Skip to content

Biospeleologi dan konservasi karst Indonesia

May 2, 2007

The window of earth, Grubug Sinkhole

Mungkin kita baru dengar istilah Biospeleologi. Ilmu tentang apa dan apa bedanya dengan biologi? Awal perkembangan ilmu ini adalah “speleologi” yaitu ilmu tentang perguaan yang bermula diusulkan oleh Emilie Riviere dengan mengusulkan istilah “speleology” yang berasal dari bahasa Yunani dari kata “spalion” yang berarti gua dan “logos” yang berarti ilmu.

Namun istilah ini oleh L. de Nussac dalam Essai de Speologi yang diterbitkan di Brive tahun 1892 mengusulkan merubah menjadi “spèologi”. Istilah ini kemudian di adopsi oleh E.G. Racovitza dan R. Jeannel dalam tulisan-tulisannya. Edward A. Martel berpendapat dalam bukunya yang terkenal “Les Abimes” bahwa “spèologi” kurang tepat karena lebih cenderung pada lorong-lorong buatan seperti tempat pemakaman Fir’aun di Mesir.

Awalnya, speleologi berarti ilmu tentang gua namun arti ini oleh B. Conde dianggap gagasan yang “antropomorfis” dan dia lebih sepakat pada pendapat Racovitza yang mengartikan ilmu yang mempelajari tentang dunia bawah tanah. Sehingga ilmu ini merupakan salah satu ilmu bumi termasuk di dalamnya geologi, geografi fisik dan geofisik. Saat ini yang akan dibahas lebih jauh adalah gua sebagai habitat tempat hidup makhluk hidup.

Biospeleologi dan perkembangannya

Arman Vire (1904) mengusulkan istilah “biospeologie” untuk sebuah ilmu yang mempelajari tentang kehidupan bawah tanah. Ilmu ini benar-benar berawal pada pertangahan abad 19. Sejak saat itulah perkembangan ilmu ini berkembang dengan sangat pesat. Hasil penelitian saat itu berupa penyusunan jenis-jenis yang hidup di dalam gua. Beberapa makalah dan tulisan lebih banyak dicurahkan pada sistematik hewan-hewan dalam gua. Perkembangan berikutnya adalah membuat laboratorium bawah tanah yang telah mengawali era biospeologi eksperimen. Biospeologi pun akhirnya semakin berkembang dan istilah ini makin lama tidak digunakan. Akhirnya istilah “biospeleologi”. lebih banyak diterima dan lebih tepat dan digunakan sampai sekarang.

Biospeleologi di Indonesia

Biospeleologi memasuki Indonesia tidak banyak yang mengetahui secara pasti namun sejak jaman Belanda penelitian tentang hewan-hewan gua telah dimulai. Seperti oleh E. Jacobson (1912), S Leefmans (1930, 1933), Dammerman (1932) dan J.C. Van der Meer Mohr (1936) yang meneliti hewan-hewan gua di Tapanuli Sumatra. Sedikitnya ada beberapa hewan yang ditemukan seperti jangkrik (Perendacusta cavicola), kecoak gua (Symploce cavernicola), Bagauda cf. lucifugus, Reduvius cf. gua dan ngengat yang banyak ditemukan di dalam guano kelelawar Tinea palaechrysis. Leefmans lebih banyak meneliti hewan gua di Sulawesi Selatan khususnya Gua Mampu yang sangat terkenal dengan beberapa catatan hewan guanya.

Sejak saat itu banyak penelitian gua namun sangat sedikit yang meneliti tentang kehidupan gua sampai akhirnya peneliti Perancis pada tahun 1980-an datang untuk mengeksplorasi gua-gua di Sulawesi dan sekitarnya, sekaligus meneliti hewan yang hidup di dalamnya. Sejak saat itu perkembangan temuan jenis baru dan daftar jenis hewan gua semakin panjang dan semakin menarik secara taksonomi dan biogeografi.

Beberapa jenis baru telah ditemukan berkat penelitian biospeleologi di Indonesia. Jenis-jenis baru ini banyak ditemukan mulai era 80-an meskipun kebanyakan dikoleksi dan diteliti oleh orang asing. Peran peneliti Indonesia pada saat itu belum cukup besar. Namun siapapun yang meneliti, hasil yang diperoleh tetap menjadi suatu aset yang besar bagi perkembangan biospeleologi dan konservasi karst dan gua di Indonesia.

Peran biospelelogi dalam konservasi

Biospeleologi berperan penting dalam konservasi karst dan gua. Hasil-hasil penelitiannya menjadi faktor pertimbangan yang penting. Namun sayangnya hal ini belum banyak digunakan di Indonesia.

Sebagai contoh: satu jenis baru ditemukan di daerah Maros, Sulawesi Selatan dan sampai saat ini hanya ditemukan di Maros dan tidak ditemukan di daerah lain. Hal ini menjadi sangat penting mengingat satu jenis hewan gua mempunyai tingkat keendemikan tinggi karena terkadang hanya terdapat dalam satu gua atau satu sistem perguaan. Faktor lain, jenis hewan gua mempunyai jumlah populasi yang sangat kecil yang tentu saja tingkat ancaman kepunahan menjadi sangat besar.

Hal-hal yang mungkin kurang diperhatikanya keanekaragaman hayati gua sebagai pertimbangan konservasi di Indonesia adalah hewan-hewan yang kecil, akses ke ekosistem gua yang membutuhkan peralatan dan keahlian khusus, belum banyak orang yang mau menekuni dan sulit meyakinkan para pemegang kebijakan dari sesuatu hal yang jauh dari nilai ekonomi. Semoga dengan semakin berkembangnya biospeleologi di Indonesia akan semakin banyak kawasan karst atau gua yang dilindungi.

Oleh:

Cahyo Rahmadi

Advertisements
3 Comments leave one →
  1. May 23, 2007 8:47 pm

    hi

  2. October 16, 2011 10:14 am

    terima kasih ilmunya. setelah ikut diskusi saya jadi tertarik dengan ilmu biospelelogi ini.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: