Skip to content

Wallacea, alami atau buatan?

September 22, 2010

Publikasi terbaru tentang biogeografi khususnya kawasan Wallacea ditulis oleh Bernard Michaux dalam artikelBiogeology of Wallacea: geotectonic models, area of endemism and natural biogeographical units” yang terbit dalam jurnal Biological Journal of the Linnean Society No. 101: 193-212.

Semua orang sudah mengenal kawasan Wallacea yang memiliki kekayaan biodiversitas endemik yang sangat tinggi dan merupakan daerah transisi yang memisahkan kawasan Oriental dan Australasia.

Kawasan ini dipisahkan oleh garis imaginer yang dikenal dengan Garis Wallace yang membelah antara Bali dan Lombok, kemudian ke utara Kalimantan- Sulawesi dan Sulawesi dengan Mindanau. Sebelumnya, Wallace menempatkan Filipina menjadi bagian kawasan ini namun akhirnya memindahkan pada garis yang sekarang dikenal. Saat ini, garis usulan pertama Wallace ini dikenal dengan Garis Huxley.

Sedangkan di bagian timur dibatasi oleh Garis Lydekker yang memisahkan Papua dari Ambon, Halmahera, Kai, Tanimbar dan Timor.

Endemik tinggi

Kawasan Wallacea dikenal sebagai kawasan dengan biodiversitas tinggi dan setiap pulau mempunyai jenis-jenis yang endemik. Sulawesi dikenal sebagai pusat endemisitas penting di kawasan Wallacea ini.

Meskipun secara lebih rinci, beberapa daerah memiliki keendemikannya masing-masing.

Keunikian dan tingginya endemisitas kawasan Wallacea merupakan hasil dari proses geologi yang komplek dimana pergerakan dan tumbukan lempeng-lempeng benua yang intensif serta serpihan benua di daerah tumbukan menjadi faktor penting fenomena ini.

Alami

Biogeografer selalu berurusan dengan segala macam proses alami seperti proses evolusi suatu organisme dan perubahan karena aktivitas tektonik. Sehingga, unit yang menyusun pola merupakan hasil proses alami tersebut, bukan dipilih karena manfaatnya.

Dalam artiekelnya, Michaux mensitir pendapat Cox (2001) yang berpendapat bahwa Garis Wallace yang merupakan batas Oriental dan Austalia merupakan “buatan” dan hasil dari ketergantungan yang berlebihan Wallace terhadap sebaran mamalia.

Lebih jauh, dia berpendapat sekiranya Wallace menggunakan tanaman berbunga, tidak akan pernah dikenal ada batas yang memisahkan kawasan tersebut.

Cox (2001) lebih memilih menggunakan batas paparan Sunda dan Paparan Sahul sebagai batas yang alami dan pulau-pulau diantara keduanya sebagai kawasan yang berbeda. Berdasar ini, dia berpendapat bahwa Filipina merupakan bagian dari Kawasan Wallacea.

Daerah endemik

Mengikuti perkembangan “vicariance distribution”, pencarian “natural bigeographical units” kembali tertuju pada ‘daerah endemik’ yang bisa secara sederhana diartikan sebagai kesesuaian batas sebaran dua atua lebih spesies.

Sedangkan pemikir lain mengusulkan menggunakan “parsimony analysis of a species/area matrix” untuk mengetahui daerah endemik. Metode lain juga diusulkan yakni “parsimony analysis of endemism (PAE)” meskipun metode ini kurang menggunakan masukan filogeni.

Daerah endemik secara fundamental merupakan satu kesatuan sejarah tidak hanya sebaran semata sehingga sejarah menjadi bagian penting.

Sejarah disini merupakan hasil dari analisis sekumpulan jenis dalam bentuk “cladogram” yang merupakan sejarah biologi suatu kelompok takson.

Michaux mengungkapkan bahwa Sulawesi dan Maluku bukan merupakan satu Wallacean biogeographical units.

Sulawesi memliki tiga daerah endemik yaitu di bagian lengan barat selatan, lengan bagian utara dan Sula-Banggai. Kemudian Halmahera yang membentuk daerah endemik tersendiri.

Selain itu, Pulau Tanimbar yang berdekatan dengan Sunda kecil, justru secara biologi memeliki kedekatan dengan Maluku. Sementara Pulau Timor menjadi daerah tersendiri dengan pulau-pulau sekitarnya berbeda dengan Sunda Kecil bagian barat seperti Lombok, Sumba, Sumbawa dan Flores.

Sedangkan Filipina, memiliki dua daerah yaitu di Mindanao dan Palawan.

Wallacean biogeographical units

Wallacean biogeographical units merupakan daerah di dalam kawasan Wallacea yang selaras dengan daerah endemik dan sejarah geologi.

Dari sini disimpulkan bawah  secara kesuluruhan kawasan Wallacea bukan merupakan region biogeografi yang alami , melainkan “buatan” yang terbentuk dari serpihan eksotis Australasia yang komplek dan berhubunga dengan proses geologi dalam zona tumbukan yang komplek yakni antara lempeng Eurasia, Australasia dan FIlipina.

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: