Skip to content

Biota gua dan konservasi karst di Indonesia

May 15, 2008

Kesan gelap dan kondisi yang selalu lembab adalah kesan yang tidak pernah lepas dari lingkungan gua. Namun di balik kegelapan dan kondisi lembab inilah tersimpan sebuah kehidupan berbagai jenis biota yang belum banyak dijamah. Kalangan ilmuwan yang percaya adanya proses adaptasi dan evolusi, sepakat bahwa gua adalah salah satu contoh ekosistem terbaik dimana kedua proses itu terjadi. Kedua hal inilah yang menjadikan gua sebagai satu obyek penelitian yang menarik, karena gua mempunyai kondisi lingkungan yang sangat berbeda dengan luar gua. Karakteristik lingkungan gua antara lain kondisi gelap total sepanjang masa, lingkungan yang stabil sepanjang masa, ketersediaan pakan yang sangat minim dan kelembaban yang tinggi.

Si kecil, berlengan kekar

Kondisi lingkungan ini berdampak pada biota-biota yang hidup di dalamnya. Biota yang tidak dapat beradaptasi di gua tidak dapat bertahan hidup, sedangkan yang dapat beradaptasi akan bertahan hidup dan terus berkembang biak. Karena kondisi inilah banyak biota gua yang sangat unik dan khas. Beberapa jenis ditemukan berwarna putih, mata mereduksi atau buta dan antena yang sangat panjang atau kaki-kaki yang lebih panjang jika dibandingkan kerabat dekatnya di luar gua.

Penelitian keanekaragaman biota gua di Indonesia belum banyak yang dilakukan oleh orang kita sendiri. Kebanyakan temuan jenis baru masih dilakukan oleh orang asing. Hal ini diduga karena keterbatasan taksonomi dan pengetahuan tentang gua dan kehidupannya yang masih sangat minim. Namun sejalan dengan waktu, mulai awal tahun 2000-an peneliti Indonesia mulai banyak terlibat dalam menyumbang temuan-temuan jenis baru. Keterlibatan ini sepertinya akan semakin meningkat di masa yang akan datang seiring dengan makin intensifnya penelitian di gua oleh orang-orang kita sendiri. Temuan jenis baru juga diharapkan tetap meningkat sepanjang tahun.

Jenis-jenis khas
Jenis biota yang ditemukan hanya hidup di dalam gua sampai saat ini kondisinya masih sangat minim. Sampai tahun 2006 sedikitnya telah dideskripsi 37 jenis biota khas gua khususnya arthropoda. Dari jumlah tersebut ada sekitar 23 jenis biota akuatik dan 14 jenis biota terestrial. Jenis-jenis khas gua didominasi oleh kelompok udang-udangan (Crustacea) yang menyumbang hampir 60% jumlah jenis biota gua yang dideskripsi. Sementara kelompok lainnya hanya berkisar antara 2 – 21%.

Si kecil penghuni guano

Jenis biota akuatik yang paling tua ditemukan adalah kepiting gua, Sesarmoides jacobsoni, yang dominan di gua-gua Gunung Sewu. Jenis ini dikoleksi oleh peneliti Belanda yang melakukan perjalanan di beberapa daerah di Indonesia yaitu E. Jacobson pada tahun 1910. Jenis kepiting tersebut dideskripsi oleh J.E.W. Ihle pada tahun 1912 dan dipublikasi di jurnal Notes Leyden Museum. Sedangkan jenis terestrial yang pertama kali dikenal adalah kalajengking gua yang ditemukan di gua-gua Sumatra Barat, jenis ini dideskripsi oleh Pocok pada tahun 1879 dan diberi nama Chaerilus cavernicola.

Beberapa jenis yang dideskripsi baru-baru ini adalah kepiting gua dengan mata kecil yang ditemukan di Gua Saripa Karst Maros yaitu Parathelphusa sorella. Sebelumnya di sebuah gua kecil di Cibinong Bogor ditemukan jenis udang-udangan langka yang merupakan catatan dan jenis baru bagi Jawa yaitu Stenasellus javanicus.

Endemik
Jenis-jenis khas gua merupakan jenis yang sangat menarik karena umumnya mempunyai sebaran sangat terbatas baik antar gua maupun antar kawasan karst. Beberapa jenis yang ditemukan hampir semuanya ditemukan di beberapa gua atau bahkan dari satu gua saja di dalam satu kawasan karst dan tidak ditemukan di kawasan karst lain. Keterbatasan kemampuan penyebaran jenis-jenis khas gua disebabkan oleh kemampuan bergerak yang sangat terbatas, habitat yang spesifik, toleransi terhadap perubahan lingkungan yang sangat sempit dan habitat gua atau karst yang terpisah (fragment). Pertimbangan ini yang menyebabkan biota gua sebagai satu komponen yang sangat penting untuk dilestarikan dan dilindungi.

Konservasi
Biota gua dengan karakteristik yang khas dan unik serta endemisitas yang sangat tinggi menuntut perhatian berbagai kalangan. Perlunya upaya perlindungan biota gua dan habitatnya menjadi wacana penting yang perlu didiskusikan dan dicarikan pemecahan terhadap permasalahan yang ada. Berbagai dasar pertimbangan untuk perlindungan suatu kawasan telah dipenuhi oleh kawasan karst dan berbagai jenis biotanya. Hal yang paling penting adalah bagaimana kita bisa berdialog antar pihak untuk memulai wacana baru sebuah perlindungan biota gua dan habitatnya khususnya kawasan karst.

 

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: