Skip to content

Karst Sangkulirang, surga bawah tanah yang belum terjamah

February 9, 2010

The landscape of Sangkulirang, showing the tent of swiflet man (C. Rahmadi)

Karst Sangkulirang merupakan bentangan perbukitan karst yang mempunyai bentang alam yang eksotis dan menantang. Perbukitan dengan dinding-dinding tebing yang terjal, menambah pesona yang mengagumkan.

Perbukitan karst yang terletak di Propinsi Kalimantan timur ini mempunyai kekayakan dan keunikan yang belum banyak terungkap.

Salah satu pesona yang yang sampai saat ini belum banyak disentuh adalah keindahan dan kekayaan alam gua bawah tanah yang masih banyak tersimpan di dalam rentetan bukit karst yang serasa tidak ramah untuk dijamah.

Tampak dari udara, bukit terjal dan jurang-jurang yang dalam seakan siap menelan apa saja yang terjatuh kedalamnya. Meskipun terkadang nampak dari kejauhan, tenda-tenda yang berwarna mencolok tersebar di beberapa puncak bukit. Tenda yang digunakan oleh para penunggu sarang walet ini biasanya terletak di dekat mulut-mulut gua yang menyimpan kekayaan berupa sarang walet.

The most reliable transportation to reach Sangkulirang karst

Gua, dunia bawah tanah yang belum terjamah

Gua-gua di daerah Karst Sangkulirang banyak tersebar di beberapa lokasi. Sebut saja perbukitan Marang dan sekitar Gua keluar Sungai Baai di daerah Ambulabung. Kemudian danau karst yang eksotis dengan nama Danau Tebo yang dikelilingi bukit-bukit karst semakin menambah daya tarik tersendiri.

Di daerah perbukitan Marang, ada beberapa gua yang setiap hari ditunggui oleh orang untuk menjaga keberadaan walet yang ada di dalamnya. Sebut saja Gua Kebobo, gua ini mempunyai mulut gua yang cukup lebar dengan beberapa mulut gua kecil yang sudah ditutup dengan pagar bambu dan ditutup dengan rapat agar orang tidak dapat masuk ke dalam gua.

Di mulut gua utama, ditutup dengan pagar bambu yang cukup tinggi sehingga tidak memungkinkan untuk masuk ke dalamnya. Di dekat mulut gua ini, terdapat pondok tempat penunggu gua tinggal.

Hanya para penunggu gua inilah yang pernah memasuki gua tersebut untuk memanen sarang burung walet.

The access in Sangkulirang sometimes are very difficult and dangerous (M. Rofik)

Beberapa kegiatan ekspedisi juga pernah dilakukan di daerah Marang yaitu Kalimanthrope yang merupakan ekspedisi yang dilakukan oleh para caver dari Perancis dan sekaligus para peneliti arkeologi khususnya yang mempelajari gambar cadas yang banyak ditemukan di Sangkulirang.

Gua-gua lain yang ada di daerah Marang antara lain Gua Tengkorak yang terletak di kaki bukit di dekat sungai. Kemudian, Gua Tewet yang mulut guanya ada di bibir tebing dengan gambar-gambar cadas yang unik.

Yayuk R. Suhardjono in the passage of Gua Sungai, Marang.

Kemudian Gua Sungai yang di dalamnya mempunyai lorong panjang dengan bentukan ornamen-ornamen yang unik seperti gourdam dan beberapa stalagtit dan stalagmit serta flowstone yang memancarkan kristal kalsit.

Selain daerah Marang, di daerah Ambulabung di sekitar Gua Sungai Keluar Baai, terdapat beberapa gua salah satunya adalah Gua Baai dengan sungai bawah tanah yang sangat besar.

Selain mulut gua utama dengan sungai keluar terdapat di daerah hulu sungai masuk dengan panjang lorong gua yang cukup panjang. Selain itu terdapat mulut gua yang terdapat di puncak bukit yang akan bergabung dengan lorong utama yang berakhir pada collapse doline yang cukup besar. Dari mulut gua ini, lorong gua relatif kering dengan substrat tanah yang lembab dengan lorong yang relatif kecil.

Jauh dari daerah Ambulabung, di dekat desa Pengadan terdapat dua gua yang juga cukup bagus yaitu Gua Ampanas dan Gua Mardua. Gua Ampanas merupakan gua dengan sungai bawah tanah dengan lorong gua yang berkelok-kelok dan terdapat banyak jendela gua. Sampah sisa-sisa banjir banyak ditemukan di beberapa tempat yang dapat mengindikasikan besarnya banjir di saat musim hujan.

The bats are commonly found in the caves

Gua Mardua adalah gua fosil yang tidak berair terletak di kaki bukit yang cukup terjal untuk di capai. Mulut Gua Mardua relatif kecil dengan mulut yang rendah namun setelah memasuki gua terdapat ruangan yang cukup besar.

The entrance of cave in Tabalar village (C. Rahmadi)

Selain di dua lokasi tersebut, ada beberapa gua yang bisa dikunjungi yang letaknya ada di Desa Tabalar Kecamatan Tabalar Ulu, Kabupaten Berau. Di daerah ini terdapa gua dengan sungai bawah tanah yang dinamakan Gua Louwading dan beberap gua kecil dengan mulut gua yang digunakan untuk aktifitas mandi dan cuci.

Gua-gua di daerah ini relatif kotor karena banyak digunakan untuk aktifitas mandi dan cuci serta membuang sampah yang terkadang ditemukan barang-barang “pribadi” bertebaran di sekitar mulut gua.

Guaplax denticulata from Gua Louwading (Ph. C. Rahmadi)

Fauna gua yang khas

Gua-gua di Sangkulirang belum banyak dijamah oleh para peneliti biologi sehingga tidak mengherankan seandainya dari kegiatan ekspedisi selama sebulan yang di koordinasi oleh The Nature Conservancy dan Pusat Penelitian Biologi LIPI pada tahun 2004 menghasilkan banyak jenis baru dan diyakini sangat khas ditemukan di Sangkulirang.

Beberapa jenis baru yang ditemukan adalah kepiting gua yang ditemukan di Gua Louwading yang juga dinyatakan sebagai marga baru yaitu Guaplax denticulata Naruse et al. 2008.

Kepiting ini ditemukan di sebuah ceruk dengan genangan air yang ada di tepi sungai dan sampai saat ini jenis ini hanya ditemukan di Gua Lowading dan tidak pernah ditemukan di kawasan lain di kawasan karst Sangkulirang.

Miroblatta baai is preyed by Hunstman spider (Heteropoda sp)

Selain di daerah Ambulabung juga ditemukan kecoak gua raksasa yang sempat menghebohkan dunia ilmu pengetahuan. Jenis kecoak yang diberi nama Miroblatta baai Grandcolas, 2007 waktu itu hanya ditemukan di Gua Baai di lorong fosil sempit di sistem Gua Sungai Baai.

Beberapa tahun lalu juga berbagai jenis baru khusunya dari kelompok kaki seribu juga ditemukan dari gua di Sangkulirang seperti dari Gua Ampanas, Gua Mardua, dan Gua Sungai.

Sedikitnya tiga jenis baru dari kelompok kaki seribu berhasil dideskripsi dari kawasan karst Sangkulirang.

Selain itu, dari kelompok Arachnida juga banyak jenis yang masih diduga baru seperti beberapa jenis Opiliones dari kelompok Cyphophthalmi dari famili Stylocellidae yang ditemukan di beberapa gua seperti Gua MArdua di Pengadan dan Gua Tengkorak di daerah Marang. Konon, jenis-jenis dari Sangkulirang ini termasuk jenis yang paling besar ukurannya jika dibandingkan dengan jenis-jenis yang ditemukan di kawasan lain (Giribet pers. comm).

The carapace of Amblypygi, showing the small eyes (Ph. C. Rahmadi)

Dari kelompok Amblypygi, diyakini juga ditemukan beberapa jenis baru yang berbeda daris satu kawasan dengan kawasan lain di daerah Sangkulirang. Beberapa jenis juga diyakini  telah teradapatsi dengan lingkungan gua sehingga mempunya warna yang pucat, mata mengecil dan mempunyai kaki yang sangat panjang.

Tantangan

Karst sangkulirang masih belum banyak yang diungkap, kekayaan fauna atau biota gua yang hidup di dalam gua-gua yang masih tersembunyi menyimpan potensi yang perlu digarap di masa yang akan datang.

Kekayaan arkeologi telah banyak diteliti oleh peneliti Perancis dan Indonesia seperti Pindi Setiawan yang telah banyak mengungkap misteri gambar cadas di daerah Sangkulirang.

Namun, fauna dan segala keunikan yang ada di dalamnya masihlah menjadi misteri yang membutuhkan upaya untuk diungkap mengingat laju ancaman terhadap kawasan karst Sangkulirang sangat besar seperti perambahan hutan dan rencana pendirian pabrik semen di beberapa kawasan.

Ancaman malaria

Kawasan karst Sangkulirang juga merupakan kawasan yang menyimpan potensi bahaya yang sangat besar, salah satunya adalah malaria. Malaria merupakan ancaman serius di kawasan ini. Saya sempat mengalami malaria dengan kondisi yang sangat menyiksa. Saya mulai merasakan badan mulai tidak nyaman ketika saya harus mulai berkegiatan di daerah Marang. Di daerah ini dua hari menjelang perpindahan lokasi saya merasakan badan seperti patah-patah dan mulut mulai tidak enak untuk memakan. Sekali waktu juga terkadang pusing dan jalan dengan sempoyongan. Hal inilah yang mulai menyiksa selama malaria sudah menjangkiti tubuh.

Ketika tim harus bergeser ke lokasi yang baru di Danau Tebo , kondisi badan mulai tidak memungkinkan untuk bekerja. Pandangan mata sempat berwarna kekuningan dan berjalan sempoyongan. Praktis selama seminggu di daerah Tebo yang gersang dan panas semakin menambah siksaan tersendiri.

Meskipun saya pernah merasakan malaria sebelumnya, namun malaria di Sangkulirang menjadi siksaan tersendiri karena kondisi di lapangan maupun kondisi yang tanpa penanganan medis.

Untuk mencegah terjangkitnya malaria di pedalaman kalimantan, disarankan untuk menjaga kondisi badan se-fit mungkin terutama makanan. Karena sepertinya pengaruh kondisi badan sangat berperan penting dalam menangkal masuknya plasmodium ke dalam tubuh.

Pencegahan dengan obat-obatan pencegah malaria perlu dicoba dan sekaligus mencoba obat-obat tradisional yang khas di daerah Kalimantan.

Advertisements
5 Comments leave one →
  1. February 10, 2010 12:56 pm

    waaaw ilmu2 gua saya bertambah hehe.. hajar terus mas postingannya …

  2. November 8, 2011 2:01 am

    keren gan Sangkulirang..
    sedikit info tentang Sangkulirang si Benoa Baroe http://halfpillar.wordpress.com/2011/11/07/sangkulirang-sebagai-benoa-baroe/

  3. November 9, 2013 10:32 pm

    kalau mau ke lokasi bagaimna ya aksesnya….untuk penelitian sampel batuan karst

Trackbacks

  1. Kala-cemeti jenis baru dari kegelapan gua Kalimantan « Indonesian Caves Life

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: