Skip to content

MEREKAM GUA MENJELANG AJALNYA

May 4, 2007

Banyak gua di Jawa yang ditinggal hewan penghuninya. Penambangan menghancurkannya.

Gua identik dengan sepi. Gelap. Dingin. Tapi tidak bagi Cahyo Rahmadi, 30 tahun. Peneliti fauna gua di Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, itu terobsesi menemukan “keramaian” setiap kali memasuki gua.

Antropoda, hewan kecil yang berbuku-buku, bak harta karun baginya. Pemandangan perkolasi air alami di lantai dan dinding-dinding gua juga selalu mampu memikatnya.

Persis seperti yang ditemukannya belum lama ini di Gua Buniayu, Sukabumi, Jawa Barat. “Waaaauww…,” katanya, kagum. Di sana, dia mendapati jenis udang-udangan mirip Stenasellus javanicus yang ditemukannya di Gua Cikaray, Cibinong, pada 2004. Berbeda dengan yang di Cibinong, di perut Gua Buniayu hewan itu berenang bebas sendiri ataupun berdua-duaan di kolam-kolam mungil. Ramai.

Cahyo menduga kuat hewan sepanjang hampir 1 sentimeter dan berwarna lebih pucat itu berbeda dengan Stenasellus javanicus. “Pasti beda,” katanya, “Saya sudah tanya kepada kolega di Prancis, memang beda.” Tapi apakah ia spesies baru, itu yang Cahyo belum yakin. “Saya akan kerjakan lebih lanjut di laboratorium,” katanya berjanji.

Itu baru jenis antropoda. Cahyo juga mengoleksi jenis-jenis amblypygi–kelompok laba-laba penghuni gua. Selama ini, hanya dikenal satu jenis hewan pemangsa serangga ini yang hidup di Pulau Jawa. Tapi dari penelusuran yang dilakukannya ke gua-gua di Banten sampai Tuban, Jawa Timur, boleh jadi Cahyo membawa buah tangan tiga jenis baru. “Sepintas, dari alat makan dan genitalnya, mereka memang beda,” katanya. Untuk yang satu ini, Cahyo meminta konfirmasi kepada pakar di Jerman.

Ditemui di kantornya, di Kompleks Cibinong Science Center, dua hari lalu, Cahyo memang “baru meluruskan kaki” setelah kembali dari ekspedisi mandirinya itu. Mengajak Sigit Wiantoro, 25 tahun, bekas rekannya “bermain” di gua yang sekarang jadi koleganya, peneliti kelelawar gua, Cahyo menelusuri total 18 gua.

Berdua mereka mencoba merekam kehidupan fauna di gua-gua itu. Pada tahap pertama mereka memprioritaskan gua dengan lokasi yang mudah diakses. Mereka berjanji akan kembali sepulang dari Ekspedisi LIPI ke Raja Ampat, Papua, akhir bulan ini.

Sejauh ini, kawasan karst di Menoreh, Gombong Selatan dan Malang Selatan, sudah masuk daftar yang akan dikunjungi berikutnya. “It’s just a beginning,” begitu katanya.

***

“Jawa adalah kunci.” Kalimat Kolonel Untung dalam film dokumenter terkenal tentang sebuah gerakan 30 September 1965 itu tertanam di benak Cahyo. Kalimat itu diberlakukannya dalam fauna gua yang ditekuninya.

Menurut ayah satu anak itu, jika ada spesies yang ditemukan di Sumatera dan Jawa, seharusnya ditemukan pula di Jawa. Apalagi pulau yang satu ini memiliki kawasan karst–pencipta gua–di mana-mana.

Sayang, Jawa adalah pulau yang sama, yang terbebani aktivitas masyarakat menjadi kawasan hunian paling berat. Deforestasi dan penambangan juga ikut menelanjanginya habis-habisan. Mungkin karena alasan itulah sangat sedikit penelitian intensif fauna gua di Jawa.

Cahyo tak bisa memastikan alasan itu. Tapi, buktinya, ketika sebanyak 15 spesies sudah dideskripsikan secara jelas di satu gua di Maros, Sulawesi, saat ini hanya diketahui lima spesies fauna gua untuk seluruh Jawa. “Itu kan ironis,” kata Cahyo.

Gua Cikaray di Cibinong, yang disebut berada di belakang rumahnya karena jarak tempuhnya hanya sejam dari kantornya, adalah satu contoh kecil. “Tidak ada data sama sekali tentang faunanya.” Padahal Cibinong sebagai satu kawasan karst tergolong kian padat dihuni manusia dan terperkosa untuk kebutuhan dua industri besar semen.

Pemandangan yang sama dijumpainya untuk kawasan karst di Tuban, Jawa Timur, dan Gunung Sewu di perbatasan Jawa Tengah-Yogyakarta-Jawa Timur. Gua-gua di sana sudah hancur, bekas-bekas galian batu gampingnya kelihatan sekali di lantai. Perut gua pun terang benderang oleh sorot lampu-lampu yang bikin gerah. “Kelelawar jelas kabur dari sana,” kata Sigit.

***

Gua sejatinya adalah dunia para kelelawar. Suasananya yang sepi dengan kelembapan yang sangat basah dan konstan membuat mamalia terbang yang sangat sensitif itu betah di sana, bersembunyi dari para predatornya.

Tapi di Pawon, Grobogan, Jawa Tengah, Sigit mengisahkan, hanya seekor yang mampu dijerat dengan jaringnya setelah menunggu berjam-jam dalam kegelapan perut gua. Fakta itu jelas berbeda dengan cerita masyarakatnya tentang masa lalu gua itu.

Di Gua Akbar, Tuban, lain lagi. Di sana kelelawar memang masih ada, tapi ditemani tikus curut yang berlarian di lantai gua. Keberadaan penghuni baru itu pertanda gua kotor karena aktivitas pasar tepat di atasnya. Atau, gua lava di Purbalingga yang ditemui malah sudah dibeton.

Bagi Cahyo, gua-gua seperti itulah yang pantas menyandang identitas sepi. Di luar sorot lampu yang menghangatkan isi gua dan aktivitas manusia di dalam dan sekitarnya yang menyemarakkan, gua kerontang oleh penghuni aslinya. “Di Pawon itu, paling antropodanya tidak sampai lima spesies,” kata Cahyo sambil menambahkan, “Di gua lava tidak ada sama sekali.”

Penulis : wuragil
Sumber : Koran Tempo (4 Mei 2007)

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: