Skip to content

Ironi sebuah Amdal di kawasan karst

December 10, 2008
limestone mining

Aktivitas penambangan di kawasan Bedoyo Gunung Sewu yang jelas tidak dilakukan dengan Amdal.

Kalau mencermati apa yang berkembang di proses Amdal di Sukolilo mungkin ada orang yang hanya bisa mengelus dada, ada yang geleng-geleng ada yang mengangguk-angguk tanda setuju atau senang karena akan ada banyak lapangan pekerjaan di sana. Semua orang mempunyai sikap dan argumen sendiri dalam memandang pro-kontra pendirian pabrik semen di Sukolilo.

Begitu pula pandangan salah satu anggota Sedulur Sikep, Mas Gunritno. Saya ingat betul komentar Mas Gunritno dan pandangan dia tentang hakikat kekayaan materi. Masa Gun pernah bilang kalau orang kaya adalah orang yang tidak perlu beli air buat apa saja baik buat mengairi sawah, mandi, mencuci baju, makan minum, memasak atau bahkan mandiin kerbau atau sapi. Ada benarnya juga, ketika kita begitu banyak disediakan air oleh alam dan kita tidak pernah mengeluarkan sepeserpun untuk mendapatkan air di situlah nikmat dan merasa bahwa kita kaya karena semua ada di alam secara gratis. Sebaliknya yang dikota, harus antri supaya bisa dapat air bersih terkadang buat makan minum mandi aja sudah repot apalagi mikir buat mandiiin sapi.

Ada lagi yang bisa menjadi bahan pelajaran buat saya dari mas Gun yaitu prinsip kemandirian dimana dengan lugas dia pernah bilang kalau kita bekerja di sawah, kita tidak perlu sekolah tinggi dan kita mandiri tidak bergantung sama siapapun karena apapun yang kita kerjakan itu menjadi miliki kita dan akan kita nikmati. DIa hanya menyoroti apa yang digembar-gemborkan dengan terbukanya lapangan pekerjaan dengan dibukanya pabrik dan penambangan, dia berkomentar masuk ke pabrik maupun ke tambang itu kan butuh sekolah tinggi lah kalo cuma pegang ijazah SD siapa yang bisa kerja di pabrik. Buat sayaprinsip kemandirian inilah yang perlu diacungi jempol, artinya dengan bekerja di sawah dia bisa mencukupi kehidupannya.

Namun semua itu bukan inti dari apa yang akan saya paparkan disini. Amdal Pabrik Semen Sukolilo sudah selesai dan hasil rekomendasinya adalah boleh ditambang dengan syarat. Nah disini yang terkadang sangat sulit untuk melihat dan mengontrol bagaimana dokumen amdal itu dilaksanakan oleh pabrik maupun penambang. Biasanya juga syarat-syarat yang direkomendasikan tidak dipenuhi karena tidak ada badan atau lembaga secara intensif mengontrol semua hanya sebuah formalitas.

Ada artikel hasil wawancara di KORAN TEMPO yang mewancarai tiga narasumber yaitu dua orang Ketua PPLH Undip dan satu ketua TIM AMDAL UNDIP sedangkan dari UGM seorang hidrologist karst yang paham betul dengan permasalah hidurologi karst, Ir. Tjahnyo Nugroho Adji, MscTech dari Geografi UGM.

Dari wawancara itu ada banyak hal yang bagi saya sangat aneh dan perlu dikritisi.

Seperti ungkapan Kepala PPLH UNDIP Prof. DR. IR. Supriharyono yang menanggapi pertanyaan wartawan Koran Tempo tentang awal mula mengapa Undip mengerjakan Amdal :

“Awalnya, kami dihubungi oleh BLH (Balai Lingkungan Hidup) Jawa Tengah untuk mengerjakan amdal PT Semen Gresik. Sebenarnya, kalau kami tidak ditunjuk juga tak apa-apa. Ditunjuk pun sebenarnya kami belum tentu mau dan mikir dulu. Sebab, kami juga memiliki kesibukan yang luar biasa. Kemampuan kami terbatas.”

Komentar:

Yang janggal disini adalah penggunaan kalimat.. kalau kami tidak ditunjuk … dimana setahu saya adalah berdasarkan informasi yang salah peroleh bahwa tim yang akan melakukan Amdal adalh hasil tneder dengan berbagai tim yang mengajukan proposal yang kemudian diseleki oleh tim dan dihasilkan tim mana yang berhak mengerjakan. Hal ini berkenaan dengan adanya anggapan bahwa Amdal merupakan “pesanan” seperti yang diungkap ole Mat Usil di Kompas, namun anggapan ini ditepis oleh pihak semen Gresik bahwa tidak benar penelitian amdal itu pesanan Semen Gresik. namun yang menjadi pertanyaan dari apa yang diungkap oleh pihak semen gresik dengan yang diungkapkan oleh kepala PPLH Undip jadi berbeda. Lha wong PPLH Undip bilang .. kalau tidak ditunjuk juga tidak apa-apa, dan kalau ditunjukkpun belum tentu mau dan mikir dulu…

Berarti di sini dari PPLH Undip tidak pernah mengajukan tender untuk melakukan AMDAL Semen Gresik, sementara pihak Semen Gresik bilang bahwa Tim Amdal berdasarkan tender bukan penunjukkan. Semoga saya salah pemahaman atas ini.

Kemudian ada yang menjadi pertanyaa lagi dari pernyataan Ketua TIM AMDAL Dwi P.Sasongko menanngapi pertanyaan wartawan tentang perbedaan pandangan antara UGM-UPN dan UNDIP dalam memandang Karst Sukolilo*

”Dalam menilai suatu kawasan karst, semua tergantung pada metode, cara, kriteria, serta tujuannya. Kalau orang meneliti dengan tujuan berbeda, hasilnya juga berbeda. Harap diketahui bahwa UGM tidak pernah meneliti kawasan karst Sukolilo secara khusus. Sedangkan UPN meneliti kawasan Kendeng dalam perspektif penanggulangan bencana, bukan dalam kapasitas ekologi, apalagi dalam perspektif lingkungan. Saya memiliki surat resmi dari Eko Teguh Paripurno (pakar lingkungan UPN).

Ini berbeda dengan yang kami teliti, fokus karst di lokasi proyek. Tujuannya adalah memilih lokasi yang tidak terlindungi. Amdal kemudian membagi kawasan yang boleh ditambang dan yang tidak.

Komentar:

Spertinya Pak Dwi ini perlu belajar bahwa EKologi juga bisa menjadi sebuah Bencana, dimana sering disebut dengan bencana ekologi akibat perubahan leingkungan. Jika beliau mencari justifikasi bahwa UGM tidak pernah meneliti Karst Sukolilo dan UPN hanya perpektif penanggulangan bencana bukan kapasitas ekologi itu bukan JUSTIFIKASI yang benar alias lemah.

Karena bisa jadi penganggulan bencana berawal dari bukan isu ekologis namun bisa menembus ke ranah ekologi ketika berbicara adanya perubahan lingkungan yang tentu saja akan mengganggu keseimbangan ekologi dan akan berpotensi menimbulkan bencana. Saya di sinialah dasar yang tepat mengapa penanggulangan bencana menjadi isu penting dimanapun dan tidak bisa menjadi dasar ketidaktepatan UPN bermain di SUkolilo.

Hal lain adalah AMDAL digunakan untuk menentukan lokasi mana yang boleh ditambang mana yang tidak boleh. Menurut saya kurang tepat, Tujuan amdal bukan pada lokasi tapi lebih pada mengethaui apa akibat dari sebuah aktivitas dengan me,peroleh data sebelum dan sesudah sebuah aktivitas penambangan.

Jika hanya mencari lokasi saja sebenarnya tidak perlu Amdal karena sebelum nya pasti Semen Gresik sudah punya alasan sendiri untuk memilih karst SUkolilo. Selanjutnya tim Amdal yang harus mempelajari dan mengalisa data sebelum ditambang dan dampak yang akan terjadi jika ditambang seperti berapa pengurangan debit mata air dan bagaimana perilaku air dan bagaimna dengan hilangnya keanekaragaman hayati di sana.

“Saya akui argumentasi mereka bagus dan selalu menohok ke celah ranah hukum. Ini memperlihatkan mereka paham soal regulasi amdal. Itu yang membuat saya angkat topi.”

Komentar:

Mungkin selama ini mereka tidak pernah mempunyai kendala ketika Amdal jadi mereka kaget ketika banyak orang yang kontra dengan dasar hukum dan dasar ilmiah yang kuat. Tidak selamanya orang diam itu bodoh, jadi itu yang perlu jadi pelajaran buat semua.

APalagi kawasan karst, orang yang bergelut di dunia karst di Indonesia saat ini cukup banyak, saya yakin dengan kredibilitas mereka meskipun juga masih ada yang bertindak diluar koridor keilmuan.

Komentar Pak Adji memang tidak perlu banyak saya ulas karena dasar yang dipakai sudah cukup namun ada beberapa yang bisa menjadi tambahan dari itu sperti dalam ungkapan berikut:

“Ya, secara keilmuan memang bukan serta merta kaku bahwa suatu kawasan karst benar-benar tak boleh ditambang. Ada wilayah tertentu yang dapat ditambang di tanah karst. Hanya saja, kawasan karst Sukolilo termasuk kawasan kelas I, artinya sama sekali dilarang untuk ditambang. Karena di sana banyak terdapat sebaran mata air dan sungai bawah tanah.”

Komentar:

Ini adalh tugas berat buat semua, tidak hanya akademisi, peneliti dan para pakar tapi juga pelaku bisnis di kawasan karst. Para ilmuwan hendaknya mencari jalan atau solusi untuk memecahkan permasalah pemanfaatan kawasan karst yang bijak dan lestari selain tiu masyarakat setempat mempunyai manfaat atas itu semua.

Dasar hukum pengelolaan berdasarkan Kepmen 1456 sudah tidak relevan lagi karena sudah ada PP28 2008 yang menyatakan bahwa kawasan karst adalah Kawasan Lindung. Namun tidak serta merta kawasan karst dilindungi dan tidak boleh dimanfaatkan karena bagimanapun SDA perlu dikelola dengan baik.

Tugas para ilmuwan adalah mencari dan meneliti kawasan mana saja yang layak untuk dimanfaatkan dan mana yang perlu dilindungi berdasarkan aturan atau landasan yang kuat. Upaya ini akan sangat berat karena harus multidisiplin dan multisektor baik fisik, hayati dan sosial. Dampak ekonomi dan sosial juga perl dikaji untuk memberi kan asas manfaat bagi masyarakat.

Pelaku bisnis juga perku mempertimbangkan dan melaksanakan apa yang menjadi rekomendasi dari para ilmuwan agar dalam beraktivitas tidak merugikan masyarakat dan lingkungan namun secara ekonomis tetap menguntukan.

Semoga bermanfaat buat wacana kjita semua dan bisa secara jernih melihat permasalahan yang ada.

Oleh:

Cahyo Rahmadi

Mito-Jepang

Berita perkembangan Amdal

1. Rencana Penambangan semen dikurangi

2. Amdal Pabrik Semen Gresik Tunggu Penetapan Kawasan Kars

3.Pembangunan Pabrik Semen Masih Bisa Digagalkan

4. Bupati Ngotot Mendirikan Pabrik Semen di Pati

5.Penyusunan Amdal Harus Transparan

6.Kajian Amdal Semen Gresik Diminta Diperbaiki

7.Pendirian Pabrik Semen Diminta Ditunda

Advertisements
3 Comments leave one →
  1. Bukit Karst permalink
    December 10, 2008 8:47 pm

    Yang lucu lagi adalah yg ini pak:
    Koran Tempo: Pihak penolak akan mengajukan gugatan ke PTUN karena landasan aturan amdal menabrak aturan rencana tata ruang dan ketetapan gubernur tentang kawasan karst. Apa tanggapan Anda?

    SUPRIHARYONO: Itu terserah mereka. Kami hanya pengguna aturan yang dikeluarkan gubernur dan bupati. Kami tidak tahu-menahu.

    +++++++
    Lha aturan gubernur dan bupatinya saja nabrak aturan PP, masak mau diikutin juga.

    • December 11, 2008 5:37 am

      Memang banyak hal yang lucu makin lama terungkap.

      Ya begitulah, herannya di awal wawancara dah bilang ndak ditunjuk juga ndak papa, terus kalo ditunjuk juga belum tentu mau dan mampu karena sibuk luar biasa tapi kok masih aja dijalanin yaa…

      memang aneh tim amdal kita ini …

Trackbacks

  1. Karst Jawa kian terancam « Indonesian Caves Life

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: