Skip to content

Mencari “model” penguatan kiprah Caving dan Speleologi di Indonesia

October 15, 2010

Caving is death (Coutesy: Okkie)

Indonesia sudah cukup tua untuk mengenal apa itu caving dan speleologi.

Ketika awal-awal kegiatan penelusuran perut bumi ini dikenalkan oleh beberapa aktivis kegiatan alam bebas, salah satunya Norman Edwin dengan “Garba Bhumi” nya selain itu ada Specavina dan akhirnya tinggal HIKESPI yang tersisa saat ini.

Banyak simpul-simpul kegiatan caving maupun speleologi yang mulai berkembang di beberapa daerah baik di Jawa maupun di luar Jawa. Hikespi banyak berperan membuat simpul-simpul itu melalui pelatihan seperti KDKL yang sudah lama dilakukan.

Banyaknya simpul ini sayangnya belum banyak bisa berkontribusi untuk membantu menyelesaikan permaslahan yang kadang melilit kawasan karst maupun gua yang nota bene merupakan tempat bermainnya.

Belum kuatnya kiprah para pegiat caving ini bisa disebabkan karena masih adanya kecenderungan untuk berjalan sendiri-sendiri. Belum ada kerjasama satu sama lain, upaya saling mengisi kekurangan belum nampak jelas disini. Masing-masing pihak atau kelompok merasa perlu untuk mengibarkan benderanya masing-masing setinggi-tingginya. Inilah salah satu kelemahan kegiatan speleologi Indonesia yang sebenarnya bisa berkembang lebih dari apa yang saat ini ada.

Banyaknya simpul-simpul yang berpotensi untuk berperan secara nyata dalam menyelesaikan permasalahan yang menghimpit kawasan karst sampai saat ini belum nampak perannya.

Berbagi informasi

Selama ini yang sering banyak ditemukan adalah ke-engganan untuk berbagi informasi, masing-masing pihak merasa perlu untuk menyimpan data yang diperolehnya karena kuatir disalahgunakan.

Kecenderungan ini sebenarnya beralasan, karena ada beberapa pihak yang ‘memanfaatkan” data yang diperoleh oleh salah satu pihak untuk kepentingan yang lain tanpa memberikan kredit yang selayaknya.

Sehingga dampaknya, masing-masing kelompok bekerja sendiri-sendiri, duplikasi kegiatan dalam satu kawasan kadang sering sekali terjadi. Ini sebagai salah satu hasil ‘keengganan’ untuk membuka data dan digunakan bersama-sama.

Belajar dari BCRA

Buku pegangan yang paling kompeten digunakan selama ini untuk kegiatan speleologi di Indonesia saat ini adalah buku hasil penelitian BCRA di tahun 1980-1984. Buku dengan beberapa seri ini telah menjadi “kitab” untuk melakukan kegiatan penelitian.

Setelah itu, praktis tidak ada lagi buku yang meng-update buku BCRA meskipun banyak kegiatan ekpslorasi di kawasan karst Gunung Sewu. Laporan Eksplorasi Karst Arisan Caving Sekber PPA DIY pun, masih belum mampu menggeser peran BCRA meskipun ada banyak hal baru yang perlu ditambahkan.

Dalam lingkup Gunung Sewu saja, mungkin kita akan kebingungan kalau ditanya seberapa banyak gua yang ada di sana dan masing-masing dengan kriterianya. Berapa gua terdalam dan terpanjang dan ada dimana beserta apa dan bagimana tingkat kesulitannya.

Data dasar sebaran Gunung Sewu telah diinisiasi oleh ASC dalam situsnya (*masih perlu dikonfirmasi lagi), namun data ini mayoritas masih hasil dari kegiatan eksplorasi ASC. Masih banyak data yang perlu dikumpulkan dan masih perlu dikonfirmasi agar tidak terjadi “dua nama” untuk satu gua yang sebenarnya hanyalah “synonym”.

Mungkin kita perlu membuat model dimulai dari Gunung Sewu dulu sebelum kita bicara dalam lingkup luas Indonesia.

Dari Gunung Sewu, kita bisa mendokumentasikan semua informasi apa saja sehingga menjadi rujukan untuk semua kegiatan.

Data-data hasil kegiatan setiap organisasi maupun pihak yang berkegiatan di Gunung Sewu perlu di letakan dalam satu meja tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing pihak yang telah bersusah payah melakukan kegiatan tersebut.

Hal inilah yang perlu dicoba, perlu keterbukaan satu sama lain, menghilangkan rasa curiga antara satu pihak dengan pihak yang lain, sehingga apa yang diperoleh dari ini bisa lebih bermanfaat karena lebih kompreshensif dan lengkap. Sehingga dapat membantu menyelesaikan permasalahan maupun memberikan pertimbangan kepada pihak yang membutuhkan.

Lantas siapa yang mesti bertanggung jawab?

Saat ini Gunung Sewu telah menjadi bagian dari perhatian dari KLH melalui kegiatan Pengelolaan Gunung Sewu. Dari sini mungkin kita bisa memulai untuk menyatukan apa yang ada menjadi satu bagian sehingga lebih bernilai daripada hanya sekedar kumpulan laporan dengan peta-peta yang kurang bermakna karena hanya menumpuk di lemari-lemari masing-masing organisasi.

Peran Arisan Caving Yogykarta melalu SEKBER PPA DIY dan HIKESPI serta pihak-pihak yang sering berkegiatan disana perlu disatukan sehingga menjadi buah jerih payah bersama.

Namun, mungkinkan hal ini sudah dilakukan selama ini? Mungkin ada hal yang terlewat dari apa yang selama ini saya ketahui.

Tidak ada salahnya kita mencoba, sehingga caving dan speleologi di Indonesia bisa menampakkan perannya bagi penyelesaian permasalahan maupun membantu sebagai bagian pertimbangan pengelolaan kawasan karst di Indonesia.

Mungkin dari Gunung Sewu, kita bisa bergerak ke cakupan yang lebih luas, Indonesia.

Maju terus Caving dan Speleologi Indonesia.

Advertisements
2 Comments leave one →
  1. March 15, 2012 3:32 am

    kgiatan kdkl itu dilksnkan perthun ato perblanan??
    kgiatanx dibuka untk umum apa tdk??apa cm untk ruang lngkup mpla sj??

    mohon info lngkapx

    • March 16, 2012 9:26 pm

      KDKL sepertinya terbuka buat semua buat org awam jg sepertinya..

      pelaksaan per tahun, baru kemarin slesai …

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: