Skip to content

Sejarah geologi dan kaitanya dengan filogeni Chelicerata

September 19, 2010

Jason A. Dunlop dari Berlin Museum dalam tulisannya yang dipublikasikan di jurnal Arthropod Structure & Development no. 39 pada tahun 2010, mengungkapkan pentingnya sejarah geologi dalam kaitannya dengan perkembangan makhluk hidup khususnya Chelicerata.

Lantas, apakah yang dimaksud dengan Chelicerata? Chelicerata dalam pengertian yang luas  merupakan salah satu kelompok fauna yang terdiri dari Arachnida, Xiphosura, kelompok yang punah Eurypterida dan Chasmataspidida dan juga Pycnogonida.

Jadi Chelicerata merupakan semacam kelompok besar yang memayungi jenis-jenis laba-laba, kalajengking, kalajengking semu, kalacuka dan bahkan mimi dan mintuno. Kelompok Chelicerata ini dikenal karena anggotanya mempunya alat mulut berupa “chelicera” yang terdiri dari dua segmen. Berbeda dengan kelompok serangga, kaki seribu, dan lipan yang menggunakan alat mulut berupa mandibula dan maxilla yang terdiri dari lebih dari dua ruas.

Saat ini, jumlah jenis yang dikenal hidup dan sudah ditemukan lebih dari 100.000 jenis  telah diberi nama. Termasuk didalamnya jenis yang sangat mega-diverse yaitu Acari dan laba-laba (Araneae) yang dari tahun ke tahun jumlah temuan jenis baru terus meningkat secara drastis.

Chelicerata diduga mempunyai nenek moyang yang hidup di dalam air. Namun, jenis-jenis chelicerata dari laut maupun air tawar saat ini sangat jarang ditemukan dan hanya terbatas pada laba-laba laut dan mimi dan mintuno (horseshoe crabs) serta beberapa akuatik Acari dari kelompok Hydracari. Konon, kelompok yang pertama kali diyakini hidup di daratan adalah kalajengking.

Saat ini, dikenal ada sekitar 2000 jenis fosil Chelicerata dan hampir lebih dari 3/4 jumlahnya adalah kelompok Arachnida.

Apa yang dapat diperoleh dari fosil?
Fosil-fosil yang ditemukan di beberapa lokasi sangat bermanfaat untuk mengetahui umur tertua dari satu kelompok takson dalam kelompok Chelicerata, atau secara luas semua makhluk hidup di bumi ini.

Sebagai contoh, fosil kalajengking ditemukan sekitar 430juta tahun lalu meskipun temuan ini bisa lebih tua dari yang diketahui saat ini.

Dari hasil temuan fosil dalam satu lapisan tertentu, dapat diperoleh informasi umur dari keturunan kelompok tersebut atau umur kerabat dekatnya Entah suatu takson mempunyai umur lebih muda atau setidaknya setua dengan kelompok takson yang diketahui fosilnya tersebut.

Dengan studi filogeni yang berkembang saat ini, baik molekuler maupun pendekatan tradisional melalui morfologi, dapat dilakukan suatu pendekatan “superimposed” pada pohon filogeni yang dihasilkan.

Dari hasil ini dapat diperkirakan umur suatu takson berdasarkan catatan fosil takson maupun takson yang belum diketahuin fosilnya.

Hasil dari kombinasi pohon evolusi dan catatan fosil dapat digunakan sebagai metode kalibrasi “molekular clock” yang jamak digunakan pada pendekatan molekuler.

Selain sebagai alat kalibrasi, dari kombinasi ini dapat digunakan untuk memperkirakan ‘divergence time”  yang diperoleh dari penanda molekuler.

Meskipun demikian, pertentangan antara hasil temuan fosil pada suatu lapisan stratigrafi dan hasil posisi suatu takson dalam pohon filogeni tidak dapat dihindarkan.

Sebagai contoh, kalajengking merupakan salah satu takson yang paling tua yang pernah ditemukan tanpa keraguan.Dalam beberapa studi tentang evolusi Chelicerata, kalajengking merupakan takson ‘dasar’ yang paling primitif dan moyang dari semua keturunan yang ada dalam kelompok chelicerata.

Namun dalam kajian yang berbeda, kelompok kalajengking yang diyakini sebagai kelompok tertua yang pernah ditemukan justru menjadi kelompok yang lebih maju atau ‘derived taxon’.

Pertentangan hasil seperti inilah yang masih banyak ditemukan sehingga menuntut lebih banyak mengeksplorasi data-data lain yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut.

Kontroversi
Meskipun banyak fosil yang telah ditemukan dan secara meyakinkan merupakan salah satu kelompok dari Chelicerata, namun temuan fosil ini – tidak hanya di Chelicerata, namun juga kelompok lain – dalam kajian filogeni tetap menimbulkan kontroversi yang memerlukan lebih banyak penjelasan.

Bagaimanapun, temuan fosil yang ditemukan dan selengkap apapun itu, tetap tidak bisa menampakan karakter lengkap seperti yang ditemukan pada ‘spesimen hidup’ yang ada sekarang, baik molekuler maupun morfologi.

Pertentangan antara beberapa hasil kajian menjadi tantangan untuk mengungkap bagaimana sejarah geologi dapat berkontribusi pada pengetahuan evolusioner suatu takson.

Perkembangan teknologi
Dengan berbagai metode dan teknologi yang ada saat ini, kajian tentang fosil dan eksplorasi fosil yang lebih mendalam dapat dilakukan seperti dengan membuat rekontruksi visual dengan cara melakukan ‘grinding’ melalui matrik, X-RAY computer tomography (Micro-CT) dan dengan mengkombinasikan beberapa gambar pada titik fokus yang berbeda dalam bahan yang tembus cahaya.

Lantas, fosil Chelicerata yang manakah yang ditemukan di Indonesia? Mungkin perlu dikaji lebih jauh sehingga dapat memberi kontribusi terhadap pengetahuan evolusi makhluk hidup khususnya Chelicerata atau sebangsa laba-laba.

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: