Skip to content

Taksonomi – cinderella-nya IPTEK yang terpinggirkan

March 1, 2010

Cinderella, yang teraniaya dan terpinggirkan

Tidak hanya di Indonesia, Taksonomi di dunia ilmu pengetahuan biologi sendiri ternyata semakin terpinggirkan. Adalah Jose M. Padial dan koleganya yang memprihatinkan fenomena tersebut. Dalam artikel yang ditulisnya beberapa tahun lalu di ZOOTAXA 1577 halaman 1-2 pada tahun 2007 dia menuangkan keprihatinannya tersebut dalam artikel berjudul “Taxonomy, the cinderella of science, hidden by its evolutionary stepsister”.

Di tengah hiruk pikuknya perayaan 300 tahun peringatan bapak taksonomi dunia, Carl. Linnaeus pada waktu itu, mereka prihatin adanya kecenderungan yang berbahaya dalam kajian filogeni. Terutama temuan-temuan taksonomi yang ditempatkan pada ‘appendices‘  atau lampiran dari suatu kajian kelimuan.

Kajian yang lebih banyak mengungkap tentang biogeografi dan hipotesis evolusi suatu organisme telah terbentur dengan permasalahan bagaimana menindaklanjuti temuan-temuan taksonomi selama melakukan kajian tersebut.

Karena penulis terkadang dituntut oleh  kebijakan editorial dari jurnal yang mempunyai ‘impact factor’tinggi sehingga harus mengesampingkan temuan taksonomi mereka sendiri atau meminggirkan temuan tersebut dalam lampiran-lampiran online.  Kecenderungan ini semakin banyak ditemukan akhir-akhir ini terutama dengan meningkatnya kajian filogeni tanpa mempunyai tujuan klasifikasi.

Phantom "taxonomies"

Phantom taxonomies

“Phantom” menurut beberapa kamus bahasa inggris bisa diartikan sebagi “sesuatu yang bisa dilihat, didengar bahkan dirasakan namun secara fisik tidak pernah ditemukan. Phantom taksonomi dengan mudah ditemukan di lampiran-lampiran online dan sangat mudah untuk diunduh namun akan muncul kesulitan ketika akan melacak temuan ‘taksonomi baru’ atau bahkan penulisnya sekalipun.

Sebelumnya pernah dikenal‘phantom nomina’ yang dikenalkan oleh Vences dkk (1999) dan istilah ‘phantom references’yang dikenalkan oleh Dubois (1999). ‘Phantom nomina’ atau nama yang secara tidak sengaja muncul dalam publikasi yang amatiran tanpa deskripsi dan spesimen contoh yang layak. Sedangkan ‘phantom references’mengacu pada artikel-artikel yang yang dikenal dengan ‘in press’ atau‘in prep’ namun tidak pernah dipublikasi di kemudian hari.

“Phantom taxonomies’ suatu saat tidak hanya rentan untuk diabaikan namun sekaligus tidak dapat diterima oleh  International Commision of Zoological Nomenclature. Dalam kontek persyaratan yang tertuang dalam ICZN  (International Code of Zoological Nomenclature) dikenal dengan ‘nomina nuda’yaitu sebuah nama yang tidak punya arti apa-apa karena tidak diikuti oleh penjelasan, definisi maupun deskripsi yang layak untuk sebuah temuan taksonomi baru.

Dalam persyaratan yang tertuang dalam ICZN sangat dianjurkan sebuah temuan taksonomi dipublikasikan secara jelas dalam jurnal sebagai sebuah catatan temuan baru yang terbuka untuk umum dan sekaligus bersifat tetap  seperti yang dipersyaratkan dalam“article8.1.1”. Selain itu, nama temuan taksonomi baru harus dipublikasi dalam jurnal cetak yang sedikitnya tersimpan dalam 5 perpustakaan yang dapat diakses oleh khalayak umum seperti yang dipersyartakan dalam ‘article 8.6’.

8.1. Criteria to be met. A work must satisfy the following criteria:

8.1.1. it must be issued for the purpose of providing a public and permanent scientific record,

8.1.2. it must be obtainable, when first issued, free of charge or by purchase, and

8.1.3. it must have been produced in an edition containing simultaneously obtainable copies by a method that assures numerous identical and durable copies.

8.6. Works produced after 1999 by a method that does not employ printing on paper. For a work produced after 1999 by a method other than printing on paper to be accepted as published within the meaning of the Code, it must contain a statement that copies (in the form in which it is published) have been deposited in at least 5 major publicly accessible libraries which are identified by name in the work itself.

ICZN

Melanggar persyaratan ICZN

Temuan-temuan taksonomi baru yang ditempatkan dalam lampiran-lampiran online yang dapat diunduh, selain melanggar persyaratan dalam ICZN sekaligus juga tidak mendukung “taksonomi” sebagai sebuah ilmu.

Deskripsi takson baru dan hipotesis sebuah nama baru merupakan hipotesis taksonomi yang tidak dapat ditempatkan pada lampiran online yang tidak berpenulis.

Informasi taksonomi layak diperlakukan sebagai informasi yang relevan. Selain itu hipotesis taksonomi semestinya dapat dijangkau oleh setiap orang yang memerlukan dalam jangka waktu yang lama dan hal ini hanya dapat dicapai ketika informasi temuan taksonomi menjadi bagian utama dari artikel tersebut.

Sudah selayaknya temuan taksonomi selain dapat dijangkau semua orang sekaligus mampu bertahan dalam jangka waktu yang lama sehingga dapat menjadi acuan dimasa yang akan datang.

Publikasi terpisah

Sekiranya keterbatasan halaman dalam publikasi menjadi hambatan, namun tetap selayaknya temuan taksonomi tersebut diperlakukan dengan kaidah-kaidah yang disebutkan sebelumnya.

Selain itu, taksonomi tidak bisa ‘diturunkan’  hanya karena keterbatasan jumlah halaman. Data informasi taksonomi yang tidak layak hanya untuk mengejar kecepatan publikasi sama sekali tidak bisa diterima.

Untuk mengantisipasi permasalahan dan alasan yang telah disampaikan sebelumnya, taksonom hendaknya mendorong penulis, penelaah jurnal dan referee untuk tidak hanya melampirkan deskripsi, definisi takson baru dan usulan perubahan takson ke dalam lampiran-lampiran online.

Sekiranya taksonom tidak bisa mencantumkan dalam tulisan utama dalam kajian biogeografi atau filogeni, hendaknya temuan tersebut dipublikasi terlebih dahulu di jurnal yang di telaah secara penuh (full peer-reviewed articles).

Semoga ke depan taksonomi tidak hanya menjadi lampiran-lanpiran atau orang-orang yang bekerja menekuninya tidak dianggap orang-orang aneh atau “alay”.

Meskipun terpinggirkan dan teraniaya oleh saudara-saudaranya seperti Cinderella, tapi semoga taksonomi tetap dicari seorang “pangeran” yang mencari pemilik sepatu yang hilang untuk jodohnya. Dengan kata lain, IPTEK tanpa TAKSONOMI ibarat sang Pangeran tanpa Cinderella.

Disarikan dari Jose M. Padial dan Iganico De La Riva (2007), Zootaxa 1577:1-2

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: