Skip to content

Menanggapi kemarahan dan keramahan lingkungan pabrik semen Rembang

April 10, 2015
Neraca rembang

Neraca Kebutuhan Air berdasarkan dokumen ANDAL (Sumber: dokumen Andal dg perubahan perwajah dan data reservoir tidak jelas)

PT Semen Indonesia dalam rilisnya yang salah satunya dimuat Republika Online (9 April 2015) mencoba menjawab kekhawatiran para pihak yang menentang pendirian pabrik semen karena dianggap mengancam lingkungan dan ketersediaan air.

Dalam rilisnya tersebut, Direktur Utama PT Semen Indonesia, Suparni mencoba menjawab tuduhan ketidakramahan tersebut dengan terobosan maupun langkah yang dianggap ramah lingkungan. Terobosan tersebut seperti penggunaan non mobile transportation equipments, lokasi tambah tidak terdapat sumber air dan pembuatan green belt selebar 50 m mengeliling lokasi tambang.

Namun, setelah kembali melihat dokumen ANDAL, saya pribadi merasa ada hal yang tidak selaras antara apa yang disampaikan Dirut PT SI dengan dokumen ANDAL yang sebagai salah satu syarat keluarnya ijin lingkungan yang konon telah mengantongi 34 ijin.

Berikut hal-hal yang menurut saya tidak selaras antara keramahan lingkungan PT SI dibandingkan dengan dokumen ANDAL. Read more…

Speleologi Indonesia: berkumpul dan berbagi di Cibubur – ISG 2014

October 21, 2014
Gathering 1

Sesi perkenalan dan pemaparan harapan dan hambatan (Foto Antama Lasa Dea)

Hari kamis pagi, 16 Oktober 2014, saya masih berkutat di kantor untuk urusan kantor yang harus saya selesaikan. Malam sebelumnya, Abe, Fredy, Petra dan Mirza sudah sepakat untuk bertemu di Cibubur. Pagi itu, informasi peserta yang akan bergabung di Indonesia Speleo Gathering 2014 sudah melebihi kapasitas yang ada. Waktu itu, hanya kamar Kencono Wungu B yang berjumlah empat kamar dengan kapasitas 64 orang sudah ditangan ditambah tenda pleton dengan velbed kapasitas 20 orang. Satu kamar utama di Graha Wisata kapasitas 6 orang yang tersedia untuk narasumber.

Saya harus menghubungi pengelola lagi untuk penambahan fasilitas tenda pleton untuk antisipasi jumlah on the spot yang tidak terduga. Tidak lama kemudian, pihak pengelola menelepon dan menginformasikan jika Kencono Wungu batal digunakan oleh pihak lain, sehingga semua kamar bisa dipakai. Dengan semangat membara, saya nyatakan kalau semua kamar saya booking untuk kegiatan gathering.

Dengan perasaan lega, meskipun tidak tahu jumlah pasti peserta yang mau bergabung, tersedia akomodasi yang lebih dari cukup. Mirza, yang sudah ijin dari kantornya menginformasikan sedang di UKI, waktu itu masih menunjuk pukul 11.30an. Akhirnya saya minta dia meluncur ke Cibinong untuk berangkat bersama dari kantor.

Sambil menunggu bahan spanduk, backdrop, sertifikat, namecard dan lain-lain Mirza datang ke kantor. Barang yang harus dibawa masih belum lengkap, masih ada yang akan dikirim pukul 13.00. Read more…

Mengapa penambangan di Rembang perlu ditinjau?

July 7, 2014

Berikut ini adalah fakta-fakta yang ditemukan di dokumen Amdal:

  1. Salah satu dasar hukum yang digunakan adalah Kepres No, 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung dengan alasan areal penambangan merupakan kawasan karst yang memiliki beberapa mata air sehingga dikategorikan kawasan lindung sehingga perlu dikaji kelas-kelas karst yang boleh ditambang. (Hal. I-10)
  2. Di kawasan IUP merupakan kawasan imbuhan/resapan air tanah, tempat masuknya air ketika terjadi hujan menuju akuifer yang dikeluarkan dalam bentuk mata air. (Hal. II-19)
  3. Berdasarkan hasil pemetaan dengan metode APLIS terdapat dua kategori imbuhan air tanah sedang (40-60%) dan imbuhan air tanah tinggi (60-80): Imbuhan sedang – Karstifikasi sedang, Imbuhan tinggi – Karstifikasi tinggi
  4. Kawasan UP sebagian besar merupakan kawasan resapan air yang air tanahnya mengarah ke arah timur atau di Desa Tahunan, Kecamatan Sale. (Hal. III-20).
  5. Maka dari itu perlu diketahui hubungan antara daerah resapan IUP ini dengan mata air di bagian timur yang merupakan mata air tahunan yaitu pada Sumber Semen dan Brubulan. (Hal. III-20)
  6. Daerah imbuh mata air sumber Semen 635 l/detik seluas 7500 ha. Sumber Brubulan 100 l/dt seluas 220 ha.
  7. Di daerah IUP: akuifer semi conduit, air meresap ke dalam lembah, masuk ke dalam lorong gua dan keluar menjadi mata air.  Berdasarkan hasil pengeboran terdapat rongga (baca: gua) (Hal. III-2s)
  8. Mata air Brubulan mempunyai daerah tangakapan di IUP sebesar 40 % berdasarkan interpretasi foto (Hal. III-30)
  9. Mata air Brubulan Pesucen adalah mata air vital bagi masayarakat khususnya untuk mandi, mencuci dan IRIGASI (Hal. III-38)
  10. Kawasan karst Tegaldowo (Hal III-78):
    1. mengalami proses pelarutan
    2. membentuk struktur pelarutan sperti lekukan dan rongga-rongga dalam berbagai ukuran
    3. membentuk sistem perguaan ciri utama karst

 

dan dari deretan fakta di atas, oleh tim penyusun Amdal disimpulkan:

Geologi Area Penambangan (Hal III-80):

Berdasarkan gambaran di atas dapat disimpulkan bahwa lokasi petak termasuk kawasan budidaya. Lokasi kawsan kars lindung berada di luar petak rencana penambangan. Tidak ditemukan mata air, goa baik basah maupun kerin di dalam petak. Dapat di simpulkan berdasarkan data di lapangan daerah penambangn bukan termasuk dalam kawasan kars lindung sehingga dapat dilakukan penambangan di penyelidikan

Mengapa kesimpulan sangat bertolak belakang dengan fakta?

Garunggang – bergelut dengan lumpur dan gelap

June 5, 2014

Siapa yang tidak kenal Hambalang? Saya yakin semua kenal dengan Hambalang terutama sejak proyek komplek olah raga menjadi masalah dan menyeret petinggi negara dan partai karena permasalahan korupsi. Namun saya tidak akan banyak mengungkap Hambalang karena korupsi namun sebagai sebuah titik awal petualangan yang mendebarkan di seputaran Bogor.

Read more…

Amazing Muna –

December 6, 2013

Bulan September 2007, tim peneliti LIPI bersama peneliti dari Inggris, Spanyol, Australia dan Perancis melakukan eksplorasi di Pulau Muna. Tiga cave divers menyelami gua-gua yang menakjubkan di dalamnya. Berikut adalah dokumentasi yang tercecer selama kegiatan.

CavesID – statistik yang mengejutkan

December 2, 2013
cavesID

Data Sebaran gua yang sudah masuk ke CavesID, terlihat masih banyak ruang kosong yang perlu diisi untuk menutupi gap tersebut.

Mengapa CavesID? Sebenarnya nama ini saya usulkan ketika saya ngoceh tentang datagua dan problematikanya di Indonesia.

Intinya, di Indonesia belum ada satu wahana yang memunculkan data sebaran gua seluruh Indonesia kecuali ASC dengan data yang ada di Gunungsewu. Selain itu, banyak nama gua yang sinonim dalam penyebutan. Read more…

Ironi Ciorai – speleologi yang diam (1)

November 25, 2013

Tebing karst yang menemani sepanjang perjalanan ke Ciorai

Kemudian, Mirza posting di group Indocaver sebuah tulisan tentang masyarakat Ciorai dan bagaimana mereka hidup berdampingan penuh ironi dengan dua raksasa pabrik semen yaitu Indocement dan Holcim.

Dari postingan itu, seperti biasa aku, Abe, Mirza dan Syahrul yang telah sering jalan-jalan ke Cibinong barengan, tertarik untuk berkunjung ke Ciorai. Konon kalau naik mobil atau motor harus yang 4×4 atau motor trail.

Read more…

Y Anchor – Rigging Luweng Serpeng

November 5, 2013
Photo 05-11-13 18 58 13

Perhitungan sudut Y-anchor dari Sunu Widjanarko (2005)

Gunung Sewu – Indonesian Cave and Karst Journal terbitan pertama yang mengupas banyak hal dari agresifitas air tanah hingga arkeologi dan bahkan teknik rigging.

Tulisan mencerahkan dari caver kawakan yakni Sunu Widjanarko yang mengupas tentang Y-Anchor. Membaca tulisan ini saya teringat Luweng Serpeng, luweng yang telah menorehkan sejarah kelabu dunia speleologi dan caving Indonesia.

Karena semua kejadian di Luweng Serpeng beberapa waktu lalu tidak perlu terjadi jika Y-anchor ini digunakan. Read more…

ngumpul bareng yuks?

November 1, 2013

Kalau kembali ke masa lalu, dunia speleologi dan caving Indonesia sudah cukup panjang perjalanannya. Sejarah telah terlalu panjang untuk ditorehkan dan diceritakan kepada anak cucu di masa yang akan datang.

Namun, pernahkan kita bertanya sejauh mana kita selama ini berperan untuk kawasan karst dan gua di Indonesia. Apakah kira hanya sekedar keluar masuk gua? atau kita telah mulai berpikir untuk berperan mengelola kawasan karst.

Untuk itu, mohon masukannya di Questioner disini atau di form di bawah ini:

#Biotagua – apa perlu tahu ?

November 1, 2013

Sebenarnya ini hanya sekedar membunuh rasa ingin tahu, bagaimana sebenarnya teman-teman yang melakukan kegiatan penelusuran gua melihat apa yang ada di dalamnya.

Banyak aspek yang sebenarnya bisa dilihat, digali dan didokumentasikan dan pada akhirnya hal ini semua dapat menjadi kontribusi untuk kawasan karst dan isinya.

Salah satu bagian yang menarik buat saya adalah biota gua, yang mungkin hanya segelintir orang yang memperhatikan apalagi mendokumentasikan.

Selama dua hari pada tanggal 24-25 Oktober 2013, melalui akun twitter @kabarpetualang setelah berdiskusi dengan adminnya muncul quiz tentang biota gua. Sederhana saja, yang punya foto biota gua silakan mention @kabarpetualang dan @crahmadi dengan tagar #Biotagua – Read more…

Simpang Saga – desanya emas putih (1)

October 31, 2013
photo

Gua Rojali, Simpang Saga – tempat hunian walet

“Pak, bisa ikut ke Palembang untuk lihat gua yang dihuni walet nggak?”, tanya Pak Denny di seberang sana.

Agak ragu untuk menjawab pertanyaan itu, karena saat itu sedang mendampingi mitra kerja dari AMNH yang sedang penelitian kalajengking di Sumatera. Saat itu, saya masih harus menuju Prapat dan tinggal di sana untuk beberapa hari sebelum berangkat ke Medan untuk kembali ke Jakarta.

“Rencana tanggal 22-25 Juli 2013”, lanjut Pak Denny di telepon. Read more…

Karst Maros, secuil surga jatuh ke bumi

October 21, 2013
tags: ,
pangkep

Bentangalam di Kampung Bellae, Minnasatene, Pangkep

Matahari pagi muncul dari balik bukit karst yang menjulang tinggi di Kampung Bellae, di Kecamatan Minasa Te’ne Kabupaten Pangkajene Kepulauan sekitar 45 km sebelah utara Bandara Sultan Hasanuddin Maros.

 Di kejauhan nampak pohon siwalan yang muncul berdampingan dengan batu-batu gamping yang masih tersisa di tengah persawahan yang mengering dengan latar belakang tower karst yang menjulang.

Read more…

Separuh bukit karst, hilang kurang dari setahun

October 19, 2013

Tampak lubang di tebing yang terkupas menganga di dekat pertigaan Bedoyo, Gunungkidul. Konon, tebing sisa kerakusan begu ini sudah ditinggalkan oleh para penambang. Bukit kapur yang berbentuk “conical hills” ini sudah separuh terkupas.

“Gunung ini belum setahun mas ditambang, belum lama kok”, seorang ibu pemilik warung menjawab pertanyaan kami ketika berbincang di Bedoyo Kamis (17/10) lalu.

Belum setahun, tapi sudah menghasilkan kerusakan yang luar biasa, begitu rakusnya mesin-mesin pengeruk bukit itu.

Bisa dibayangkan berapa bukit akan hillang dalam 10 tahun mendatang jika kurang dari dua tahun hilang satu bukit kapur,

“Bagian bukit yang ditambang itu milik kas desa mas”, seorang bapak yang mendekati kami menimpali diskusi kami dengan ibu pemilik warung.

“Kalau yang sebaliknya, itu milik masyarakat tapi mereka nggak mau jual”, si bapak melanjutkan omongannya.

Si ibu pemilik warung juga menambahkan kalau penambang sudah pindah ke bukit yang tidak jauh dari situ.

Nilai satu bukit atau tiap lokasi tambang berbeda-beda dan tidak tentu. Ada yang dihitung setiap jumlah truk yang keluar ada yang dipatok harganya tergantung penjual bukit. Namun konon tidak pernah besar mencapai 50 juta. Namun entahlah, karena pemilik tambang banyak dari orang luar, dan masyarakat hanya pekerja.

Menantang
Dahulu, para penambang banyak mengikis bukit-bukit kapur yang jauh dari pinggir jalan besar sepanjang Wonosari- Bedoyo. Tapi sekarang, mereka sudah semakin terang-terangan mengeruk bukit-bukit kapur untuk dipindahkan ke tempat pengolahan dengan truk-truk besar.

Di atas Gua Seropan, gua dimana air bersih diambil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Gunungkidul dan Wonogiri ada satu bukit yang luruh separuh.

Tidak hanya satu bukit, tapi ada beberapa bukit yang diduga dibawahnya mengalir sungai bawah tanah yang hancur luluh.

Semakin hari, penambangan semakin meresahkan pandangan dan perasaan. Mungkin ini bentuk dari perlawanan terhadap pemerintah

“Pemerintah itu ngambang kok mas, nggak mau tegas kalau A ya A kalau B ya B” celoteh si bapak yang pernah ikut demo menentang moratorium penambangan di kantor Bupati Gunungkidul beberapa waktu lalu.

“Demo itu bisa dinegosiasikan mas”, si bapak menambahkan, “yang penting kami masyarakat ini diberi solusi, bukan hanya dilarang.”

Si Bapak bercerita, kalau dulu juga pernah menjadi penambang, tapi sekarang sudah berhenti.

“Saya tahu mas, kalau menambang bukit itu merusak lingkungan tapi gimana lagi, perut harus terus diisi.”

Ada benarnya juga, perlu adanya negosiasi untuk mencari jalan keluar pemanfaatan karst Gunungsewu yang tidak merusak. Pemerintah tidak hanya melarang, tapi juga memberi solusi dan alternatif mata pencaharian yang lebih baik.

Mungkin ini yang sulit, namun jika pemerintah daerah serius, pemanfaatan karst tanpa merusak bisa menghasilkan pendapatan yang sangat besar tinggal bagaimana pemerintah daerah serius memulai dan mengelola.

Salah satu yang sudah tampak adalah wisata gua seperti Gua Pindul. Pendapatan yang besar menjadi alternatif pemanfaatan karst dan gua-gua yang ada di dalamnya.

Namun sekali lagi, pengelolaan yang benarlah yang harus dikedepankan sehingga masyarakat tidak harus mengeruk bukit-bukit karst yang merupakan tipe karst tropik tipe “gunungsewu” yang terbaik.

20131019-172343.jpg

Helm caving Petzl yang bernasib sial

October 7, 2013
tags:
Penampakan helm Explorer yang nasibnya cukup tragis

Penampakan helm Explorer yang nasibnya cukup tragis

Dari kejauhan, terlihat teman-teman penelusur gua yang memakai cover all dengan menjinjing helm mendekat ke arah warung dimana saya sedang menikmati kopi di tengah gelaran International Cave Festival di Kampung Bellae, Kecamatan Minasa Te’ne, Pangkep.

Ternyata mereka adalah teman-teman dari salah satu intansi yang ikut di acara ini. Helm Explorer Petzl warna merah dengan aceto yang masih bersih dijinjing oleh mereka. Setelah dekat, saya berbincang dengan mereka tentang banyak hal.

Sejurus, saya melihat ada yang ganjil di kotak kuning tempat menyimpan batere yang ada di belakang helm. Bagian bawah kotak pecah yang menurut saya bukan karena terbentur atau pecah terjatuh. Tapi seperti ada upaya “sistematis” yang menjadikan kotak batere harus berakhir tragis seperti itu. Read more…

Melindungi spesies gua atau habitat dan ekosistemnya*

June 18, 2013

hymenosomatids2 lowGua merupakan salah satu ekosistem yang mempunyai kekayaan biodiversitas yang sangat tinggi. Ditinjau dari tingkat endemisme, kelangkaan, keunikan dan potensi kepunahan, hampir semua spesies khas gua layak menjadi perhatian dan perlindungan yang memadai.

Beberapa spesies gua merupakan spesies yang memiliki karakter morfologi yang unik karena mempunyai perbedaan morfologi yang khas dibandingkan kerabatnya yang ada di luar gua. Read more…

Kepiting Jacobson, kepiting endemik Gunungsewu

June 17, 2013
FA4_resize

Kepiting jacobson yang sedang merayap di lantai gua di salah satu gua di Gunungsewu

Di lorong gua yang berlumpur, dengan lubang-lubang sisa jejak kaki para penelusur gua yang berisi air, tampak beberapa ekor kepiting terdiam di tepi genangan. Kepiting berwana putih pucat dengan kaki yang memanjang ini seakan menikmati kegelapan gua. Satu ekor kepiting tampak berendam di dalam genangan yang bersubstrat lumpur. Sementara, di gundukan lumpur di sudut yang lain, tampak seekor kepiting berlari dengan kaki-kakinya yang panjang sambil seakan mengangkat badannya dengan gesit.

Itulah kepiting jacobson yang pertama kali ditemukan di Gua Jomblang di daerah Bedoyo oleh seorang Naturalis Belanda, Edward Jacobson. Kepiting yang memiliki mata yang sudah mengecil ini untuk pertama kalinya dikenalkan ke dunia ilmu pengetahuan oleh Ihle pada tahun 1912 di  jurnal Notes Leyden Museum dengan nama Sesarma jacobsoni.

Selain dari Gua Jomblang, Edward Jacobson juga mengkoleksi dari Gua Ngingrong yang ada di daerah Mulo. Kemudian, seiring perjalanan penelitian biospeleologi gua di Gunungsewu, beberapa catatan temuan di beberapa gua semakin bertambah seperti Gua Gilap, Gua Jurang Jero dan gua-gua lain yang tersebar di Gunungsewu khususnya Kabupaten Gunungkidul. Read more…

Keliling bukit karst – Gunungsewu

March 13, 2013

Seribu gunung, mungkin itu tampilan Karst Gunungsewu jika dilihat oleh burung terbang.

Namun, pernahkan merasakan berkeliling satu gunung ditengah hari yang terik?

Berburu gua
Mungkin tak banyak orang yang mau berkeliling gunung kalau kita bukan peladang atau seseorang yang kurangkerjaan.

Mungkin salah satu orang yang kurang kerjaan ya orang-orang yang cari gua.

Aku bersama Abe, dan Imron Fauzi dari Malang didampingi Pak Yusup dr Resort BKSDA Paliyan dan mas Imam dr Imogiri berkesempatan menjajal trek gunung seribu.

Ada sebuah gua, namanya Song Terus, kita hanya berbekal titik koordinat yang diambil hampir 15 tahun lalu dijamannya Garmin II, tidak seperti sekarang Garmin 76CSx yang punya akurasi lebih baik.

Gua ini ada di Paliyan Desa Karang Duwet, tdk diketahui pasti dimana mulut gua kecuali setitik koordinat.

Menyusuri jalan setapak yang cukup terjal, di kanan kiri hanya jagung dan singkong. Di tanahnya hanya segerombolan kacang tanah yang mencoba tumbuh dengan hujan yang sesekali turun.

Di akhir ladang, jalan mulai menanjak dengan semak yang lebat menutup jalan.

76Csx masih menunjukkan arah yang berbeda dengan jalan yang ditempuh. Namun tak ada jalan lain selain ikuti gerumbulan semak yang rapat karena sudah lama tak terbelah.

Semakin menanjak, ketinggian masih sekitar 230 m, jalan masih lebat dan belum ada tanda-tanda mulut gua yang dimaksud.

Mulut gua di sebrang jurang
Tak lama, setapak mulai memutar balik, di kejauhan di sebrang jurang tampak tebing yang menganga dengan mulut gua yang cukup besar.

Sementara, di sisi kiri ada tebing kecil tersingkap namun tidak menunjukkan tanda-tanda sebuah gua.

76CSx masih jauh menunjukkan gua yang dituju, bukan gua yang di sebrang sana.

Di kejauhan, nampak ladang ketela yang membuat kita tenang, ada kehidupan dan aktifitas di sana.

Kita mencoba mencari jalan untuk mencapai mulut gua di sebrang jurang, dan kita harus menyisir kaki tebing yang tampak rapat oleh semak.

Gubug di atas bukit
Sesampai di ladang yang dipagari jaring, aku mencoba mengikuti sisi pagar yang menuju gubug di atas bukit. Sementara yang lain masih berkumpul di ujung lembah untuk mencoba mencari jalan untuk menyisir kaki tebing.

Di dekat gubug, lamat terdengar orang berbicara. Aku masih di bawah gubug, sampai terdengar seseorang berteriak kepada teman-teman di ujung lembah, awal dari jurang.

Kemudian aku mendekat ke gubug, keramahan nampak dari seorang laki-laki muda sambil memegang arit.

Badhe tindak pundi mas?

Aku menjawab kalau kita ingin mencari “Song Terus”.

Menawi Song Terus nggih teng ngandap mriku!

, sambil lelaki itu menunjuk lembah di sisi lain yang mungkin kita lewati tadi.

Sementara, Abe dan teman-teman sudah merapat di gubug, sementara waktu sudah menunjuk 11.50.

Akhirnya kami istirahat dan ngobrol dulu dengan bapak-bapak yang ada di gubug.

Pemilik gubug seorang bapak yang berasal dari desa sebelah di Kecamatan Panggang. Beliau bercocok tanam di tanah Kecamatan Paliyan, dan diuntungkan karena tidak perlu melewati gerbang imigrasi dan beacukai.

Setelah ngobrol ngalor ngidul, akhirnya kita melanjutkan perjalanan mencari Song Terus.

Bapak-bapak hanya memberi petunjuk tinggal ikuti jalan setapak ke bawah.

Kita berangkat, namun semak lebat dan setapak yang mulai menghilang membuat kita bingung.

Namun tak lama, laki-laki muda yang pertama aku temui muncul dengan membawa arit dan tanpa beralas kaki.

Kemudian dia menerobos semak yang lebat dengan aritnya, dan jalan pun semakin curam.

Di depan, terbentang Wonosari Plateu dengan BTS yang menyembul.

Di sisi kanan tampak tebing kecil dengan mulut gua yang cukup besar.

Sepertinya itulah mulut gua Song Terus yang kita cari. Dari 76CSx tampak titil koordinat meleset sekitar 50 m.
Namun akhirnya kita sampai meskipun harus berkeliling bukit dulu.

Dulanjur nanti.

20130316-162900.jpg

Karst Jawa – ancaman dan tantangannya

June 21, 2012

Kondisi terkini kawasan karst di Jawa

Kawasan karst saat ini sangat memerlukan perhatian, karena pemanfaatan yang ada sekarang tidak dimulai dengan studi kelayakan yang pas untuk karakteristik kawasan karst yang unik

Kawasan karst di Tuban Jawa Timur kondisinya sudah semakin memprihatinkan terutama ketika saat ini ada raksasa pabrik semen juga membuka pabriknya di sana. Kondisi karst mulai bopeng-bopeng karena dikeruk.

Di Padalarang, bukit-bukit karst telah hancur tak lagi berbentuk karena aktivitas penambangan yang sangat intensif disana.

Di sepanjang tol Jagorawi jika ke arah bogor di sebelah timur ada tampak pabrik salah satu perusahaan semen yang semakin mengoyak bukit kapur yang tak lagi hijau.

Di Gunungsewu, di daerah Bedoyo, bukit-bukit karst sudah ditebas dan hampir rata dengan tanah.

Di Nusakambangan, hutan sudah terkoyak dan bukit-bukit telah luluh lantak karena ditambang oleh raksasa semen.

Rencana pembukaan pabrik baru di beberapa kawasan seperti di Grobogan, Pati, Bayah Banten, Sukabumi, semakin mengkhawatirkan mengingat, kondisi kawasan karst di Indonesia belum terdokumentasi dengan baik. Ini tantangan terbesarnya.

Pemanfaatan kawasan karst adalah bukan hal yang tabu, namun mestinya dimulai dengan langkah yang tepat dengan melakukan kajian ilmiah yang komprehensif yang sampai saat ini belum banyak dilakukan.

Apa dampak dari kerusakan karst bagi kehidupan manusia?

Ahli Hidrologi karst, Dr. Tjahyo Nugroho Adji dari Fakultas Geografi UGM pernah menyampaikan dalam workshop karst di Jogja beberapa waktu lalu, penambangan telah mengambil bagian utama penyimpan air di bukit-bukit karst. Sehingga, jika penambangan kapur berlanjut, dikhawatirkan akan merusak sistem hidrologi setempat yang berpengaruh pada semua aspek baik manusia maupun makhluk hidup.

Mata air yang banyak ditemukan di beberapa kaki bukit terancam kering, sungai bawah tanah yang mengalir dalam gua juga dikhawatirkan akan berpengaruh sehingga mempengaruhi debit atau bahkan sedimentasi.

Dalam jangka pendek jelas debu-debu yang dihasilkan selama proses penambangan akan mengganggu kesehatan meskipun bebebrapa perusahaan telah melaksanakn standar keselamatan.

Kerusakan karst dalam jangka pendek maupun panjang bisa mengancam sumber-sumber air yang penting seperti di kawasan karst Kendeng Utara, makanya masyarakat setempat menolak dengan keras rencana pendirian pabrik semen disana.

Selain itu, kerusakan karst akan berakibat pada lingkungan gua karena kurangnya pasokan air sehingga menyebabkan ornamen mati dan berhenti berproses, fauna-fauna akuatik yang bergantung pda air rembesan seperti udang primitif Stenasellus bisa punah karena hilangnya habitat

Jika karst rusak, ancaman apa yang dalam jangka pendek harus dihadapi masyarakat sekitar?

Mata air yang penting mungkin akan semakin terancam keberadaannya, debit air semakin mengecil karena pasokan kedalam “kapur” semakin sedikit karena daerah tangkapan semakin kecil sehingga air lebih banyak menjadi air larian atau air permukaan.

Apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan karst dari kerusakan, baik oleh masyarakat sekitar, pemerintah daerah maupun pelaku usaha yang sudah terlanjur membuat pabrik semen di sana?

Karst umumnya dikenal sebagai daerah yang kering, namun sebenarnya tidak demikian. Beberapa kawasan karst bisa ditanami dengan pohon karena minimnya top soil inilah yang menjadi sulit untuk menghijaukan kawasan karst.

Namun, jika penduduk mau menanam dan menjaga pohon, niscaya kawasan karst akan hijau dan tentu saja ini akan membantu ketersediaan air di dalam sungai bawah tanah atau mata air yang penting bagi pendduduk.

Pemerintah daerah dalam memanfaatkan kawasan karst hendaknya tidak melulu bermotif ekonomi jangka pendek dengan membuka peluang investasi penambangan untuk pabrik semen. Perlu dicari alternatif lain seperti usaha wisata maupun optimalisasi potensi yang sudah ada dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Jika sudah terjadi penambangan, penghijauan menjadi prioritas utama, karena dg penghijauan akan mengurangi laju kerusakan yang berimbas pada sistem hidrologi setempat.

Saya termasuk orang yang bukan pro tambang atau kontra tambang, semua semestinya bisa dimanfaatka secara proporsional dan memperhatikan kaidah keseimbangan alam.

Yang terjadi sekarang, kadang studi rencana pemanfaatan kawasan karst yang kurang sesuai. Kadang fungsi hidrologi tidak dikaji secara mendalam sehingga banyak hal yan tidak menjadi bahan pertimbangan.

Hal-hal praktis jangka pendek lebih dikedepankan sehingga membuat salah kelola yang justru banyak mengganggu dan menciptakan dampak yang berat bagi masyarakat sekitar.

Malang – Belajar bersama untuk fauna gua

May 4, 2012

Belajar tentang kelelawar bersama Sigit Wiantoro

Dalam kegiatan penelusuran gua, mendapatkan informasi apa saja dari gua yang kita kunjungi adalah suatu hal yang penting. Penelusuran gua tanpa melakukan pendataan sepertinya ada yang kurang.

Keberadaan karst di Indonesia yang semakin terancam akibat aktivitas manusia di Indonesia khususnya Pulau Jawa. Selain itu, minimnya data dan informasi tentang kondisi karst dan gua Indonesia juga menjadi alasan kuat mengapa pendataan gua itu penting.

Dengan pertimbangan itu, IMPALA UNIBRAW memandang perlu untuk melakukan lokakarya pengenalan Pendataan Potensi Kawasan Karst yang diselenggarakan pada tanggal 21-22 April 2012 ditindaklanjuti dengan belajar bersama di Gua Lowo bersama saya dan Sigit Wiantoro pada tanggal 23 April 2012.

Read more…

Tantangan baru dunia caving Indonesia

April 20, 2012

Kegiatan caving atau penelusuran gua di Indonesia sudah cukup lama dan tua, sejak tahun 80-an ketika dokter Ko, Norman Edwin dan kawan-kawan merintis eksplorasi bawah tanah dengan Specavina-nya.

Sejak saat itu, geliat dunia caving bermunculan di kota-kota di Indonesia seperti Malang, Jogja, Bogor dan kota-kota lainnya.

Saat ini kantong-kantong kegiatan penelusuran gua masih banyak bertebaran dimana-mana dan kebanyakan ada di Pulau Jawa meskipun beberapa kota di luar Jawa juga cukup banyak.

Namun pertanyaannya, apa kontribusi nyata para pegiat penelusuran gua ini bagi kawasn karst dan gua tempat kita beraktifitas?

Sejauh mana peran kita para penelusur gua untuk menyumbang pemikiran, hasil kegiatan dan pengetahuan bagi pengelolaan karst dan gua?

Read more…

Wonodadi – banjir di kawasan karst

March 14, 2012

Kondisi banjir di Desa Wonodadi (Sumber Foto: News Detik)

Siapa yang akan menyangka, kalau di daerah karst yang tidak banyak mengalir sungai permukaan akan mengalami banjir yang cukup parah, bahkan hampir menenggelamkan 9 rumah yang ada di sana.

Berita cukup mengagetkan ini datang dari Dusun Gunungan, Desa Wonodadi di Pracimantoro Wonogiri, Jawa Tengah.  Kecamatan Pracimantoro merupakan bagian Jawa Tengah yang terletak di deretan pegunungan sewu yang dikenal dengan Karst Gunungsewu.

Lokasi yang cukup tinggi dari muka air laut dan tidak ada sungai permukaan permaen yang mengalir di atasnya menjadikan seperti daerah yang cukup kering apalagi ketika musim kemarau.

Sungai-sungai hanya dipenuhi air ketika musim hujan dan air-air itu langsung masuk kedalam bumi melalui luweng-luweng atau gua yang banyak ditemukan di Gunungsewu seperti di Wonodadi ini.

Read more…

Gua pra-sejarah di Bontopadang, Bone

March 13, 2012

Gambar lukisan tangan di dinding gua (Foto C. Rahmadi)

Kemarin, Kompas menurunkan berita tentang temuan gua pra-sejarah dengan gambar cadas di dinding guanya. Temuan ini dilaporkan ditemukan di Kecamatan Bontocanni oleh penduduk yang sedang berburu babi.

Pada tahun 2002, saya pernah ke daerah Bontocanni, tepatnya di Bontopadang. Waktu ini saya pergi bersama tim Perancis seperti Lousi Deharveng, Anne Bedos, Didier Rigal dan beberapa caver Perancis lainnnya.

Pada saat itu, kita tidak menemukan ada gambar cadas di daerah itu karena memang tidak nampak dengan jelas di beberapa gua yang kita kunjungi.

Read more…

93 tahun Cagar Alam Gua Nglirip, Tuban – bagaimana kondisinya?

February 21, 2012

Papan CA Gua Nglirip (Foto: Facebook Edy Toyibi)

Hari ini, 21 Februari – 93 tahun lalu tepatnya 21 Februari 1919, salah dua gua di daerah Tuban tepatnya di Kecamatan Montong ditetapkan sebagai salah satu kawasan lindung yaitu GUA NGLIRIP.

Penetapan kawasan lindung ini berdasarkan Keputusan GB No. 6 Stbld. 90, 21 Februari 1919 berdasarkan papan informasi terbaru yang saya peroleh dari Facebook Mas Edy Toyibi, salah satu pejuang karst di Tuban.

Berdasarkan ini, tepat hari ini 93 tahun lalu Gua Nglirip ditetapkan sebagai salah satu kawasan lindung dengan luas yang hanya 3 Ha.

Read more…

SRT Set – apaan sih?

February 20, 2012

Contoh caver sedang mengenakan SRT Set

Penelusuran gua mungkin sudah menjadi hal yang lumrah akhir-akhir ini, terutama sejak maraknya aktivitas wisata penelusuran gua di beberapa lokasi.

Ada hal yang perlu dikenal sebelumnya bahwa penelusuran gua meliputi penelusuran gua horisontal dan gua vertikal.

Penelusuran gua horisontal tidak membutuhkan banyak peralatan keselamatan melainkan hanya meliputi alat berupa, helm caving (atau helm lain yang cukup kuat), alat penerangan dengan dua cadangan baik dengan karbide atau elektrik, baju cover-all dan sepatu yang tahan air dan beberapa alat pendukung seperti tas anti air, pelindung lutut dan sikut, kaos tangan karet dan persediaan alat bertahan hidup di dalam gua. Read more…

Menikmati keindahan gua – Bag. 2

February 18, 2012

Contoh caver dg seragam kebanggaanya

Selain keselamatan untuk gua, kita juga harus memperhatikan keselamatan diri kita sebagai penelusur gua atau sebagai wisatawan karena kondisi lingkungan gua termasuk lingkungan yang cukup ekstrim sehingga diperlukan persiapan baik mental maupun fisik yang baik.

Standar keselamatan yang utama adalah, kita harus menggunakan peralatan minimal untuk menelusuri gua. Alat yang yang harus kita perhatikan adalah:

Read more…

Menikmati keindahan gua – Bag. 1

February 18, 2012

Salah satu sudut lorong di Gua Buniayu, Sukabumi

Wisata gua merupakan salah satu alternatif wisata yang banyak diminati oleh berbagai kalangan akhir-akhir ini. Meskipun wisata gua yang dibuka untuk umum telah banyak dikembangkan di berbagai daerah, namun wisata gua minat khusus belum banyak dikenal dan baru berkembang beberapa tahun ini.

Wisata gua bisa dibedakan menjadi wisata gua umum dan wisata gua minat khusus. Wisata gua umum dengan mudah dapat ditemui seperti di Gua Jatijajara di Kebumen, Gua Gong di Pacitan, Gua Akbar di Tuban, Gua Maharani di Lamongan dan gua-gua lain yang telah dikembangkan oleh pengelola untuk wisata. Read more…

Sekilas invertebrata gua di Malang Selatan

February 17, 2012

Lorong gua menuju mulut Gua Lou (C. Rahmadi)

Gua Lowo

Dusu: Sumber Celeng, Desa : Banjar Rejo, Kecamatan: Donomulyo

Tanggal             : 5 Oktober 2011

Invertebrata:

  1. Sarax sp. (Arachnida: Amblypygi: Charinidae) – kemungkinan jenis baru
  2. Heteropoda sp. (Arachnida: Araneae: Sparassidae)
  3. Karstarma sp. (Decapoda: Sesarmidae) – kemungkinan jenis baru. Jenis yang dikenal sebelumnya dari Jawa adalah Karstarma jacobsoni yang ditemukan di gua-gua di Gunungsewu. Nenek moyang kepiting ini adalah jenis yang hidup di air laut atau air payau. Sampai saat ini masih ditemukan kerabat jenis-jenis anggota Karstarma yang hidup di air payau. Namun untuk Karstarma jacobsoni dari Gunungsewu dan Karstarma sp dr Malang, telah mampu beradapatasi di lingkungan gua dengan air tawar.
  4. Carabidae sp. (Insecta: Coleoptera) – Serangga pemangsa yang hidup di antara guano yang tersebar di lantai gua berlumpur
  5. Isopoda (Crustacea: Isopoda) – kelompok isopoda kecil hidup di lantai gua dg guano yang tersebar

Gua Siyem

Dusun : Ngliyep, Desa : Kedung Salam, Kecamatan: Donomulyo

Tanggal           : 4 Oktober 2011

Fauna invertebrata

  1. Sarax sp. (Arachnida: Amblypygi: Charinidae) – kemungkinan jenis baru sperti yang ditemukan di Gua Lowo dan Gua Lo-Bangi
  2. Charon sp. (Arachnida: Amblypygi: Charontidae) – kemungkinan jenis baru sperti yang ditemukan di gua-gua di Gunungsewu dan Tuban. Spesimen tidak terkoleksi namun teramati di langi-langi gua

Gua Lo-Bangi

Dusun: Ngliyep, Desa : Kedung Salam, Kecamatan : Donomulyo

Tanggal           : 5 Oktober 2011

Invertebrata:

  1. Sarax sp. (Arachnida: Amblypygi: Charinidae) – kemungkinan jenis baru sperti yang ditemukan di Gua Lowo dan Gua Siyem banyak ditemukan di sepanjang lorong gua dari mulut Gua Bangi sampai mulut Gua Lo
  2. Charon sp. (Arachnida: Amblypygi: Charontidae) – kemungkinan jenis baru sperti yang ditemukan di gua-gua di Gunungsewu dan Tuban. Satu spesimen terkoleksi yakni spesimen betina, teramati satu ekor jantan namun tidak terkoleksi. Beberapa sisa Charon yang telah mati ditemukan di beberapa tempat sepanjang lorong gua.

Links:

  1. Gua Siyem 1
  2. Gua Siyem 
  3. Gua Lo-Bangi
  4. Kepiting gua

Indonesian Caver Society – pasang surut

February 15, 2012

Sangat menarik kalau membicarakan tentang perkembangan caving dan speleologi di Indonesia. Sejarah yang panjang ketika Norman Edwin merintis dengan Garba Bhumi-nya di awal 80-an menjadi catatan tersendiri.

Beberapa tulisan Norman Edwin tentang eksplorasi gua juga muncul di beberapa majalah waktu itu seperti ketika beliau eksplorasi di daerah Bayah Banten.

Sejak saat itu, perkembangan caving dan speleologi lebih banyak dimotori oleh Pak Ko dan teman-teman disana dengan Hikespi-nya.

Read more…

Amauropelma matakecil, laba-laba gua dari Menoreh

January 10, 2012

Amauropelma matakecil, si mata kecil penghuni gua-gua Bukit Menoreh, (Foto: Sidiq Harjanto)

Penemuan laba-laba jenis baru telah dipublikasikan dalam jurnal taksonomi Zookeys yang terbit pada tanggal 9 Januari 2012 dalam sebuah artikel berjudul ”A troglomorphic cave spider from Java (Araneae, Ctenidae, Amauropelma)” Zookeys 163 halaman 1-11 yang ditulis oleh Jeremy Miller dari Naturalis Leiden Belanda dan Cahyo Rahmadi dari Pusat Penelitian Biologi LIPI. Read more…

Malang – merangkak dan berendam (Part 3)

November 10, 2011

Lorong gua menuju mulut Gua Lou (C. Rahmadi)

Setelah sore tanggal 4 Oktober 2011 kita harus bersesak napas di Gua Siyem, tanggal 5 Oktober Maya dan Baihaqi menemani kita untuk menyusuri gua yang relatif dekat dengan basecamp.

Ketika di basecamp, Maya hanya menyampaikan kalau ada dua gua di dekat basecamp, yaitu Gua Lou dan Gua Bangi. Akhirnya jam 10-an kita berangkat menuju Gua Bangi terlebih dahulu, menyusuri jalan tanah desa.

Sampai di lembah dengan sumur yang masih berair, Maya menunjukkan kalau ada mulut gua di kaki tebing dekat pohon bambu, katanya Gua Lou. Karena guanya nanti akan dilewati lagi, akhirnya kita memutuskan menuju Gua Bangi yang lebih jauh dari Gua Lou. Read more…

Apa yang salah dengan Gua Ngerong, Tuban?

November 4, 2011

Gerombolan kelelawar dari jenis Rousettus sp. di depan mulut gua (C. Rahmadi)

Beberapa waktu lalu, saya diberitahu Sigit Wiantoro, kolega di museum yang baru saja mengunjungi Tuban untuk mengkoleksi beberapa spesimen tambahan kelelawar jenis baru yang dia temukan di gua-gua di Tuban.

Dia bilang, populasi kelelawar di Gua Ngerong lebih sedikit dibandingkan dengan sebelumnya. Dulu, banyak sekali kumpulan kelelawar dari jenis Rousettus yang bergelantungan di sekitar mulut gua.

Namun kini, jumlah itu lebih sedikit dibandingkan tutupan sekarang dengan tutupan beberapa tahun lalu.

Apa penyebab berkurangnya populasi kelelawar disana?

Read more…

Kepiting gua dari Malang Selatan

November 2, 2011

Kepiting gua yang ditemukan di salah satu gua di Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang ini telah menjawab rasa penasaran saya selama ini.

Setelah malam-malam berhasil mencapai gua di tengah hutan ini akhirnya saya yakin, dugaan saya selama ini benar, bahwa kepiting yang ada di Malang ini termasuk dalam Marga Karstarma yang selama ini di Pulau Jawa hanya dikenal satu jenis yang ditemukan di Gunungsewu yaitu Karstarma jacobsoni.

Kepiting dari marga Karstarma merupakan kelompok kepiting dengan nama marga yang baru diusulkan tahun 2007 oleh taksonom dari Singapura.

Marga Karstarma menaungi jenis-jenis yang umumnya ditemukan di daerah karst khususnya gua-gua seperti di Gunungsewu, Malang dan Maros di Sulawesi Selatan.

Read more…

Kalacemeti dari Malang Selatan (Arachnida: Amblypygi)

October 27, 2011

Kalacemeti dari marga Charon di Gua Lo-Bang, ditemukan di dinding gua (Foto C. Rahmadi)

Ada banyak alasan untuk mengunjungi Malang tanggal 3-6 Oktober 2011 lalu, dari sisi hasrat menelusuri gua, saya belum pernah sama sekali menginjakan sepatu bootku di gua-gua di Malang.

Secara ilmiah, Malang masih menyisakan ruang kosong di tanah Jawa yang belum sempat dipenuhi.

Malang Selatan menjadi daerah baru secara ilmiah buatku, meskipun ada beberapa contoh hewan gua yang ada dalam koleksiku. Namun, masih banyak hal yang belum bisa saya jawab sebelum Malang saya susuri.

Read more…

Malang – Krenggosan dan kepanasan di dalam gua (Part 2)

October 26, 2011

Sigit sedang menghirup Oxycan

Sigit yang biasanya masuk duluan karena menghindari kelelawar kabur, telah kembali bersama Baihaqi dan Maya disaat saya sedang asik memanjat dinding gua untuk menangkap kalacemeti di atap gua yang cukup tinggi.

Sambil membawa jaring tangan yang digunakan untuk menangkap, Sigit bilang sudah tidak kuat lagi, terlalu sesak dan pengap. Sementara baihaqi cuma diam tak berbicara.

Setelah menyusuri secara singkat Gua Siem yang pengap dan menyesakkan, akhirnya kami memutuskan untuk segera keluar dari Gua Siem yang baru secuil yang kita susuri.

Read more…

Melepas helm Caving: amankah?

October 25, 2011

Helm PETZL model terbaru

Ada hal yang menurut saya perlu didiskusikan lebih lanjut berkenaan dengan helm caving terutama pemakaian di dalam gua. Mungkin akan ada banyak pendapat dan bahkan mungkin pertentangan tentang bahasan kapan dan dimana helm caving harus dipakai.

Mungkin ada kelompok yang berpendapat helm caving mutlak dan selalu wajib dipakai di dalam gua, mungkin kelompok lain lagi berpendapat, helm caving pada saat tertentu bisa tidak dipakai di dalam gua. 

Lantas bagaimana kita perlu melihat dan memandang helm caving dalam aktivitas caving kita?

Read more…

Memburu Kepiting gua (Karstarma sp.) di Malang Selatan

October 25, 2011

Karstarma sp, kepiting gua dari Malang Selatan (Foto C. Rahmadi)

Sebenarnya, cerita ini bermula ketika suatu saat ada acara TV yang menayangkan kegiatan penelusuran gua di salah satu gua di Malang. Saya lupat tepatnya di stasiun TV mana, tapi yang jelas ada proses menuruni mulut gua vertikal dengan menggunakan SRT Set.

Kemudian, dalam satu adegannya kamerawan menangkap kenampakan kepiting yang sedang berlari di lorong gua yang berlumpur. Dari cara berlarinya, saya ingat dengan salah satu jenis Kepiting jacobson yang hanya ada di gua-gua di Gunungsewu.

Saya lupa persisnya gua apa dan dimana gua tersebut. Sejak saat itu, Malang Selatan masuk dalam Target Operasi yang harus saya kunjungi terutama gua yang menyimpan kepiting yang saya duga dari marga Karstarma yang sudah beberapa kali saya berhasi mengkoleksi jenis-jenis baru. Read more…

Diskusi Biologi gua dan konservasi karst (Cibinong, 15 Oktober 2011)

October 19, 2011

Foto bersama setelah sesi diskusi di Gedung Widyasatwaloka Puslit Biologi LIPI, Cibinong (Foto M. Arid)

Akhirnya, setelah dengan sukses melakukan kegiatan sosialisasi biologi gua di Jogja dan tambahan di Malang, teman-teman Puslit Biologi LIPI berhasil mengadakan kegiatan diskusi di kandang sendiri, yakni di Gedung Widyasatwaloka tempat dimana kami para peneliti sehari-hari mencari nafkah.

Dengan pengumuman dan undangan yang seadanya, sekitar 30 orang bisa berkumpul di Ruang Seminar dengan lesehan sambil menikmati hidangan kacang rebus dan pisang rebus.

Kegiatan diskusi yang dimulai sekitar pukul 9.30 setelah dibayangi oleh rencana pemadaman listrik oleh PLN akhirnya berjalan dengan cair dipandu oleh Hari Nugroho. Read more…

Malang – Menyusuri gua minim oksigen di Malang Selatan (Part 1)

October 11, 2011

Persiapan jaring kabut (Foto Imron Fauzi)

Malang merupakan salah satu kota yang akhirnya bisa saya kunjungi setelah sekian lama saya berangan-angan untuk mengeksplorasi gua-gua di sana.

Akhirnya, tanggal 4 Oktober dini hari, saya meluncur ke Malang bersama Sigit WIantoro dan Hari Nugroho dari Jogja menggunakan Gajayana. Sampai di Malang sekitar jam 09.00 pagi dijemput oleh salah satu anggota IMPALA UNIBRAW, Hamid orang Bogor yang sedang kuliah di sana.

Setelah sedikit terjadi salah paham karena kita sempat tidak akan turun di Stasiun Malang, karena dipikir masih ada stasiun terakhir yaitu stasiun baru, akhirnya kami bertemu Hamid di pintur keluar.

Dengan menahan kantuk karena tidur yang kurang dan belum sempat mandi, kami meluncur ke Impala setelah sebelumnya menjemput teman nge-twit saya mas Imron Fauzi atau lazim dipanggil mas Roim. Read more…

Diskusi Biospeleologi di Impala Unibraw, Malang (6 Oktober 2011)

October 10, 2011

Caving di Malang Selatan

Malang, salah satu kota yang selama ini saya impikan untuk bisa dikunjungi terutama gua-gua di sana yang sama sekali belum pernah saya kunjungi.

Namun, kali ini saya tidak akan menceritakan pengalaman menyusuri gua-gua di Malang Selatan tapi akan bercerita tentang kesempatan yang berharga untuk berbagi dan berdiskusi tentang biospeleologi di Impala Unibraw.

Diskusi ini tak lepas dari bantuan dari teman-teman IMPALA UNIBRAW seperti Mas Imron Fauzi yang ditindaklanjuti dengan SMS-an dengan mba Maria dan juga Maya.

Diskusi dengan gelaran di Lobi UKM UB ini dilaksanakan pada tanggal 6 Oktober 2011 pukul 15.00 dengan membawa dua topik yaitu Biospeleologi Indonesia yang saya sampaikan dan tidak kalah penting Kelelawar dan Gua di Indonesia yang disampaikan oleh Sigit Wiantoro. Read more…

Cave biology for all – Jabodetabek

September 23, 2011

Gedung Widyasatwaloka, Bidang Zoologi Puslit Biologi LIPI

Hari/tanggal : Sabtu, 15 Oktober 2011

Pukul                : 09.00 WIB

Tempat             : Gedung Widyasatwaloka, Puslit Biologi LIPI – Cibinong Science Center

Pembicara       : Prof. Dr. Yayuk R. Suhardjono, Sigit Wiantoro, M.Sc. dan Cahyo Rahmadi, S.Si.

Kontak Person : Cahyo Rahmadi – 085691691626, twitter: @crahmadi

FREE – snacks and drinks are served

TEMPAT TERBATAS

Pendaftaran disini

Akses

Dari Jakarta via Tol Jagorawi:

Mobil Pribadi – Exit Tol Citeureup menuju Cibinong belok ke kiri di jalan samping ITC CIBINONG

Bis Umum: Turun di ITC CIBINONG naik Ojek ke Gedung Widyasatwaloka Bidang Zoologi, Puslit Biologi LIPI CIBINONG. Ongkos sekitar Rp. 5000,00

Dari Depok via Jl. Raya Jakarta-Bogor

Mobil Pribadi – ke arah Cibinong sampai di Km. 46 setelah pertigaan PEMDA BOGOR sekitar 1 km di sebelah kiri jalan ada logo LIPI, kemudian gerbang masuk LIPI lurus terus, sampai ketemu pertigan Ecology Park, lurus sampai ketemu gerbang di pojok kanan jalan.

Bis Umum – turun di Komplek LIPI/Bakos, jalan kaki sekitar 10 menit atau naik ojek tidak lebih dari Rp. 5000,00

Dari Bogor  via Tol Jagorawi atau Jl. Raya Jakarta-Bogor

Mobil Pribadi: Bisa keluar EXIT SENTUL atau di EXIT CITEUEREUP.

Naik angkot Citeureup 08 turun di Komplek LIPI/Bakos.

Peta:

Cave biology for all – Jogja

September 19, 2011

Komunitas penelusur gua dan pemerhati karst dan gua berfoto bersama setelah usai kegiatan

Akhirnya, pada tanggal 16 September 2011 bertempat di Fakultas Biologi UGM, tim Puslit Biologi LIPI berkesempatan berbagi tentang “Biologi Gua”  bersama komunitas penelusur gua di Jogjakarta dan para pemerhati dan pemerhati karst dan gua.

Sekitar 80 penelusur gua dan pemerhati karst dan gua berkumpul di Ruang 4 Fakultas Biologi atas undangan Matalabiogama UGM.

Read more…

Tak ada tempat bagi peneliti Indonesia di media

August 29, 2011

Ilustrasi

Hal ini berawal dari hasil penelitian kerjasama antara LIPI dan UC DAVIS di Mekongga yang menghasilkan temuan tawon dengan “rahang” yang sangat kekar.

Read more…

Keajaiban Kecil dari Gua Indonesia

August 2, 2011

Udang Stenasellus dari Sukabumi

National Geographic Indonesia, September 2007

Louis Deharveng tak banyak bicara. Ahli biologi sekaligus penelusur gua asal Prancis ini tengah sibuk mengeluarkan barang-barang, sendok plastik kecil, penyaring teh, dan kuas gambar, dari dalam tas pinggangnya.

Sementara kedua tangannya bekerja, pandangan Deharveng tetap melekat pada genangan air yang berada di hadapannya. Dengan gerak perlahan, ia jongkok dan membungkukkan postur setinggi 195 sentimeter dan kemudian mulai mendekati permukaan air.

Sendok kecil di tangan kanannya dimasukkan ke dalam air hingga dasar genangan dan tangan kirinya memegang penyaring teh. Hanya dalam hitungan menit, sendok itu telah berisi: seekor hewan, penghuni dasar genangan yang belum diidentifikasi. Ia lalu mengangkat sendok perlahan-lahan dan memasukkan hewan itu ke dalam botol putih yang telah kami siapkan sebelumnya. Read more…

Kumbang Buprestidae baru dari Lombok dan Sumatra

July 29, 2011

Jenis baru kumbang Buprestidae dari Sumatra & Lombok (dari Bily & Nakladal 2011)

Empat jenis baru kumbang Buprestidae dari marga Philanthaxia dari Asia Tenggara dipublikasi di Jurnal taksonomi Zookeys pada tanggal 6 Juli 2011.

Empat jenis baru tersebut, dua diantaranya berasal dari Lombok dan Sumatra. Jenis dari Lombok diberi nama Philanthaxia lombokana Bily & Nakladal (2011) yang dikoleksi dari Gunung Rinjani oleh kolektor lokal.

Read more…

Kumbang Cerambycidae jenis baru dari Sulawesi

July 28, 2011

Jenis baru dari Sulawesi Tenggara (dari Komiya & Santos-Silva 2011)

Indonesia kembali menyumbang jenis baru bagi kekayaan keanekaragaman hayati di dunia. Beberapa bulan lalu, tepatnya 10 Juni 2011, telah dipublikasi dua jenis baru kumbang Cerambycidae di jurnal Zookeys.

Dua jenis tersebut salah satunya dari Sulawesi Indonesia yang diberi nama Stenandra saitoae Komiya & Santos-Sylva (2011). Spesimen dari jenis baru tersebut dikoleksi di Konda di Kendari Sulawesi Tenggara oleh orang Jepang yaitu Akiko Saito. Read more…

Kalajengking semu lebih senang perawan

July 27, 2011

Kalajengking semu dari gua

Ada yang kenal kalajengking semu? Kalajengking semu merupakam kelompok Arachnida yang mirip kalajengking yang punya capit tapi tidak memiliki “ekor” yang mempunyai sengat,

Ukuran kalajengking semu juga sangat kecil jika dibandingkan klajengking sesungguhnya. Read more…

Jomblang-Grubug – untuk lebih baik

July 21, 2011

Pengantar:Tulisan ini merupakan bagian dari urun rembug saya tentang Jomblang dan sekaligus menanggapi beberapa diskusi menarik tentang kondisi Jomblang-Grubug beberapa waktu lalu.

Tulisan ini merupakan gambaran umum dari kondisi-kondisi Jomblang yang mungkin bisa digunakan untuk menjadikan Jomblang lebih baik.

Apa yang sudah ada sekarang perlu disikapi dengan bijak dan bagaimana membantu untuk mengembangkan yang lebih konstruktif dan ramah bagi kondisi Luweng Jomblang itu sendiri.

Selain itu perlu segera dicarikan solusi bersama bagaimana menjaga kondisi Jomblang agar tetap terjaga dan dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Tulisan ini sebagian adalah tulisan saya ditambah Quotes dari salah satu teman (Sunu Widjanarko) yang lebih melihat ada yang perlu dibenahi pada diri kita sendiri para aktivis penelusuran gua. Selain itu bagaimana melihat Jomblang dg fakta dan kondisi yang ada sekarang dan mencoba mengurai permasalahan yang ada dan mencari jalan keluarnya. Semoga hal ini bisa menjadi bagian dari kontribusi “Jomblang-Grubug lebih baik” (note: Cahyo Rahmadi)

Luweng Jomblang merupakan salah satu gua yang dikenal karena memilik keunikan dan keindahan yang tidak terbantahkan. Gua bertipe ”collapse doline” ini memiliki kedalaman lintasan yang bervariasi dari 20 meter sampai 50 meter.

Lorong gua yang menghubungkan Jomblang dan Grubug menjadi daya tarik tersendiri karena menghadirkan pemandangan yang menakjubkan baik ketika menuju ke Grubug maupun sebaliknya menuju Jomblang. Terutama ketika jam tertentu, dimana, sinar matahari yang menerobos mulut Luweng Grubug menampakan lukisan cahaya. Sebuah pemandangan yang sangat indah.

Namun disini saya tidak akan membahas itu semua karena semua orang telah paham dengan potensi yang ada di Jomblang.

Read more…

Wisata gua – bagaimana menyikapinya?

July 13, 2011

Salah satu sudut Gua Wisata "Gua Akbar" Tuban Jawa Timur

Gua merupakan salah satu potensi wisata yang belum banyak dikembangkan meskipun sebenarnya wisata di dalam gua sudah banyak dibuka di beberapa daerah. Lihat saja Gua Jatijajar di Gombong yang telah sekian tahun dibuka untuk umum kemudian Gua Gong Pacitan yang mempunyai ornamen cukup indah. Di Jawa Timur, ada Gua Akbar di Tuban dan Gua Maharani di Lamongan dan masih ada beberapa gua yang dikembangkan untuk “mass tourism”

Read more…

Jawa 3: Menyaksikan parade senja di Pelabuhan Ratu

July 7, 2011

Setelah menyusuri gua-gua di tanah Banten, saya kembali akan melanjutkan cerita tentang bagaimana perjalanan kami dalam mengeksplorasi gua-gua di jawa.

Saat ini, saya akan menceritakan jelajah kami di tatar Sunda, tepatnya di Gua Buniayu, Sukabumi.

Setelah menyusuri jalan berliku dari Desa Sawarna, kami sejenak berhenti di Pantai Pelabuhan Ratu, karena kami harus melihat salah satu gua yang terkenal dengan keberadaan kelelawarnya yang sangata melimpah.

Beberapa kilometer dari Pantai pelabuhan Ratu, Gua Lalay Pelabuhan Ratu dapat dicapai dengan mudah, dan hampir semua orang tahu karena gua ini salah satu obyek wisata. Gua ini terletak di Desa Citarik, Pelabuhan Ratu. Read more…

Mendalami gua-gua di Pegunungan Muller

July 6, 2011

Menyusuri Sungai Barito menuju desa terakhir yakni Desa Tumbang Topus, merupakan pengalaman tersendiri. Menggunakan perahu bermotor melewati jeram-jeram yang cukup membuat jantung berdegup cukup keras. Ada kalanya, kita harus turun dari perahu hanya motoris dan penunjuk arah yang menembus jeram menyusuri urat air. Read more…

%d bloggers like this: