Skip to content

Safety First – Caving next!

August 30, 2010

Safety, mungkin itu salah satu kata yang akrab bagi kita-kita yang giat di penelusuran gua. Para pegiat maupun penikmat penelusuruan gua pasti akan ditekankan prosedur keselematan.

Pecinta alam maupun kelompok caving akan menekankan keselamatan sebagai ‘materi’ dasar yang harus dikuasai oleh para calon penelusur gua atau lebih keren dipanggil “Caver”.

Keselamatan

Keselamatan dasar yang harus dipegang adalah mengenal bahaya apasaja yang bisa terjadi di dalam gua dan bagaimana mengantisipasi bahaya tersebut.

Prosedur keselamatan yang paling sederhana seperti memakai helm, memakai sepatu dan memakai baju yang bisa melindungi kulit dari goresan dan yang paling penting tentunya ada penerangan.

Setelah itu, baru memahami betul bagaimana prosedur keselamatan untuk penelusuran gua vertikal. Untuk melakukan penelusuran gua vertikal tentu saja harus memahami dan menghayati prosedur keselamatan penelusuran gua horisontal dengan menggunakan alat keselamatan minimal.

Penelusuran gua vertikal selain harus menguasai teknik penelusuran dan penguasaan dan pemahaman fungsiperalatan yang digunakan juga setidaknya menguasasi salah satu teknik “self rescue”.

Pemaham tali temali, penguasaan simpul dan pembuatan anchor yang aman menjadi kebutuhan mutlak untuk kegiatan penelusuran gua.

Keselamatan alat

Selain keselamatan sendiri, keselamatan alat juga menjadi pertimbangan sendiri, karena pada peralatan itulah, nyawa kita bergantung meskipun dicabutnya nyawa seseorang tergantung oleh kehendak yang Maha Kuasa.

Namun, jika kita teledor menjaga keselamatan alat, tentu saja mati konyol yang akan kita jumpai.

Alat vital yang paling perlu mendapat perhatian adalah tali, tali harus diperlakukan dengan lembut bukan hanya karena mahal, tapi tali juga salah satu alat yang paling sensitif.

Tali kadang seperti tidak menjadi bagian yang penting, pengepakan tali dan pemeliharaan tali terkadang ala kadarnya. Beberapa, cuma di letakkan begitu saja.

Selain itu, dalam pemakaian terkadang tali tidak diperhatikan untuk terhindar dari friksi dan lain sebagainya. Namun, jangan sampai terdengar berita ada caver jatuh karena putus talinya, entah karena friksi atau karena memang peralatan yang kurang memadai.

Perlakukan tali dan segenap peralatan seperti kita memperlakukan pasangan kita, dengan lembut meskipun tentu saja hidup kita tidak tergantung pada pasangan hidup melainkan pada tali, jummar, croll dan lainnya.

Kerjasama tim

Selain teknik, diperlukan juga kerjasama tim untuk menjagasatu sama lain makanya banyak teriakan-teriakan yang akrab didengar jika kita melakukan penelusuran gua seperti “rope freeeeeee……. !!, “fallllllll…….. “, yang mengindikasikan satu peringatan bagi rekan se tim.

Selain itu, budaya check dan re-check juga sudah semestinya dilakukan. Dimana salah satu penelusur gua yang akan turun atau naik harus selalu sedikitnya diperiksa oleh satu rekannya untuk memastikan semua peralatan seperti karabiner, descender, jammer, dan MR semua terkunci secara benar. Hal ini lah yang menjadi ‘inti” dari penelusuran gua, yakni kerjasama tim.

Kerjasama yang tidak hanya berpedomana pada berangkat bersama, rigging bersama, cleaning bersama, tapi lebih pada kedekatan untuk menjaga satu sama lain.

Sepertinya itu yang selama ini saya pahami di dalam hakikat, “penelusuran gua”.

Gua Jomblang dahulu kala

Fenomena Degradasi Keselamatan

Beberapa bulan terakhir, saya disuguhi berita-berita tentang kejadian-kejadian di dalam gua yang tidak mengindahkan arti keselamatan di dalam gua.

Dalam milist Indocaver, terungkap ada kejadian salah satu operator yang membawa rombongan wisatawan untuk menikmati indahnya hutan di dasar luweng Jomblang dan indahnya berkas sinar yang menghiasi Luweng Grubug. Namun ternyata, terdapat rintangan yang untungnya tidak membawa musiba.

Kejadian yang sudah semestinya tidak terjadi nyatanya terjadi di sekitar kita.

Setelah itu, muncul juga gambar-gambar yang membuat saya miris dan sekaligus ironis dengan aktifitas caving yang berlangsung belakangan ini.

Sekumpulan anak muda yang nampak terdidik, namun sepertinya lengah untuk memperhatikan keselamatan sendiri seperti yang saya temukan di Facebook.

Sangat ironis, bagaimana penelusuran gua sudah menjadi sekedar kegiatan panjat pinang untuk memperingati 17-an yang tidak perlu memperhatikan keselamatan diri sendiri.

Bagaimana meniti tali sudah seperti meniti tiang di lomba 17-an erte, berbekal sandal jepit dan topi yang keren  sudah layak untuk dipajang di dinding-dinding Facebook.

Justru alat pelindung seperti helm, sepatu dan baju pelindung tidak mereka kenakan yang ada hanya kamera mahal, HP yang bisa menjadi bahan narsis dan mengharap jempol-jempol dari teman-teman yang menontonnya.

Seandainya difacebook disediakan jempol kebawah, saya terus terang akan memberi berkali-kali jempol kebawah.

Tidak ada gunanya semua itu kalau justru itu menjadi ancaman bagi keselamatan. Bersukurlah karena masih bisa upload dan update status di Facebook.

Namun alangkah malangnya, jika tidak bisa upload atau update status yang menampilkan ke macho-an di dalam gua hanya gara-gara kejatuhan lumpur di kepala dan meninggal.

Teman saya Abe, berkelakar andai tidak memakai helm dan kejatuhan lumpur kecil yang menempel di bongkahan batu alangkah ironisnya. Meskipun pakai helm juga tidak akan menghindarkan kita dari maut. Namun setidaknya itulah yang bisa kita lakukan sedinin mungkin.

Saya sudah melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana helm bisa meminimalkan kecelakan dan luka. Sahabat karib saya, yang mengalami kecelakan di salah satu gua di Maros, mempunyai HELM PETZL model lama denganACETO yang terbuat dari entah ALOY-entah Besi yang jelas, besi aceto yang menahnya telah mengalami deformasi dan helm yang dikenakan mengalam retak membelah yang sampai saat ini saya belum bisa menemukan penjelasan atas kejadian itu.

Namun itulah kenyataan, bagaimana standar keselamatan telah menjadi barang asing bagi para “penelusur gua” dan para “penikmat gua”.

Terus terang, ini menimbulkan keprihatinan tersendiri buat saya pribadi dan yang jelas-jelas teman-teman yang masih mengedepankan keselamtan dalam penelusuran gua, SAFETY FIRST, Caving NEXT!!.

Langkah yang perlu diambil

Melihat fenomena degradasi ini, komunitas caver di manapun berada harus mulai mengevaluasi dan introspeksi. Sejauh mana komunitas yang ada, seperti Arisan Caving Yogyakarta, Arisan Caving Surakarta dan komunitas lain mengkampanyekan caving aman.

Apa yang terjadi di Jomblang, telah sedikitnya menunjukkan kegagalan kita untuk menkampanyekan dan mensosialisasikan CaVING AMAN.

Saya tidak mau melihat pihak mana yang semestinya bertanggung jawab, namun melihat pada fenomena ini sudah semestinya menjadi langkah kita untuk menekan agar tidak terjadi kejadian kecelakaan yang menurut kita konyol esperti kejatuhan kerikil karena tidak memakai helm, atau kaki patah karena sendal putus dan terpeleset jatuh.

Atau, jatuh dari ketinggian 20 meter karena harnes sobek atau kejadian konyol lain karena leher kecekik.

Hal ini sudah semestinya menjadi bahan diskusi untuk menyelesaiak permaslahan dan mencegah kejadian yang tidak diinginkan.

Bukan untuk mencari pihak yang salah, namun lebih pada keselamatan bersama.

Untuk itu, sebagai mantan pengurus Arisan Caving Yogyakarta, saya berharap, komunitas caving jogja dan sekitarnya dapat menemukan jalan keluar untuk permasalahan ini. Meningkatkan jalinan komunikasi dan sosialisasi antara pecinta alam dan kelompok spelelogi sehinggar terbangun pemahaman yang sama apa arti penting sebuah SAFETY.

Meningkatnya minat wisata ke gua, hendaknya juga bisa diantisipasi dengan menggunakan media komunikasi yang ada untuk mengetahui satu sama lain yang bermain di ‘wisata minat khusus” tersebut.

Bagaimanapun Jogja adalah barometer caving di Indonesia. Seandainya kelak terjadi kecelakan yang hanya karena kekonyolan tentu saja akan menjadi preseden buruk bagi kita semua.

Mungkin itu saja, semoga bisa menjadi bahan evaluasi kita semua.

Alangkah baiknya kita memperbaiki standard KESELAMATAN kita dalam berkegiatan khususnya Caving, sebelum kita melakukan kegiatan Caving tersebut.

Mari kita bercermin bersama-sama…

*********

*Cahyo Rahmadi


Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: