Skip to content

Slovenia 1: Postojna – surga bawah tanah

February 23, 2010

Postojna, the entrance of the underground heaven

Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya jika akhirnya saya dapat menjejakkan kaki di negara ini. Negara dimana sebelumnya hanya saya temukan di buku-buku bacaan tentang Karst dan gua. Terutama dalam bahasan etimologi istilah karst pertama kali muncul.

Slovenia, negara yang eksotik dimana bentang alam yang unik dan khas membentang dipelosok negerinya. Slovenia tidak pernah bisa dilepaskan dengan sejarah panjang tentang Karstology dan Speleology.

Istilah Karst sendiri sebelumnya merupakan daerah di sebelah selatan Slovenia di Teluk Trieste yang dikenal dengan Kras. Kemudian geographer terkenal Jovan Cvijic pernah mempelajari Dinaric Kras sehingga menghasilkan buku yang menumental bagi perkembangan karstologi di dunia.

Kesempatan

Saya harus bersukur ketika kesempatan berkunjung ke Slovenia yang waktu itu saya peroleh dari informasi Mas Sunu Widjanarko tentang peluang “Grant” untuk ikut dalam “18th International Karstological School “Cave Climate” yang diselenggarakan pada tanggal 14 Juni – 20 Juni 2009.

Awalnya saya tidak begitu yakin karena tawaran Grant yang ada sepertinya berpotensi untuk kompetisi dengan berat. Namun tidak ada salahnya untuk mencoba mendaftar dalam Marie Currie Grant: SMART Karst yang didanai oleh European Union dengan persyaratan yang tidak begitu sulit yakni hanya mengisi formulir dan menyediakan abstrak dengan tema “Cave Climate”.

A beautiful cave in Postojna (C. Rahmadi)

Selain itu, kebetulan saya mempunyai kolega yang berasal dari Slovenia dan bekerja di lembaga “Slovenian Academic of Sciences and Arts” yang ternyata satu organisasi dengan penyelanggara Karstological School. Lembaga ini kalau di Indonesia sama dengan LIPI.

Akhirnya saya bincang-bincang lewat email dengan Dr. Matjaz Kuntner seorang Arachnologist yang sebelumnya dikenalkan oleh Daniel Lumbantobing yang lagi belajar di GWU dan Smithsonian Museum melalui email.

Scientific nepotism

Akhirnya dengan menjalin komunikasi dengan Matjaz (baca: Matias) dia menawarkan diri untuk memberikan rekomendasi pada panitia agar aplikasi saya semakin kuat.

Kalau ini di Indonesia, bisa-bisa sudah di seret-seret sama KPK ini yang namanya “scientific nepotisme“, dimana secara keilmiahan rekomendasi tersebut sangat perlu karena ada rencana besar selain hanya datang di Karstological School.

Akhirnya berbekal pengalaman yang saya punya dengan daftar yang agak panjang, saya beranikan diri untuk mendaftar dengan mencantumkan surat rekomendasi dari Matjaz dan tidak banyak berharap karena hanya beberapa yang akan terpilih.

Me and Matjaz Kuntner in Piran, the old city

Setelah beberapa lama, sekitar bulan Maret 2009 saya memperoleh email yang menyatakan bahwa saya diterima untuk bergabung di International Karstological School yang rutin diselenggarakan di Postojna, sekitar 30 km dari Ljubljana (baca: Liubliana) ibukota Slovenia.

Kedutaan dan Visa

Kemudian, setelah memperoleh surat pemberitahuan dan sekaligus keterangan dari panitia, saya mulai untuk mengurus travel documents. Salah satu yang paling penting adalah Visa untuk masuk ke Slovenia. Ternyata mencari kedutaan besar Slovenia di Tokyo tidak begitu sulit. Mungkin kalau di Indonesia bisa muter-muter nggak karuan.

Dari Mito ke Tokyo saya lebih senang naik bis daripada kereta ekonomi karena selain lebih nyaman, biayanya juga lebih murah selisih sekitar 1000 yen pulang pergi. Dengan bis yang berseliweran tiap satu jam di depan kampus semakin mudah dan nyaman karena tidak harus naik bis ke Mito Eki.

Dari Ueno Eki, kedutaan besar Slovenia dapat dicapai dengan Tokyo Metro naik Hibiya Line turun di Hiroo Eki. Dari Hiroo Eki lumayan berjalan kaki sekitar 15 menit.

Staf kedutaannya sangat ramah dan sangat membantu, ketika pertama kali saya datang ternyata ada beberapa dokumen yang masih harus saya lengkapi. Akhirnya banyak komunikasi lewat telepon.

Akhirnya, setelah dokumen lengkap aku menunggu dua minggu sampai visa keluar. Ternyata dalam dua minggu Visa Uni Eropa(Schengen) sudah bisa diambil di kedutaan. Setelah pemberitahuan, saya meluncur ke Tokyo untuk ambil visa dan menemui staf bagian VISA. Dengan ramah dia melayani dan meminta paspor saya untuk di tempel visa sekaligus membayar biaya visa sekitar 60 Euro. Setelah selesai, saya periksa dan mata saya langsung lihat “validity periods” yang ternyata karena kesalahan saya tidak cocok dengan jadwal penerbangan saya.

Salah satu sudut kota Ljubljana

Ganti Visa

Karena keteledoran saya, jadwal pesawat saya pulang ke Tokyo dari Amsterdam melebihi batas waktu VISA yang berlaku alias, saya jadi pengunjung ilegal selama 3 hari sebelum jadwal kembali ke Tokyo. Akhirnya dengan berdiskusi, mereka menyarankan untuk mencari perpanjangan visa di Kedutaan Perancis. Saya jadi ragu karena Perancis dikenal rese’ apalagi Belanda.

Akhirnya dengan merajuk, saya re-apply VISA di kedutaan Slovenia untuk memperoleh period stay yang sesuai. Meskipun petugasnya bilang, pengeluaran VISA tergantung persetujuan dari Ljubljana.

Setelah hampir seminggu menjelang keberangkatan ke Paris, saya harus konfirmasi persetujuan VISA saya karena kalau tidak disetujui saya harus ganti jadwal pulang ke  Tokyo dengan harus menambah biaya tambahan.

Namun, 3 hari menjelang batas akhir ternyata VISA pengganti saya disetujui. Akhirnya saya meluncur ke Paris menggunakan Air France kemudian dilanjutkan dari Paris ke Ljubljana yang memakan waktu cukup panjang.

Sampai di Ljubljana sekitar pukul 10 malam masih dalam tanggal yang sama dengan Tokyo meskipun saya berangkat jam 10 pagi dari Tokyo.

Akhirnya, saya menjejakkan kaki di Slovenia, negeri dimana cerita dan sejarah ilmu perguaan dan karst dimulai …….. (Bersambung)

Advertisements
3 Comments leave one →
  1. February 24, 2010 11:08 am

    tidak sabar menunggu kelanjutannya.

  2. May 24, 2014 4:08 pm

    Mas, dulu apply visa nya di Tokyo ya berarti bukan di Jakarta?

    • May 24, 2014 5:35 pm

      Iya dulu apply di Tokyo di KEDUBES SLOVENIA. krn negara kecil jd enak urusan visanya. Sy sempat salah visa kr tgl kepulangan… tp mrk dg ramah memgganti tanpa hrs bayar lagi..

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: