Skip to content

Kala-cemeti jenis baru dari kegelapan gua Kalimantan

September 15, 2010
Belantara Kalimantan tak henti-hentinya menyumbang temuan-temuan jenis baru. Hal ini makin menunjukkan betapa kaya belantara Kalimantan dan sekaligus menunjukkan betapa minimnya pengetahuan tentang potensi biodiversitas di pulau terbesar ketiga di dunia ini. Selain itu, masih banyak potensi biodiversitas yang belum tergali sampai saat ini.

Dalam artikel yang terbit di jurnal taksonomi ZOOTAXA no. 2612 pada tanggal 15 September 2010 yang ditulis oleh saya bersama M. S. Harvey dan J. Kojima,  dilaporkan lima jenis yang ditemukan di Pulau Kalimantan dan empat diantaranya merupakan jenis baru dan sebarannya terbatas di Kalimantan.

Empat jenis kala cemeti tersebut ditemukan di kegelapan gua di pedalaman Pegunungan Mueller di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat dan di belantara karst Sangkulirang, Kalimantan Timur. Temuan ini membuktikan betapa masih banyak jenis baru dari kelompok invertebrata yang sampai saat ini belum tergali.

Ciri kala-cemeti
Kala cemeti yang termasuk dalam bangsa Amblypygi, merupakan satu kelas dengan bangsa laba-laba dan kalajengking dalam kelompok besar bernama Arachnida. Kelompok kala cemeti dikenal mempunyai tubuh pipih, mempunyai capit yang dilengkapi dengan duri-duri tajam, mempunyai empat pasang kaki namun kaki terdepan berubah menjadi seperti antenna dan hanya tiga pasang kaki yang digunakan untuk berjalan. Kala cemeti ini mempunyai dua bagian tubuh yaitu kepala-dada (cephalothorax/prosoma) dan abdomen (ophistosoma).

Jenis baru
Empat jenis kala cemeti dari Kalimantan ditemukan di pegunungan Mueller Kalimantan Tengah yaitu Sarax yayukae. Jenis ini tersebar sampai di gua di Kalimantan Barat dan bahkan sampai di pulau kecil di sebelah utara Kota Kinabalu (Sabah, Malaysia). Jenis ini didedikasikan kepada Prof. Dr. Yayuk R. Suhardjono yang telah banyak berkontribusi selama ekspedisi di Kalimantan dan sekaligus atas dedikasi beliau terhadap kemajuan biologi gua di Indonesia.

Tiga jenis lainnya hanya ditemukan di belantara perbukitan karst di Sangkulirang, Kalimantan Timur. Ketiga jenis baru tersebut merupakan salah satu hasil ekspedisi kerjasama Puslit Biologi LIPI dan The Nature Conservancy (TNC Indonesia) pada tahun 2004 di empat lokasi berbeda di pedalamann perbukitan karst Sangkulirang.

Jenis pertama adalah Sarax sangkulirangensis, jenis ini ditemukan di tiga lokasi yang berbeda yaitu di daerah Tabalar, Danau Tebo dan Pengadan. Jenis ini relatif tersebar luas dibandingkan dua jenis lainnya. Secara umum, jenis ini tidak begitu mempunyai perubahan morfologi yang teradaptasi dengan kehidupan di dalam gua.

Sarax sangkulirangensis diberi nama setelah nama Karst Sangkulirang dimana jenis ini ditemukan dan sampat saat ini hanya dikenal dari kawasan ini.

Jenis kedua adalah Sarax mardua, yang hanya ditemukan satu-satunya di Gua Mardua di daerah Pengadan. Jenis ini sangat khas karena mempunyai tubuh pucat dan beberapa alat geraknya mempunyai pemanjangan dibandingkan jenis sebelumnya. Mata juga lebih kecil dan nampak telah mengecil dibandingkan Sarax sangkulirangensis.

Sarax mardua diberi nama setelah nama Gua Mardua dimana jenis ini hanya ditemukan satu-satunya di gua ini dan tidak ditemukan di gua lainnya.

Jenis ketiga dari karst Sangkulirang adalah Sarax cavernicola diberi nama karena jenis ini benar-benar menunjukkan ciri “hidup di dalam gua” yang diambil dari bahasa latin “cavernae” yang berarti gua dan “colo” yang berarti menghuni atau hidup.

Jenis ini merupakan jenis paling unik dari ketiga jenis yang ditemuka di Borneo secara umum, karena dari jenis yang lain susunan duri pada capit mempunyai susunan yang semakin panjang ke arah distal namun Sarax cavernicola mempunyai duri yang hampir sama panjang.

Sarax cavernicola ditemukan di dua daerah yaitu Gua Ambulabung (Baai) dan beberapa gu di daerah Marang yakni di Gua Sungai. Ada perbedaan antara populasi di Sungai Baai dan di daerah Sungai Marang dimana ada satu karakter morfologi yang berbeda.

Implikasi pelestarian
Kawaasan karst Snagkulirang merupakan salah satu kawasan di Kalimantan Timur yang terancam oleh aktivitas manusia dan perubahan fungsi lahan. Beberapa waktu lalu, pemerintah setempat merencanakn tukar guling dengan perusahaan swasata untuk pembuatan jalan bebas hambatan. Selain itu, rencana penambangan batu bara juga marak diperbincangkan. Selain penambangan batu bara, penambangan batu kapur juga bakal menggerus beberapa bagian gugusan karst Sangkulirang yang eksotis ini.

Aktifitas tersebut dikhawatirkan akan mengganggu keberadaan jenis-jenis yang sangat terbatas sebarannya tersebut. Selain itu, kerusakan lingkungan akibat perubahan fungsi lahan dapat berakibat hilangnya habitat beberapa jenis yang ditemukan dan bahkan jenis-jenis yang masih tetap menjadi misteri di kegelapan gua.

Link Berita:

1. Vivanews

2. Tempointeraktif

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: