Skip to content

Mencoba sok ilmiah di dalam gua

February 5, 2010

Artificial Entrance of Gua Bribin Project

Tergelitik dengan satu artikel tentang Proyek Bribin yang telah menghasilkan tujuh lulusan master di Jerman namun sangat ironis belum ada yang di Indonesia, saya menjadi tertarik untuk berbagi tentang apa yang saya geluti selama ini.

Mengenai proyek Bribin, sepertinya tidak sepenuhnya benar, sejauh pengetahuan saya, ada beberapa mahasiswa pasca sarjana dari beberapa universitas di Indonesia yang terlibat dan mungkin menggunakan Gua Bribin dan proyeknya sebagai obyek penelitiannya.

Meskipun saya tidak mengetahui banyak tentang proyek Bribin yang konon sangat spektakuler ditinjau dari sisi teknologi yang diterapkan, namun saya pernah berkesempatan merasakan turun lift untuk masuk ke lorong gua dimana bendungan dibuat.

Saya pun berkesempatan melihat dan mengkoleksi beberapa fauna yang ada di dalamnya untuk yang pertama dan mungkin terakhir kali karena saat ini lorong gua tersebut telah dipenuhi oleh air sampai atap gua sejauh beberapa kilometer. Sehingga memusnahkan berbagai habitat fauna gua yang ada di dalamnya.

Namun saya tidak akan jauh berbicara tentang hal ini namun lebih pada mengapa minat penelitian di gua dan karst sampai saat ini masih rendah sekaligus mengungkap tantangan dan kendala yang mempengaruhi penelitian di gua.

Sudah hampir lebih 10 tahun saya berkecimpung di dunia biologi gua, beberapa kegiatan penelitian dan koleksi fauna gua juga telah dilakukan. Beberapa kegiatan penelitan dan koleksi telah menambah wawasan baru betapa masih tingginya potensi kekayaan fauna untuk diungkap.

Beberapa jenis baru juga berhasil ditemukan, dideskripsi dan dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional. Beberapa jenis diyakini hanya tersebar pada satu kawasan tertentu dalam jangkauan yang sangat sempit bahkan hanya ditemukan dalam satu gua.

Dari sisi biologi, gairah penelitian dan minat para mahasiswa untuk memulai penelitian tentang gua dan faunanya cukup lumayan meningkat. Beberapa tahun lalu, saya membimbing secara langsung maupun tidak langsung mahasiswa S1 dari beberapa universitas untuk meneliti tentang fauna gua meskipun masih dalam kajian yang sangat sederhana seperti keanekaragaman fauna, perbandingan populasi fauna dari satu zona ke zona yang lain dan populasi fauna dalam satu gua dengan gua yang lainnya.

Beberapa mahasiswa yang pernah saya bimbing yaitu satu mahasiswa dari IPB yang mencoba meneliti fauna gua untuk diungkap perannya dalam ekowisata gua, selain itu mahasiswi UIN juga pernah saya bimbing meskipun tidak secara resmi sebagai pembimbing untuk meneliti keanekaragaman fauna gua di Gua Cikaray Cibinong. Dua mahasiswa Fakultas Biologi UGM juga secara tidak langsung saya dorong untuk meneliti fauna gua dari Arthropoda sampai Kelelawar untuk beberapa gua di Karst Gunung Sewu dan Karst Menoreh.

Ade Safitri, one of student who made a research about cave fauna in Gua Cikaray, West Java

Akhirnya, mereka semua berhasil menyelesaikan kuliah dengan meneliti fauna gua meskipun obyek penelitiannya belum tentu dapat diterapkan di dunia kerjanya kecuali mereka bekerja di lembaga penelitian seperti saya. Namun, setidaknya saya sedikit lega karena ada generasi muda yang mempunyai minat untuk mempelajari gua dan lingkungannya sebagai salah satu tugas menyelesaikan kuliahnya.

Kendala

Hampir semua mahasiswa yang saya bimbing untuk meneliti tentang fauna gua pernah “bersentuhan” dengan saya. Bersentuhan secara langsung maupun tidak langsung sebelumnya. Beberapa mahasiswa juga tidak secara resmi memperoleh pengetahuan gua dan lingkungannya dalam mata kuliah yang diajarkan dalam kuliahnya.

Namun, lebih banyak karena ‘polusi’ dari kegiatan-kegiatan non formal selama di bangku kuliah seperti kegiatan alam bebas penelusuran gua, seminar maupun diskusi-diskusi di dunia maya.

Belum adanya ‘topik’ tentang biologi gua di universitas menjadi satu kendala untuk meningkatkan minat para mahasiswa untuk meneliti tentang gua dan kehidupannya.

Hal ini menyebabkan orang-orang yang tidak pernah bersentuhan dengan “gua” sebelumnya tidak dapat membayangkan sama sekali bagaimana gua dan faunanya. Beberapa mahasiswa yang tidak pernah pergi ke “lapangan” yang notabene menjadi laboratorium sebenarnya bagi biologis kesulitan untuk membayangkan bagaimana kondisi gua apalagi kesulitannya. Memasuki gua saja belum terbayang dengan kondisi yang gelap total, becek, licin dan lembab yang untuk berjalan saja sudah terbayang sulitnya apalagi harus mengambil data untuk penelitian yang terkadang menggunakan metode sampling yang rumit dan njlimet.

Observing the cave fauna in Gua Urang, Grobogan (Ph. Abhe)

Bagi saya, orang-orang yang telah melakukan kegiatan penelitian di dalam gua merupakan orang-orang yang ‘hebat’ karena setidaknya mereka telah melewati satu level dibandingkan rata-rata orang lain yang mungkin sama-sama meneliti.

Faktor lingkungan inilah yang menjadi kendala lain sehingga gua dan segala topik penelitian menarik yang ada di dalamnya masih belum banyak disentuh oleh para peneliti, akademisi bahkan mahasiswa untuk dijadikan sebagai topik penelitiannya.

Kondisi lingkungan gua yang boleh dikatakan “ekstrim” menjadikan tantangan tersendiri sebelum mereka yang berminat untuk meneliti di gua dalam berbagai disiplin ilmu untuk memutuskan meneliti di dalam gua.

Tantangan alam itulah yang pertama kali harus dilewati sebelum tantangan berikutnya yaitu menyusun topik penelitian dan merekontruksi hipotesis kemudian membuat desain untuk menjawab hipotesi yang diajukan. Seandainya tantangan pertama belum terlampaui, tentus saja merekontruksi hipotesi bisa dilakukan di kamar maupun di kantor. Namun ketika harus mendesain untuk pengambilan sampel menjadi kendala tersendiri seandainya tidak pernah mempunyai gambaran nyata tentang gua dan segala kesulitannya.

Descending the cave near the mining area in Tuban Karst

Tantangan penelitian di gua

Saya tidak bisa membayangkan manakala ada beberapa teman yang harus mengambil beberapa ekor ikan dalam danau bawah tanah di kedalaman 100 meter dengan kondisi multi pitch (bertingkat-tingkat). Selain itu, ada teman yang nekat mencoba untuk meneliti bagaimana kondisi sedimen di dasar danau bawah tanah di Luweng Serpeng yang harus menggunakan bor besi yang beratnya berkilo-kilo hanya untuk mengambil beberapa meter sedimen dasar danau.

Mengambil ikan dan mengebor sediman dasar danau adalah bukan hal yang terlalu sulit seandainya dilakukan di luar gua dengan kondisi lingkungan yang terang benderang di siang hari dan tinggal mendorong perahu ke tengah danau untuk memancangkan bor untuk menembus dasar danau.

Namun ketika semua itu dilakukan di danau bawah tanah dengan kedalaman lebih dari 100 meter ceritanya menjadi lain. Menurunkan berkilo-kilo besi bor ke dasar danau dengan kedalaman 100 meter memerlukan teknik tersendiri. Belum lagi harus menurukan perahu karet dua buah untuk menambatkan bor di permukaan danau agar bisa mengambil sampel sedimen.

Semua itu tidak hanya dilakukan oleh 5 orang agar semua sukses namun puluhan orang hanya untuk mendukung penelitian dua tiga orang. Selain itu, dukungan logistik juga memerlukan banyak orang karena kegiatan pengambilan data tidak hanya selesai 1-2 hari dan praktis lebih dari 24 jam nonstop. Sehingga logistik harus dikirim dari luar gua untuk mendukung itu semua.

Proses penurunan peralatan pun tidak hanyamembutuhkan waktu 2-3 jam tapi bisa memakan waktu sehari semalam hanya untuk menempatkan peralatan di posisi yang diharapkan. Semua “ambisi” itu hanya dilakukan oleh orang-orang nekat yang hanya ingin memenuhi idealisme ilmiahnya. Teman-teman di Matalabiogama (Biologi UGM) tempat saya dulu belajar dan bernaunglah yang memberi gambaran sekaligus pengalaman betapa penelitian di dalam gua memberikan kepuasan berlipat ganda.

Sebut saja Sigit Ariyanto, yang merelakan segala kemampuannya hanya untuk meneliti perbandingan retina ikan gua dan ikan di luar gua. Daru Perwita, meskipun berbadan kurus ceking dan lebih hobi naik gunung namun nekat mencoba menggali sedimen dasar danau di dalam gua dengan merelakan beberapa lonjor pipa besi untuk terkubur di danau bawah tanah. Fitria Rinawati, perempuan kecil yang sendainya jalan di tengan angin besar akan ikut terbang nekat ikut-ikutan meneliti sisik ikan gua dan ikan luar gua. Serta nama-nama lain yang juga tidak kalah nekat hanya untuk memenuhi kehausan ilmiahnya. Semua itu tidak mungkin bisa dilakukan tanpa dukungan orang-orang hebat dan kuat yang mendukung semua proses penelitian itu.

Saya pun bisa ikut berbangga meskipun hanya ikut berpartisipasi menarik lonjoran besi dan perahu dari kedalaman 45 meter. Meskipun kemudian saya juga bisa melakukan sendiri mendukung teman-teman hanya untuk mancing dan menjaring ikan dalam gua dengan perahu karet beberapa tahun kemudian.

Selain itu, saya juga sempat merasakan bagaimana gua itu juga menyimpan bahaya ketika guyuran hujan diluar gua mengirimkan berkubik-kubik air ke dalam gua seperti menggelontor air di dalam kloset. Banjir, mungkin bisa dibayangkan seandainya sungai banjir di luar gua sudah menciptakan suara yang cukup dasyat. Bayangkan saja banjir dengan air terjun setinggi 45 meter di dalam ruang sempit menciptakan suara seperti 10 helikopter diletakkan di dalam ruang tertutup. Belum lagi, air yang digelontorkan kedalam gua menjadi bahaya tersendiri.

Namun itu semua menjadi kepuasaan tersendiri ketika keberhasilan dapat dicapai meskipun tidak selalu keberhasilan yang dicapai namun juga berbagai kegagalan karena banjir dan faktor lain menjadi penentu keberhasilan penelitian di dalam gua.

Saya yakin, bidang-bidang lain seperti penelitian Tjahyo Nugroho Adjie, dosen UGM yang mencoba untuk mengungkap sistem hidrologi Gua Bribin yang harus tetap mengambil data di musim hujan maupun musim kemarau mempunyai tantangan tersendiri dan sekaligus dukungan tim yang kuat.

Minim publikasi

Beberapa kegiatan penelitian yang ‘hebat’ terkadang hanya teronggok di perpustakaan-perpustakaan universitas tanpa diketahui oleh khalayak umum maupun pihak-pihak yang berkepentingan. Salah satu faktor yang menyebabkan buntunya penyebaran informasi tentang penelitian di gua adalah minimnya publikasi.

Kendala ini bisa disebabkan karena adanya kode etik beberapa waktu lalu untuk tidak mempublikasikan suatu kegiatan di dalam gua agar tidak memancing kunjungan orang yang pada akhirnya justru membahayakan kelestarian gua. Media-media cetak dan televisi juga tidak menjangkau karena terkadang pantang untuk mempublikasikan segala sesuatu tentang gua sebelum ada jaminan kelestarian akan tetap terjaga.

Cave pseudoscorpiones from Gua Petruk, Karst Gombong, Central Java

Namun, saat ini kode etik seperti itu sudah tidak banyak dijadikan alasan, berbagai liputan kegiatan di dalam gua baik di media cetak, televisi maupun blog-blog pribadi banyak bertebaran.

Meskipun demikian, publikasi hasil-hasil penelitian juga masih jauh dari yang diharapkan. Hasil-hasil penelitian hanya menumpuk dan tidak dapat diakses oleh pihak-pihak yang memerlukan dengan dalih ‘hak cipta’. Hal ini disebabkan banyak hasil kegiatan ekspedisi, laporan penelitian maupun laporan perjalanan tidak dipublikasi secara resmi ke media publikasi yang semestinya.

Sehingga ada beberapa pihak yang “nakal” memanfaatkan data-data hasil perjalanan, ekspedisi maupun penelitian untuk kepentingan sendiri tanpa memberi kredit terhadap orang atau pihak yang mengambil data.

Kondisi ini menyebabkan satu pihak dengan pihak yang lain saling tertutup untuk membuka akses laporan yang dimiliki apalagi jika digunakan untuk kepentingan kebijakan dalam hal ini ‘pemerintah” yang terkadang lalai untuk memberikan kredit bagi pihak-pihak yang dengan susah payah untuk memperoleh data tersebut.

Media publikasi tentang karst dan gua, sempat dirintis namun seperti biasa timbul tenggelam dan punah. Beberapa alasan karena miniminya artikel yang masuk dan juga minimnya dana untuk pencetakan meskipun sebenarnya di era digital sekarang ini e-jurnal menjadi alternatif untuk mengantisipasi mahalnya biaya cetak dan distribusi jurnal.

Ketiadaan jurnal yang mengkhususkan pada kegiatan penelitian karst dan gua menjadi kendala tersendiri. Beberapa hasil penelitian banyak diterbitkan di jurnal-jurnal yang lebih spesifik pada bidang kajian sehingga terkadang tidak terjangkau oleh pihak-pihak yang memerlukan kecuali oleh orang-orang yang berkecimpung di dunia tersebut.

Meskipun beberapa waktu lalu jurnal GUNUNG SEWU sempat menjadi media untuk mempublikasikan kegiatan penelitian di gua, namun saat ini sepertinya menjadi sejarah meskipun saya juga menjadi bagian dari redaksi jurnal tersebut.

Pentingnya diseminasi informasi

Diseminasi informasi merupakan hal yang mutlak dilakukan sebagai tanggung jawab keilmuan untuk menyebarluaskan informasi yang diperoleh. Mitos bahwa “publikasi” adalah hal terlarang perlu ditinjau ulang mengingat justru ketidak tahuan dan tidak sampainya informasi ke masyarakat umum inilah yang memicu kerusakan dan kehancuran bagi gua-gua. Meskipun masih tetap diperlukan untuk menyembunyikan informasi yang dapat memancing orang untuk melakukan tindakan yang tidak bertanggung jawab.

Penyebarluasan informasi harus dilakukan sebagai salah satu media untuk meningkatkan pengetahuan dan sekaligus dapat digunakan sebagai media untuk kampanye betapa penting dan unikanya ekosistem karst dan gua.

Selain itu, informasi yang diterima dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan kesadara bagi berbagai pihak betapa kawasan karst dan gua mempunyai potensi yang luar biasa untuk dikembangkan dan  mendukung kesejateraan masyarakat seperti proyek Bribin yang telah berlangsung selama ini dengan meminimalkan dampak bagi keseimbangan ekosistem.

The mining activities in Gunung Sewu Karst

Ancaman kelestarian

Ekosistem karst dan gua sampai saat ini masih hanya sebatas sebagai potensi ekonomi yang ditonjolkan untuk dimanfaatkan, sebagai contoh kawasan karst dibongkar untuk memenuhi kebutuhan pabrik semen dan pembongkaran lantai gua untuk diambil fosfatnya juga menjadi ancaman tersendiri.

Sementara, potensi-potensi lain seperti potensi ekologis dan ilmiah yang ada pada karst dan gua tidak pernah diperhatikan sehingga kepentingan ekonomi banyak mengorbankan potensi ekologis yang terkadang justru mempunyai nilai yang lebih tinggi dibandingkan nilai ekonominya.

Oleh karena itu, kampanye yang terus menerus ke berbagai pihak mutlak dilakukan agar timbul kesadaran akan perlu dan pentingnya kawasan karst.

Kebijakan-kebijakan dari kementerian yang terkait juga perlu di dorong sehingga dapat mengoptimalkan manfaat kawasan karst dan gua dari sisi non ekonomi dan dimanfaatkan dengan bijak dengan peraturan-peraturan yang tegas dan jelas.

Konflik antara kawasan karst sebagai kawasan lindung seperti yang ada di Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dengan kawasan yang dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi perlu diselesaikan terutama dalam konteks investasi khususnya pabrik semen yang sempat terjadi konflik tahun lalu antara Semen Gresik dan beberapa pihak yang kurang sependapat dengan rencana itu yang sepertinya sampai sekarang masih berlangsung tarik ulur di pengadilan.

Penentuan kawan karst yang bisa dimanfaatkan perlu dilakukan oleh berbagai pihak dengan melibatkan berbagai bidang keilmuan agar terjadi harmoni antara pemanfaatan dan perlindungan kawasan karst dan gua.

Mungkin hanya sepenggal tulisan inilah yang bisa saya bagikan agar dapat menjadi wacana bagi saya dan pihak-pihak lain yang mempunyai pandangan sama tentang pentingnya pengelolaan karst dan gua yang lestari.

Save karst dan cave for the next generation

Advertisements
3 Comments leave one →
  1. February 7, 2010 7:40 am

    selamat berjuang peneliti dan pencinta gua indonesia :D

  2. roni permalink
    February 8, 2010 11:01 am

    Tulisan yang menggeltik. Memang sudah saatnya para ‘cendekia gua’ mulai bergerak tidak hanya di ranah ‘kampus’ saja tapi harus berusaha menyampaikannya kepada masyarakat, tentu dengan bahasa yang lebih merakyat dan menarik. Kalo hal ini terabaikan, masyarakat tidak bisa disalahkan karena ketidaktahuan mereka.

    • February 8, 2010 12:02 pm

      wah, njenengan ki rasah marai aku minder too, lha tulisanku nek dibandingke njenengan yooo kalah adoh jeee…
      aku nulis orang bakat je bos ..
      anyway thanks for the time…

      lagi mau update lagi nih hasil jalan-jalan di Ambon tahun kemarin.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: