Skip to content

Opiliones 1: Pengembaraan si kecil dari Gondwana sampai Sundaland

March 8, 2010

Stylocellus sp. dari Gunung halimun

Hewan kecil berkaki delapan ini mungkin tidak banyak dikenal oleh masyarakat luas, karena tempat hidupnya yang sangat unik dan khas yaitu di kantong-kantong serasah di hutan-hutan yang belum terganggu. Beberapa jenis juga ditemukan hidup di dalam gua-gua di beberapa pulau besar di Indonesia.

Hewan kecil yang masuk ke golongan Arachnida ini dikelompokkan dalam ordo Opiliones sub ordo Cyphophthalmi. Salah satu famili yang dikenal di kawasan Asia Tenggara adalah Stylocellidae yang mempunyai beberapa marga. Adalah Ronald M. Clouse dan Gonzalo Giribet dari Harvard University, USA yang mencoba mempelajari keanekaragaman dan sekaligus pola penyebaran dan evolusi famili ini di Asia Tenggara dari Thailand, Malaysia, Sumatra, Jawa, Borneo, Sulawesi sampai Papua.

Pada tahun 2006, saya berkesempatan bersama mereka untuk melakukan perjalanan di beberapa gunung-gunung di Pulau Jawa seperti Gunung Salak, Gunung Gede Pangrango, Gunung Cikuray, Gunung Guntur, Gunung Papandayan sampai Gunung Sawal di daerah Ciamis.

Selain itu, kita juga menyelusuri gunung yang tersebar di Sulawesi Utara, terutama di daerah TN Boganinani Wartabone dan beberapa gunung di sekitar Kotamobagu. Kemudian, kita juga melanjutkan perjalanan ke daerah Sulawesi Selatan mengunjungi Gunung BawaKaraeng dan kawasan karst Maros di daerah Karaenta.

Dari perjalanan itu, mereka berhasil mengetahui bagaimana famili Stylocellidae di Asia Tenggara menyebar dan berevolusi sehingga menjadi beberapa jenis yang dikenal saat ini yang tersebar dari Semenanjung Malaysia sampai Papua.

Baru-baru ini, Clouse dan Giribet menerbitkan satu artikel di Journal of Biogeography (2010) dengan judul When Thailand was an Island – the phylogeny and biogeography of mites harvestmen (Opiliones, Cyphophthalmi, Stylocellidae) in Southeast Asia”.

Dari artikel yang ditulis mereka, saya mencoba menyarikan dan memaparkan dengan bahasa yang lebih mudah dipahami dalam bentuk sebuah dongeng, namun bisa saja terjadi kesalahan pemahaman dari apa yang saya baca dan saya paparkan.

Gondwana – tanah leluhur

Gondwana, benua raksasa

Pada jaman dahulu kala, tersebutlah sebuah benua raksasa yang dikenal dengan nama Pangaea. Karena benua raksasa tersebut terapung diatas cairan yang selalu bergejolak, akhirnya benua raksasa itu pecah menjadi dua bagian.

Perpecahan ini menghasilkan benua yang berukuran hampir sama besar yaitu menjadi Gondwana yang bergerak ke selatan dan Laurasia yang bergerak ke arah utara. Perpecahan itu terjadi sekitar 180-200 juta tahun lalu.

Pecahan yang disebut Gondwana merupakan benua raksasa yang saat ini menjadi Amerika Selatan, Afrika, India, Australia dan Antartica.

Asal-usul

Di benua raksasa Pangaea inilah terkisah hidup trah Cyphophthalmi (dikenal dengan Trah Cyphos) yang terdiri dari beberapa keluarga besar antara lain Keluarga Troglosironidae (dikenal dengan Troglo), Keluarga Neogoveidae (dikenal Neog) , Keluarga Sironidae (dikenal Siro), Keluarga Petallidae (dikenal dengan Pettal) dan Keluarga Stylocellidae (lebih akrab dipanggil Stylo).

Kelima keluarga besar tersebut berkerabat satu sama lain dimana Pettal menjadi keluarga yang yang paling tua dan menurunkan keturunan yang menjadi keluarga Troglo, Neog, Siro dan Stylo.

Troglo dan Neog merupakan keluarga yang berkerabat dekat dengan Siro dan Stylo namun kemudian hidup terpisah satu sama lain.

Saat ini keluarga Troglo tinggal jauh terpisah dengan keluarga lainnya di pulau di Samudra Pasifik yang dikenal dengan tanah New Caledonia.

Sedangkan keluarga Pettal saat ini tinggal terpencar jauh di beberapa benua seperti di New Zealand, Australia, Srilanka di India bagian Selatan, Amerika Selatan bagian selatan dan Afrika bagian Selatan.

Keluarga Neog saat ini hidup di benua Afrika bagian tengan dan Amerika Selatan bagian utara.

Sedangkan keluarga Siro memilih tinggal di kawasan negara maju di Jepang, Amerika Utara dan Eropa.

Dan keluarga Stylo lebih senang memilih hidup di daerah tropis di kawasan Asia Tenggara.

Meskipun saat ini mereka saling berjauhan, namun sebelumnya mereka hidup berkumpul dalam benua raksasa Pangaea yang akhirnya tercerai berai karena gejala alam sehingga masing-masing keluarga tinggal di beberapa tempat yang terpisah satu sama lain.

Meskipun Trah Cyphos sebelumnya sudah terdiri dari beberapa keluarga di benua raksasa Pangaea, yang kemudian terpencar yang disebabkan karena gejala alam yaitu pergerakan ‘lempeng benua’ yang membuat mereka terpisah satu sama lain.

Kejadian seperti ini dalam teori biogeografi dikenal dengan ‘vicariant speciation’ dimana satu populasi besar seperti ‘trah cyphos’ terpisah dan terbagi menjadi beberapa populasi lain disebabkan karena fenomena alam seperti terpisahnya lempeng tektonik atau kejadian geologi lainya. Selain itu, “vicariant speciation’ dapat terjadi jika dalam populasi besar terdapat beberapa kelompok yang terpisah dari kelompok utamanya di sekitar jangkauan distribusi karena menemukan habitat baru. Sehingga kelompok kecil ini akhirnya berkembang secara terpisah dari kelompok utamanya dan perlahan menjadi dua kelompok yang berbeda”

Selain itu juga dikenal “Allopatric atau allopatry” yang dalam istilah biogeografi dikenal dengan organisme yang mempunya daerah jelajah yang terpisah satu sama lain, atau tidak pada satu tempat yang sama karena terpisah oleh gejala alam. Organisme ini merupakan hasil dari proses “allopatric speciation”

Keluarga Siro dan Stylo

Saat ini saya hanya akan mendongeng tentang keluarga Siro dan Stylo yang lebih banyak akan mendongeng tentang keluarga Stylo. Seperti dijelaskan sebelumnya, keluarga stylo merupakan salah satu kelompok fauna yang tercerai berai dan akhirnya tinggal di Gondwana  dan akhirnya mereka menyebar khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Konon, keluarga Stylo berdasarkan hasil analisa “penanggalan molekuler” diperkirakan keluarga ini mulai berpisah dari kerabat terdekatnya yaitu keluarga Siro sekitar 295 juta tahun yang lalu.

Keluarga Stylo mulai membangun keluarga besar dan berkembang menjadi berbagai macam marga dan menghuni kawasan Asia Tenggara dan terpisah dari kerabatnya, Siro, yang banyak ditemukan di belahan Amerika Utara, Jepang  dan Eropa.

Sebaran jenis keluarga Petallidae, Boyer & Giribet (2007)

Pada waktu itu, mereka bertetangga dekat tidak  terpisah dengan jarak yang cukup jauh seperti yang ada saat ini.

Karena saat itu kawasan Asia Tenggara hanya dihubungkan oleh pantai purba yang membentang sepanjang Afrika bagian utara dan kawasan Arabia sepanjang garis pantai “Palaeo Tethys” yang diperkirakan terjadi sekitar 299-284 juta tahun lalu (awal Permian).

Keluarga Stylo berkembang menjadi berbagai marga yang saat ini banyak tersebar di Thailand, Malaysia dan pulau-pulau Indonesia diperkirakan terjadi sekitar 258 juta tahun lalu.

Hal ini sesuai dengan terjadinya pengapungan teras Sibumasu yang menjadi bagian tepi sebelah timur dari benua purba Cimmerian yang bergerak ke utara yang saat ini daerah tersebut memanjang dari utara timur India ke bagian selatan ke semenanjung Thai-Malaya.

Teras ini deperkirakan terpisah dari Gondwana sekitar 260-254 juta tahun lalu (Akhir Permian).

Sibumasu – sebuah awal

Di Sibumasu inilah akhirnya keluarga Stylo memulai masa kejayaannya. Sibumasu yang saat ini dikenal dengan Semenanjung Thai-Malay, merupakan tempat dimana keluarga Stylo mulai berkembang menjadi beberapa marga yang terjadi 258 juta tahun lalu.

Dari perkembangan awal Stylo kemudian mempunyai keturunan awal dalam keluarga Stylo yang dikenal dengan marga Stylocellus (dipanggil Stylos), marga Fangensis (dipanggil Fang) dan keturunan lain yang dikenal dengan marga Meghalaya (dipanggil Megha) yang kemudian menyebar ke arah utara menjauhi semenanjung menuju India bagian utara timur.Megha memisahkan diri ke utara sekitar 109 juta tahun lalu.

Dua marga lain yaitu Miopsalis (dipanggil Miop) dan Leptosalis (dipanggil Lepto). Miop diduga sebagai anggota keluarga Stylo meskipun keberadaannya dalam keluarga masih dalam perdebatan. Sedangkan Lepto diperkirakan sebagai nama lain dari Stylos meskipun masih perlu konfirmasi lebih lanjut.

Fang, Miop dan Stylos terpisah menuju ke selatan ke daerah yang lebih sejuk dimana matahari bersinar sepanjang hari. Pengembaraan Fang, Miop dan Stylos ke daerah selatan terjadi lebih dulu dibandingkan Megha yang mengembara ke utara.

Pengembaraan Fang dan Stylos keselatan terjadi sekitar 199 juta tahun yang lalu. Jauh sebelum Megha mengelana ke arah utara menuju tepi timur Himalaya. Sedangkan Miop belum diketahui sejak kapan mengembara ke timur sampai Borneo.

Sepanjang perjalanan, Fang memilih menetap di kawasan Thailand dan mereka membangun marga Fang di negara gajah Putih. Di Negeri Gajah Putih ini generasi Fang semakin besar dengan beberapa keturunannya seperi Fangensis insulanus, Fangensis cavernarum, Fangensis spelaeus dan Fangensis leclerci

Sedangkan Stylos lebih senang melanjutkan pengembaraannya ke arah timur dan tenggara menuju tanah harapan di Tatar Sundaland.

Kisah pengembaraan Stylos ke arah timur dan tenggara menuju tanah harapan di Borneo, Andalas, Celebes, Jawa Dwipa dan Papua akan dilanjutkan pada dongeng berikutnya.#CR#

(Bersambung)

Dongeng ini juga dapat dibaca di BLOG LIPI

* Buat : Nurkahfi Amran Rahmada dan Gantari Nafisa Rahmada di Bogor

* For : Ron and Gonzalo – when we had fun and joy to climb many mountains. Thanks for sharing with me. I am waiting the next tales of cyphos.


Ron in Gunung Cikaray, Garut

Ron and Gonzalo in Gunung Cikuray, Garut

Ron, Gonzalo, me and the "caping" seller in Gede Pangrango

In the corridor of Maros Karst

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: