Skip to content

GUA LALAY: HUNIAN RATUSAN RIBU KELELAWAR

May 4, 2007

Lalay Cave, a home a million of bats

Ratusan ribu bahkan lebih kelelawar sudah sejak lama menjadikan Gua Lalai sebagai hunian atau tempat tinggalnya. Gua ini berada di kawasan pesisir selatan Sukabumi, lebih tepatnya di Kampung Cipatuguran, Desa Citarik, Kecamatan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi.

Gua horizontal yang hanya memiliki satu ruangan besar (chamber) dengan panjang kurang lebih 40 meter, lebar 25 meter dan tinggi 15 meter tersebut, hampir seluruh bagian atapnya tertutup oleh koloni kelelawar. Dari hasil identifikasi yang dilakukan, ternyata hanya terdiri dari satu jenis saja, yaitu Chaerophon plicatus atau yang lebih dikenal dengan “tayo kecil”. Jenis ini merupakan anggota suku Molossidae, yang bisa dibedakan dengan kelelawar jenis lain karena separuh bahkan lebih ekornya, bebas dari selaput kulit antar paha. Selain itu tayo kecil ini memiliki bibir yang berkerut-kerut dan dauntelinga tebal.

Kelelawar ini termasuk jenis kelelawar pemakan serangga, diduga makanan utamanya adalah kupu-kupu malam dan juga wereng di persawahan. Tempat bertengger yang menjadi pilihannya adalah gua, namun sering dijumpai juga tinggal di bangunan buatan manusia. Biasanya dalam jumlah atau koloni yang sangat besar, seperti yang terlihat di Gua Lalai.

the beasts

Chaerophon plicatus memiliki daerah persebaran yang cukup luas, di Indonesia jenis ini bisa di jumpai mulai dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, Nusatenggara, Sulawesi hingga Maluku.

 

Keberadaan kelelawar di Gua Lalai tentunya memberikan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Kelelawar yang memiliki rata-rata berat tubuh sekitar17 gram dan mampu memakan serangga seberat seperempat dari berat tubuhnya setiap malam, tentunya berperan penting dalam mengendalikan populasi serangga sehingga tidak terjadi ledakan populasi, yang berarti menjadi hama.

Kandungan fosfat yang tinggi dari guano kelelawar yang dihasilkan, ternyata sudah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai pupuk alami. Dengan jumlah kelelawar yang sangat banyak, Gua Lalai mampu menghasilkan guano seberat 2 ton setiap 2 bulan. Hal ini merupakan potensi yang luar biasa, namun yang perlu di perhatikan adalah pengelolaan yang tepat sehingga tidak mengganggu keberadaan gua dan juga kelestarian gua.

Barisan ratusan ribu kelelawar yang meliuk-liuk, menyerupai “awan hidup” yang keluar dari Gua Lalai, merupakan atraksi yang sangat menarik di waktu sore hari. Ini merupakan sebuah peluang yang sangat bagus, terutama bagi Dinas Pariwisata. Atraksi teersebut merupakan sebuah daya tarik bagi wisatawan, yang sangat jarang dijumpai di tempat lain. Dengan kemasan yang bagus, tentunya akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar Gua Lalai.

Oleh:

Sigit Wiantoro

the face of the beast

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: