Skip to content

Kelelawar Langka Pernah Ada di Gunung Sewu, Kekayaan Keanekaragaman Hayatinya Belum Banyak Disingkap

May 8, 2007

Jakarta, Kompas – Dalam eksplorasi kawasan karst Jawa diGunung Sewu di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, 3-16 Agustus 2006 lalu,ditemukan jenis kelelawar gua yang selama ini jarang ditemukan. Temuan lain,jenis ikan wader gua (Puntius microps) yang secara fisik mirip dengan jenis yangdipublikasikan tahun 1916 silam.

Kelelawar gua yang dimaksud (Hipositeros creaghi) sebelumnyaditemukan di sebuah gua di Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur. “Untuk jenisikan, sekarang sedang diteliti untuk dipastikan jenisnya. Secara fisik sangatmirip Puntius,” kata Ketua Tim eksplorasi Lembaga Ilmu PengetahuanIndonesia (LIPI) Cahyo Rahmadi ketika dihubungi, Jumat (25/8).

Ikan wader gua tersebut diidentifikasikan bermata kecil danbertubuh transparan sebagai wujud adaptasi situasi gua yang khas. BadanKonservasi PBB mengategorikan Puntius microps sebagai hewan terancam punah tahun1990.

Eksplorasi serupa digelar Juni 2006 lalu di kawasan karstMaros, Sulawesi Selatan. Sayangnya, eksplorasi tersebut kurang maksimal akibatguyuran hujan deras selama masa eksplorasi.

“Karst Maros sangat istimewa dan memilikikeanekaragaman-hayati terkaya di Asiatropika,” kata ahli peneliti utamaLIPI Yayuk Suhardjono.

Tim LIPI pernah menemukan jangkrik gua dengan panjang tubuhtiga sentimeter (cm) dan antena 35 cm.

Tahun 2003, di lokasi yang diusulkan sebagai warisan dunia(world heritage) itu, mereka menemukan kepiting bertubuh seperti laba-laba, danikan gua buta berbadan transparan.

Belum banyak disingkap

Kawasan karst merupakan bentang alam unik dengan batuan mudahlarut, khususnya batu gamping (kapur) akibat proses karstifikasi.

Kawasan ini umumnya gersang dengan banyak gua dan sungaibawah tanah.

Kawasan karst Indonesia terkaya berada di Papua diikuti Jawa.Sayangnya, seperti kawasan karst lain di Indonesia, kekayaan keanekaragamanhayati endemis di sana belum banyak disingkap. “Penelitian biologi guamulai intensif tahun 2000-an,” kata Cahyo.

Sebelumnya, peneliti-peneliti asing telah menjelajah gua-guakarst di Asia. Salah satu hasilnya, tahun 2004 deskripsi ikan gua (Grammonusthielei) dari Pulau Tioman, Sulawesi Utara, dilakukan peneliti asing.

Demikian pula ikan gua (Bostrychus sp.) yang ditemukan diMaros, yang dideskripsikan Murice Kottelat dari Swiss dan Dough Hoese dariWestern Australian Museum.

Sebagai bentuk perhatian pemerintah, Presiden Susilo BambangYudhoyono pada Desember 2004 lalu mencanangkan kawasan eco-karst seluas 130.000hektar. Bentangannya mulai dari Gombong (Jateng), Gunung Kidul (DIY), Wonogiri (Jateng),hingga Pacitan (Jawa Timur).

Kawasan karst direkomendasikan para ahli lingkungan agarterus dijaga, selain keanekaragaman hayatinya, di antaranya juga tandon airbesar (akuifer) yang menyediakan air bersih dalam jangka panjang. (GSA)

Sumber: KOMPAS, Sabtu,26 Agustus 2006
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0608/26/humaniora/2906046.htm

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: