Skip to content

Menyelamatkan menara air Karst Grobogan – pendekatan kekayaan fauna gua

November 5, 2007

Landscape

Gambar 1. Bentang lahan karst Grobogan yang dimanfaatkan untuk sawah tadah hujan (Foto: C. Rahmadi)

 

K

 

arst Grobogan merupakan salah satu kawasan karst yang merupakan bagian dari deretan Pegunungan Kapur Utara. Kawasan ini menyimpan banyak gua-gua yang belum banyak diketahui kekayaan faunanya. Beberapa gua yang diekeplorasi faunanya adalah Gua Urang, Gua Gapek , Gua Pawon dan Gua Gajah. Sementara gua-gua lain belum diekplorasi secara menyeluruh.

Keanekaragaman

Berdasarkan hasil eksplorasi secara cepat yang dilakukan pada tanggal 8-11 April 2007 diperoleh beberapa jenis Arthopoda dan kelelawar gua.

Arthropoda gua yang diperoleh adalah beberapa contoh dari kelompok laba-laba (Arachnida), kelabang-kelabangan (Chilopoda), udang-udangan (Crustacea) dan serangga (Insecta). Kelompok laba-laba diperoleh beberapa jenis seperti Heteropoda sp. (laba-laba pemburu) dan Stygophrynus sp. (Amblypygi). Kedua jenis ini sangat lazim ditemukan di dalam gua. Beberapa jenis ditemukan di gua-gua di Jawa Barat sampai Jawa Timur.

Kelompok kelabang-kelabangan yang ditemukan adalah sejenis kelabang yang berkaki panjang yang merayap di dinding gua atau atap gua. Jenis ini adalah Scutigera sp. (Scutigeromorpha) yang juga sangat lazim ditemukan di dalam gua. Peran jenis ini adalah memangsa berbagi jenis arthropoda lain seperti jangkrik gua.

Jenis udang-udangan yang dikoleksi diwakili oleh kelompok Natantia (udang), Isopoda (Isopod) dan Brachyura (Kepiting). Kelompok Isopoda yang ditemukan adalah diduga dari kelompok Oniscedea yang banyak ditemukan di lorong yang berguano. Sedangkan kelompok udang yang ditemukan adalah sejenis udang dengan capit yang besar yaitu jenis Macrobrachium sp. Jenis udang ini banyak ditemukan di dalam aliran sungai di Gua Urang. Udang ini berwarna coklat keputihan dengan mata yang relatif mengecil. Jenis-jenis kepiting yang ditemukan di daerah Grobogan adalah jenis Parathelphusa sp. yang juga ditemukan di sungai bawah tanah di Gua Urang. Jenis-jenis Arthropoda yang lainnya masih dalam proses identifikasi lebih lanjut di laboratorium.

 

 

Kelelawar yang ditemukan diwakili oleh 5 jenis kelelawar yaitu Nycteris javanica, Hipposideros larvatus, Hipposideros diadema, Rhinolopus sp., dan Miniopterus sp.Kelima jenis kelelawar ini semunya berperan sebagai pengendali hama yang sangat penting membantu petani dalam mengendalikan hama yang merusak pertanian.Gua yang diamati namun tidak berhasil dikoleksi kelelawarnya adalah Gua Gapek. Konon gua ini mempunyai populasi kelelawar yang sangat besar, sehingga saat musim kemarau banyak penduduk yang menangkap kelelawar untuk dikonsumsi. Gua yang mempunyai populasi paling besar adalah Gua Urang, gua ini dihuni oleh 3 jenis kelelawar yang semunya berperan sebagai pengendalai populasi serangga. Sementara Gua Gajah hanya ditemukan dua jenis dan Gua Pawon hanya satu jenis.

Jenis-jenis menarik

Jenis arthropoda gua yang menarik adalah kelompok Amblypygi dari marga Stygophrynus sp. yang diduga merupakan jenis baru. Jenis ini secara sekilas hampir sama dengan jenis yang sudah dikenal di gua-gua di Jawa, yaitu berwarna hitam dengan kaki depan yang berubah menjadi semacam antena. Jenis dari grobogan ini dapat dibedakan dengan jenis lainnya berdasarkan pola gigi pada alat mulutnya. Jenis Stygophrynus sp. ini ditemukan di dekat mulut gua di Gua Pawon dan Gua Urang. Di Gua Pawon tidak ditemukan di bagian dalam karena kondisi gua yang sudah sangat rusak oleh aktivitas penambangan.

Gua Urang

Gambar 2. Salah satu lorong Gua Urang sebagai habitat Stygophrynus n. sp. (Foto: C. Rahmadi)

Jenis lain yang menarik yaitu udang gua yang juga sangat dimungkinkan merupakan jenis baru. Jenis Macrobrachium sp. ini ditemukan di Gua Urang. Konon udang-udang ini ditemukan sangat melimpah di sungai bawah tanah di Gua Urang. Namun ketika dieksplorasi beberapa waktu lalu, populasi udangnya sangat sedikit hanya ditemukan di sungai kecil yang bergabung dengan sungai utama.

Jenis kelelawar yang paling menarik adalah jenis Nycteris javanica, jenis ini biasanya mempunyai populasi yang sangat kecil dan sangat sulit ditemukan di gua-gua Jawa. Di Grobogan jenis ini hanya ditemukan di satu gua dan ditemukan hanya satu individu di Gua Pawon. Jenis ini jenis yang sangat langka di Jawa dan perlu mendapatkan perhatian untuk perlindungan. Sayangnya, jenis yang hanya ditemukan di satu gua ini kondisinya makin terancam oleh aktivitas penambangan fosfat yang dilakukan di Gua Pawon. Gua Pawon kondisinya sudah tidak layak untuk hunian kelelawar.

Sedangkan jenis-jenis yang mempunyai populasi besar layak mendapat perhatian untuk perlindungan karena mempunyai potensi yang sangat besar untuk mengendalikan populasi serangga.

Ancaman

Gua yang mengalami gangguan paling tinggi adalah Gua Pawon yang telah ditambang untuk diambil fosfatnya. Gua yang panjangnya tidak lebih dari 300 meter ini hampir semua lantai guanya telah berlubang dengan kedalaman mencapai 3 meter. Berkarung-karung fosfat ditumpuk di sepanjang lorong gua dan di depan mulut gua.

Mining Phosphat

Gambar 3. Aktivitas Penambangan fosfat di Gua Pawon (Foto: Abe)

Simpulan dan Rekomendasi

1. Di daerah karst Grobogan kemungkinan mempunyai dua jenis yang diduga baru yaitu dari kelompok laba-laba Stygophrynus sp. (Amblypygi) dan udang Macrobrachium sp. (Natantia).

2. Kelelawar yang ditemukan sebanyak 5 jenis yaitu Nycteris javanica, Hipposideros larvatus, Hipposideros diadema, Rhinolopus sp., dan Miniopterus s.

3. Jenis kelelawar yang patut mendapat perhatian adalah Nycteris javanica yang mempunyai populasi yang sangat kecil dan sangat jarang ditemukan di gua-gua di Jawa.

4. Gua-gua yang mempunyai populasi kelelawar yang sangat besar harus mendapat perhatian untuk tetapa menjaga keberadaan populasi kelelawar dengan melindungi gua-gua dari aktivitas manusia yang merusak gua maupun mengurangi populasi kelelawar.

5. Gua Pawon yang merupakan habitat bagi satu-satunya jenis kelelawar Nycteris javanica, harus diselamatkan dengan menghentikan kegiatan penambangan fosfat.

 

Oleh: Cahyo Rahmadi dan Sigit Wiantoro

Advertisements
One Comment leave one →
  1. February 27, 2014 8:13 pm

    Salam,

    mas Cahyo, apakah artikel ini ada publikasi resminya? di jurnal misalnya?

    wassalam
    Ayu S. Nurinsiyah

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: