Skip to content

Fauna Gua Jawa: kontribusi bagi pelestarian karst di Jawa

December 2, 2007

Jurang Wareng

Karst di Jawa

 

Kawasan karst di Indonesia mencapai 15,4 juta hektar yang tersebar dari Sumatra sampai Papua. Sedangkan di Jawa mencapai luasan 5000 km2 yang tersebar dari ujung barat sampai ujung timur Pulau Jawa. Keberadaan kawasan karst saat ini semakin terancam oleh berbagai aktivitas manusia dari yang skala kecil sampai skala besar seperti penambangan batu gamping untuk pabrik semen. Kehidupan sehari-hari masyarakat di kawasan karst pun semakin berpotensi menjadi ancaman bagi kelangsungan ekosistem karst maupun ekosistem gua yang ada di dalamnya. Ancaman yang berpotensi mempengaruhi keseimbangan ekosistem karst dan gua

 

Seluk beluk kehidupan di gua

 

Gua sebagai satu ekosistem merupakan habitat berbagai jenis biota dan sekaligus tempat berlangsungya proses adaptasi dan evolusi. Jenis-jenis biota telah mengalami penyesuaian untuk hidup di dalam gua yang gelap sepanjang masa. Penyesuaian berbagai jenis hewan di dalam gua ditunjukkan dengan berbagai bentukan  morfologi yang khas. Beberapa contoh yang mudah ditemui adalah pemanjangan antena yang dpat mencapai sepuluh kali lipat dari panjang tubuhnya. Pemanjangan antena ini sebagai konsekwensi dari lingkungan gua yang gelap total sehingga organ penglihatan tidak berfungsi. Organ penglihatan yang tidak berfungsi ini lama kelamaan mengecil dan terus mengecil secara turun temurun dan pada akhirnya hilang sama sekali. Warna tubuh yang kadang putih pucat ini juga merupakan satu bentuk adaptasi di dalam gua karena tidak adanya pigmen tubuh. Beberapa hewan yang mudah ditemukan di dalam gua adalah sejenis jangkrik, laba-laba, kumbang, kaki seribu dan berbagai jenis udang-udangan.

 

Keanekaragaman fauna

 

Fauna gua yang telah diberi nama di Jawa sampai saat ini jumlahnya tidak lebih dari 6 jenis. Hampir lebih dari temuan tersebut adalah hasil koleksi peneliti asing. Namun beberapa waktu lalu terdapat temuan yang cukup menarik yaitu temuan sejenis udang-udangan air tawar yang sangat khas di sebuah gua di Cibinong pada tahun 2004 dan akhirnya jenis tersebut diperkenalkan dengan nam Stenasellus javanicus pada tahun 2006. Temuan di Cibinong ini merupakan temuan yang sangat berarti dimana ketika laju kepunahan keanekaragaman hayati di Indonesia sangat tinggi namun di Jawa masih dapat ditemukan jenis baru. Dampak lain dari temuan ini adalah upaya untuk menyelamatkan kawasan karst di Cibinong yang keberadaannya terdesak oleh kegiatan penambangan kapur. Temuan ini juga menjadi pemicu awal untuk segera melakukan kegiatan inventarisasi di gua-gua yang ada di kawasan karst di Jawa. Mengingat laju kerusakan ekosistem karst yang sangat tinggi, kegiatan inventarisasi juga sangat mendesak untuk segera dilakukan.

 

Beberapa jenis yang cukup menarik ditemukan selama kegiatan survai di Pandeglang, Sukabumi, Grobogan dan Tuban, diperoleh hasil yang cukup menggembirakan. Sedikitnya ditemukan tiga jenis yang berpotensi sebagai kandidat jenis baru. Jenis-jenis tersebut meliputi sejenis udang yang masih sekerabat dengan Stenasellus javanicus yang ditemukan di kolam air perkolasi di Gua Buniayu. Dua jenis yang diduga baru lagi adalah kelompok laba-laba dari bangsa Amblypygi dari marga Stygophrynus. Kedua jenis Stygophrynus ini masing-masing ditemukan di gua di Grobogan dan Tuban. Keduanya cukup nyata berbeda secara morfologi baik kedua jenis tersebut maupun jenis yang sudah dikenal di Jawa sebelumnya.

 

Sementara dari kelompok kelelawar diperoleh sedikitnya 17 jenis kelelawar dari 7 famili. Dari 9 famili yang ditemukan di Indonesia, hanya 2 famili yang belum terkoleksi dari gua Jawa. Jenis-jenis yang ditemukan hampir 85% merupakan jenis kelelawar pemakan serangga sedangkan sisanya merupakan pemakan buah dan madu. Temuan kelelawar yang paling menarik adalah temuan satu jenis Pedan Jawa yaitu Nycteris javanica yang hanya ditemukan di dua gua dengan jumlah populasi yang sangat kecil. Jenis ini hanya ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Tuban Akbar

Taphozous  sp. salah satu jenis kelelawar yang toleran menghuni Gua Akbar (C. Rahmadi)

 

Peran bagi pelestarian karst

Masih rendahnya tentang pengetahuan mengenai karst, gua dan kehidupan yang ada di dalamnya, membuat karst dan gua merupakan ekosistem yang belum tersentuh untuk digarap dan dilestarikan. Gua dan karst merupakan salah satu tipe ekosistem yang mempunyai kriteria yag layak untuk dilindungi dan dilestarikan.

 

Kegiatan penelitian baik biotik maupun abiotik di kawasan karst dan gua merupakan satu kegiatan yang sangat penting untuk memperoleh gambaran potensi yang sebenarnya. Kegiatan inventarisasi fauna gua juga cukup mempunyai kontribusi yang penting bagi upaya pelestarian gua dan karst.

 

Temuan-temuan jenis yang menarik,  unik,  serta spesifikasi habitat yang khas juga menjadi nilai penting yang sangat tinggii. Selain itu, karena kemampuan sebaran yang sangat rendah membuat hewan-hewan gua sangat khas buat satu kawasan tertentu.

 

Selain jenis-jenis hewan yang kecil ini, kelelawar juga menyumbang potensi yang cukup besar bagi berlangsungnya keseimbangan ekosistem. Kelelawar pemakan serangga mampu mengendalikan serangga sehingga tidak menjadi hama bagi pertanian, sedangkan pemakan nektar menjadi penyerbuk berbagai jenis buah-buahan yang bernilai ekonomis. Kelelawar merupakan satu spesies yang layak menjadi “spesies kunci” bagi keseimbangan ekosistem di sekitarnya.

 

Berdasarkan keunikan dan nilai hayati yang sangat tinggi ini sudah selayaknya dicarikan solusi untuk tetap menjaga kelestarian gua dan mencegah dari kegiatan yang merusak keseimbangan ekosistem.

 

Gua Ngerong
Salah satu manfaat keberadaan fauna gua. Salah satu obyek wisata yang paling diminati.  Di Gua Ngerong pengunjung dapat menyaksikan kelelawar dan memberi makan ikan di sungai yang keluar dari gua. Selain memberikan mafaat ekonomi berupa pendapatan tiket masuk, fauna gua di Ngerong khususnya kelelawaranya memberikan pengendali hama bagi pertanian secara cuma-cuma dan sekaligus mengirimkan pupuk gratis untuk pertanian di sepanjang Sungai Bengawan Solo (C. Rahmadi)

 

Manfaat bagi masyarakat

 

Masyarakat hanya mengenal karst sebagai batuan yang hanya dapat dimanfaatkan untuk tambang penghasil batu gamping maupun marmer yang bernilai ekonomi. Namun nilai ekonomi sesaat ini justru menghilangkan potensi yang tidak ternilai harganya. Keberadaan segenap potensi baik hayati dan non-hayati telah memberikan manfaat yang sangat besar bagi masayarakat meskipun tidak pernah disadari.

Keberadaan kawasan karst di Jawa merupakan suatu faktor yang penting bagi kesejahteraan masyarakat. Keberadaan karst juga merupakan sumber air yang belum dimanfaatkan secara optimal. Masyarakat di kawasan karst begitu bergantung pada sumber air bawah tanah yang tidak pernah kering di musim hujan. Namun, sulitnya pencapaian menjadikan air sungai bawah tanah menjadi suatu kebutuhan yang sangat mahal. Upaya pemanfaatan air bawah tanah telah dilakukan di beberapa kawasan seperti Gunung Kidul dan kawasan lainnya.

Potensi yang tidak ternilai adalah keberadaan kelelawar yang menghuni gua-gua dengan populasi yang cukup besar. Keberadaan kelelawar tidak pernah disadari sebagai agen pengendalai hayati populasi serangga yang berpotensi sebagai hama. Tanpa kelelawar pemakan serangga, berapa miliar rupiah yang harus dikeluarkan untuk mengendalikan hama pertanian. Tanpa kelelawar pemakan madu, berapa besar uang yang harus diinvestaikan untuk membuat alat untuk menyerbukkan bunga agar menjadi buah yang bernilai ekonomi tinggi. Nilai-nilai inilah yang terkadang terlewat dan tidak pernah disadari oleh masyarakat sebagai satu bentuk manfaat yang tidak ternilai

Oleh; Cahyo Rahmadi

Advertisements
3 Comments leave one →
  1. jantotanu permalink
    January 22, 2008 9:21 am

    Salut.. saya sangat setuju untuk yang merokok dan masak2 di dalam gua agar tidak melakukan lagi karena dunia bawah tanah sebenarnya sangat sensitif. kasar ngomongnya, kalau ada yang kerumahmu dan buang air besar atau buang kotoran sembarangan. apakah kita tidak dirugikan?? memang sebuah dilema; kalau ketemu gua baru terus dipublikasikan secara luas. apakah tidak merugikan gua itu sendiri??? Karena kenapa??? PENCINTA ALAM DI INDONESIA MASIH BANYAK YANG TIDAK TAU APA ITU PENCINTA ALAM.. DAN MASIH BANYAK YANG KURANG BERTANGGUNG JAWAB
    Manfaat gua sangat besar terhadap manusia sebagai pengendali hama dan terutama penyeimbang alam sekitar gua. terutama kalau ada sistem drainasi bawah tanah (Gombong selatan). ibarat rumah dengan sistem plumbingnya, kalau pipanya buntu, apa tidak terjadi kerepotan??
    Salut dan acungan jempol buatmu pak Cahyo..

  2. January 23, 2008 3:40 am

    Terima kasih Mas Yanto Tanu..

    Saya sangat tersanjung, senior HIKESPI seperti Mas Yanto berkesempatan mengunjungi blog ini dan meluangkan waktu untuk meninggal sederet kalimat yang semakin menguatkan saya untuk terus memberikan yang terbaik buat karst di Indonesia dengan segenap kemampuan saya.

    Saya menyadari perlunya informasi yang BENAR meskipun saya tidak pernah mau merasa benar dengan apa yang saya ungkapkan di blog ini.

    Kebenaran dalam berkegiatan di gua adalah kebenaran yang itu bermanfaat buat kelangsungan gua dan kehidupannya dan juga mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat baik langsung maupun tidak.

    Ada caci maki, saran maupun pisuhan yang masuk ke blog saya akan sangat berharga buat saya, supaya saya tidak merasa benar dan selalu membenarkan diri.

    Semoga caving, speleologi dan Indonesia adalah satu kesatuan utuh yang seharusnya ada.

    Terima kasih sekali lagi, Mas Yanto Tanu: saya inget pernah di diklat mas Yanto di Cisarua dan terakhir ketemu kalo gak salah pas lengsernya Pak Ko.

    salam

    cahyo ‘aock’ rahmadi

Trackbacks

  1. Karst Jawa kian terancam « Indonesian Caves Life

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: