Skip to content

Menyusur gua di Ambon, melacak jejak O. Beccari

February 8, 2010

Pantai Pintu Kota

Pulau Ambon, merupakan salah satu pulau di gugusan kepulauan Maluku yang tak lekang oleh jaman. Dari jaman pendudukan Portugis sekitar abad 15 kemudian berganti dengan pendudukan Belanda di awal abad 16, Ambon telah menjadi pulau penting bagi perdagangan dunia dan tidak bisa dilepaskan dari sejarah besar Bangsa Indonesia. Ambon yang juga dikenal dengan Amboina, menjadi pusat segala aktivitas tidak hanya ekonomi namun juga ilmu pengetahuan di belahan Indonesia timur.

Banyak ilmuwan terkenal khususnya para naturalis telah singgah dan  mengungkap kekayaan alam di daerah Maluku khususnya Ambon. Sebut saja, Alfred Russel Wallace dengan karya monumental nya yaitu Garis Wallace dan bukunya “Malay Archipelago” dan karya-karya lain yang monumental.  Selain itu banyak ilmuwan lain yang sempat menjejakkan kakinya di Ambon salah satunya Odoardo Beccari (1843-1920), seorang botanist yang berasal dari Italia.

O. Beccari merupakan seorang botanist yang telah menjelajah kepulauan Indonesia seperti Sumatra, Borneo, Kepulauan Maluku dan Papua. Salah satu koleganya adalah Giacomo Doria dan Luigi D’Albertis yang banyak mengkoleksi beberapa jenis flora maupun fauna yang sangat penting bagi ilmu pengetahun.

Odoardo Beccari (1843-1920)

Perjalanan Beccari di Ambon telah menghasilkan dua jenis baru  dari kelompok Amblypygi yaitu jenis Charon beccarii Thorel, 1888 dan Charon subterraneus Thorell, 1888. Dua jenis amblypygi tersebut dikoleksi oleh Beccari pada tahun 1873 di gua yang tercatat di Ambon sehingga Teodor Thorell mendedikasikan nama jenis tersebut salah satunya utnuk Beccari.

Meskipun tidak secara jelas di gua mana hewan tersebut ditemukan, namun di label koleksi hanya disebutkan “Grotta di Amboina” sedangkan di publikasi Thorel (1888) tercatat “Spelunca Amboina”.

Menyusur informasi

Mencari informasi di gua mana Beccari mengkoleksi hewan tersebut ternyata tidak mudah, begitu pula mencari informasi tentang gua yang ada di Ambon. Dengan berbekal kecerdasan mbah Google pun, masih belum menghasilkan informasi tentang gua yang ada di Pulau Ambon.

Namun, ada hikmah ketika bergabung dengan jaringan sosial seperti si “muka buku” dan punya banyak kenalan di dunia maya. Akhirnya, pasang status di ‘muka buku’ mencari informasi dari sekitar 700 orang yang menjadi ‘temanku’ siapa tahu dari ke 700 itu ada yang punya informasi.

Benar juga, ternyata ada salah satu teman yang tinggal di Ambon dan juga menjadi pecinta alam dan punya pengalaman menelusur gua di Ambon. Sebut saja Ben Yussof Gersee, begitua nama nya di ‘muka buku’ meskipun nama aslinya juga bagus dan lebih akrab dipanggil Ari.

Dari dialah, saya tahu ada dua gua yang dia ketahui di Ambon, namun saya juga tidak yakin apakah gua tersebut yang pernah dikunjungi oleh O. Beccari  dan mengkoleksi dua jenis yang sedang saya uber-uber ini.

Namun, cukuplah dari informasi keberadaan gua itu telah membuat saya yakin akan ada yang bisa saya peroleh dari Ambon. Sehingga bulan September 2009, saya merencanakan mudik yang tertunda dan memesan tiket pulang ke Bogor.

They were help me

Meluncur ke Ambon

Akhirnya bulan Oktober 2009, saya terbang balik ke Jakarta dan mempersiapkan bekal untuk satu minggu untuk perjalanan ke Ambon.

Tanggal 20 Oktober 2009, akhirnya saya terbang ke Ambon, satu kota yang belum pernah sama sekali saya kunjungi yang lebih banyak saya dengar tentang “kerusuhan sosial” di tahun ’98. Namun, saya optimis Ambon akan menjadi tempat yang kesekian kalinya membawa manfaat bagi karir dan sekaligus dunia per-laba-laba-an ku.

Setelah di jemput Ari dan Wawan di bandara, akhirnya kita meluncur ke kota Ambon yang lumayan jauh dari bandara karena harus memutar menyusuri Teluk AMbon.

Ari and wawan, with two children who guided me to Gua Bapak Jappa

Akhirnya, tanggal 21 Oktober 2009 aku hanya istiraht di hotel yang dah di booking sama Ari. Kemudian, setelah tidur baru janjian sama salah satu wartawan kompas yang saya kenal, orang hebat yang merantau sampai Ambon Manise, Agung Setyahadi.

Siang hari cuma mengobrol dan makan ikan bakar, meskipun akhirnya berdampak malamnya tengkuk seperti diberi beban batu.

Sebelumnya saya harus diskusi dengan Ari, rencana mengunjungi gua yang paling dekat dulu untuk memastikan dan memberikan kelegaan bagi diri saya, bahwa yang saya cari ada.

Akhirnya diputuskan untuk memasuki gua yang paling dekat dan mudah dijangkau yaitu Gua Liang, di Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah.

Saya harus banyak berterima kasih sama Arif dan Wawan yang telah selama seminggu menemani berkeliling Ambon hanya untuk mencari gua dan “nyiri” (Tawon. red)

The entrance of Gua Liang

Gua Liang

Tanggal 22 Oktober 2009, kita meluncur ke Desa Liang dengan mencari angkutan umum. Namun, untuk pertimbangan efektivitas waktu dan tenaga akhirnya saya memutuskan untuk menyewa angkot selama setengah hari untuk antar dan menunggu selama kita masuk ke gua dan kemudian berkeliling daerah sekitar untuk mencari “nyiri”.

Gua Liang, terletak di tengah ladang penduduk namun tidak jauh dari jalan besar hanya berjarak sekitar 200 meter dari jalan besar untuk mencapai mulut guanya.

Mulut gua utama terletak pada sebuah “collapse doline” yang berdiameter sekitar 10 meter dengan kedalaman sekitar 2-3 meter. Mulut gua lebar dengan ditumbuhin pepohonan seperti pisang dan talas-talasan.

Lorong gua cukup lumayan lebar dengan lorong gua yang bercabang-cabang. Salah satu lorong utama, dengan lebar sekitar dua meter berujung pada satu “chamber” yang cukup besar yang dihuni oleh kelelawar. Kemudian lorong bercabang ke kanan dengan lorong gua yang menyempit dan cukup rendah dan berakhir pada stau lorong besar juga.

Nah, di lorong gua inilah apa yang saya cari akhirnya ketemu, Amblypygi dari genus Charon yang berdasarkan hasil koleksi O. Beccari dikenal ada dua jenis.

Insectivorous bats colony in Gua Bapak Jappa

Namun untuk memastikan dari jenis yang mana, masih harus saya konfirmasi lebih jauh di laboratorium.

Puas dengan memperoleh spesimen yang saya cari, akhirnya saya kembali menyusuri salah satu lorong gua yang cukup menantang dan membuat kepayahan mengingat ada sesuatu yang mengganjal di bagian perut.

Lorong gua ini terletak di awal lorong gua di sebelah kiri yang berbentuk sumuran bercelah sempit dengan lebar sekitar 50 cm dengan kedalaman sekitar 2 meter. Namun kondisi lorong yang sempit dan memaksa untuk merangkak, menuntut keringat bercucuran yang tidak berkesudahan.

Setelah menyusuri gua yang cukup melelahkan, akhirnya menemukan lorong yang kembali melebar dan berujung pada satu aven kecil dengan diameter satu meter namun bisa dijangkau dan menjadi mulut gua yang lain. Namun, akhirnya kembali diputuskan untuk kembali menyusuri lorong yang lain dan akhirnya menemukan mulut gua yang lebih besar dengan kondisi mulut gua yang rimbun oleh pepohonan.

Puas dengan hasil perolehan di Gua Liang, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan kembali ke mulut utama dengan melalui jalan luar gua.

Akhirnya, kamis sudahi penelusuran di Gua Liang dengan melanjutkan mencari nyiri dengan rekomendasi di Pantai Liang.

The colony of insectivorous bats in Gua Bapak Jappa, Ambon

Gua Bapak Jappa

Gua ini merupakan gua yang cukup jauh untuk ditempuh, karena harus berjalan dari tempat terakahir mobil parkir harus mendaki gunung sekitar 1.5 jam.

Taking water for daily life from the cave

Gua yang terletak di puncak gunung yang telah berubah menjadi lahan perkebunan ini merupakan gua horisonal dengan aliran sungai didalamnya.

Konon, karena pemilik ladang yang ada mulut guanya adalah Bapak Jappa, sehingga teman-teman di Ambon menamai gua ini sebagai Gua Bapak Jappa.

Mulut gua terdapat di dataran dengan kondisi mulut gua yang menurun dan tidak terlalu lebar. Begitu memasuki mulut gua, terdapat aliran air yang lebih banyak menggenang dibandingkan mengalir.

Gua ini di gunakan juga untuk mengambil air bersih untuk keperluan hidup bagi para penunggu pondok di ladang.

Lorong gua relatif sempit dengan lebar lorong sekitar 1-1.5 meter dengan tinggi lorong sekitar 2-3 meter. Dengan menyusuri ke arah hulu, lorong gua melebar dengan beberapa koloni kelelawar pemakan serangga dan pemakan buah.

Di gua ini juga saya menemukan Amblypygi yang saya cari namun dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan jenis yang saya temukan di Gua Liang. Saya masih belum yakin apakah jenisnya sama dengan yang saya temukan di Gua Liang atau tidak.

Passage of Gua Bapak Jappa

Berburu nyiri

Selain mencari gua, saya juga punya tugas untuk berburu nyiri yang akan digunakan oleh profesor saya sebagai bahan penelitian kolega saya di museum.

Dengan berbekal jaring serangga, saya mencoba berburu nyiri yang notabene jenis hewan yang saya takuti dan tidak pernah saya kenal. Saya hanya kenal karena nyiri suka menyengat, terutama daerah kepala karena konon “tawon” suka dengans segala sesuatu yang hitam.

Makanya dia banyak menyengat kepala karena rambut yang hitam seperti kejadian yang saya alami sewaktu mengunjungi hutan di Desa Solol, Pulau Salawati. Selain itu, konon jenis-jenis tawon sangat agresif dengan mata terutama bagian hitam bisa menjadi sasaran sengat beberapa jenis tawon.

Di Ambon, saya sekedar memanfaatkan berkeliling Pulau Ambon untuk mencari nyiri dan mencari Amblypygi yang mungkin bisa saya temukan di hutan-hutan yang saya temui.

Beberapa daerah yang saya kunjungi salah satunya adalah sekitar bandara kemudian Pantai Liang, Pintu Kota dan beberapa daerah lain.

Saya cukup puas dengan hasil berburu nyiri kali ini, namun saya belum yakin benar apakah benar saya berhasil menemukan jejak Beccari diPulau Ambon.

The Wasp nest was found in Pantai Liang, Ambon

Kembali ke laboratorium

Jejak Beccari di Ambon tetap masih sumir buat saya karena saya benar-benar tidak memperoleh petunjuk yang jelas sebenarnya gua mana yang dikunjungi oleh Beccari.

Saya juga belum bisa menemukan rekaman jejak Beccari selama di Ambon sehingga untuk mengkonfrontir dengan sepesimen yang dikoleksi oleh O. Beccari yang sempat saya lihat di Museo Civico di Storia “Giacomo Doria”, Genova, Italia menjadi sangat sulit.

Setelah kembali di laboratorium, saya berkesimpulan bahwa jenis yang saya temukan di Gua Liang berbeda dengan yang saya temukan di Gua Bapak Jappa. Perbedaan ini ditunjukkan oleh ukuran tubuh dan pola pewarnaan yang pada tubuh. Secara rinci, susunan dan jumlah trichobothria di kaki-kakinya juga berbeda.

Visiting MCSG, Genova in Italy with DR. Giulliano Doria, showing the collection of Beccari on the table

Temuan ini semakin membuat saya terbelit pada kerumitan data yang sekarang ada di tangan saya. Jenis yang saya temukan di Gua Liang, yang notabene lebih dekat di akses karena lokasinya dekat dengan pantai dan saya sedikit berasumsi bahwa kemungkinan Beccari mengunjungi gua ini pada tahun 1873. Namun karena Beccari juga tidak meninggalkan jejaknya seperti yang biasa di lakukan oleh beberapa penelusur gua amatir dengan menuliskan ” Beccari was here” akhirnya saya semakin bingung.

Jenis yang saya temukan di Gua Liang tidak sama dengan jenis yang ada di Genova, Italia sedangkan jenis yang saya temukan di Gua Bapak Jappa justru memiliki kemiripan dengan jenis yang dikoleksi oleh Beccari ditinjau dari susunan trichobothria dan pola pewarnaan nya.

Namun, apapun yang saya peroleh dari Pulau Ambon, telah memberikan wacana baru bagi saya untuk menyelesaikan sebagian dari penelitian saya tentang Amblypygi di Asia Tenggara khususnya Indonesia.

Advertisements
2 Comments leave one →
  1. April 6, 2012 6:50 pm

    Reblogged this on Tempat Huruf Berkumpul and commented:
    Reblog dari: https://biotagua.org/2010/02/08/menyusuri-ambon/

    Postingan Lama 8 Februari 2010.

Trackbacks

  1. Tempat Huruf Berkumpul

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: