Skip to content

Para Penghuni Kegelapan Gua Indonesia

August 22, 2007

bats-lalay.jpg

Oleh:

Cahyo Rahmadi
Museum Zoologicum Bogoriense LIPI Cibinong

Gua merupakan salah satu habitat yang paling ekstrim di bumi ini. Kegelapan yang menyelimutinya merupakan sebuah misteri yang layak dikenali. Gua sendiri terbentuk dengan proses yang rumit dengan berbagai proses fisik maupun kimia yang tak terhitung berapa lama mereka berproses. Lingkungan gelap, lembab dan sangat minim makanan ini menyumbang kehidupan berbagai jenis fauna yang sangat bernilai ditinjau dari segi ilmu pengetahuan.

Berkeliaran dalam gelap untuk mencari makan adalah satu hal yang sulit dibayangkan oleh kita. Namun bagi para penghuni kegelapan gua, mencari makan dan mencari pasangan untuk bereproduksi adalah satu hal yang biasa. Mereka mampu mendeteksi keberadaan makanan dengan organ perasanya yang sangat sensitif seperti antena yang sangat panjang dan rambut-rambut yang berperan sebagai sensor kondisi lingkungan. Dengan kondisi gua yang sangat minim sumber makanan, mereka mempunyai strategi dengan menurunkan laju metabolisme sampai batas yang sulit dipahami. Kecepatan dan kemampuan reproduksinya pun turun drastis. Rendahnya kemampuan reproduksi ini menyebabkan para penghuni gua mempunyai populasi yang sangat kecil. Dalam satu gua mungkin jumlah individunya tidak lebih dari dua puluh individu.

Sesarmoides jacobsoni

A

 Sesarmoides microphthalmus

 

B

Gambar 1. Kepiting Sesarmoides dari gua A. Sesarmoides jacobsoni dari Gunung Sewu, B. Sesarmoides microphthalmus dari Maros (Dok. C. Rahmadi)

Troglobite, itulah istilah yang lazim dikenal di dunia biospeleologi untuk mencirikan fauna yang telah teradaptasi secara mutlak di dalam gua. Istilah ini membatasi fauna-fauna yang hidupnya sangat tergantung dengan gua dan tidak ditemukan lagi di luar gua. Bentuknya pun telah mengalami proses evolusi yang panjang untuk mampu hidup di dalam gua dengan segala batasannya. Antena dan kaki yang panjang serta warna putih pucat bahkan transparan adalah bentuk yang lazim ditemukan di fauna troglobite. Bahkan matanya pun sudah tidak ditemukan lagi, hilang tanpa bekas.

Di Indonesia, troglobite yang telah dideskripsi jumlahnya tidak lebih dari 50 jenis. Jenis troglobite pertama kali dideskripsi dari gua di Gunung Sewu yaitu kepiting gua yang dikenal dengan Sesarmoides jacobsoni (Ihle, 1912). Kepiting ini ditemukan di kolam-kolam air yang berasal dari resapan air di celah-celah batuan gua. Sampai saat ini, kepiting gua ini hanya ditemukan di Gunung Sewu. Peningkatan jumlah jenis yang dideskripsi terjadi di era 80-an dimana kegiatan eksplorasi biologi gua di Indonesia begitu gencar. Dua tahun terakhir, sedikitnya telah dipublikasi 6 jenis baru dari gua-gua di Sulawesi dan Jawa. Jenis tersebut umumnya jenis krustasea yang menghuni perairan di dalam gua. Jenis udang gua yang sangat khas dari Maros adalah Marosina longirostris Cai and Ng, 2006 dan Marosina brevirostris Cai and Ng, 2006. Nama marganyapun diambil dari nama kawasan karst Maros yang telah menyumbang puluhan jenis troglobite di Indonesia. Jenis berikutnya adalah sejenis udang yang berukuran 7 mm yang ditemukan di genangan air di gua Cibinong. Jenis yang diberi nama Stenasellus javanicus Magniez and Rahmadi, 2006 ini merupakan catatan baru bagi Pulau Jawa. Sebelumnya marga yang sama hanya ditemukan di Malaya, Sumatra dan Borneo. Jenis ini hanya ditemukan di satu gua bahkan hanya di satu genangan air, eksplorasi lebih lanjut di gua-gua sekitarnya tidak berhasil menemukan catatan lebih lanjut. Jenis terbaru yang dideskripsi adalah kecoak gua raksasa dari Sangkulirang Miroblatta baai Grandcolas, 2007 dan kemudian kepiting gua dari Maros yang diberi nama Sesarmoides microphthalmus Naruse and Ng, 2007 yang hanya ditemukan di satu gua di kawasan karst Maros.

 

Stenasellus from sukabumi

Gambar 2. Stenasellus dari kolam perkolasi di Gua Buniayu (Dok. C. Rahmadi)

Jumlah jenis troglobite yang telah dideskripsi ini masih sangat rendah jika dibandingkan dengan keberadaan gua dan kawasan karst di Indonesia yang luasnya mencapai 145.000 km2 yang sampai saat ini hanya 15% yang dilindungi. Luasan kawasan karst di indonesia adalah yang terluas di negara-negara Asia Tenggara. Namun sayangnya jumlah jenisnya belum sebanding dengan jumlah gua dan luasan karst di Indonesia. Puluhan bahkan mungkin ratusan jenis troglobite yang telah dikoleksi saat ini telah menunggu untuk dideskripsi. Beberapa jenis bahkan belum diketahui marganya. Sebagai contoh, hasil eksplorasi biologi di kawasan karst Sangkulirang telah menghasilkan puluhan catatan baru dan hampir semuanya dipastikan jenis baru. Sebagai contoh temuan kepiting dari famili Hymenosomatidae yang merupakan catatan baru bagi Borneo telah merubah pemahaman tentang famili ini di gua. Temuan jenis-jenis akuatik dari Amphipoda, Isopoda, Natantia, Brachyura telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan pengetahuan troglobite di Indonesia. Di Jawa pun, sampai saat ini beberapa jenis telah menunggu untuk dideskripsi seperti temuan Isopoda akuatik dari marga Stenasellus di gua Sukabumi. Jenis udang dari kelompok Macrobrachium dengan mata kecil pun berhasil ditemukan di gua Karst Grobogan. Kelompok laba-laba dari ordo Amblypygi dengan nama marga Stygophrynus pun diyakini tercatat dua jenis yang layak menjadi kandidat jenis baru. Dua jenis ini berasal dari gua di Grobogan (Jawa Tengah) dan gua di Tuban (Jawa Timur). Temuan-temuan ini tentu saja akan menambah daftar panjang troglobite di Indonesia yang sudah selayaknya mulai sekarang diungkap sebelum perubahan dan kehancuran ekosistem gua dan karst terjadi. (CR2007)

Referensi:

Chia, O.K. and ng. P.K.l. 2006. The freshwater crabs of Sulawesi, with description of two new genera and four new species (Crustacea: Decapoda: Brachyura: Parathelphusidae). The Raffles Bull. Zool. 54(2): 381-428

Clements, R., Sodhi, N.S., Schilthuizen, M., and Ng, P.K.L.2006.Limestone Karst of Southeast Asia: Imperiled Arks of Biodiversity. Bioscience 56(9): 733-741

Grandcolas, P. And Deharveng, Louis. 2007. Miroblatta baai, a new very large cockroach from caves of Borneo (Blattaria: Blaberidae). Zootaxa 1390: 21-25

Holthuis, L.B. 1984. Freshwaters prawns (Crustacea: Decapoda: Natantia) from subterranean waters of Gunung Sewu area, Central Java, Indonesia. Zool. Mededel. 58(9): 141-148

Ihle, J.E.W. 1912. Ueber eine kleine Brachyuren-Sammlung aus unterirdischen flussen von Java. Notes Leyden Mus. 34: 177-183

Rahmadi, C..2006. Invertebrata Gua indonesia: Apa yang kita tahu tentang mereka?. Seminar Biospeleologi dan Ekosistem Karst. Yogyakarta, 6 Desember 2006. LIPI-UGM

Rahmadi, C. 2007. Cave Fauna of Java: the diversity and its contribution to karst Conservation (Midterm Report). Unpublished.

Magniez, G. J., And Rahmadi, C..2006. A new species of the genus Stenasellus (Crustacea, Isopoda, Asellota, Stenasellidae). Bull. Mens. Soc. Linn. Lyon 75(4): 173-177

Naruse, T. And Ng, P.K.L. 2007. On new species of cavernicolous crab of the Genus Sesarmoides Serene & Soh, 1970 (Crustacea: Decapoda: Brachyura: Sesarmidae) From Sulawesi. Raff. Bull Zool. 55(1): 127-130

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: