Skip to content

Amblypygi 2: Bagaimana kala cemeti mengenal induknya?

February 17, 2010

Pada tulisan sebelumnya, terungkap bahwa kala cemeti mampu membedakan mana yang kerabat dan mana yang bukan kerabat dengan perbedaan perilaku yang unik. Masih dalam paper yang sama yang merupakan hasil penelitian Walsh dan Rayor dalam tulisannya yang berjudul “Kin discrimination in the amblypygid, Damon diademayang dipublikasi dalam Journal of Arachnology 36: 336-343 pada tahun 2008.

Rancangan Olfactometer yang digunakan oleh Walsh & Rayor (2008)

Pada tulisan ini, bagaimana kala cemeti mengenal induknya akan diungkapkan lebih jauh seperti yang menjadi tujuan penelitian oleh Walsh dan Rayor yaitu untuk menguji dugaan bahwa anakan kala cemeti mampu membedakan mana yang induk yang sebenarnya dan mana yang bukan induk.

Untuk mencari jawaban dugaan tersebut, mereka melakukan percobaan dengan menggunaka “Olfactometer” yang berbentuk “Y” yaitu perangkat untuk mengukur bau yang dihasilkan oleh sesuatu yang terpasang terbalik. Dalam percobaan ini, mereka menggunakan Olfactometer yang dipasang secara vertikal dengan membedakan beberapa daerah. Percabangan yang dibagian bawah merupakan cabang untuk meletakkan induk dan indiviud betina yang bukan induk sebenarnya.

Olfactometer dibagi menjadi enam bagian yaitu bagian pertama yang merupakan tempat dimana anakan amblypygi akan dimasukkan, bagian kedua merupakan bagian dimana dua percabangan terpisah mengarah kedua lokasi yang berbeda. Bagian ketiga dan keempat merupakan bagian di cabang yang mengarah ke tempat induk yang sebenarnya. Sedangkan daerah kelima dan keenam merupakan cabang di mana terdapat betina dewasa yang bukan induk dari anakan kala cemeti.

Selain itu, Olfactometer juga dilengkapi dengan kipas angin yang mengarah ke atas untuk mengalirkan bau yang dihasilkan oleh induk yang sebenarnya dan betina yang bukan induk sebenarnya. Selain itu, cabang-cabang di kedua bagian dipisahkan oleh kasa dua lapis sehingga tidak memungkinkan anakan kala cemeti melakukan sentuhan dengan induk dan betina yang bukan induknya. Sehingga kemampuan untuk mengenal induknya hanya menggunakan ‘bau’ yang dihasilkan oleh induk.

Dalam percobaannya, mereka menggunakan anakan kala cemeti berumur 9 bulan sebanyak 15 individu. Masing-masing individu digunakan sekali dalam percobaan. Di bagian ujung cabang diletakkan betina induk yang sebenarnya dan di cabang satunya diletakkan betina dewasa yang bukan induknya.

Dari percobaan tersebut, diperoleh hasil bahwa anakan kala cemeti mampu mengenali induknya hanya dengan ‘petunjuk penciuman’. Semua anakan yang digunakan dalam percobaan secara aktif mengeksplorasi olfactometer. Dari 15 anakan yang digunakan 12 diantaranya meninggalkan ‘tabung pengenalan’ yaitu daerah kesatu dan mengeksplorasi ruangan di percabangan pilihan.

Dari 12 individu yang berhasil mengekplorasi ruangan olfactometer, masing enam individu menuju ke percabangan induk sebenarnya dan cabang betina bukan induk. Dari kesuluruhan individu, tiga individu langsung memilih percabangan dimana induk sebenarnya berada sedangkan sembilan individu lainnya sempat mengeksplorasi kedua cabang. Selain itu tidak satupun individu anakan yang hanya memilih cabang dimana betina yang bukan induknya berada.

Dari hasil percobaan itu dapat disimpulkan bahwa anakan Damon diadema, mampu membedakan mana induk dan mana betina yang bukan induk hanya menggunakan ‘petunjuk penciuman”. Hal ini mengukuhkan temuan Hebet & Chapman (2000) bahwa kelompok kala cemeti lebih banyak menggunakan petunjuk sensor kimiawi dibandingkan kelompok Arachnida lainnya. Sebelumnya ‘petunjuk penciuman’ pernah dilaporkan pada jantan Phrynus parvulus yang digunakan untuk menemukan pasangan betina untuk reproduksi (Hebets 2000).

Walsh & Rayor menemukan hal yang tidak pernah diduga sebelumnya yaitu penggunaan ‘petunjuk penciuman’ dalam konteks sosial dalam amblypygi.

Dari keseluruhan hasil penelitian yang dilakukan oleh mereka diperoleh dugaan lebih lanjut bahwa kemampuan untuk membedakan kerabat dengan berbagai petunjuk diduga dapat membantu mengurangi potensi konflik dalam lingkup kerabat sehingga terhindar dari luka akibat ‘pertarungan’ maupun potensi terjadinya inbreeeding.

Bagaimanapun, kala cemeti merupakan hewan yang sangat menarik untuk diteliti lebih jauh.  Bagaimana dengan anda, tertarik untuk meneliti dan mengenal lebih jauh tentang kala cemeti atau amblypygi?

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: