Skip to content

Opiliones 2: Stylos – pengembara Nusantara

March 12, 2010

Stylos, sang pengembara nusantara (Stylocellidae, sp.)

Setelah dongeng sebelumnya menceritakan bagaimana keluarga Stylo berkelana hingga beberapa marga-nya seperti Megha, Fang, Miop dan Stylos (Lepto) akhirnya sampai di tempat di mana mereka saat ini berada. Ketika kemudian Fang akhirnya memilih negeri gajah putih sebagai tempat untuk menetap hingga akhirnya mempunyai empat keturunan disana.

Sedangkan kerabatnya, Stylos, yang terus mengelana ke selatan dan kemudian ke timur lebih tertantang untuk mengelana di Nusantara yang sebagian besar menjadi apa yang sekarang disebut dengan INDONESIA.

Masih dari artikel yang sama yang ditulis oleh Clouse dan Giribet (2010) yang terbit di Journal of Biogeography dengan judul “When Thailand was an island – the phylogeny and biogeography of mite harvestman (Opiliones, Cyphophthalmi, Stylocellidae) in Southeast Asia ” saya mencoba kembali memaparkan pengembaraan Stylos di bumi Nusantara.

Sibumasu dan Keluarga Sytlo

Sebelum memulai dengan pengembaraan Stylos di Nusantara, lebih baik sedikit meninjau ulang bagaimana keluarga Stylo diyakini berasal dari Sibumasu, yang saat ini berdasarkan Metcalfe (1998) dikenal dengan semenanjung Thai-Malay.

Clouse dan Giribet meyakini bahwa daratan Sibumasu merupakan tempat dimana keluarga Stylo berawal. Keluarga Stylo diyakini memulai perkembangan dengan didukung oleh bukti-bukti bahwa turunan pertama keluarga Stylo yaitu Fang, dan sekaligus Megha hanya ditemukan di pusat semenanjung ke arah utara.

Meskipun ada beberapa  anggota marga Fang yang hanya ditemukan di Sibumasu. Selain itu, diperkirakan India, khususnya bagian selatan, Sri Lanka, mengambil anggota jenis trah Cyphos yaitu keluarga Pettal terjadi ketika terjadinya tumbukan lempeng India dengan semenanjung dan sebelah utara Sumatra kira-kira 40 juta tahun lalu.

Terangkatnya Borneo

Dari hasil analisis pohon filogeni yang disajikan oleh Clouse dan Giribet, mereka menyimpulkan terangkatnya Borneo menjadi daratan ketika Cretaceous memungkinkan Stylos untuk ekspansi ke arah selatan. Dari sini Stylos diperkirakan terpisah menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama menetap di bagian barat Borneo dan kelompok kedua yang lebih ke selatan menuju sebagian kecil Borneo namun lebih banyak ke Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa, Sulawesi, bahkan sampai ke timur jauh di Papua.

Borneo sebelah barat inilah yang kemudian diperkirakan menjadi tempat berikutnya dimana Stylos kemudian berkembang pesat. Selain itu, dari kelompok pertama ini terbukti adanya “jembatan” yang menghubungkan antara sebelah barat Borneo dan ujung selatan Semenanjung Thai-Malay dan  bagian tengah Sumatra pada era Cenozoic atau sekitar 65-1.8  juta tahun lalu.

Dari kelompok pertama yang menuju ke Borneo, akhirnya semakin ke utara dan timur dan berkembang pesat di bagian timur laut Borneo. Sedangkan kelompok kedua berkembang pesat di tatar Sundaland.

Peta Sebaran Stylos dan kerabatnya di Nusantara (dari Clouse & Giribet 2010)

Stylos – sang pengembara

Stylos kelompok kedua yang menyebar lebih ke selatan, dan di luar Borneo akhirnya berkembang sepanjang bagian bawah semenanjung yang saat ini dikenal dengan “Kepulauan Riau Lingga”  dan menembus ke pedalaman Sumatra.

Stylos semakin diyakini sebagai kelompok pengembara yang menjelajah Nusantara dan sekaligus kelompok yang mempunyai banyak keturunan seperti yang terdapat di Borneo, semenanjung dan Sumatra.

Kemudian, kelompok lain akhirnya juga berkembang dan muncul di Jawa, Sulawesi dan bahkan sampai di timur jauh di Papua.

Lantas bagaimana Stylos mampu menyebar dari Borneo ke Sulawesi bahkan sampai ke Papua yang konon diyakini Sulawesi dan, apalagi, Papua tidak pernah menjadi bagian dari paparan Sunda?

Jembatan penghubung Borneo dan Sulawesi

Wilson & Moss (1999)

Para geolog yang mempelajari bagaimana nusantara ini berubah-ubah hingga seperti saat ini meyakini jika Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa dan Borneo merupakan satu paparan yang lebih dikenal dengan Paparan Sunda, ada yang menyebut Sundaland atau Sunda Shelf.

Sehingga, seperti A.R.Wallace sadar betul ketika dia membandingkan kekayaan fauna antara daerah Sumatra, Jawa dan Borneo yang sangat berbeda dengan Sulawesi bahkan Papua yang konon lebih dekat dengan Australia dibandingkan Asia.

Namun, hal ini sangat berbeda ketika pembicaraan perbandingan itu dalam kelompok yang sangat primitif alias “jadul” yang konon kelompok Stylos dan trah Cyphos secara umum, menjadi model yang paling tepat untuk mempelajari biogeografi.

Kembali ke masalah Borneo dan Sulawesi, konon diduga bahwa bagian barat dari Sulawesi bagian selatan, yang kini menjadi “Polda SulselBar”, pernah mempunyai jembatan yang menghubungkan ke Borneo bagian timur.

Jembatan ini konon terbentuk di Akhir Mesozoic yang kemudian terputus dan menjauh satu sama lain sampai sekitar 10 juta tahun lalu dimana Selat Makassar mulai terbuka selama Eocene.

Dengan jembatan inilah Stylos konon menyeberang dari Borneo ke Sulawesi, kemudian berkembang bersamaan dengan kelompok lain yang menetap di Borneo. Hal ini didukung dengan kedekatan kekerabatan antara Stylos di bagian barat Sulawesi dengan beberapa Stylos dari Borneo.

Stylos di Sulawesi bagian Barat, dalam hal ini ditemukan di Kawasan Karst Maros, masih belum dapat ditemukan hubungannya dengan jenis-jenis Stylos yang saat ini berada di gunung-gunung di Sulawesi Utara seperti di Boganinani Wartabone dan beberapa kawasan di Gunung Dua Saudara.

Namun, meskipun kedekatan keduanya belum diketahui Clouse dan Giribet meyakini jenis-jenis Stylos di Sulawesi utara berasal dari Sulawesi bagian barat dan penyebaran terjadi sekitar 15 juta tahun lalu. Sedangkan berdasarkan penanggalan molekuler terjadi sekitar 22 juta tahun lalu.

Tidak perlu “Jembatan Selat Sunda”

Meskipun saat ini Jawa dan Sumatra terpisah oleh Selat Sunda, namun konon sebelumnya merupakan bagian dari paparan Sunda yang merupakan daratan luas yang terhubung satu sama lain. Sehingga pergerakan penyebaran jenis Stylos dari Semenanjung Malaya, Sumatra dan jawa menjadi satu hal yang mungkin.

Pola penyebaran yang sama seperti yang terjadi dari Sulawesi barat ke Sulawesi Utara juga hampir sama ditemukan di beberapa jenis yang di Jawa dan Sumatra.

Sehingga keberadaan jembatan penghubung antara Jawa dan Sumatra yang saat ini sedang digagas yaitu “Jembatan Selat Sunda” menjadi tidak penting pada waktu itu bagi Stylos untuk bepergian ke Jawa.

Perkembangan jenis-jenis Stylos di Jawa, yang saat ini hanya ditemukan di gunung-gunung yang tinggi akibat dari perubahan dan kerusakan lingkungan, merupakan hasil perkembangan jenis-jenis Stylos yang bermigrasi ke Jawa.

Berlayar menuju Papua

Stylos yang saat ini ditemukan di Papua ternyata hanya ditemukan di Kepala Burung di daerah Manokwari. Usaha Clouse untuk menemukan Stylos di Papua Niugini tidak menghasilkan apapun.

Namun pertanyaanya, bagaimana Stylos yang konon merupakan kelompok Oriental bisa mengembara jauh sampai ke Papua?

Di Papua Barat khususnya Manokwari ditemukan ada dua jenis yaitu Stylocellus novaguinea dan Stylocellus lydekkeri yang dideskrispi oleh Clouse dan Giribet (2007).

Terdapat keanehan terhadapa temuan Stylos di Papua yang diskusikan oleh Clouse dan Giribet (2007) yang nanti akan sedikit saya ceritakan dalam dongeng berikutnya.

Berdasarkan penelitian terbaru, kedua jenis yang ditemukan di Manokwari tidak mempunyai kedekatan hubungan satu sama lain dimana Stylocellus novaguinea dan Stylocellus lydekkeri tidak berkerabat dekat meskipun keduanya ditemukan di tempat yang hampir berdekatan.

Kapal Pinisi, mungkinkan Stylos menggunakan Pinisi untuk berlayar dari Sulawesi ke Papua?

Namun kedekatan justru ditunjukkan antara Stylocellus lydekkeri dengan salah satu Stylos dari Sumatra dan satu jenis yang belum terdeskripsi yang ditemukan dekat dengan Stylocellus novaguinea.

Selain itu, Stylocellus novaguinea menunjukkan kedekatan dengan jenis Stylos dari Sulawesi Utara.

Perpisahan antara Stylocellus novaguinea dengan Stylos Sulawesi Utara diperkirakan terjadi sekitar 52 juta tahun lalu. Sedangkan Stylocellus lydekkeri terpisah dari Stylos Sumatra diperkirakan terjadi sekitar 3.9 juta tahun lalu, namun tetap masih meninggalkan pertanyaan.

Namun, dari apa yang ada saat ini diperkirakan penyebaran Stylos ke tanah Papua menggunakan peran ‘pelayaran antar benua’ yang menyebabkan mereka mampu menyebar hingga ke Papua meskipun diyakini tidak pernah ada “jembatan penghubung” yang membentang dari Sulawesi, Halmahera dan sampai ke Papua.

Meskipun demikian, pertanyaan masih banyak yang belum terjawab mengenai keberadaan Stylos di Papua sperti kemungkinan dugaan-dugaan terbawa oleh peran manusia meskipun hal ini masih sulit dibuktikan secara ilmiah.

Hilir mudik

Stylos juga digambarkan sebagai kelompok yang mampu untuk hilir mudik mengembara dari satu tempat ke tempat lain atau bahkan kembali lagi ke tempat asalnya meskipun sudah menjadi kerabat yang asing bagi Stylos yang menetap.

Seperti yang digambarkan sebelumnya, setelah mengembara ke Borneo, beberapa jenis yang berkembang di Borneo diperkirkan juga mampu kembali lagi ke Semenanjung atau menyebar ke Sumatra. Hal ini ditemukan dalam pohon filogeni dan juga digambarkan dalam peta sebaran Stylos di Nusantara.

Meskipun demikian, Sulawesi dan Papua tetap hanya mempunyai satu moyang yang sama dengan yang ada di Borneo, Sumatra, Jawa dan Semenanjung Thai-Malay. Begitu juga dengan Jawa, hanya satu kelompok/klade yang ditemukan di Jawa.

Hal ini berbeda dengan Semenanjung Malaya dan Sumatra di mana di sana ada dua kelompok yang berasal dari moyang yang berbeda.

Bagaimanapun, masih banyak misteri yang belum diungkap dari temuan ini. Saya berharap, dongeng ini mampu menggugah niat para ilmuwan khususnya Biolog Indonesia untuk berkolaborasi mengungkap secara bersama-sama misteri yang ada di pelosok Nusantara ini.

Hanya kerjasama dengan multi-bidanglah misteri akan terungkap secara menyeluruh sehingga ilmuwan Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Semoga  dalam dongeng berikutnya bisa saya ceritakan lagi tentang trah-trah lain yang ada di Indonesia dan petualangan Stylos maupun marga-marga lain di dunia.#CR#

Thanks for the time to read.

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: