Skip to content

Amblypygi dan Indonesia

May 15, 2008

Amblypygi merupakan salah satu ordo anggota Kelas Arachnida. Amblypygi mempunyai bagian tubuh yang dibedakan menjadi dua yaitu cephalothorax (prosoma) dan abdomen (ophistoshoma). Amblypygi berbentuk pipih dengan capit yang berduri dan kaki depan yang termodifikasi menjadi indra perasa (antena). Amblypygi mempunyai 3 pasang kaki yang digunakan untuk berjalan.

Sistematika. Kekerabatan Amblypygi dengan kelompok Arachnida lain telah dipelajari oleh Weygoldt and Paulus (1979), Shultz (1990) dan yang paling terakhir oleh Shultz (2007). Weygoldt and Paulus (1970) menyebutkan bahwa Amblypygi merupakan kerabat dekat dengan Araneae membentuk Labellata dan berkerabat dengan Uropygi membentuk Megoperculata. Sedangkan hasil analisa filogeni Shultz (1990) menunjukkan bahwa Amblypygi berkerabat dekat dengan Uropygi membentuk kelompok Pedipalpi yang berkerabat dengan Araneae menjadi Tetrapulmonata. Sedangkan hasil analisa filogeni terbaru oleh Shultz (2007) menunjukkan hasil yang tidak berbeda jauh dimana Amblypygi berkerabat dengan Uropygi (=Schizomida dan Thelyphonida) membentuk kelompok Pedipalpi. Kelompok Pedipalpi ini dicirikan dengan beberapa karakter seperti capit yang berfungsi untuk mencengkeram mangsa dan kaki pertama yang berbentuk benang serta beberapa karakter lain yang sama (Shultz 2007).

Amblypygi secara taksonomi tradisional terbagi menjadi Charontidae dan Tarantulidae. Famili Charontidae meliputi satu anak famili yaitu Charontinae. Famili Tarantulidae mencakup tiga anak famili yaitu Phrynichinae, Damoninae dan Tarantulinae (Phryninae) (Lihat Millot 1949). Dalam perkembangannya Quintero (1986) mengusulkan untuk mengangkat dua famili dalam sub ordo yang dinamai Pulvillata dan Apulvillata. Kedua sub ordo ini dicirikan dengan ada tidaknya pulvilli di kaki yang digunakan untuk berjalan. Pulvillata meliputi dua famili yaitu Charontidae dan Charinidae sedangakan Apulvillata meliputi tiga famili yaitu Phrynichidae, Damonidae and Phrynidae.

Seiring perkembangan sistematika filogeni, Weygoldt (1996) menganalisa beberapa karakter di Amblypygi dan sampai pada kesimpulan terbentuknya dua sub ordo yaitu Palaeoamblypygi dan Euamblypygi. Palaeamblypygi diwakili oleh satu-satunya jenis bahkan famili yang belum punah yaitu Paracharontidae (Paracharon caecus) dan beberapa jenis yang telah punah dari jaman Karbon. Sedangkan Euamblypygi terdiri beberapa famili yang masih ada yaitu Charinidae,  dan Neoamblypygi (=Charontidae+Phynida (=Phrynichidae+Euphyrnichidae+Phrynidae).

Keanekaragaman di dunia. Jumlah seluruh marga di dunia mencapai 17 marga dengan jumlah jenis lebiht 136 jenis (Harvery 2003). Jumlah jenis tersebut telah bertambah sejak disusunnya katalog oleh Harvey (2003)   seperti beberapa jenis Phrynus dari Brazil, Stygophrynus dari Thailand (Weygoldt 2003) danCharinus dari Pasifik Barat (Weygoldt 2006).

Biogeografi. Amblypygi tersebar di seluruh dunia namun lebih banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropis (Harvey 2002). Sebaran masing-masing anggota familinya sangat khas, contohnya Charinidae tersebar di lingkar-tropis, Paracharontidae yang merupakan satu famili dengan satu marga dan satu jenis hanya ditemukan di Afrika Barat. Famili Charontidae tersebar di Asia Tenggara dan Australasia. Famili Phrynichidae tersebar di Afrika dan Asia dan satu marga yang terdapat di Brazil. Famili Phrynidae merupakan famili yang tersebar di Dunia Baru (New Wordl) yaitu di amerika tengah sampai bagian utara Amerika selatan, namun secara mengejutkan famili ini ditemukan di Indonesia (Harvey 2002; Harvey and Rahmadi 2007).

JEJAK SEJARAH DI INDONESIA

Amblypygi di Indonesia pertama kali dikenalkan oleh Karsch (1842) dengan memperkenalkan satu jenis Charon hoeveni (Karsch, 1842) dari Jawa. Beberapa tahun kemudian Thorell (1888) menambah tiga jenis lagi yaitu 2 jenis dari Ambon (Charon beccarii Thorel, 1888 dan Charon subteraneus Thorell, 1888) dan satu jenis dari Papua Nugini (Charon papuanus Thorell, 1888). Semua jenis  dari Ambon  merupakan hasil ekspedisi dengan judul “Spelunca Amboina”. Setelah itu tidak banyak publikasi tentang Amblypygi dari indonesia kecuali beberapa catatan Gravely  (1911) tentang catatan jenis dari Jawa. Penambahan jenis berlanjut dengan beberapa catatan hasil deskripsi Gravely (1915) dari Jawa yaitu Sarax javensis (Gravely 1915)  dan dari Kalimantan Stygophrynus moultoni Gravely, 1915. Dalam tulisan tersebut Gravely (1915) juga mencatat beberapa temuan Amblypygi dari Jawa dan Mentawai yang belum terdeskripsi. Tiga belas tahun kemudian muncul publikasi pertama Amblypygi dari Jawa yaitu Stygophrynus dammermani Roewer, 1928 dari salah satu gua di sekitar Bogor. Delle Cave (1986) mencatat satu jenis Stygophrynus cavernicola yang dikoleksi dari Pulau Engano (Bua-Bua) yang konon di identifikasi oleh Kraepelin. Jenis baru muncul setelah beberapa tahun yaitu dengan ditemukan jenis yang  fenomenal yaitu Phrynus exsul Harvey, 2002 dari Pulau Flores. Jenis ini merupakan jenis yang ditemukan di luar distribusi utamanya yaitu Dunia Baru. Temuan di luar sebaran utamanya ini memerlukan penjelasan lebih lanjut (Weygoldt 2000, Harvey 2002).

JENIS-JENIS AMBLYPYGI

Amblypygi Indonesia yang telah dideskripsi sebanyak 5 jenis dari 4 marga dan 3 famili. Jenis-jenis tersebut mempunyai ukuran yang bervariasi dari yang kecil sampai yang besar. Jenis-jenis tersebut adalah :

1. Sarax javensis (Gravely, 1915)

Famili                    : Charinidae

Lokasi Tipe          : Bogor (sebagai Buitenzorg) Jawa Barat

Distribusi             : Jawa (Indonesia)

Catatan            : Jenis ini berukuran kecil. Habitat jenis ini tidak disebutkan dalam Gravely 1915. Namun beberapa spesimens dikoleksi dari gua terutama di bawah batu atau kayu lapuk sedangkan di luar gua tiemukan di bawah batu.

2. Charon grayi (Gervais, 1842)

Sinonim        : Charon hoeveni (Karsch, 1880), Charon beccarii Thorell, 1888; Charon subterraneus Thorell, 1888; Charon papuanus Thorell, 1888

Famili                    : Charontidae

Lokasi tipe           : Charon grayi dari Filipina, Charon hoeveni dari Jawa, Charon beccarii (dari Ambon), Charon subterraneus (dari Ambon) dan Charon papuanus (dari Papua (New Guinea))

Distribusi             : Asia Tenggara dari Malaya sampai Kepulauan Solomon.

Catatan             : Jenis ini tersebara luas dari Singapura sampai Kepulauan Solomon mempunyai ukuran tubuh yang besar. Habitat umumnya ditemukan di gua namun juga ditemukan hidup di luar gua terutama di hutan alami dan diu tempat gelap dan lembab. Status jenis ini masih meninggalkan masalah mengingat keputusan Kraepelin (1899) untuk mensinonimkan dari 4 jenis yang berbeda banyak yang tidak sependapat (Delle-Cave 1986 ; Weygoldt 1996, Weygoldt 2000, Harvey and West 1998).

3. Stygophrynus moultoni Gravely, 1915

Famili                    : Charontidae

Lokasi tipe           : Perbukitan Klinkang (Kalimantan Barat)

Distribusi             : Kalimantan Barat

Catatan                                : Jenis ini dideskripsi dari satu spesimen jantan yang ditemukan dari Perbukitan Klingkang (Kalimantan Barat). Jenis ini merupakan anggota anak marga Neocharon yang dikenalkan oleh Dunn (1945). Beberapa jenis yang mirip ditemukan di gua-gua Kalimantan dan Madura namun diduga merupakan jenis yang berbeda (Rahmadi data tidak dipublikasi). Quintero (1981) mencatat temuan jenis ini di Pulau Sebesi namun laporan ini diyakini kurang tepat mengingat gambar yang ditampilkan yaitu Pedipalp tibia tidak menunjukkan ciri jenis ini (Rahmadi and Harvey, in prep).

4. Stygophrynus dammermani Roewer, 1928

Famili                    : Charontidae

Lokasi tipe           : Goeha Koeda (Buitenzorg)

Distribusi             : Jawa (Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah)

Catatan                                :Jenis ini pertama kali dikenal dari Gua Koeda di sekitar Bogor namun gua ini diduga telah rusak oleh aktivitas penambangan. Jenis ini hidup di dalam gua dan tercatat juga hidup di Pulau Krakatau (Dammerman 1948, Rahmadi and Harvey, in prep).

5. Phrynus exsul Harvey, 2002

Famili                    : Phrynidae

Lokasi tipe           : Gua Cermin (Pulau Flores)

Distribusi             : Pulau Flores, Pulau Rinca (Rahmadi & Harvey, 2007)

Catatan                                : Salah satu jenis Phrynidae yang tersebar di luar distribusi utamanya yang menjadi jenis pertama yang dikenal di indonesia. Jenis ini mempunyai habitat di gua namun catatan baru melaporkan jenis ini hidup di luar gua di pohon maupun tebing karst (Rahmadi and Harvey 2007).

Selain jenis-jenis yang dideskripsi dari Indonesia ada beberpa jenis yang dideskripsi dari luar Indonesia tercatat ditemukan di beberapa pulau di Indonesia. Harvey (2003) mencatat beberapa jenis antara lain Sarak sarawakensis dilaporkan ditemukan di Jawa dan Kalimantan. Sedangkan Delle Cave (1986) melaporkan satu jenis Stygophrynus cavernicola dari Pulau Engano, Bua Bua dari koleksi MCSTG (Italia).

Cahyo Rahmadi

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: