Skip to content

Gua Ngerong, Tuban: ancaman dan kelestarian

December 9, 2007
Gua Ngerong

Gua Ngerong, Rengel yang banyak dikunjungi wisatawan (C. Rahmadi)

Keberadaan Gua Ngerong sampai saat ini masih relatif belum terganggu namun jika berbicara dalam skala lebih luas bahwa ancaman terhadap gua Ngerong sangat tinggi.

Dampak pariwisata tidak begitu mengancam keberadaan fauna yang ada di dalam gua karena akses pengunjung hanya sebatas mulut  gua.

Pengunjung yang ingin lebih ke dalam lagi membutuhkan keahlian dan keberanian tersendiri dan hanya orang-yang telah berpengalaman yang berani masuk ke dalam gua Ngerong yang mempunyai panjang lorong mencapai 1800 meter.

Namun pariwisata ini juga harus dikelola secara benar seperti pembuangan bungkus plastik sisa memberi makan ikan harus dianjurkan untuk membuang pada tempat sampah karena hal ini sangat mengganggu pemandangan dan jika dibiarkan akan memperparah kondisi di sekitar gua.

Hendaknya pengunjung tidak mengganggu keberadaan kelelawar yang banyak bergantungan di mulut gua apalagi mengambil kelelawar untuk dijual maupun dikonsumsi. Karena jika diganggu terus menerus kelelawar akan pergi dan berpindah ke lain gua.

Sedangkan fungsi kelelawar bagi keberadaan perekonomian masyarakat Tuban sangat besar namun hal ini kadang tidak disadari masyarakat. Karena keuntungan secara ekonomis bagi masyarakat adalah  mendapatkan keuntungan itu secara langsung entah itu uang maupun hasil sumber daya lain yang langsung bisa dinikmati.

Kelelawar sebagai salah satu penyeimbang ekosistem mempunyai peran yang sangat vital yaitu membantu pengendalian hama karena kelelawar memakan serangga yang berpotensi sebagai hama jika populasinya tidak dikendalikan dalam hal ini pengendali hama adalah kelelawar.

Kelelawar juga membantu penyerbukan dan penyebaran biji seperti durian dan tanaman ekonomi yang bernilai tinggi. Di Gua Ngerong air sungai yang mengairi sawah sangat penting sebagai penyubur sawah karena airnya mengandung guano sehingga sawah-sawah yang diairi dari Gua Ngerong akan menghasilkan padi yang lebih dari sawah yang diairi dari sumber lain.

 Ancaman terbesar adalah penambagan batu kapur yang sangat intensif di Tuban, jika penambangan ini tidak dikendalikan di hulu sungai yang mengalir di dalam Gua Ngerong akan menyebabkan semakin menurunkan debit airnya.

Sehingga akan mengancam kelangsungan dan kelestarian ekositem di Gua Ngerong. Diperlukan penataan penambangan batu kapur sehingga menjamin kelangsungan debit air di Gua Ngerong.

Kepercayaan penduduk untuk tidak mengambil ikan dan kelelawar di Gua Ngerong hendaknya dijadikan modal dasar untuk mengelola Gua Ngerong dan melestarikan Gua Ngerong sebagai asset wisata sekaligus sebagai asset penyeimbang kelangsungan eksosistem.

Advertisements
3 Comments leave one →
  1. December 11, 2007 3:52 am

    setuju …

    Tapi keberpihakan ekonomi jangka pendek akan mengalahkan ego untuk melindungi kawasan karst yang dampak langsungnya susah dirasakan masyarakat sekitar . Mungkin hanya kawasan karst daerah terpencil dan jauh dari ketersediaan infrastruktur saja yang dapat dipertahankan kelestariannya, mengingat Indonesia sedang giat membangun dan banyak membutuhkan semen.

    Lihat saja di Bayah, seratusan juta US dollar telah siap di guyurkan konglomerat semen asal Aussie untuk menghancurkan kawasan karst bayah menjadi industri semen lengkap dengan membangun dermaga bongkar muatnya.

  2. December 11, 2007 3:57 am

    oya… goa ngerong seberapa jauh ya dari goa akbar ?

  3. December 11, 2007 4:33 am

    Gua Ngerong dari Gua Akbar lumayan jauh. Gua Ngerong tepatnya di dekat kantor kecamatan RENGEL jalan menuju BOJONEGORO sebelah timur.

    Dari Gua Akbar mungkin sekitar 8 km .. (mungkin yaa.. saya kurang tahu persis). Cuma sekarang ada jalan potong yang nglewati perkebunan PTPN dengan jalan yang cukup mulus …

    Mungkin akhir tahun ini saya akan kembali ke TUBAN .. ada pekerjaan bareng-teman untuk menggali lebih dalam Karst Tuban.

    O yaa, untuk karst Bayah yang rencana mau ditambang di sebelah mana yaa.. mungkin bisa kasih informasi detailnya.

    Saya dulu pernah ke Desa Sawarna lumayan enak dan sejuk.

    Mungkin bisa sharing informasi .. karena saya juga lagi CONCERN dengan maraknya rencana penambangan kawasan karst di Jawa sperti HOLCIM di Tuban, Pati, Rembang .. dan tambah lagi BAYAH ..

    thanks ..

    salam
    cahyo

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: