Skip to content

Gunung Sewu: potensi nirhayati dan hayati kars

January 25, 2008

Karst DUnia

POTENSI SUMBER DAYA NIRHAYATI
Gunung Sewu menyimpan potensi gua yang sangat besar. Ratusan gua yang tersimpan didalamnya mempunyai keindahan dan keunikan yang cukup besar. Sistem perguaan yang unik dan komplek juga ditemukan di sini. Gua terpanjang di Jawa pun terdapat di gunung Sewu yaitu sistem Gua Jaran yang konon panjangnya mencapai 20km yang terletak di daerah Pacitan. Keindahan di dalamnya pun tidak kalah dengan gua-gua yang ada di Sulawesi bahkan di luar negeri. Sistem lain yang juga tidak kalah menarik adalah sistem Kali Suci yang merupakan sungai permukaan yang masuk ke dalam gua dan bermuara di Pantai Selatan. Di sepanjang sungai bawah tanah ini ditemukan fenomena unik yaitu terdapat cekungan-cekungan akibat atap gua yang runtuh seperti Luweng Gelung, Luweng Grubug dan Gunung Bolong. Kedalaman gua mencapai puluhan bahkan ratusan meter. Sistem gua yang unik ini mempunyai nilai ilmu pengetahuan yang tinggi.

Bentukan bentang alam yang khas dengan bukit-bukit kapur atau lebih dikenal dengan “conical hills” merupakan fenomena langka yang tidak banyak ditemukan di belahan bumi lain. Para peneliti luar negeri yang mempelajari geomorfologi banyak melakukan penelitian di kawasan ini.

Cave Decoration
Ornamen gua di salah satu gua di Gunung Sewu (C. Rahmadi)

POTENSI SUMBER DAYA HAYATI
Potensi sumber daya hayati di kawasan karst Gunung Sewu sampai saat ini belum banyak terungkap. Hal ini disebabkan minimnya kegiatan penelitian hayati di kawasan ini. Beberapa catatan penelitian fauna gua banyak ditemukan di literatur-literatur berbahasa Belanda. Beberapa tahun terakhir dilakukan penelitian tentang keanekaragaman hayati namun tidak banyak yang dipublikasikan. Hal ini menyebabkan potensi Gunung Sewu tidak banyak diketahui dibandingkan kawasan karst lain seperti Nusakambangan Jawa Tengah, Maros Sulawesi Selatan dan Pegunungan Sewu Sumatra. Namun penelitian tersebut banyak dilakukan oleh peneliti asing khususnya Perancis.

Kekayaan fauna gua di perairan bawah tanah yang tercatat adalah ketam gua yang ditemukan di Gua Ngingrong dan Gua Jomblang yaitu jenis Sesarmoides jacobsoni yang konon merupakan ketam yang telah teradaptasi dengan lingkungan gua. Ketam lain yang bukan merupakan ketam gua namun ditemukan di dalam gua adalah Parathelpusa convexa yang ditemukan di Gua Jomblang daerah Bedoyo. Beberapa jenis udang gua juga ditemukan di Gunung Sewu yaitu Macrobrachium poeti yang ditemukan oleh tim Inggris pada saat eksplorasi gua di kawasan ini, udang dideskripsi oleh Holthuis pada tahun 1984. Jenis udang lain yang bukan udang gua yang ditemukan di perairan dalam gua adalah Macrobrachium pilimanus yang juga ditemukan di gua-gua Sumatra. Beberapa udang juga ditemukan oleh mahasiswa pecinta alam Fakultas Biologi (Matalabiogama) di sebuah gua vertikal di daerah Panggang Gunung Kidul namun belum teridentifikasi diduga dari marga Macrobrachium. Dari kelompok vertebrata yang menghuni perairan bawah tanah di Gunung Sewu salah satunya adalah ikan gua dari jenis Puntius microps yang diduga masih sejenis dengan Puntius binotatus yang banyak ditemukan di sungai permukaan. Puntius microps ditemukan di sungai bawah tanah di gua Jomblang. Penelitian tentang ikan gua telah banyak dilakukan oleh mahasiswa anggota Matalabiogama Fakultas Biologi UGM yang meneliti tentang perbandingan struktur retina ikan gua dengan luar gua (Arianto 1999), perbandingan struktur sisik ikan gua (Rinawati 2000), morfologi ikan gua (Budihardjo 2002) bahkan akan dijajagi untuk mempelajari DNAnya. Ikan gua yang diduga dari jenis Puntius sp. ditemukan di danau bawah tanah di kedalaman 100meter yang mempunyai populasi sangat kecil. Potensi fauna di perairan bawah tanah Gunung Sewu masih belum banyak terungkap mengingat banyaknya gua dengan sungai bawah tanah yang berjumlah ratusan. Sehingga peluang untuk menemukan jenis baru masih sangat terbuka lebar.

Fauna terrestrial juga masih menyimpan potensi yang belum terungkap. Dari catatan di Enciclopaedia Biospeologica: Indonesie terdapat jenis Isopoda gua yaitu jenis Javanoscia elongata Schultz, 1985 dan Tenebrioscia elongata Schultz, 1985. Dari hasil inventarisasi sekilas pada tahun 2000 didapatkan jumlah fauna gua yang telah teradaptasi cukup tinggi. Dari survey di tiga gua didapatkan 4 jenis troglobit yaitu Nocticola sp. (Blattodea), Schizomida sp. (Arachnida), Pseudosinella sp. (Collembola) dan Cambalopsidae sp. (Diplopoda) (Suhardjono et al. 2001). Sedangkan penelitian Arthropoda gua di Gunung sewu banyak dilakukan oleh mahasiswa pecinta alam fakultas Biologi UGM namun juga tidak banyak yang dipublikasikan. Fauna terrestrial di kawasan ini masih belum banyak yang terungkap karena gua yang belum diteliti juga masih cukup banyak.

Gua-gua di Gunung Sewu juga dihuni oleh koloni kelelawar yang juga menghasilkan guano yang cukup banyak. Fauna yang hidup di dalam guano pun juga belum ada yang diteliti. Namun penelitian tentang kelelawar penghuni gua telah dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Biologi Matalabiogama (1999), Erlamsyah (2000) dan Santoso (2001), Fajria (2002) sebagai penelitian skripsi. Dari penelitian tersebut menunjukkan kekayaan yang cukup tinggi. Namun keterbatasan pengetahuan secara taksonomi masih menyebabkan belum terungkapnya jenis-jenis baru yang dimungkinkan ditemukan di kawasan ini.

Pemanfaatan air di dalam gua juga akan mengancam kelestarian kualitas air dan kehidupan yang ada di dalamnya. Pemanfaatan air yang ada di gua untuk mandi dan cuci akan meningkatnya polusi air jika tidak dimanfaatan secara bijaksana. Di Gua Sodong Mudal di Pracimantoro, air yang masuk ke dalam gua digunakan untuk mandi dan cuci namun sampah plastik dan sebagainya dibiarkan beserakan dan menimbulkan bau dan air yang berwarna hitam. Air yang sudah tercemar ini akan terus masuk ke dalam gua dan mengancam keberadaan fauna yang tergantung padanya.

Oleh: Cahyo Rahmadi

Museum karst

 

Advertisements
2 Comments leave one →
  1. esthi permalink
    February 8, 2008 1:32 pm

    Uff……!!!keren sekali fenomena alamnya…….!!!!

  2. andi76ers permalink
    February 21, 2008 6:47 am

    Gunung Sewu memang fenomenal. Tersimpan begitu banyak potensi yang barangkali tdk akan ternilai. Namun pada kenyataannya, potensi yang fenomenal itu hanya diketahui dan dipahami oleh segelintir orang. Contohnya ya perilaku di Sodong itu. (kalau tidak salah) mereka berlaku begitu karena memang mereka belum sadar dan paham akan potensi. Lha…yang paling sulit itu adalah bagaimana masyarakat bisa dilibatkan aktif dalam upaya menjaga dan selanjutnya memanfaatkan kawasan karst gunung sewu itu dg bijaksana. (setuju kan Ock). Berat memang…tapi sampai saat ini yang belum berhasil ya masalah melibatkan masyarakat di kawasan tersebut. Dan memang Kawasan Karst Gunung Sewu HARUS KITA JAGA…..

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: