Skip to content

Amblypygi 1: Bisakah kala cemeti mengenali kerabatnya?

February 15, 2010

Damon diadema (From: Mori Collins)

Bagi manusia, mengenali saudara atau kerabat bukan satu hal yang mustahil. Meskipun itu semua lebih banyak dipengaruhi oleh faktor ‘administrasi’ karena kita tahu Si A, Si B menjadi saudara kita karena kita tahu sejarah dalam keluarga dan sekaligus mengetahui ikatan persaudaraan. Namun seandainya satu anggota keluarga terpisah dari keluarganya dalam kurun waktu yang lama dan tidak terlacak terkadang kita sulit mengenali dan mengetahui apakah saudara atau bukan seperti yang tergambar dalam cerita-cerita sinetron yang menjejali layar kaca di Indonesia.

Kita tidak mempunyai kemampun untuk mengenali dengan indra yang kita miliki meskipun terkadang secara emosional ikatan batin menjadi cerita lain yang kadang menambah seru cerita sinetron.

Namun bagaimana dengan hewan-hewan yang banyak berkeliaran di sekeliling kita. Beberapa hewan dikenal mempunyai kemampuan untuk mengenal kerabatnya dengan beberapa indra yang dimiliki meskipun terkadang dengan kemampuan ini pun kanibalisme antar kerabat terkadang masih terjadi.

Kala cemeti, merupakan salah satu hewan yang menarik buat saya meskipun saya belum mempelajari secara langsung bagaimana kemampuan kala cemeti mengenali kerabatnya. Satu penelitian tentang bagaimana kala cemeti mengenali kerabatnya telah dilakukan oleh Rachel E. Walsh dan Linda S. Rayor dari Departement Entomology of Cornell University, Ithaca New York dan dipublikasi dalam Journal of Arachnology tahun 2008 Volume 36 halaman 336-343 dengan judul “Kin discrimination in the amblypygid, Damon diadema“.

Dalam dunia serangga, mengenal kerabat atau rekan dalam satu koloni merupakan satu hal yang sudah banyak diketahui. Namun dalam kelompok Arachnida yang sosial maupun sub-sosial, kemampuan mengenal kerabat merupakan hal yang sangat jarang atau bahkan tidak ada sama sekali.

Hasil penelitian menyebutkan bahwa laba-laba sosial tidak mempunyai sifat agresif atau tidak mempunyai perilaku konflik terhadap pendatang atau individu yang tidak berkerabat. Dalam beberapa koloni  laba-laba yang sangat kooperatif imigrasi kedalam koloni merupakan hal yang sangat jarang. Sehingga ada hipotesis yang menyebutkan bahwa laba-laba tidak mempunyai ‘mekanisme evolusi’ untuk membedakan kerabatnya (Lihat: D’Andrea 1987; Pasquet et al. 1997; Lubim & Bilde 2007; Aviles 1997; Evans 1999).

Namun lain dengan kala cemeti jenis Damon diadema dalam penangkaran yang dikenal mempunyai sub-sosial grup  meskipun secara umum kala cemeti dikenal sebagai hewan yang soliter dan tidak toleran pada individu lain.

Damon diadema dengan anakan yang digendong oleh induknya

Damon diadema merupakan kala cemeti yang berasal dari benua Afrika khusunya Tanzania dan Kenya yang telah diketahui aktif berkelompok, toleransi yang cukup tinggi dan terkadang sangat terbiasa dengan interaksi fisik dengan sepasang kaki terdepan yang telah berubah menjadi antena (‘whips’).

Dalam papernya, Walsh dan Rayor mencoba mempelajari tentang bagaimanakah anakan kala cemeti dapat membedakan kerabatnya? Kemudian mereka juga mencoba untuk menguji hipotesis dimana perbedaan perilaku lebih dikarenakan oleh akrabnya dengan habitat dibandingkan dengan kerabat. Selain itu mereka juga mencoba menjawab mengenai hipotesis bahwa anakan kala cemeti mampu membedakan mana yang induk dan mana yang bukan induk.

Dengan melakukan tiga macam percobaan, Walsh dan Rayor menemukan hal yang menarik dan menjadi temuan yang tidak diduga sebelumnya terutama dalam kontek sosial di kelompok kala cemeti.

Percobaan pertama, mereka melakukan percobaan dengan menggunakan beberapa anakan kala cemeti. Percobaan itu meliputi mempelajari perilaku kala cemeti dengan menggunakan perbedaan habitat dimana individu anakan dimasukan ke dalam habitat baru kemudian dimasukan ke dalam kelompok anakan yang bukan kerabat.

Tingkat agresivitas dan non-agresivitas anakan kala cemeti (From: Walsh & Rayor, 2008)

Dalam kontek ini, kaki yang berbentuk antena mempunyai peran yang cukup penting dalam rangka sosialiasai dan pengindraan. Kaki berbentuk antena ini mempunyai peran untuk membedakan bau (odor discrimination), mengenal tempat (spatial location) dan kontak dengan sentuhan antar individu (tactile contact). Selain itu, perilaku ramah dan perilaku agresif dalam kala cemeti ditunjukkan dengan pergerakan kaki antena atau kontak antena dan pergerakan capit.

Kaki berbentuk antena (“whips“) dalam konteks sosial dan mengenal situasi yang baru menunjukkan beberapa pergerakan. Pergerakan tersebut meliputi gerakan yang terus menerus untuk mengenal lingkungan dan individu-individua di sekitarnya. Masing-masing individu saling bersentuhan menggunakan ‘whips’ nya kemudian digerakkan dengan sangat cepat ketika mereka merasa “excited” atau “agitated“.  Selain kaki antena tersebut, capit juga menampakkan respon dengan posisi tertentu salah satunya adalah dengan membuka capit-nya yang menunjukkan agresi, pemangsaan atau kondisi santai.

Selain itu, dengan percobaan diperoleh indikasi bahwa individu-individu yang dimasukan dalam lingkungan baru atau tetangga baru mempunyai kecenderungan lebih malu-malu dengan ditunjukkan dengan pergerakan whips yang menyentak-nyentak dan terkadang lebih garang. Sedangkan individu-individu yang tidak terusik atau tidak dipindahkan , lebih cepat membuka interaksi dengan pendatang baru.

Dari Gambar 2 menunjukkan bagaimana aggresivitas individu dalam berbagai percobaan mempunyai perbedaan. Dari ke lima percobaan tersebut, agresivitas yang paling rendah ditunjukkan dalam percobaan individu yang bersaudara dimasukkan ke habitat yang dia kenal dimana kerabatnya berada. Sedangkan tingkat agresivitas paling tinggi ditunjukkan oleh percobaan dimana individu dimasukann ke habitat yang dia kenal namun didalmnya ada dindividu yang bukan kerabatnya.

Dari sini dapat diketahui bahwa ternyata tingkat agresi individu tidak banyak dipengaruhi oleh habitat yang dikenalnya namun lebih banyak pada kekerabatan individu teersebut. Sehingga habitat tidak banyak berpengaruh pada meningkatnya agresivitas individu jika dibandingkan dengan kekerabatan.

Selain itu, dari Gambar 3 dapat diketahui bahwa anakan kala cemeti dapat mengenal individu yang bukan kerabatnya dan berperilaku berbeda terhadap individu yang bukan kerabatnya. Dari tingkat kekerabatan tersebut Walsh & Rayor juga menemukan bahwa kekerabatan menentukan tingkat agresi sedangkan tingkat pengenalan terhadap habitatnya sama sekali tidak berpengaruh. Selin itu,tingkat agresi juga meningkat terhadap individu yang bukan kerabat dibandingkan individu yang berkerabat.

Dari penelitian ini diketahui bahwan anakan kala cemeti dapat mengenali kerabatnya dan berperilaku lebih agresif terhadap indiviud-individu yang bukan kerabatnya.

Selain mengenali kerabatnya mungkinkah anakan amblypygi juga dapat mengenali induknya, untuk mengetahui lebih jauh tentang perilaku anakan kala cemeti terhadap induknya akan dibahas lebih lanjut di tulisan berikutnya. (Bersambung)

Sumber:

Walsh, R.E. and L.S. Rayor (2008). Kin discrimination in the amblypygid, Damon diadema. Journal of Arachnology 36: 336-343

Foto: Damon diadema (http://media.photobucket.com/image/Damon%20diadema/moricollins/Damon/DSCF2287Medium.jpg) oleh Mori Collins.

Foto: Damon diadema dengan anakan (http://i554.photobucket.com/albums/jj419/SeiterM/DamondiademaexKahlenberg08bild3.jpg)

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: