Skip to content

Penghuni Kegelapan Gua: evolusi dan ancaman

May 15, 2008

Gua yang gelap, lembab dan sangat minim makanan mungkin bukan sebuah tempat yang layak bagi beberapa jenis hewan untuk hidup. Jika hidup di dalamnya pun bukan merupakan sebuah pilihan hidup yang mudah. Segala kemudahan yang ada di atas permukaan bumi ini tidak dengan mudah dapat ditemui di dalam gua. Kegelapan gua merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam memicu segala bentuk adaptasi bahkan evolusi segala bentuk kehidupan di dalam gua. Jenis-jenis yang tidak sanggup beradaptasi dengan kegelapan lambat laun mereka musnah oleh proses seleksi alam. Seandainya mereka mampu bertahan hidup beberapa saat namun kendala lain muncul ketika mereka tidak mampu menemukan makanan atau bahkan pasangan untuk melanjutkan regenerasi.  Kendala inilah yang menjadi faktor yang sangat menentukan, jika tidak dapat diantisipasi oleh berbagai jenis hewan yang terjerembab masuk ke dalam gua maka siklus kehidupan mereka akan berakhir.

Adaptasi dan evolusi

Berbagai jenis hewan masuk ke dalam gua karena sebab tertentu seperti terbawa banjir, terperosok  atau bahkan terbawa oleh berbagai media lain seperti kelelawar atau burung walet.  Jenis-jenis ini kemudian mulai belajar menyesuaikan diri bagaimana hidup di dalam gelap. Kemampuan menyesuaikan diri inilah yang merupakan kunci sukses untuk hidup di dalam gua. Jenis-jenis yang mampu beradaptasi di dalam gua kemungkinan disebabkan karena sebelumnya sudah mempunyai kemampuan untuk beradaptasi di dalam gua (preadapted). Jenis-jenis yang hidup diantara serasah lantai hutan, celah batuan atau rongga-rongga tanah merupakan jenis yang kemungkinan berhasil beradaptasi di dalam gua. Tingkat adaptasi di dalam gua pun berbeda-beda, sebagai contoh beberapa jenis mampu hidup di dalam gua dan mampu bereproduksi namun jenis yang sama masih banyak ditemukan di luar gua seperti di bawah batu, kayu lapuk atau tempat lain yang kondisinya mirip dengan gua. Kelompok jenis seperti ini biasanya dikenal dengan troglophile. Kelompok ini biasanya tidak mengalami perubahan morfologi yang mencolok dan bahkan tidak berbeda sama sekali dengan jenis yang di luar gua seperti masih bermata dan tidak menngalami perubahan yang cukup nyata meskipun tidak pernah digunakan. Sebaliknya, tingkat adaptasi yang paling lanjut adalah jenis-jenis yang sudah menunjukkan karakter yang sangat berbeda dengan kerabatnya yang ada di luar gua, kelompok ini dikenal dengan troglobite. Kelompok ini telah mengalami proses adaptasi dan bahkan bervolusi secara turun-temurun sehingga mempunyai bentuk morfologi yang unik seperti mata mengecil atau bahkan hilang sama sekali, antena yang sangat panjang, alat gerak yang lebih panjang, warna tubuh pucat bahkan transparan dan bentuk-bentuk lainnya. Selain adaptasi morfologi, secara fisiologi jenis-jenis khas gua mengalami adaptasi yang cukup menakjubkan. Salah satunya adalah mereka mampu memperlambat laju metabolisme untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi. Beberapa jenis bahkan mampu tidak makan berbulan-bulan. Selain itu, kemampuan reproduksi mereka sangat rendah dan menghasilkan keturunan yang sangat sedikit. Jenis-jenis troglobites sudah tidak ditemukan di luar gua dan menghabiskan hidupnya di dalam gua sepanjang masa.

Kecerdasan penghuni gua

Evolusi suatu jenis terhadap lingkungan yang tidak layak huni merupakan obyek penelitian yang unik dan sangat menarik. Hewan penghuni gua merupakan satu obyek penelitian biologi evolusi yang paling menarik.  Jenis-jenis troglobite terkadang mampu hidup dalam kondisi lingkungan yang sangat tidak ramah bahkan tidak layak untuk dihuni. Bahkan mereka mampu menyesuaikan diri baik secara fisiologi, morfologi dan perilaku untuk memanfaatkan sumberdaya yang ada di lingkungannya.

Sebagai contoh, sebuah komunitas troglobites mampu hidup di lingkungan dengan kandungan karbondioksida sangat tinggi dan sangat minim oksigen yang secara teori mungkin tidak satupun hewan di luar gua mampu hidup di lingkungan ini. Selain itu, kemampuan mereka untuk mendeteksi perubahan lingkungan juga sangat tinggi. Rambut-rambut halus yang terkadang menutupi tubuhnya mampu menjadi alat sensor yang canggih untuk mendeteksi sumber daya di sekitarnya.  Antena yang panjang yang dilengkapi bulu-bulu yang sangat halus mampu mendeteksi pemangsa ataupun mangsa bahkan pasangan hidup untuk beregenerasi baik secara fisik maupun kimia.

Secara fisiologis, beberapa hewan khas gua tidak mempunyai irama harian yang lazim ditemukan pada hewan-hewan yang dipengaruhi oleh siklus siang malam. Hewan gua relatif mempunyai irama fisiologis yang konstan. Menurunnya laju metabolisme merupakan suatu proses evolusi untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang minim makanan atau bahkan tingginya kandungan karbondioksia. Beberapa hewan mampu hidup tanpa makan dalam jangka waktu yang sangat lama. Dengan menghemat energi mereka mampu memperpanjang umur hidupnya dan sekaligus secara dramatis menurunkan kemampuan reproduksi. Kondisi lingkungan gua yang lembab mencapai 100%, mampu diantisipasi dengan kemampuan mengeluarkan kelebihan cairan tubuh tanpa kehilangan keberadaan cairan garam dalam tubuh.

Kemampuan navigasi di dalam gelap dan habitat yang tidak seragam juga merupakan suatu kelebihan tersendiri bagi hewan gua. Kondisi ini diantisipasi dengan pergerakan  yang lambat dan lebih hati-hati. Selain itu, kaki-kaki yang relatif lebih panjang mampu mendeteksi celah-celah yang sulit dengan jangkauan yang lebih panjang. Salah satu kepiting gua khas Maros, Cancrocaeca xenomorpha, mempunyai kaki yang sangat panjang dan bentuknya menyerupai laba-laba. Kepiting ini hidup di perairan di dalam gua yang dalam. Selain itu, Sesarmoides jacobsoni salah satu kepiting khas di Gunung Sewu mampu memanjat di dinding gua yang jauh dari lantai gua. Kemampuan ini merupakan satu bentuk penyesuaian terhadap lingkungan gua dengan substrat yang tidak seragam.

Makin terancam

Di Indonesia, jumlah jenis-jenis troglobites yang telah dideskripsi tidak lebih dari 40 jenis. Jenis-jenis tersebut tersebar di berbagai kawasan karst di Sumatra, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua. Sementara jenis yang belum terdeskripsi jumlahnya mencapai puluhan kali lipat dari jenis yang dikenal. Namun, jumlah itu hanyalah puncak dari gunung es kekayaan troglobite di Indonesia. Jenis lain yang belum ditemukan masih tersimpan rapat di lorong-lorong gua di gugusan karst yang kondisinya makin lama makin terancam.

Jenis-jenis troglobites merupakan kelompok yang sangat rentan, mereka mempunyai kisaran toleransi yang sangat sempit terhadap perubahan lingkungan. Jumlah populasinya yang sangat kecil menjadikan kelompok ini sangat rentan terhadap gangguan dan kepunahan. Kemampuan penyebaran yang sangat rendah juga menjadi daya tarik tersendiri. Biasanya mereka hanya ditemukan dalam satu kawasan karst atau hanya satu gua dan bahkan hanya satu bagian kecil di dalam gua. Perubahan maupun aktivitas apapun sangat berpotensi mengancam keberadaan jenis ini. Punahnya satu populasi merupakan kehilangan seluruh populasi dari jenis troglobites. Satu jenis Isopoda air tawar dari Cibinong, Stenasellus javanicus, merupakan contoh dimana jenis ini ditemukan di dekat area penambangan semen. Eksplorasi lebih lanjut di gua yang sama dan gua di sekitarnya tidak berhasil menemukan keberadaan jenis ini lagi.

Keberadaan dan kelangsungan troglobite tidak terlepas dari kondisi di permukaan gua. Berbagai aktivitas manusia merupakan sebuah ancaman yang cukup serius bagi kelangsungan hidup jenis-jenis khas gua. Umumnya kawasan karst di Indonesia merupakan kawasan yang relatif padat penduduknya khususnya di Jawa. Segala aktivitas manusia di dalamnya secara tidak langsung sangat berpengaruh terhadap ekosistem gua. Contoh, pembuangan limbah rumah tangga di sungai-sungai permukaan akan terbawa masuk ke dalam sistem sungai bawah tanah yang ada di dalam gua. Satu gua di Gunung Sewu mempunyai kondisi yang sangat memprihatinkan dimana limbah aktivitas mencuci dan mandi masuk ke dalam sistem sungai bawah tanah. Padahal di gua ini diyakini hidup udang khas gua, Macrobrachium poeti, yang ditemukan tahun 80-an. Pemakaian pembasmi hama dalam pertanian, secara perlahan akan masuk ke dalam gua melalui celah rekahan dan mencemari air perkolasi di dalam gua. Penambangan batu gamping merupakan sebuah ancaman yang paling serius. Dimana penambangan berpotensi mengurangi ketersediaan air bawah tanah. Ancaman ini tentu saja sangat serius bagi jenis-jenis yang sangat tergantung dengan keberadaan kolam-kolam air perkolasi di dalam gua.  Hilangnya kolam-kolam air menjadi penyebab punahnya berbagai jenis hewan khas gua.Laju penggundulan hutan dan pengalihan fungsi lahan juga mempunyai peran yang cukup mengkhawatirkan. Erosi tanah yang disebabkan gundulnya lahan meningkatkan laju sedimentasi di aliran sungai bawah tanah. (CR2007/07)

Oleh: Cahyo Rahmadi

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: