Skip to content

Karst di Jawa Barat perlu dilestarikan

November 28, 2007

Karst Cibinong

Karst Cibinong dilihat dari ECOLOGY PARK Cibinong Science Center LIPI (C. Rahmadi)

 

Oleh: Cahyo Rahmadi (Puslit Biologi LIPI)

 

 

Jika kita melakukan perjalanan ke arah Bandung melalui Cianjur, sebelum memasuki kota Bandung tepatnya di daerah Citatah kita akan menyaksikan bukti betapa manusia begitu berkuasa menguasai tiap jengkal bumi ini. Betapa ketamakan manusia terhadap lingkungan begitu nyata tergambar jelas di bukit-bukit kapur yang terbelah. Di kanan kiri jalan, pemandangan yang mengenaskan akan nasib rupa muka bumi ini begitu jelas. Peta-peta yang dipakai tiga puluh tahun yang lalu pasti sudah tidak cocok jika kita gunakan sebagai acuan untuk melihat rupa bumi daerah Bandung dan sekitarnya. Rupa muka bumi sudah carut marut dikeruk dan dipotong menjadi hiasan yang terpajang dipinggir jalan atau bahkan menghiasi lantai atau menjadi perabot di rumah kita.

 

Itulah nasib kawasan karst Citatah yang kondisinya semakin memprihatinkan. Mungkin tidak ada seorang pun penduduk di sekitarnya yang membayangkan begitu tingginya gunung-gunung kapur akhirnya rata oleh tangan-tangan manusia. Saat ini juga tidak seorang pun bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan daerah itu 20 atau 30 tahun mendatang. Gunung kapur yang mestinya bisa menyimpan air untuk kebutuhan hidup namun jutru menyuplai debu yang menyesakkan pernapasan.

 

Inilah gambaran kecil nasib kawasan karst yang ada di Jawa Barat. Potret sebuah nasib ekosistem yang rapuh akhirnya punah oleh tangan-tangan manusia. Masih banyak kawasan karst yang mempunyai nasib sama. Seperti karst Cibinong makin lama kondisinya makin memprihatinkan dengan gunung kapur yang terpotong-potong.

 

Potensi yang belum terdata

 

Keberadaan kawasan karst di Jawa Barat sepenuhnya belum terdata keanekaragaman faunanya. Padahal kawasan karst dengan gua-guanya, diyakini sebagai habitat berbagai jenis fauna yang unik dan khas. Kekayaan fauna karst khususnya gua sampai saat ini baru sebagian kecil yang terdata. Seperti yang pernah ditemukan puluhan tahun lalu sekitar tahun 1928 yaitu sejenis laba-laba yang hidup di gua di sekitar Bogor, Stygophrynus dammermani dan Sarax javensis. Setelah itu hampir tidak ada penelitian maupun temuan jenis baru dari gua-gua di Jawa Barat. Sampai akhirnya tahun 2004 ditemukan satu jenis udang-udangan gua yang pertama kali ditemukan di Jawa. Udang-udangan ini akhirnya pada tahun 2006 diberi nama Stenasellus javanicus dan merupakan jenis yang ke enam yang ditemukan di Indonesia. Jenis ini ditemukan di sebuah gua kecil di Karst Cibinong tepatnya sekitar 2 km dari lokasi penambangan. Minimnya data tentang fauna gua di karst Jawa Barat menuntut diperlukan satu upaya kegiatan inventarisasi fauna gua dan aspek-aspek pendukungnya sehingga hasil inventarisasi ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengelolaan selanjutnya.

 

Peninggalan budaya

 

Selain kekayaan fauna, kawasan karst juga penting sebagai salah satu tempat peninggalan budaya atau sejarah masa lampau. Temuan yang paling menarik adalah temuan fosil manusia Bandung di Gua Pawon di daerah Citatah. Temuan ini sangat bermanfaat untuk melihat kembali asal-usul manusia yang ada sekarang dan bagaimana kehidupannya di masa lampau. Situs-situs budaya ini hendaknya diberi perlindungan semestinya tidak hanya gua tempat dimana ditemukannya fosil ini namun secara keseluruhan ekosistem yang ada disekitarnya.

 

Kepentingan cagar budaya sebagai aset ilmu pengetahuan hendaknya menjadi dasar pertimbangan untuk mengelola kawasan karst terutama karst Citatah. Temuan peninggalan budaya ini kemungkinan besar ditemukan juga di kawasan karst lain. Sehingga sebelum semuanya hilang dari muka bumi perlu dilakukan sebuah kegiatan penelitian untuk meneliti lebih jauh peninggalan budaya yang ada di Jawa Barat.

 

Perlu dilestarikan

 

Kawasan karst dengan gua-guanya yang mempunyai potensi keanekaragaman fauna yang sangat tinggi dan sekaligus peninggalan budaya, saat ini perlu dilestarikan. Keberadaannya tidak hanya sebagai habitat berbagai jenis fauna namun sekaligus sebagai sumber kehidupan terutama sumber air bagi kebutuhan manusia dan buku sejarah untuk melihat masa lampau. Karst-karst yang belum terjamah oleh aktivitas penambangan hendaknya diupayakan untuk dilestarikan demi kepentingan jangka panjang. Keuntungan sesaat dengan mengeksploitasi kawasan karst untuk penambangan terutama untuk mendongkrak PAD sudah seharusnya ditinjau kembali. Peran pemerintah daerah dalam hal ini sangat penting terutama dalam menentukan tata ruang dan peruntukan suatu kawasan agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Semoga bentuk rupa bumi kawasan penambangan kapur di Jawa Barat bukanlah cerminan wajah-wajah kita yang selalu tidak puas dengan mengeksploitasi alam.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: