Skip to content

Ketika Komodo cari perhatian

February 4, 2011

Komodo yang eksotis (Foto: Harum Sekartaji)

Beberapa hari ini, Komodo kembali hilir mudik di pemberitaan media online maupun cetak. Salah satu sebabnya adalah terancam dicoretnya nama Pulau Komodo sebagai salah satu kandidat New Seven Wonders yang digagas salah satu yayasan yang berkedudukan di Swis.

Namun, kali ini saya tidak akan membicarakan polemik terancamnya Pulau Komodo dari daftar finalis New Seven Wonders, biarlah Kementrian Budaya dan Pariwisata yang membahasnya dan menyelesaikannya.

Hari Rabu (2/11) yang lalu KOMPAS menurunkan berita tentang Komodo yang judulnya cukup provokatif, Di Indonesia Tak Ada Ahli Komodo. Provokatif disini dalam arti positif artinya menohok bangsa kita akan kesadaran perlunya mempelajari salah satu kekayaan bangsa dan negara kita yaitu keanekaragaman hayati, khususnya Komodo.

Dalam laporannya, Kompas menulis sebuah ironi dimana Komodo yang hanya satu-satunya ditemukan di Indonesia namun tidak ada ahli yang khusus mempelajari seluk beluk keberadaan Komodo dari populasi, perilaku, potensi keberadaannya di masa yang akan datan dan semua aspek biologi yang semestinya mendapat perhatian.

Namun, nampaknya hal ini belum menjadi perhatian bangsa ini. Puslit Biologi LIPI sebagai salah satu lembaga yang kurang lebih bertanggung jawab di negara ini untuk mempelajari segala aspek keanekaragaman hayati di Indonesia belum mempunyai ahli yang khusus mempelajari Komodo.

Seperti yang disampaikan Ibu Mumpuni dalam laporan Kompas, menegaskan, ahli yang memahami segala seluk beluk Komodo memang belum ada di Indonesia.

”Peneliti Indonesia belum menjadikan komodo sebagai kajian khusus karena masih banyak bidang lain yang juga penting dikaji,” katanya. (Kompas, 2/11)

Hal ini menunjukkan memang kita seperti dibuai oleh kekayaan keanekaragaman hayati negara ini, sampai kita terlupa untuk mempelajarinya.

Komodo sebagai salah satu fauna yang endemik Indonesia dan menjadi salah satu maskot negara ini hendaknya mulai diberi perhatian lebih, bukan hanya diekspoitasi sebagai aset “wisata” dengan kampanye untuk voting menjadi salah satu keajaiban duni baru tapi lupa memahami seluk beluknya.

Sebelum “eksploitasi” wisata yang konon dilaporkan oleh Menbudpar sejak kampanye untuk Keajaiban duni baru, kunjungan wisata di Pulau Komodo telah meningkat mencapi 400%. sebuah peningkatan yang cukup fantastis, namun sudah adakah kesadaran pihak-pihak yang bertanggung jawab untuk mengantisipasi dampak ini, dengan mempelajari seluk beluk komodo lebih mendalam.

Kalau tidak ada ahli di Indonesia, lantas kepada siapa beban tanggung jawab ini harus diserahkan. Dalam laporan kompas, banyak peneliti asing yang meneliti Komodo dari banyak aspek. Namun, sudah semestinya bangsa ini lebih bertanggung jawab untuk mempelajarinya.

Regenerasi Ahli

Dalam laporan lanjutaanya, hari ini Jumat (4/2) Kompas menurunkan berita yang berjudul Mendesak, Regenerasi Ahli Komodo yang salah satunya mengklarifikasi keberadaan ahli Komodo di Indonesia.

Adalah Soeparmi Surahya (78 th) yang telah menekuni Komodo sejak 1977-1989 seperti yang dilaporkan Kompas, merupakan salah satu ahli yang “tersisa” di negara ini. Usia beliau yang sudah cukup sepuh nampaknya sangat mendesak untuk dilakukan regenerasi ahli komodo di negara ini.

Lantas, bagaimana menyelamatkan ahli-ahli komodo dan “menciptakan” ahli-ahli baru tentang Komodo?

Sebenarnya, ketika saya membaca laporan kompas hari Rabu, bayangan saya langsung terbang ke kolega saya yang sedang berjibaku menempuh pendidikan doktornya di Bonn, Jerman. Adalah Evi Arida, kolega saya di kantor yang saat ini nampaknya sedang mempelajari genetika populasi Komodo bekerjasama dengan peneliti Italia dan Jerman.

Namun nampaknya, nama kolega saya ini terlupa telah menjadi bagian dari Regenerasi Ahli Komodo, namun apakah di masa depan akan all out mempelajari seluk beluk Komodo, inilah tantangan buat beliau.

Sebuah ironi bagi bangsa khususnya lembaga dimana saya bernaung, kalau tidak ada satupun yang mengerti tentang hewan purba yang menjadi logo yang sangat gagah dan menjadi kebanggaan tersendiri,  “In Solitudine Fors”.

Terabaikan

Kembali, permasalahan minimnya ahli biologi di Indonesia bukan merupakan isapan jempol alias omong kosong. Namun adalah fakta dimana jumlah “ahli biologi” khususnya taksonomi dan aspek yang melingkupinya, telah semakin langka.

Regenerasi melalui bangku kuliah nampaknya menjadi potret kegagalan untuk menciptakan biolog-biolog yang mumpuni di bidangnya.

Saya pernah menuliskan pendapat ini dalam salah satu media, bahwa ilmu Biologi khususnya taksonomi telah menjadi anak tiri di negara yang kaya akan keanekaragaman hayati.

Dr. Jatna Supriatna dalam laporan Kompas (4/2) juga menyampaikan keprihatinan yang sama dimana para mahasiswa lebih tertarik ilmu politik dan kalaupun ilmu Biologi lebih khusus pada bidang yang lebih menjanjikan materi seperti Bioteknologi.

Sementara bidang Biologi yang mempelajari seluk beluk hidupan liar yang harus pergi ke hutan berbulan-bulan menjadi bidang yang terabaikan.

Nampaknya generasi muda, khususnya mahasiswa lebih tertarik dunia yang tidak penuh tantangan. Mereka lebih tertantang untuk duduk manis di laboratorium, namun tidak pernah atau tidak mau hidup di laboratorium sebenarnya yakni “alam’.

Lantas, masihkan ilmu biologi khususnya yang mempelajari tentang seluk beluk hidupan satwa liar dari taksonomi, populasi, perilaku, habitat dan lain sebagainya menjadi ‘bidang yang langka” seperti keanekaragaman hayatinya?

Apakah Indonesia juga akan menghadapi kepunahan ahli-ahli hidupan liar seiring punahnya hidupan liar di alamnya.

Inilah tantangan tersendiri bagi mahasiswa atua generasi saat ini, jangan sampai hanya menjadi generasi “turun ke jalan” tapi lupa menjadi generasi “turun ke hutan” atau “alam”.

Generasi muda yang lebih banyak berkeliaran di mall, cafe, gamecenter atau internet cafe, tapi lupa menyempatkan untuk main di liarnya alam untuk menempa kematangan diri dan mempelajari apa yang ada di dalamnya.

Kita tidak akan pernah tertarik untuk mempelajarinya sesuatu kalau kita tidak pernah tahu keberadaaanya apalagi mengenalnya.

Mari kita pergi ke hutan, gunung, laut, gua dan mengenal apa yang ada didalamnya.

Siapa lagi kalau bukan kita yang akan mempelajarinya?

Saat ini, Komodo sedang cari perhatian!!

Catatan kaki:

  1. Tulisan ini pendapat pribadi dan tidak mewakili atau menggambarkan pendapat lembaga.
  2. Terima kasih buat Harum Sekartaji, untuk ijin pemakaian foto Komodo.
About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,480 other followers

%d bloggers like this: