Skip to content

Tuban semakin menjerit

September 7, 2010

Kota Tuban merupakan salah satu kota yang nampaknya semakin kian terjepit. Rakyatnya yang menjerit  semakin redup terdengar menyuarakan batinnya.

Semen Gresik yang sudah sejak lama beroperasi disana berencana memperluas kawasan pertambangannya, dan banyak warga masyarakat yang berbondong-bondong menolak rencana tersebut. Penolakan tersebut dikarenakan banyak warga yang mengkhawatirkan mata pencaharian mereka sebagai petani akan terancam.

Beberapa waktu lalu saya sempat mengeksplorasi gua-gua di daerah Tuban. Dari Gua Ngerong melihat aset wisata gua yang cukup unik sampai mengunjungi satu gua yang sangat berdekatan dengan penambangan.

Menuruni Gua Lawa di dekat penambangan

Gua dan kelelawar

Dari gua yang saya kunjungi yang tepat dipotong oleh garis batas konsesi penambangan, saya bersama salah satu ahli kelelawar Indonesia, Sigit Wiantoro mencatat satu temuan yang menarik.

Di gua vertikal sedalam sekitar 10 meter ini, ditemukan satu koloni kelelawar yang sangat besar cukup besar untuk satu gua dengan lorong gua yang hanya terdiri satu chamber.

Yang menarik dari gua ini adalah, temuan satu jenis kelelawar, Nycteris javanica yang saat ini masuk kategori VULNERABLE dalam IUCN Red List of Threatened Species. Jenis yang hanya dikenal di Jawa ini mempunyai populasi yang sangat kecil. Di daerah Tuban ditemukan di beberapa gua seperti Gua Lawa Temandan, Gua Putriasih dan dua lainnya.

Sigit Wiantoro meyakini temuan di Tuban khususnya di Gua Lawa di sekitar Desa Temandang, merupakan temuan yang menarik karena jumlah populasi nya lebih besar dibandingkan populasi yang pernah ditemukan selama ini.

Namun, bagi pihak-pihak yang mengedepankan pentingnya ekonomi khusunya ‘pendapatan asli daerah’ apalah arti semua ini. Kelelawar ini mungkin tidak pernah disadari mempunyai peran yang sangat besar bagi lingkungan, membantu petani mengurangi hama pertanian tanpa biaya dan sekaligus membantu penyerbukan bunga-bunga durian sehingga bisa dinikmati oleh semua.

Pabrik lama meluas, pabrik baru mulai menderu

Rencana perluasan Pt. Semen Gresik di daerah tambang  nampaknya tidak terkendala oleh suara jeritan masyarakat.

Sementara warga sekitar Merakurak menjerit, warga di daerah Tambak Boyo nampaknya juga menyuarakan jeritan yang sama dengan rencana pembukaan pabrik semen yang dimotori oleh PT Holcim Indonesia meskipun saat suaranya semakin lirih terdengar.

Di berita Detik Finance yang muncul beberapa hari lalu, investasi sebesar 450 juta dolar Amerika ini mempunyai kapasitas sebesar 1.6 juta ton pertahun, rencananya akan mulai beroperasi sekitar 2013.

Sedangkan rencana peletakan batu pertama pembangunan pabrik dikabarkan akan dimulai akhir tahun ini.

Proses perijinan nampaknya sudah tidak ada lagi kendala. Semua pihak, masyarakat dan pihak yang kurang sepakat dengan rencana ini hanya bisa terdiam tidak lagi mampu menjerit.

Konsekwensi yang harus dihadapi pun beragam, peningkatan laju roda ekonomi yang diklaim oleh berbagai pihak akan segara dinikmati. Tukang tambal ban pun semakin bergairah karena semakin banyak roda yang harus ditambal karena semakin banyak mobil atau sepeda motor yang hilir mudik.

Sementara, pihak yang memandang kurang setuju dengan rencana ini, mulai mempersiapkan diri untuk membeli masker karena hilir mudik truk-truk yang mengangkut alat berat, mengangkut hasil tambang atau segala macam aktifitas lainnya.

Sementara, masyarakat yang mempunyai sumur harus bersiap menggali lebih dalam lagi sumurnya karena dikhawatirkan akan mengalami kekeringan air jika gunung-gunung yang membentang di Mliwang mulai digerus oleh alat-lat berat.

Namun itulah sebuah konsekwensi logis yang harus dihadapi oleh masyarakat tuban, mereka sudah dikelilingi oleh dua raksasa pabrik semen yang diklaim akan memenuhi kebutuhan domestik maupun internasional semen-semen yang menjadi salah satu pertanda majunya ‘pembangunan’.

Nampaknya, masyarakat Tuban hanya semakin bisa menjerit lirih sambil beringsut terjepit di pojok-pojok tanah yang semakin tidak ramah.

Itulah sebuah drama di tanah kering yang konon tandus.

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: