Skip to content

SPESIES ENDEMIK: Kalacemeti dari Kalimantan

September 22, 2010

KOMPAS, Rabu, 22 September 2010 | 02:54 WIB

Oleh M Zaid Wahyudi

Meski Indonesia memiliki banyak goa, hanya sedikit goa yang sudah dieksplorasi, termasuk yang ada di Jawa. Akibatnya, banyak biota dalam goa yang belum teridentifikasi.

Salah satu kekayaan hayati goa yang belum banyak terungkap adalah kalacemeti—binatang sejenis laba-laba yang biasa hidup di dinding goa. Saat ini di Indonesia baru teridentifikasi enam jenis. Di seluruh dunia baru 15 jenis kalacemeti teridentifikasi, yaitu dari India sampai Kepulauan Solomon di Pasifik Selatan.

Dari keenam jenis di Indonesia, empat jenis baru dipublikasikan dalam jurnal taksonomi Zootaxa pada 15 September lalu oleh Peneliti Muda Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cahyo Rahmadi. Keempat jenis kalacemeti baru itu adalah Sarax yayukae yang ditemukan di Pegunungan Muller, Kalimantan Tengah, serta Sarax sangkulirangensis, Sarax mardua, dan Sarax cavernicola yang ditemukan di goa-goa Pegunungan Karst Sangkulirang, Kalimantan Timur.

Kalacemeti yang sudah teridentifikasi sebelumnya adalah Sarax javensis yang banyak ditemukan di sejumlah tempat di Jawa dan Sarax sarawakensis yang banyak ditemukan di Kalimantan, Jawa, Semenanjung Malaya, dan Indochina. Sarax javensis pertama kali dipublikasikan oleh Gravely pada 1915, sedangkan Sarax sarawakensis dipublikasikan oleh Thorell pada 1888.

Walau baru dipublikasikan sekarang, menurut Cahyo, Kamis (16/9), penemuan empat jenis kalacemeti itu dilakukan pada 2004 dalam Ekspedisi Muller dan Ekspedisi Sangkulirang yang dilakukan Puslit Biologi LIPI. Khusus untuk Ekspedisi Sangkulirang dilakukan bersama dengan The Nature Conservancy Indonesia.

Disebut mirip dengan laba-laba karena penampakan kalacemeti memang mirip dengan laba-laba. Hal yang membedakan adalah kakinya. Laba-laba memiliki empat pasang kaki yang digunakan untuk berjalan, sedangkan kalacemeti memiliki tiga pasang kaki untuk berjalan dan sepasang kaki di bagian depan yang termodifikasi menjadi mirip antena.

Fungsi antena

Antena pada kalacemeti berfungsi sebagai alat peraba untuk mendeteksi keberadaan mangsa atau mengenali lingkungannya. Pada saat kawin, antena ini digunakan untuk mendeteksi dan menyentuh pasangannya sebagai tanda kesiapan untuk kawin.

Kalacemeti tidak membentuk jaring untuk menjebak mangsa seperti laba-laba karena tidak memiliki organ sutra. Untuk menangkap mangsa, kalacemeti menggunakan capit, mirip dengan kalajengking. Capit kalacemeti tidak berbisa, memiliki duri, dan terletak pada bagian depan tubuh.

Selain di goa, kalacemeti juga ditemukan di hutan dan terkadang ditemukan di rumah, di tempat yang lembab dan gelap. Jika ditemukan di hutan terbuka, hewan ini hanya aktif pada malam hari dan bersembunyi di bawah batu atau kayu lapuk pada siangnya.

Tinggal di hutan yang gelap membuat makanan kalacemeti terbatas. Ia hanya memakan serangga, seperti jangkrik, kecoa, atau hewan-hewan lain. Bahkan, di Amerika Selatan dilaporkan ada kalacemeti yang memakan udang karena ia bisa menyelam untuk beberapa saat.

Endemik Kalimantan

Menurut Cahyo, yang sedang studi di Jepang, dari empat jenis kalacemeti baru yang ditemukannya, semuanya adalah endemik atau hanya ada di Kalimantan. Selain di Kalimantan Tengah, Sarax yayukae juga ditemukan di Kalimantan Barat dan Sabah, Malaysia. Nama spesies ini didedikasikan untuk Profesor Riset Puslit Biologi LIPI Yayuk Rahayuningsih Suhardjono yang telah lama meneliti binatang goa, khususnya binatang dari jenis serangga yang masuk dalam ordo Collembola.

Sedangkan Sarax sangkulirangensis, Sarax mardua, dan Sarax cavernicola hanya ditemukan di goa-goa yang ada di Pegunungan Karst Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur.

Sarax mardua hanya ditemukan di Goa Mardua di Pengadan, sedangkan Sarax cavernicola hanya ditemukan di Goa Ambulabung di daerah Sungai Baai dan beberapa goa di wilayah Sungai Marang.

Baik Sarax mardua maupun Sarax cavernicola memiliki ciri khas hewan goa, yaitu bermata kecil, warna tubuh pucat, serta alat gerak seperti kaki yang memanjang. Namun, Sarax cavernicola merupakan yang paling unik karena susunan duri pada capitnya sama panjang, sedangkan yang lain duri pada capitnya semakin panjang ke arah ujung capit.

Sementara itu, Profesor Riset Puslit Biologi LIPI Yayuk Rahayuningsih Suhardjono, Jumat (17/9), mengakui, jumlah populasi binatang goa sangat sulit ditentukan. Jangankan untuk menentukan jumlah setiap spesies, jenis-jenis binatang goa saja belum teridentifikasi seluruhnya.

Kondisi itu dapat dilihat dari jarangnya publikasi tentang kalacemeti dari Indonesia. Ada jeda 95 tahun sejak publikasi Gravely tentang Sarax javensis hingga publikasi kalacemeti dari Cahyo Rahmadi.

Penelitian tentang binatang goa memang jarang, penelitinya juga sangat sedikit. Goa masih dianggap tempat yang kurang menarik, gelap, banyak hantu, serta kotor. Selain itu, penelitian binatang goa juga tidak murah karena membutuhkan peralatan keselamatan yang lengkap untuk memasuki goa.

”Kawasan pegunungan karst di Maros (Sulawesi Selatan) merupakan hotspot Asia untuk penelitian binatang goa, tetapi belum banyak tergarap. Binatang goa di Pegunungan Muller dan Sangkulirang pun masih banyak yang belum teridentifikasi,” ungkapnya.

Namun, kini hampir semua habitat binatang goa terancam oleh pembangunan, baik akibat penebangan hutan, pertambangan batu bara, pengambilan kapur untuk pabrik semen, maupun wisata goa yang tidak terkontrol.

Diambil dari KOMPAS

Untuk versi cetak bisa dilihat disini

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: