengan bersenandung itu saya bisa membunuh ketakutan saya sendiri dan bisa berpikir rasional dan sehingga tidak menambang panjang permasalahan.

Mendengar erangan yang tidak pernah surut itu, saya semakin gundah dan semakin saya mengulang-ulang lagu “paint it black” yang tidak pernah saya hapal liriknya.

Saya baru sadar kalau gua ini ada dua pitch, tidak berapa lama saya sudah sampai di Pitch 1 yang disitu ada satu orang yang tidak kalah pucat dan panik. Saya ingat, dia anak Kendari yang konon baru pertama kali masuk gua vertikal dan harus mengalami kejadian ini.

Dari dia, saya mendpat gambaran posisi kojek dan kondisinya dan bersama siapa dia di sana. Dia menjelaskan kalau Kojek bersama Indra di salah satu teras sempit tidak jauh dari Pitch 1.

Kemudian saya menurunkan air yang ada di dalam kaos saya dan minta tas yang ada di Pitch satu untuk saya bawa turun. Waktu itu saya tidak tahu kalau kedalaman gua tersebut lebih dari 100 meter, jadi saya agak santai, meskipun gundah dan gugup masih ada saja karena kojek tidak berhenti mengerang.

Teras yang sempit

Setelah selesai mempersiapkan semua, saya melanjutkan menuju teras dimana Kojek dan Indra berada. Sekitar 20-30 meter akhirnya saya bisa mencapi dan bisa berkomunikasi dengan Indra sementara Kojek masing mengerang.

Saya melihat muka Indra sudah seperti mayat hidup, mukanya pucat bibirnya bahkan sangat pucat. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana dia SELF RESCUE kojek hingga sampai di posisi Teras saat itu yaang notabene saya harus mengayun agar bisa sampai ke teras, karena posisi jatuhnya tali tidak tepat di dekat teras.

Begitu saya sampai, saya keluarkan minum dan nanya kondisi kojek sambil mengeluarkan minum buat Indra yang sudah pucat. Dari Indra saya tahu kalau nampaknya leher kojek mengalami “patah” karena entah membentur atau kejatuhan batu yang menjadi “anchor kedua”. Helm PETZL dia sudah pecah terbelah dan Aceto-nya sudah mengalami deformasi yang tidak bisa saya bayangkan kekuatan untuk membengkokkan aceto tersebut.

Setelah Indra merasa siap, akhirnya kita serah terima kojek, karena Indra akan naik. Setelah Indra naik saya kemudian observasi dan mengamati posisi yang ada. Setelah itu saya baru sadar kalau Kojek dan Indra sebelumnya hanya bertumpu pada satu tambatan hasil anchor buatan yang terletak pada batu yang retak.

Membuang batu lepasan

Setalah Indra naik, saya membersihkan teras yang ternyta banyak batu lepasan yang bisa membahayakan kita berdua. Selama itu, saya masih bisa berkomunikasi dengan kojek dan dia masih sadar sepenuhnya dari sejak kejadian sampai Indra membawa dia ke teras sempit dengan ukuran satu meter dengan lebar tidak lebih dari 50 cm yang hanya cukup untuk berdua.

Setelah mneyuapi kojek dengan air yang saya bawa, saya mulai membersihkan batuan-batuan yang berbahaya. Bongkahan batu besar saya jatuhkan menimbulkan suara yang semakin bikin keder. Dari situ, saya bisa membayangkan seberapa dalam dasar gua ini.

Batu-batu yang ada saya singkirkan sambil berpikir, berapa lama proses rescue akan berjalan mengingat kondisi gua dan sumberdaya manusia yang ada di Makassar. Saya masih agak terhibur karena saya berpikiran Gatho masih ada di Makassar sehingga bisa cover kemampuan teknik.

Saya masih membayangkan bagaimana lintasan rescue dan teknik rescue yang akan digunakan mengingat kondisi mulut gua yang sempit dan multipitch.

Sementara, saya tidak tahu perkembangan yang terjadi di luar, saya hanya bisa menenangkan kojek sambil sesekali mengibur dan mengajak ngobrol dia supaya dia tidak tidur.

Kondisi leher yang patah, membuat saya tidak berani apa-apa kecuali menahan kepala dia di teras dengan slayer. Saya hanya bisa menghibur diri dan berusaha tenang karena terus terang sudah tidak tahu apa yang mesti saya lakukan selain menunggu tim yang datang dari Makassar.

Akhirnya, sekitar jam 9-10 pagi ada informasi dari atas kalau sudah ada tim pendukung yang datang, ini yang membuat saya lega. Karena alat yang paling vital adalah penyangga leher supaya tidak semakin parah.

Saya akan melanjutkan bagaimana saya memasang penyangga leher, minta kojek untuk misuh2 sepuasnya untuk menahan sakit dan juga perjuangan saya menahan kencing sejak pagi di cerita berikutnya..

Bersambung…..

About these ads
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,610 other followers

%d bloggers like this: