Skip to content

Taksonomi dan posisi Indonesia

March 10, 2010

Gedung inilah yang menyimpan koleksi sekaligus tempat dimana orang-orang yang bergelut dalam dunia taksonomi di Indonesia

Taksonomi merupakan satu bidang yang mungkin masih sangat asing bagi bangsa Indonesia. Banyak masyarakat umum pasti tidak menganggap bagaimana taksonomi dapat berperan bagi kemajuan bangsa dan membantu meningkatkan kesejateraan hidup.

Dibandingkan bidang lain seperti teknologi informasi, ekonomi, politik, komunikasi dan lain sebagainya, taksonomi masih menjadi satu hal yang asing dan sulit dimengerti oleh masyarakat umum.

Apa itu taksonomi

Taksonomi (taxonomy) merupakan salah satu cabang ilmu biologi yang merupakan rentetan proses penemuan, deskripsi, klasifikasi dan memberikan nama (nomenclature) pada suatu organisme.

Selain itu taksonomi merupakan sebagai bagian dari mempelajari hubungan tiap kelompok takson dan prinsip-prinsip yang ada di dalam proses klasifikasi yang lebih dikenal dengan sistematik.

Jadi sistematik (systematics) merupakan kajian yang lebih luas dari taksonomi tradisional dengan tambahan teori dan aspek praktis tentang evolusi, genetika dan spesiasi.

Selain itu, sistematik juga dapat digunakan untuk membantu mempelajari hubungan evolusioner antar organisme. Dalam konteks ini lebih banyak dikenal dengan filogeni (Phylogenetics).

Selain itu, taksonomi juga dapat diartikan sebagai mengklasifikan suatu organisme dalam tingkatan hirarki atau dalam tingkatan taksonomi (seperti kerajaan (kingdom), bangsa (ordo), suku (famili), marga (genus) dan jenis (spesies)) berdasarkan karakter-karakter yang sama.

Taksonomi di bangku kuliah

Bagi kalangan mahasiswa biologi pun yang jelas-jelas taksonomi menjadi tulang punggung perkembangan ilmu biologi masih menjadi hal yang aneh dan terkadang menjadi momok tersendiri.

Bagi mahasiswa, mata kuliah taksonomi adalah mata kuliah yang membosankan dan sulit karena harus menghafal satu persatu urutan klasifikasi, sistem penamaan dan membedakan satu keleompok takson dengan takson yang lain.

Saya tahu persis bagaimana taksonomi diajarkan di bangku kuliah dan asya disuguhkan dengan deretan nama-nama ordo, nama famili dan dilengkapi dengan karakter pembeda masing-masing kelompok. Itulah momok terbesar di mata kuliah taksonomi.

Dulu saya tidak pernah memahami kenapa saya harus menggambar ikan Cyprinus carpio atau  kadal Mabouya multifasciata. sementara disamping gambar dilengkapi deretan nama Ordo, Famili, Marga, Jenis. Setelah membuat deskripsi dari hewan yang saya lihat.

Inilah salah satu modal dasar taksonomi yaitu koleksi

Benar-benar tidak mengerti karena memang saya tidak pernah merasa diberi tahu atau mungkin saya yang tidak pernah memperhatikan apa pentingnya menggambar dan memberikan urutan klasifikasi satu nama hewan bahkan membuat deskripsi.

Mungkin juga para asisten praktikum juga tidak memahami mengapa harus menggambar dan mengapa harus diberi urutan klasifikasi. Selain itu, apa yang menjadi bahan praktikum sesungguhnya mempunyai nama yang berbeda secara taksonomi alias salah identifikasi. Namun karena panduan praktikum mencantumkan nama itu sementara bahan praktikum yang dicari bukan itu akhirnya tetap saja sesuai dengan petunjuk praktikum.

Salah satu contoh hasil perkembangan ilmu taksonomi dan sistematika hewan

Taksonomi terkini

Saat ini mata kuliah taksonomi sudah turun drastis ditinjau dari jumlah SKS dibandingkan sewaktu saya masih kuliah. Beberapa mata kuliah taksonomi yang dulu dikenal dengan Taksonomi Tumbuhan/Hewan I-II sekarang banyak dilebur menjadi satu mata kuliah. Selain itu, Struktur dan perkembangan Tumbuhan/Hewan I-III juga konon banyak dilebur sehingga hanya menjadi dua mata kuliah.

Sehingga, pengetahuan taksonomi mahasiswa saat ini terhadap taksonomi dan ilmu yang berkaitan erat di dalamnya semakin menipis mengingat semakin dangkal pengetahuan yang diperoleh.

Banyak mahasiswa lebih banyak tertarik ke mata kuliah yang lebih ‘seksi’ seperti Mikrobiologi, Biokimia atau Biologi Molekuler yang banyak bekerja di dalam labaoratorium meskipun semua topik itu tetap menggunakan dasar Taksonomi sebagai tulang punggungnya.

Taksonomi sebagai dasar untuk menentukan berbagai jenis makhluk hidup menjadi pondasi yang sangat penting bagi ilmu-ilmu lain yang menggunakan makhluk hidup/organisme sebagai dasar penelitian. Kesalahan identifikasi suatu makhluk, tentu saja akan berimplikasi pada kesalahan atau ‘misleading’ terhadap hasil penelitian.

Perkembangan Taksonomi

Saat ini, taksonom lebih banyak berkumpul di museum atau di lembaga penelitian sementara jumlah taksonom di universitas yang jumlahnya terus menurun dan  hasil-hasil temuan jenis baru pun semakin jauh dari harapan atau bahkan boleh dibilang sangat jarang.

Salah satu fakultas biologi yang dulu dikenal dengan “taksonomi’ sebagai trademark-nya, sepertinya saat ini mulai kehilangan roh-nya mengingat tidak banyak sumber daya manusia yang benar-benar mempelajari taksonomi sebagai bidangnya. Temuan-temuan jenis baru atau tinjauan taksonomi pun tidak banyak dihasilkan terutama dalam skala global.

Sementara publikasi di jurnal-jurnal tentang temuan jenis baru juga masih relatif sedikit dibandingkan dengan negara lain seperti China, Amerika dan bahkan Malaysia.

Publikasi taksonomi

Sebagai media publikasi, jurnal taksonomi adalah salah satu media yang digunakan untuk mengumumkan sekaligus menetapkan satu temuan jenis baru.

Salah satu jurnal taksonomi hewan yang terdepan dan tercepat saat ini adalah ZOOTAXA, dimana hampir dalam waktu yang sangat singkat, puluhan temuan jenis baru dari seluruh dunia dipublikasikan.

Berdasarkan perhitungan statistik dari jurnal Zootaxa, sampat saat ini telah dideskripsi sedikitnya 13648 dari berbagai kelompok hewan dari seluruh dunia.

Dari semua jenis yang dideskripi dan dipublikasi, kelompok yang paling banyak adalah kelompok Diptera sebanyak 2077 jenis.

Dilihat dari jumlah penulis berdasarkan produktifitas menulisnya didominasi oleh China dan Singapura. Dari 10 penulis yang paling produktif berasal dari China disusul dari Singapura dan selebihnya diperingkat 3 sampai 10 diduduki oleh penulis dari China juga.

Di lingkup Asia, China juga negara paling tinggi jumlah penulis dalam mempublikasikan tulisannya di jurnal ZOOTAXA sebanyak  564 penulis disusul Jepang (160 penulis) kemudian India sebanyak 118 penulis. Sementara Indonesia hanya berkontribusi sebanyak 17 penulis dari sekian ratus juta penduduknya. Sementara posisi Indonesia justru berada di bawah Malaysia dan Singapura yang notabene jumlah penduduknya tidak lebih dari seperempat penduduk Indonesia.

Sumber:

1. Sistematika Hewan

2. Zootaxa

3. Taxonomic nirvana

4. Taksonomi di kelautan

5. Indonesia Krisis Taksonom

Advertisements
2 Comments leave one →
  1. October 10, 2011 12:27 pm

    “Indonesia hanya berkontribusi sebanyak 17 penulis dari sekian ratus juta penduduknya”. Ironis ya, apalagi mengingat kekayaan hayatinya :(

    • October 10, 2011 1:46 pm

      terlalu banyak IRONI di negeri Ini … Indonesia seprti menjadi Bangsa Ironi .. hehehee..

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: