Skip to content

Kelelawar Pedan Jawa Di Gua Pawon: Jangan Ganggu Rumahku…‼

May 4, 2007

The mining of Phosphat in Gua Pawon (Grobogan)

Gua Pawon, sebuah potret pengerukan potensi gua (Foto: Abe)

Kondisi yang sangat mengenaskan akibat ulah manusia terhadap gua dan ekosistem yang ada di dalamnya dapat dijumpai di Gua Pawon. Gua yang berada dalam wilayah Dusun Guwo, Desa Kemadoh Batur, Kecamatan Tawang Harjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, saat ini telah mengalami kerusakan yang parah akibat adanya penambangan fosfat oleh manusia yang kurang bertanggung jawab. Dan ironisnya, pelaku penambangan bukan oleh masyarakat sekitarnya, akan tetapi oleh oknum yang berasal dari tempat lain.

Fauna gua yang paling terasa terkena dampaknya adalah kelelawar. Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, dan informasi yang diperoleh dari masyarakat, sebelum dilakukan penambangan, di gua ini dihuni oleh koloni kelelawar dalam jumlah yang banyak. Namun dari hasil survei yang dilakuan pada bulan April 2007, di gua ini hanya dijumpai satu jenis kelelawar, yaitu kelelawar pedan jawa dengan jumlah individu kurang lebih hanya 5 ekor saja.

Kelelawar pedan jawa yang memiliki nama ilmiah Nycteris javanica ini pertama kali dideskripsi oleh seorang pakar kelelawar, yaitu E. Geoffroy pada tahun 1813, dan yang lebih membanggakan type locality dari jenis ini adalah Pulau Jawa. Di Indonesia ada 2 jenis kelelawar anggota marga Nycteris, yaitu Nycteris javanica atau pedan jawa yang memiliki persebaran di Jawa , Bali, Kangean dan Nycteris tragata atau pedan sunda yang terdistribusi di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Kedua jenis ini dibedakan berdasarkan ukuran lengan bawah, tengkorak serta bentuk gigi serinya, dimana pedan jawa berukuran lebih kecil daripada pedan sunda.

Nycteris javanica

Nycteris javanica, spesies kelelawar yang sangat sulit ditemui di gua, ini adalah potret satu-satunya individu yang tersisa di Gua Pawon (Foto: Abe)

Nycteris javanica dapat dibedakan dengan kelelawar dari jenis lain karena kelelawar ini memiliki telinga yang sangat panjang dan terpisah antara telinga kanan dan kiri, serta ujung ekornya membentuk huruf T . Gua merupakan tempat tinggal favorit bagi jenis ini.

Penambangan yang terjadi di Gua Pawon, tentunya akan mengancam keberadaan kelelawar jenis ini. Salah satu sifat dari kelelawar pedan jawa adalah sangat sensitif terhadap gangguan. Sehingga jika penambangan ini terus berlanjut, dalam beberapa waktu ke depan bisa dipastikan tidak akan dijumpai lagi kelelawar di gua ini, hal inipun akan berdampak bagi ekosistem yang ada di Gua Pawon, dengan hilangnya kelelawar maka suplai sumber makanan bagi fauna gua yang lain akan terputus. Tidak hanya sampai disitu saja, kerugian juga akan dirasakan oleh masyarakat sekitar yang mayoritas adalah petani, punahnya kelelawar berarti salah satu pengendali populasi serangga yang berpotensi hama bagi pertanian juga akan hilang.

Kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Agar tidak terjadi kerusakan yang lebih parah baik instansi pemerintah maupun masyarakat setempat harus bersama-sama untuk melakukan pengelolaan gua-gua yang ada di kawasan Karst Grobogan, terutama Gua Pawon.

Oleh : Sigit Wiantoro

* Foto Gua Pawon diambil oleh ABE (Yogyakarta) 

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: