Skip to content

Karst Sukolilo: dianggap rusak, dirusaklah sekalian….

September 4, 2010

Salah satu sudut Karst Maros, Sulawesi Selatan

Mungkin judul itulah yang tepat untuk mensarikan pendapat Bupati Tasiman seperti yang diberitakan Koran Tempo sebulan yang lalu.

Pemerintah Kabupaten Pati, menurut Tasiman, tetap berpendapat Kawasan Kendeng tepat untuk pabrik semen karena di atasnya ada kapur dalam jumlah besar. “Kalau dibiarkan, selamanya tidak bisa untuk penghijauan karena di atasnya ada kandungan kapur,” ujarnya. Dia juga menjamin pabrik semen tidak akan mengganggu sumber mata air seperti yang selama ini dikhawatirkan warga. “Sudah ada standar dan mekanisme bagaimana mengelola pabrik penambangan.”

Dari ungkapan tersebut tercermin betapa bapak bupati yang terhormat menganggap Kawasan Kendeng layak ditambang karena tidak mungkin dihijaukan karena diatasnya ada kandungan kapur.

Sebuah pemahaman yang menurut saya salah kaprah. Keberadaan kapur bukanlah suatu alasan suatu kawasan menjadi tidak mungkin untuk dihijaukan. Sehingga menjadi pembenaran kawasan tersebut layak untuk ditambang.

Lihatlah kawasan karst Maros di Sulawesi Selatan, perbukitan kapur yang khas dengan towernya ini nampak jelas “ijo royo-royo”. Hal ini menunjukkan, bahwa kapur bukan alasan suatu kawasan menjadi tidak hijau dan tidak mungkin untuk dihijaukan.

Lihatlah yang paling dekat, WANAGAMA yang dikelola oleh Fakultas Kehutanan UGM. Kawasan hutan di sana begitau hijau dan lebat oleh pepohonan padahal kawasan tersebut kawasan batu kapur. Meskipun daerah sekitarnya masih tampak gersang dan kering kerontang.

Namun, batu kapur tetap bukanlah suatu alasan bahwa kawasan kendeng tidak bisa dihijaukan karena ada kandungan kapur sehingga penyelesaiannya harus ditambang.

Sekali lagi, sebuah pola pikir salah kaprah dan terbalik-balik. Sangat disayangkan kualitas bupati yang dipilih secara langsung tapi tidak mempunyai pemahaman pelestarian lingkungan yang memadai. Di benaknya hanyalah kepentingan ekonomi yang berkedok menggenjot pendapatan asli daerah untuk alasan kesejahteraan rakyat.

Dibalik

Seandainya sang bupati bisa jernih dan mempunyai pemahaman yang layak tentang pentingnya pelestarian dan rehabilitasi lahan, mungkin dia akan justru mencari jalan bagaimana caranya pegunungan Kendeng bisa dihijaukan meskipun berada di atas perbukitan kapur.

Sehingga, dengan semakin hijaunya kawasan Kendeng, debit air yang masih tetap ada meskipun gersang akan semakin menambah debit air yang bisa jadi menjadi surplus air untuk kepentingan pertanian.

Kelebihan air ini bisa digunakan untk penyediaan air bersih untuk rumah tangga di kota-kota sekitarnya.

Kawasan Kendeng yang sudah hijau, dapat digunakan sebagai alternatif kawasan wisata yang juga tidak kalah penting membawa peningkatan ekonomi.

Namun sepertinya, upaya itu tetapa harus dilakukan dengan ketekunan dan kesabaran. Karena keuntungan ekonomi dengan pendekatan seperti ini tidak bisa langsung dirasakan dalam waktu singkat. Bahkan keuntungan itu tidak bisa dirasakan dalam bentuk uang namun keuntungan lain yang tidak bisa dinilai harganya.

Berbeda dengan pendekatan ‘merusak’ dengan tambang, sekali membongkar bukit kapur dalam waktu dekat segepok uang sudah bisa ditangan.

Namun ketika kerugian akibat kerusakan itu mulai dirasakan, uang segepok yang diperolah belum cukup untuk memulihkan atau membayar lunas kerugian tesebut.

Semoga para Bupati semakin mawas diri dan mau belajar dari alam.

Tidak semua keuntungan itu harus dalam bentuk uang.

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: