Skip to content

Tantangan baru dunia caving Indonesia

April 20, 2012

Kegiatan caving atau penelusuran gua di Indonesia sudah cukup lama dan tua, sejak tahun 80-an ketika dokter Ko, Norman Edwin dan kawan-kawan merintis eksplorasi bawah tanah dengan Specavina-nya.

Sejak saat itu, geliat dunia caving bermunculan di kota-kota di Indonesia seperti Malang, Jogja, Bogor dan kota-kota lainnya.

Saat ini kantong-kantong kegiatan penelusuran gua masih banyak bertebaran dimana-mana dan kebanyakan ada di Pulau Jawa meskipun beberapa kota di luar Jawa juga cukup banyak.

Namun pertanyaannya, apa kontribusi nyata para pegiat penelusuran gua ini bagi kawasn karst dan gua tempat kita beraktifitas?

Sejauh mana peran kita para penelusur gua untuk menyumbang pemikiran, hasil kegiatan dan pengetahuan bagi pengelolaan karst dan gua?

Menikmati

Mungkin, yang masih banyak dilakukan saat ini sebatas menikmati dan mengeksplorasi tanpa memikirkan perlu tidaknya berkiprah atau berkontribusi untuk membantu menyelesaikan permaslahan karst.

Ada sebagian pihak mungkin mempunyai pemikiran, tidak perlu para caver dibebani untuk mencari solusi permasalahan karst.

Pihak lain lagi, tidak perlu kita sok ikut terlibat urusan pemerintah dan terlibat polemik pemanfaatan karst.

Ada lagi yang penting saya bisa caving dan menikmati gua dengan keindahan yang ada di dalamnya.

Namun sayang sekali kalau terkadang justru caver atau penelusur gua menjadi sumber masalah tersebut.

Mungkin itu yang bisa ditemukan di segelintir penikmat gua, meskipun masih ada harapan teman-teman yang sudah berpikir jauh untuk menjadi bagian dari problem solver permasalahan karst di Indonesia.

Meskipun ada sebagian yang seperti tidak peduli dengan permaslahan karst namun masih ada beberapa pihak yang merelakan waktu dan tenaga untuk menjadi bagian untuk menambah wawasan masyarakat tentang karst dan gua.

Dengan kegiatan eksplorasinya, ada beberapa organisasi yang berkontribusi menjadi bagian dari solusi terhadap konflik pemanfaatn karst.

Sebagai contoh klub speleologi jogja seperti ASC mampu berkontribusi bagi permasalahan karst di Kendeng Selatan. Bersama masyarakat mereka berjuang dan mengedukasi masyarakat dengan pengetahaun tentang seluk beluk karst dan gua dari pendataan mulut gua, mata air bahkan sampai pemetaan gua sampai pengolahan data sehingga masyarakat bisa mandiri untuk mempertahankan apa yang menjadi gantungan hidupnya.

Ancaman
Mungkin kegiatan caving saat ini sudah mempunyai tantangan yang berbeda dengan caving dua puluh tahunan lalu.

Saat ini tantangan dan ancaman terhadap kawasan karst di Jawa lebih nyata dan masif.

Rencana pembukaan pabrik semen baru dengan konsekwensi penambangan batu gamping telah menggeliat dimana-mana khususnya di Jawa.

Rencana penambangan di beberapa kawasan yang notabene belum banyak dieksplorasi dan didata keberadaannya menjadi ancaman sangat serius.

Mungkin caver-caver di Indonesia kurang menyadari bahwa data kawasan karst dan gua di Indonesia khususnya Jawa masih minim.

Sehingga, kemungkinan kita kehilangan informasi dan data akibat aktifitas penambangan ini nyata di depan mata.

Peran
Mungkin kita perlu merubah paradigma kegitan caving di Indonesia dari petualangan menjadi lebih meangarah pada kegiatan pendataan dan mungkin lebih ilmiah dibanding hanya sekedar keluar masuk dan turun naik gua tanpa menghasilkan apa-apa.

Mungkin sudaha saatnya kita tidak perlu ekspedisi atau eksplorasi terlalu jauh karena kawasan karst di sekiling kita di Jawa mengahadapai ancaman yang sangat nyata.

Kegiatan eksplorasi bersama dengan muatan kegiatan penelitian mungkin akan lebih bermakna dan bermanfaat daripada hanya sekedar memenuhi ego tantangan petualangan kita.

Berbagi
Selain itu, seperti yang sudah pernah saya sampaikan di tulisan lainya tentang perlunya berbagi informasi dan data yang akan menjadi lebih kuat dalam membantu menjadi bagian pengelolaan karst dan gua.

Jika setiap organisasi atau klub speleologi melakukan eksplorasi dan berbagi laporan dengan siapa saja tentu akan lebih efektif dan bermakna.

Seperti saya ketika mengeksplorasi gua di karst tertentu tidak perlu lagi membuat peta gua untuk mencantumkan temuan jenis baru atau temuan biota menarik dalam gua.

Hal ini karena sudah ada organisasi atau klub speleologi yang membuat pemetaannya, sehingga pihak lain tidak perlu menhabiskan energi lagi untuk membuat peta gua.

Selain itu, data sebaran gua di satu kawasan juga sudah selayaknya menjadi public domain sehingga pihak-pihak lain yang memerlukan tidak perlu bertanya-tanya lagi.

Saya memahami beberapa pihak bertaruh nyawa, tenaga dan harta untuk memperoleh data dan informasi tersebut, tapi apa gunanya jika data itu tersimpan dan tidak pernah dibuka untuk bisa dimanfaatkan pihak lain.

Sepertinya sudah tidak adalagi alasan penyalahgunaan data misalnya data orang lain tidak dicantimkan sumber atau digunakan untuk alasan finansial lain sperti dijual untuk pihak ketiga.

Karena saat ini era informasi terbuka, siapa saja dengan muda mendapatkan informasi dan dengan cepat mengetahui perkembangan baru.

Kalau paradigma laporan tebal tapi masih menumpuk di perpustakaan tanpa ada orang bisa mengaksesnya tentu itu semua tidak ada manfaatnya.

Karena yang terjadi hanya duplikasi untuk hal yang sama dilakukan pihak berbeda, sehingga tidak ada tambahan informasi baru untuk menambah informasi sebelumnya.

Semoga kita punya kesadaran untuk semakin berperan bukan hanya sekedar penikmat gua dan karst Indonesia.

**

it’s not about the longest and the deepest of the cave but it’s about how useful we are for cave and karst conservation

@@@

*sambil menunggu pesawat delay menuju Surabaya dan dilanjut Malang*

About these ads
4 Comments leave one →
  1. April 26, 2012 3:29 am

    setuju sekali ttg artikel ini, akses data (peta,koordinat dan sebagainya) perlu adanya keterbukaan (Sharing) terlebih teknologi sudah canggih

    • May 4, 2012 11:50 am

      sayangnya, masih ada yang malas untuk mempublikasikan hasil ekplorasinya atau paling tidak menyebarluaskan informasi hasil eksplorasi…

  2. May 4, 2012 1:25 pm

    minta ijin nge share nggih mas……matur suwun

  3. July 29, 2013 4:15 pm

    setuju sekali dengan tulisan mas cahyo khususnya tentang ketersediaan data.
    Saya sedang skripsi mengenai carrying capacity (daya dukung lingkungan) mencari data konsentrasi biota gua kalisuci belum tersedia, nanti tujuannya ke pembatasan dan penyesuaian HTM yg mengcover biaya lingkungan. Sekalian saya mau tanya sama mas cahyo udh pernah ada penelitiannya ga ya mas? saya cari di LIPI ga ada, matalabiogama juga ga punya. Kalau ada saya mohon infonya. Nuwun. (Febrianti N.A – Ilmu Ekonomi UGM)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,480 other followers

%d bloggers like this: