Skip to content

Dalam gelap, ada yang berbeda

September 24, 2010
Gelap sangat akrab dengan hitam, hanya satu warna yang dominan disana. Berbeda dengan putih, semua orang paham di dalam putih tersimpan banyak warna yang bisa bermunculan manakala ada sesuatu yang bisa menampakkanya, seperti pelangi.Begitu pula aneka warna yang berputar dengan cepat, namun mata hanya menangkapnya jadi satu warna, yakni putih.

Namun saya tidak akan berbagi cerita tentang putih dan pelanginya, namun saya mencoba berbagi tentang kegelapan dan apa saja yang ada di dalamnya.

Karena, dari kegelapan inilah saya bisa melihat banyak perbedaan dan banyak hal yang bisa diceritakan dari sana.

Saya seorang pegawai negeri, kata orang profesi saya sebagai peneliti yang akhir-akhir ini banyak diberitakan karena banyak peneliti Indonesia yang kabur, lari, hengkang ke negara lain karena tidak ada penghargaan dan terasing di negeri sendiri.

Lantas bagaimana cerita tentang perbedaan dalam kegelapan?

Gua itu gelap

Sejak 12 tahun lalu, saya sudah akrab keluar masuk  gua, menikmati kegelapan yang banyak tersembunyi di perut bumi Indonesia namun tidak banyak orang yang mengetahui dan bisa menikmatinnya.

Saya menikmati kesenangan menelusuri gua ketika saya masih duduk di bangku kuliah sekitar 15 tahun lalu, saya bergabung dengan pecinta alam, Matalabiogama, di UGM. Hingga ketertarikan dan kesenangan saya keluar masuk gua membawa saya bisa bekerja di LIPI tepatnya di Pusat Penelitian Biologi LIPI.

Satu hal yang patut saya syukuri dan saya nikmati sampai sekarang.

Banyak orang yang melihat gua sebagai tempat yang angker banyak demit, hantu atau aneka macam makhluk halus yang menghuni di sana. Satu bentuk keragaman yang banyak diyakini segelintir orang.

Kegelapan gua banyak dianggap sebagai tempat mencari kesaktian, wangsit atau hal-hal lain yang berbau mistis.

Namun, itu salah satu fakta bahwa kegelapan itu ada di dalam gua sana. Kegelapan di dalam gua berbeda dengan kegelapan yang ada di luar ketika malam hari. Di malam hari, terkadang kita masih bisa melihat seberkas sinar yang bisa membantu kita melihat telapak tangan yang ada di depan mata kita.

Di dalam gua, telapak tangan yang menempel di hidung tidak sedikitpun tertangkap oleh retina kita.

Kegelapan di gua sangat berbeda dengan kegelapan di luar sana. Dapat dibayangkan, kalau kita dipaksa hidup di kegelapan gua, dimana kita tidak pernah tahu kapan siang dan kapan malam.

Mungkin kita akan teringat dengan salah satu film Holywood yang menceritaka tentang monster di dalam gua yang berjudul “The Descent”. Film yang menceritaka tentang monster kanibal yang mirip manusia berbadan putih dan bergerak cepat meskipun dalam gelap lorong gua.

Atau film “The Cave” yang menceritakan tentang makhluk aneh yang berevolusi di dalam gua. Semua film itu menceritakan tentang ketakutan dan segala macam ancaman yang ada di kegelapan gua. Itulah sebagian gambaran tentang gua dan kegelapannya yang bermunculan di film-film.

Namun terlepas dari itu, ada begitu banyak keindahan dan keajaiban yang juga bisa diceritakan dari dalam kegelapan gua, ada begitu banyak pula perbedaan yang melengkapi kehidupan di dunia ini.

Hidup yang berbeda
Seperti yang digambarkan film “The Descent” dan “The Caves”, setelah sekian lama, menyesuaikan diri dengan kegelapan gua, akhirnya makhluk dalam gua itu berubah atau berevolusi dan mampu bertahan hidup dalam kegelapan.

Itulah yang harus dihadapi apa saja yang ‘terpaksa’ hidup di kegelapan gua, salah satunya hewan-hewan gua. Dalam kegelapan gua banyak hewan yang bisa ditemui di dalam sana.

Mereka hidup dengan cara berbeda dengan hewan-hewan lain yang hidup di luar gua, di tempat yang diberi cahaya matahari. Tidak seperti dalam gua, dimana cahaya matahari tidak pernah sedikitpun menyentuh dan menerangi kedalaman gua.

Berbeda dengan lingkungan dengan sinar matahari, banyak tumbuhan yang hidup karena mereka mampu membangkitkan energi untuk hidup dengan bantuan sinar matahari untuk berfotosintesis. Klorofil atau zat hijau daun yang banyak ditemukan di daun-daun, merubah energi sinar matahari menjadi bahan yang bisa untuk bertahan hidup.

Kemudian mereka dimakan oleh hewan-hewan kecil maupun besar sehingga hewan tersebut bisa bertahan hidup pula, begitu seterusnya hingga terbentuk rantai makanan dan akhirnya rantai itu terhubung satu sama lain membentuk jaring-jaring makanan.

Itulah yang ditemukan di tempat dimana sinar matahari ada. Sinar matahari menjadi sumber energi bagi kehidupan yang menjadi pusat dari jaring-jaring makanan hingga manusia ada di dalamnya.

Lantas bagaimana mereka hidup di gua?

Di dalam gua, tidak ada sinar matahari sehingga tidak ada sedikitpun tumbuhan hijau daun yang mampu tumbuh di dalam gua untuk waktu yang lama.

Kalaupun ada tumbuhan yang hidup di dalam gua, karena mereka  menggunakan cadangan makanan yang ada seperti dalam bentuk umbi, seperti yang tersimpan dalam kelapa atau semacam talas.

Begitu cadangan makanannya habis, matilah tumbuhan itu karena tidak dapat menghasilkan makanan untuk bertahan hidup selanjutnya.

Hewan-hewan di dalam gua pun harus menyesuaikan dengan kodrat tersebut. Dalam gelap, mereka harus mampu menyesuaikan diri dan tetap bertahan hidup dan beregenerasi.

Hewan gua menyesuaikan diri dalam kegelapan gua dengan berbagai cara. Beberapa hewan, ditemukan mempunyai mata yang mengecil karena di dalam gelap mata tidak berfungsi sehingga sesuatu yang tidak digunakan dalam waktu lama akan mengecil. Beberapa hewan bahkan tidak mempunyai mata sama sekali. Bagian kepala hewan sperti ikan gua bahkan sama sekali tidak menunjukan kalau mereka mempunyai mata.

Ketika lingkungan disekitarnya gelap, mata tidak bisa digunakan, sama seperti kita manusia ketika PLN tiba-tiba menghentikan pasokannya kerumah kita. Kita harus meraba-raba untuk mencari penerang terdekat yang ada di sekitar kita.

Kalau tidak ada, kita harus terpaksa berjalan dengan meraba-raba supaya kita tidak membentur lemari, menabrak meja atau terbentur pintu. Itulah yang banyak hewan gua lakukan, mereka mempunyai banyak anggota tubuh yang bisa digunakan sebagai indra perasa untuk mengenali lingkungannya, mengenali mangsanya bahkan mengenali pasangannya.

Beberapa hewan mempunyai sungut atau antena yang sangat panjang yang dilengkapi dengan “rambut-rambut” halus yang mampu memberikan informasi kemana mereka harus melangkah. Selain itu, beberapa hewan mempunyai kaki-kaki yang sangat panjang dan sangat berbeda dengan kerabatnya yang ditemukan di luar gua.

Rambut-rambut halus di permukaan tubuh pun semakin melengkapi alat indra mereka untuk mengenal lingkungan, untuk mencari makan dan bahkan menemukan pasangan untuk meneruskan gerasinya.

Selain itu, warna beberapa hewan gua pun telah memucat bahkan putih transparan hingga aliran darah sperti yang ditemukan di tubuh ikan gua dapat teramati dengan jelas.

Mereka sangat bergantung hidupnya dengan keberadaan kotoran kelelawar yang banyak ditemukan di lantai gua. Hewan-hewan pemakan kotoran ini akan membawa makanan lagi ke bagian gua yang lain yang mungkin tidak ada kotoran kelelawarnya. Sehingga, jaring-jaring makanan di dalam gua bersumber dari kotoran keleawar. Selain itu, jamur-jamur atau bakteri yang mengambil energi dari bahak kimia, chemobacteria, juga dapat menjadi sumber alternatif makanan di dalam gua.

Itulah karunia yang diberikan oleh Tuhan kepada mereka yang hidup di dalam kegelapan sana. Mereka harus berbeda dengan kerabatnya yang di luar gua karena mereka harus bisa tetap bertahan hidup.

Beragam keindahan
Saya bisa merasakan dan menikmati keragaman yang tersimpan di dalam kegelapan gua, yang tidak banyak orang yang bisa menemukan apalagi menikmatinya.

Karena untuk menikmati itu semua, terkadang kita harus bersusah payah turun di kedalaman puluhan meter dengan seutas tali, merangkak di lumpur yang tebal di lorong yang sempit, menyusuri sungai, memanjat dinding gua, bahkan berenang menyeberangi danau bawah tanah yang sulit diperkirakan kedalamannya.

Ketika kita berbekal penerang di dalam gua, kita bisa melihat dengan sekilas berbagai macam keindahan yang tersembunyai di kegelapan. Keindahan yang tidak semua orang bisa menikmatinya.

Selain dinding-dinding gua berwarna kecoklatan yang menghiasi sepanjang loroang gua, berbagai dekorasi, ornamen dan segala macam bentuk nampak menggantung di langit-langit gua atau menempel dan melekat di dinding-dinding gua.

Dari langit-langit gua muncul deretan stalagtit yang menggantung, menetekan air jatuh ke lantai gua. Sementara menempel di dinding gua air terjun beku, flowstone, berwarna putih mengkilat dengan kerlap-kerlip kristal kalsit yang memantulkan cahaya penerang kita.

Bentukan-bentukan seperti gorden pun nampak berjajar di beberapa sudut lorong gua. Di lantai gua, bentukan-bentukan kolam-kolam kecil seperti pematang sawah mengalirkan air yang keluar dari celah dinding gua. Sementara lapisan kalsit yang terbentuk seakan memberikan bentukan beraneka ragam yang membebaskan kita untuk berimajinasi.

Di ujung lorong gua, ada air terjun dengan suara menderu yang seakan ada tiga helikopter yang menyala mesinya diletakkan dalam stadion olah raga.

Itulah sebagian kecil keindahan, tantangan dan kreasi Yang Maha Besar yang tersimpan di kegelapan. Ada begita bayak perbedaan yang membebaskan kita untuk membawa daya kreatifitas kita untuk menggambarkan semua itu dalam rangkaian kata yang terkadang tidak pernah cukup melukiskan keindahan itu.

Beragam kehidupan
Keindahan di dalam gua satu hal yang dengan mudah kita amati dengan penerang yang kita bawa. Ada keindahan dan keajaiban lain yang bisa kita nikmati dengan jeli dan dilihat dengan seksama dan tidak bisa dengan selewat.

Di dinding gua, nampak jangkrik gua dengan sungut yang sangat panjang terkadang 10 kali lipat panjang tubuhnya, nampak menggerak-gerakkan sungutnnya. Mereka mencari-cari makanan dari ceceran kotoran keleawar yang jatuh dari langit-langit gua.

Di sudut yang lain, beberapa ekor jangkrik sedang menikmati bangkai kelelawar yang mati dan jatuh di lantai gua. Selain jangkrik, ada hewan-hewan kecil lain seperti ekor pegas, Collembola, dengan warna putih nampak bergerombol di bawah bangkai.

Mereka nampak berpesta pora dengan makanan yang melimpah.

Sedangkan di dinding gua, nampak hewan seperti lipan, Scolopendra,  namun mempunyai kaki panjang dan berlari sangat cepat ketika mereka merasa terganggu karena saya mendekatinya. Mereka banyak ditemukan di dinding gua atau lantai gua dimana jangkrik ditemukan banyak hidup disana. Karena, mereka memangsa jangkrik sebagai salah satu sumber makanannya.

Di lain tempat, nampak hewan dengan tampang yang menyeramkan, dengan capit berduri tajam dan sepasang sungut panjang dengan kaki tiga pasang dan berbadan pipih nampak menunggu jangkrik yang sedan diam di depannya.

Sungutnya yang panjang nampak bergerak ke sana kemari seperti mencari-cari sesuatu. Itulah kalacemeti, Amblygpygi, yang sedang menunggu mangsanya lengah. Dengan sungut yang bergerak dia sedang mencoba mengtahui dimana dan kapan saat yang tepat untuk menyergap. Sementar kaki-kakinya dilengkapi semacam rambut-rambut yang sangathalus, trichobothriai, dengan panjang sekitar 0.7 mm merekam perubahan arah angin, tekan udara atau mendeteksi pergerakan yang ada di sekelilingnya.

Dengan perpaduan sungut dan rambut-rambut halus di kaki, kalacemeti dengan akurat bisa menyergap jangkrik yang ada di dekatnya.

Sementara, sungai-sungai atau kolam-kolam air yang ada di dalam gua juga mempunyai kehidupannya sendiri. Di dalam danau dalam gua pun, ikan-ikan, udang atau hewan renik lainnya ditemukan hidup dengan damai.

Ikan gua yang pernah saya temukan di gua Maros Sulawesi Selatan, mempunyai keunikan tersendiri. Mereka berenang-renang di danau yang gelap sementara tubuhnya berwarna putih kemerahan. Ikan buta yang akhirnya menjadi salah satu ikan gua jenis baru untuk Indonesia ini sampai saat ini hanya ditemukan di gua-gua di Maros, Sulawesi Selatan, tidak ditemukan di belahan bumi manapun.

Karstarma ardea from cave in Waigeo

Sedangkan di salah satu gua di Waigeo, Raja Ampat, saya melihat ada kepiting dengan warna orange hingga kotorannya pun berwana orange, sedang menempel di celah stalagmit. Begitu kepiting orange tersebut mau saya tangkap, dengan cepat dia berlari dan masuk ke dalam air berenang dengan cepat dan bersembunyi.

Saya harus  mencari yang lain dan menemukan hingga akhirnya jenis itu menjadi jenis baru dengan nama Karstarma ardea yang dipublikasikan tahun 2008 oleh peneliti LIPI.

Selain ikan dan kepiting, udang gua juga banyak ditemukan di kolam di gua-gua di Indonesia. Di Gunung Sewu, Yogyakarta saya menemukan udang yang dideskripsi tahun 80-an dengan nama Macrobrachium poeti, diberi nama ‘poeti’ karena warna tubuhnya yang berwarna putih.

Saya juga berhasil menemukan satu jenis kelompok udang namun tidak nampak sperti udang yang banyak kita temukan yaitu udang Isopoda yang berwarna romantis yakni merah jambu. Udang-udangan ini pertama kali saya temukan di salah satu gua di Cibinong dan menjadi jenis baru untuk Pulau Jawa namanya Stenasellus javanicus.

Kemudian, saya menemukan lagi yang saya yakini jenis yang kedua dari salah satu gua wisata di Gua Buniayu. Udang ini sangat khas karena ditemukan di kolam air yang hanya berasal dari rembesan air dari dinding maupun atapa gua. Mereka tidak pernah ditemukan di sungai-sungai bawah tanah yang terkadang telah terkotori oleh sampah dari luar gua.

“Batman” yang beragam
Selain kehidupan hewan-hewan di lantai maupun di dinding gua. Langit-langit gua juga dipenuhi oleh puluhan ekor kelelawar yang membentuk koloni untuk setiap jenis yang berbeda. Mereka tinggal di dalam gua untuk beristirahat di siang hari dan menjelang sore, mereka pun keluar gua untuk mencari makan.

Untuk kelelawar pemakan serangga, insectivora, mereka keluar berburu serangga malam seperti kumbang, kepik, ngengat atau bahkan nyamuk-nyamuk yang mungkin sebagai sumber demam berdarah.

Selain itu, serangga yang berpotensi menjadi hama pertanian, dimakan dengan lahap karena setiap malam, satu ekor kelelawar konon mampun memakan serangga seberat seperempat berab badannya. Bisa dibayangkan beraka ratus ekor setiap malam kelalawar untuk satu ekor memakan nyamuk di sekitar rumah kita.

Belum lagi kelelawar yang membantu menyerbuk bunga karena mereka mengambil madu dari dalam bunga. Kelompok kelelawar pemakan madu ini banyak membantu penyerbukan tumbuhan seperti bakau yang banyak disepanjang pantai di Jawa atau bahkan bunga durian yang selalu kita nikmati.

Tanpa kelelawar, mungkin kita tidak bisa menikmati durian yang banyak dijual dipinggir jalan. Selain itu, kelelawar pemakan buah, frugivora,  membantu menyebarkan biji di pelosok-pelosok daerah yang terkadang tidak pernah bisa dijangkau oleh manusia.

Mungkin itulah sekelumit gambaran bahwa di kegelapan gua itu, terdapat begitu banyak keragaman yang menakjubkan dari keindahan pemandangan sampai keajaiban kehidupan yang tersimpan rapat di sana. selain itu, mereka juga meyimpan beragam manfaat dan potensi yang bisa bermanfaat bagi manusia seperti perkembangan ilmu pengetahun, membantu mengendalikan hama, membantu menyerbukan bunga-bunga dan memencarkan biji.

Epilog
Namun, itu semua saat ini terancam oleh ulah manusia yang tidak pernah menyadari bahkan tidak mau tahu bagaimana pentingnya mereka bagi kehidupan. Usaha peralihan lahan untuk pertambanga menjadi faktor utama rusaknya habitat berbagai macam kehidupan dan keindahan di kegelapan sana.Saatnya manusia bisa lebih bijak memanfaatkan anugerah yang telah Tuhan berikan ini, bukan justru menjadi kutukan karena kita tidak pernah bijak memanfaatkannya.

Dalam kegelapan, ada yang berbeda. Jika dalam ke-tahu-an saja ada yang berbeda, apalagi dalam ketidaktahuan. Maka, berhentilah mempermasalahkan perbedaan.

Advertisements
2 Comments leave one →
  1. mLengse permalink
    September 24, 2010 8:39 pm

    mantab.. lama kepengen caving tapi blm sempet

    • September 24, 2010 8:50 pm

      salam kenal mas, terimakasih kunjungannya.
      ayo mas, barengan sama saya nanti… saya sudah agak lama istirahat.. masuk gua…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: