Skip to content

Isoptera 1: Death of an order – hilangnya sebuah ordo

February 22, 2010

Rayap, atau secara taksonomi dikenal dengan Isoptera, merupakan kelompok arthropoda yang lebih banyak dikenal karena kemampuan merusak bangunan kayu meskipun mereka juga punya peran positif dalam menjaga keseimbangan ekosistem, khususnya ekosistem hutan dengan membantu mempercepat proses dekomposisi.

Rayap (From The Flying Kiwi)

Namun, apakah banyak orang tahu, kalau secara taksonomi kelompok rayap yang dikenal dengan ORDO ISOPTERA, telah mengalami perubahan meskipun perubahan ini banyak mengejutkan orang dan menimbulkan perdebatan dan kontroversi.

Saya ingin berbagai tentang satu artikel yang dipublikasikan tiga tahun lalu yang saya pikir cukup kontroversial meskipun saya bukan merupakan orang yang tahu persis tentang kelompok rayap dan kemungkinan ada salah penafsiran dalam meringkas dan mencermati artikel tersebut. Namun terlepas dari itu semua, hanya diskusi yang bisa memberikan orang menjadi lebih tahu, mana yang benar dan mana yang kurang pas.

Tahun 2007 dalam jurnal “Biology Letters” Volume 3 halaman 331-335, Daegan Inward, George Beccaloni dan Paul Eggleton menulis satu tulisan berjudul “Death of an order: a comprehensive molecular phylogenetic study confirms that termites are eusocial cockroaches”. Dalam tulisan itu, yang merupakan hasil penelitian molekuler  mereka ingin menjawab posisi filogeni rayap yang selama ini menimbulkan perdebatan. Pertanyaan tersebut adalah:

apakah rayap itu kecoak?

kalau memang mereka kecoak lantas

apakah kerabat terdekat dari rayap dalam kelompok kecoak?

Rayap dan kecoak

Kecoak yang banyak ditemukan di gua terutama gua berguano (C. Rahmadi)

Sebelumnya, kelompok Rayap (Isoptera) merupakan kelompok yang diletakkan dalam posisi yang berbeda dengan kelompok kecoak. Sementara, kecoak (Blattodea) masuk dalam kelompok besar Super Ordo Dictyoptera yang melingkupi berbagai bangsa kecoak dan tidak termasuk di dalamnya rayap.

Dari hasil analisis molekuler  yang mengambil sampel dari 107 jenis anggota kelompok Dictyoptera (in-group) dan termasuk 11 jenis sebagai kelompok pembanding (out-group). Dari  kelompok yang digunakan termasuk 5 suku dalam belalang sembah (Mantis), enam suku kelompok kecoak  dan 22 dari 29 anak suku dalam kelompok kecoak. Sedangkan kelompok rayap diwakili oleh semua suku dan anak suku yang ada di dalamnya. Analisis molekuler menggunakan lima gen loci, dua diambil dari mitokondria (12S & CO II) dan tiga menggunakan gen inti (28S, 18S dan Histone 3).

Dari keseluruhan analisis diperoleh jawaban bahwa memang kelompok rayap merupakan kecoak yang disitu berkerabat dekat dengan Cryptocercus. Kekerabatan rayap+Cryptocercus merupakan kerabat dekat dari suku Blattidae.

Rayap=kecoak

Hasil ini tentu saja menuai banyak kontroversi, mengingat kelompok rayap merupak kelompok yang berdiri dalam satu bangsa sendiri yakni ORDO ISOPTERA. Dari hasil tersebut, mereka mengusulkan untuk tidak lagi menggunakan Ordo ISOPTERA untuk menyebut kelompok rayap. Mereka kemudian mengusulkan semua jenis yang sebelumnya ada di bangsa ISOPTERA saat ini harus diklasifikasikan dalam SUKU TERMITIDAE, BANGSA BLATTODEA dan SUPER ORDO DICTYOPTERA.

Dampak dari turunnya kategori klasifikasi dari BANGSA (Ordo) menjadi SUKU (Family) menyebabkan semua tingkatan takson yang ada di dalam rayap mengalami ‘downgrade’, dimana yang sebelumnya suku menjadi anak suku, anak suku menjadi tribes dan tetap tidak akan mengubah dalam konteks komposisi jenis-jenisnya.

Rayap sebagai makhluk sosial

Perdebatan mengenai hasil ini tentu saja tidak akan cepat selesai mengingat antara kecoak dan rayap mempunyai sejarah hidup dan perilaku yang berbeda. Dimana rayap dikenal merupakan makluk sosial dengan berbagai kasta di dalam komunitasnya sedangkan kecoak merupakan kelompok soliter yang tidak dikenal kasta didalamnya.

Perubahan dari kelompok soliter menjadi kelompok sosial juga dapat dijelaskan oleh Inward dan kawan-kawan dengan merekontruksi perubahan evolusioner dari moyang yang soliter menjadi sosial. Semua itu juga didukung oleh bebepa dugaan antara lain berdasarkan nutrisi dan alasan mikrobiologis.

Kegaduhan taksonomi dan penamaan

Dengan temuan Inward dan kawan-kawan yang kontroversial terutama dengan usulan menghilangkan ordo Isoptera dan menurunkan tingkatan klasifikasi menjadi tingkatn Suku Termitidae memunculkan respon yang ditulis oleh Nathan Lo dan kawan-kawan dalam jurnal yang sama  “Biology Letters‘ Volume 3, halaman 562-563 dengan judul “Save Isoptera: A comment on Inward et al.”

Dalam tulisannya, Lo dan kawan-kawan sepakat dengan ‘penurunan’ tingkatan takson tapi ketika penurunan menjadi tingkatan suku menyebabkan ketidakstabilan sistem penamaan rayap dan juga menimbulkan gangguan dalam komunikasi ilmiah.

Mereka memaparkan beberapa akibat buruk dari paper Inward dan kawan-kawan antara lain:

  1. Usulan Inward dkk. menimbulkan konsekwensi karena hampir semua keturunan rayap telah mapan dalam tingkatan suku dan sistem ini telah banyak digunakan dalam buku-buku biologi maupun ekonomi  rayap. Saat ini dikenal ada tujuh suku dalam rayap: Mastotermitidae, Termopsidae, Hodotermitidae, Kalotermitidae, Serritermitidae, Rhinotermitidae, dan Termitidae. Usulan untuk menurunkan rayap dalam tingkatan suku sepertinya bukan kesimpulan yang ideal.
  2. Sedangkan usulan penggunaan nama suku “Termitidae” sepertinya juga menimbulkan masalah karena nama tersebut telah dipakai dalam sistem klasifikasi saat ini, sedangkan menurunkan tingkatan suku yang ada menjadi Termitinae juga berebenturan dengan nama anak suku “Termitinae” yang saat ini juga telah dipakai. Selain itu, dengan menghilangkan pemakaian nama Isoptera tentu akan menimbulkan masalah karena Zoological Record mencatat sedikitnya 7600 judul artikel menggunakan Isoptera dan lebih dari 1350 menggunakan nama Termitidae dalam tingkatan yang saat ini dipakai.

Untuk mengatasi “Taxonomic Chaos” dalam taksonomi rayap, Lo dan kawan-kawan mengusulkan tetap digunakannya ISOPTERA dalam BLATTARIA yang tidak menunjukkan tingkatan tertentu sebelum filogeni kecoak benar-benar telah diselesaikan dan menghasilkan tingkatan yang layak untuk digunakan.

Selain itu, Isoptera tetap dapat digunakan dalam berbagai tingkatan klasifikasi seperti suborder (anak bangsa) atau infra order sehingga tingkatan lebih dari suku dapat digunakan sebagai contoh dalam tingkatan superfamily atau epifamily (=Termitoidea atau Termitoidae).

Sehingga alternatif ini dapat mengakomodasi dampak “penurunan’ tingkatan klasifikasi untuk Isoptera namun sekaligus dapat menjaga pemakain nama ditingkat suku ke bawah sehingga tercipta ‘kestabilan penamaan’  yang menjadi tujuan dari TAKSONOMI. (Bersambung)

OBITUARY

Dr. Anggoro Hadi Prasetyo, termitologist

Dr. Anggoro H. Prasetyo, merupakan salah satu Doktor lulusan University of London Inggris dan baru bergabung di Museum Zoologicum Bogoriense secara tetap pada tanggal 1 Desember 2009 setelah sebelumnya menjadi tenaga honorer di museum. Beliau adalah salah satu orang yang menekuni bidang taksonomi dan ekologi “Rayap” di Indonesia dan sebelumnya diharapkan akan memperkuat jajaran peneliti yang bergerak di “hewan-hewan tanah” di Laboratorium Entomologi.

Tulisan ini sebenarnya tidak ada artinya jika dibandingkan pengetahuan beliau tentang pe’rayapan’, namun untuk menghormati beliau sebagai kolega di museum saya mencoba memberanikan diri untuk mencoba berbagi untuk apa yang beliau tahu dan mungkin belum sempat berbagi. Meskipun secara pasti, saya belum sempat menanyakan sikap beliau tentang “Death of an order” ini.

Karena sakit Leukimia, dengan sangat mengejutkan dia harus berpulang ke pangkuan-Nya di usia yang masih cukup muda dan sangat muda untuk jajaran peneliti di lingkungan museum. Beliau yang rajin bermain sepak bola dengan gawang kecil di lapangan Widyasatwaloka, merupakan sosok yang nyaman untuk diajak berdiskusi. Setelah sakit yang serasa begitu mendadak, beliau harus meninggalkan istri dan anaknya untuk berpulang menghadap-Nya.

Semoga, amal ibadah beliau diterima Allah SWT dan dia diberikan tempat yang indah dengan arsitektur yang khas seperti Allah menciptakan rumah rayap dengan segala keindahan dan keunikannya.  Selamat istirahat sahabat.

Sumber:

Gambar Rayap: The Flying Kiwi

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: