Skip to content

Isoptera 2: Death of an order – kegaduhan taksonomi yang berdampak sistemik

February 25, 2010

Termites (From Insect Drawing Galery)

Dalam tulisan sebelumnya, berdasarkan hasil analisis molekuler dan analisis morfologi menunjukkan bahwa rayap masuk dalam golongan kecoak. Sehingga konsekwensi dari analisis filogeni tersebut diusulkan bahwa ISOPTERA tidak digunakan lagi untuk nama kelompok rayap dan sekaligus ditempatkan suku Termitidae untuk mengakomodasi semua jenis rayap dan tingkatan famili yang ada sekarang diturunkan tingkatan taksonnya (Iswald et al, 2007).

Namun, usulan itu ternyata menimbulkan “kegaduhan taksonomi” khususnya dalam penamaan dan status taksonomi rayap yang saat ini telah cukup mapan (Lo et al., 2007). Usulan menurunkan tingkatan klasifikasi dari ordo ke tingkat famili menjadi famili Termitidae membawa konsekwensi semua nama tujuh famili yang saat ini dikenal di rayap harus turun tingkat menjadi subfamili.

Sementara pemakaian nama Termitidae sendiri sudah digunakan pada tingkatan famili saat ini begitu juga sub famili Termitinae.

Sehingga untuk menjawab komentar dari Lo et al. (2007), Egleton et al (2007) memberikan solusi untuk berkompromi sehingga tidak terjadi kegaduhan taksonomi seperti yang disebutkan oleh Lo dan kawan-kawan.

Seperti yang diusulkan oleh Lo dan kawan-kawan sebelumnya, salah satunya adalah membiarkan nama Isoptera sebagai nama yang tidak ada tingkatannya dalam lingkup Blattodea.

Namun, usulan ini dianggap kurang tepat karena tidak perlu dan tidak memuaskan. Hal ini disebabkan karena Cryptocercus sebagai takson kerabat terdekat dari rayap merupakan kelompok kecoak, maka kedua turunan ini semestinya diletakkan dalam tingkatan takson dibawah ordo.

Usulan kedua untuk memperlakukan turunan ini sebagai superfamili dianggap akan menyebabkan penggelembungan nama dalam kecoak pada satu tingkatan takson dimana dianggap tidak diperlukan.

Usulan ketiga yaitu menggunakan tingkatan epifamili, yaitu tingkatan diantara superfamili dan famili dianggap dapat menyelesaikan permasalahan sekaligus memberikan keuntungan yaitu dampak yang sedikit pada klasifikasi rayap maupun kecoak pada umunya.

Meredam kegaduhan

Usulan Sistem Klasifikasi kelompok kecoak di dalamnya ada rayap (Egleton et al, 2007)

Sehingga Egleton dan kawan-kawan mengusulkan sistem klasifikasi yang baru yaitu dengan nama epifamili Termitoidae untuk rayap dengan tipe genus Termes Linnaeus 1785 dan epifamily Cryptocercoidae dengan tipe genus Cryptocercus Scudder 1862 untuk turunan Cryptocercus.

Selain mengusulkan nama dua epifamili, mereka juga mengusulkan satu nama epifamili yaitu epifamili Blattoidae dengan tipe genus Blatta Linnaeus 1758 untuk turunan kelompok famili Blattidae.

Dari kompromi yang diusulkan oleh Egleton dkk (2007) dalam merespon masukan dari Lo et al. (2007) diharapkan dapat memberikan penyelesaian bagi permasalahan taksonomi sekaligus juga memberikan dasar yang kuat pada kestabilan klasifikasi.

Dampak bagi mata kuliah biologi

Dari artikel-artikel tersebut, sudah selayaknya untuk meninjau lagi buku-buku teks yang ada di universitas dalam program studi biologi atau ditingkat ajaran sekolah menengah meskipun masih belum ada kesepakatan antar taksonom rayap terhadap klasifkasi tersebut.

Selain itu dosen maupun guru juga mampu memberikan informasi tentang perubahan sistem klasifikasi rayap dan kecoak sehingga mahasiswa dapat mengetahui bahwa sistem klasifikasi dan penamaan hewan sangat dinamis dan berubah sesuai perkembangan ilmu yang ada.

Meskipun disadari semua itu mungkin tidak ada ‘artinya’ bagi mereka yang tidak akan menekuni dunia taksonomi seperti yang pernah saya ingat dulu ketika duduk di bangku kuliah, mata kuliah taksonomi merupakan satu mata kuliah yang ‘membosankan’ sekaligus sulit karena kita harus menghafal satu persatu nama ordo atau famili sekaligus karakter pembeda di tiap-tiap ordo.

Namun, saat ini ketika saya harus berkecimpung di dunia taksonomi semua itu memberikan kenikmatan dan keasyikan tersendiri terutama ketika kita mengetahui bahwa sistem klasifikasi itu sangat dinamis terutama dengan perkembangan ilmu filogeni yang berkembang pesat akhir-akhir ini terutama didukung oleh perkembangan ilmu molekuler.

Sehingga, bagi para mahasiswa biologi, mulailah untuk menikmati bagaimana mengklasifikasikan tumbuhan dan hewan dan temukan nikmatnya bagaimana membedakan satu kelompok takson dengan takson yang lainnya.

Selamat mencoba menjadi taksonom, karena Indonesia sangat miskin taksonom dibandingkan orang-orang yang hanya pinter berteriak-teriak dipinggir jalan meneriakkan ketidakadilan dan perang melawan korupsi.

Sementara, mereka tidak pernah menyadari kalau teriakan mereka juga terkadang diperlukan untuk memperjuangkan keberadaan ilmu taksonomi dan manfaatnya bagi kemajuan bangsa. Tapi, apa artinya taksonomi dan sistematika .. yang mereka kenal hanya Dampak Sistemik tentang kasus Bank Century.

Layakah taksonom melaju ke Senayan atau setidaknya ada Rapat Dengar Pendapat antara anggota dewan dengan para taksonom Indonesia???

Majulah taksonomi Indonesia!!

Source:

1. Insect Drawing Galery

2. Taxonomic Nirvana

Advertisements
3 Comments leave one →
  1. February 25, 2010 10:58 am

    nanti kalo ria punya anak ria sarankan jd taksonom

    • February 25, 2010 11:04 am

      ya sudah… jadikan generasi Taksonom…

      • March 1, 2010 9:07 pm

        amiin.. pokoknya ria sudah bertekad punya anak satu masuk jurusan biologi, satu lagi planologi.. haruuus hehe

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: