Skip to content

K20 Maros, mengangkat semangat (Bag.3)

October 22, 2010

Perasaan berkecamuk dan tidak tahu apa yang harus dilakukan membuat semua apa yang saya tahu tentang Cave Rescue hilang untuk beberapa saat.

Saya harus mengayun untuk menghampiri Kojek dan Indra yang ada di teras sempit, .

Mata saya tertuju pada sisa bekas bongkahan yang nampaknya terlepas. Sisa bongkahan itu dapat menggambarkan seberapa besar bongkahan tersebut terlepas dari tempatnya. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi waktu itu, hingga kojek harus di rescue oleh Indra untuk diamankan dan diistirahatkan ke teras yang saat ini saya dan kojek, berlindung sambil menunggu bantuan dari Makassar.

Saya hanya bisa menghibur Kojek, kalau nanti kita sudah keluar dari Lubang K20 ini, kita bisa bersama lagi latihan rescue bareng di Jembatan Babarsari. Karena, sejak dulu ketika kita bersama-sama di pecinta alam, dia di Palawa UAJY dan saya di Matalabiogama, kita selalu bersama-sama latihan maupun masuk gua barengan.

Saya ingat waktu itu, ketika ikut Diklat Cave Rescue di Hikespi sekitar tahun 1998 yang waktu itu dilakukan di Citatah, saya diminta untuk buat “hauling set” untuk proses penarikan dari Luweng. Saya benar-benar tidak tahu bagaimana masang “hauling set” waktu itu, untung ada kojek, saya dibantu dia masang hauling.

Terus terang, saya banyak belajar tentang teknik rescue dari dia, waktu itu saya sama Ririn sering bersama-sama tukar pikiran dan latihan bareng dengan temen-temen di Palawa. Sebuah kebersamaan yang begitu saya nikmati waktu itu.

Namun sekaligus menjadi ironi, ketika di hadapan saya di teras sempit itu Kojek yang terkulai dan mengerang menahan sakit yang tidak pernah bisa aku bayangkan. Saya hanya bisa menghibur dia dengan banyak bercerita dan mengajak ngobrol meskipun aku yakin dia lebih bnyak menahan kesakitan yang tiada tara.

Mengamankan posisi

Setelah saya selesai membersihkan semua batu-batu yang lepas yang ada di sekitar teras, akhirnya saya harus memutuskan mengamankan posisi kojek yang waktu itu benar-benar posisi yang tidak aman dan nyaman. Cow’s tail dia tertambat di anchor buatan yang dibuat oleh Indra sebelumnya, sementara, pinggang ke atas menempel di teras kecil sedangkan pantat dan kaki menggantung di celah kecil yang dibawahnya sudah langsung drop ke kedalaman lebih dari 100 meter. Saya tidak bisa membayangkan sejak dini hari tadi, kojek harus menahan sakit sekaligus menahan capek pantat yang menggantung.

Usaha ini sungguh sangat menyita energi, sekaligus menghabiskan mental yang tinggal tersisa sedikit sejak saya pertama kali mendengar erangan kojek ketika pertama kali saya melepas kunci descender saya di mulut gua di pagi buta tadi.

Saya tidak bisa banyak berbuat karena saya tidak bisa menggerakkan kojek untuk pindah posisi yang cukup jauh sementara penyangga leher belum terpasang. Sehingga saya memutuskan untuk menunggu penyangga leher terlebih dulu datang, sebelum aku mengamankan posisi kojek ke tempat yang lebih “nyaman”.

Penyangga leher datang

Sekitar 9-10 pagi, akhirnya saya mendengar ada bantuan dari Makassar yang sudah datang, alat yang paling vital saat itu adalah penyangga leher sudah datang. Akhirnya, penyangga leher diturunkan terlebih dahulu sementara Indra dkk di luar harus memikirkan bagaimana mengeluarkan kojek secepat mungkin.

Penyangga leher akhirnya turun melalu tali yang diturunkan, benda dari gabus berwarna putih itu terbungkus plastik, dan merambat melalui dinding gua. Setelah dekat dengan posisi saya, saya terpaksa harus mengayun lagi, karena jatuhnya penyangga leher cukup jauh dari teras tempat kita mengamankan diri.

Setelah sampai, akhirnya saya raih penyangga tersebut, dan saya harus berpikir keras gimana caranya supaya saya bisa memasang penyangg leher. Jujur, sebelumnya saya belum pernah melihat apalagi harus memasang penyangga leher.

Selama ini, ketika saya latihan rescue, saya tidak pernah tahu dan belajar cara memasang penyangga leher supaya aman sewaktu memasang dan tidak salah.

Tidak ada tempat bertanya, dan tidak ada petunjuk pemasangan. Itulah kesulitan saya waktu itu. Beruntung sejak kejadian semalam, kojek masih tersadar dan masih bisa diajak berdiskusi. Saya harus minta ajarin dia bagaimana memasang penyangga leher.

Sambil mempraktekan memasang di leher saya, saya bertanya sama kojek gimana pemasangan yang benar. Akhirnya ketika sudah ketahuan mana yang benar saya harus mengumpulkan tenaga dan mental untuk memasang ke leher kojek.

Sebuah bagian yang sangat sulit yang waktu itu harus saya jalani. Pergerakan sedikit saja sudah meniumbulkan kesakitan yang luar biasa, apalagi harus mengangkat kepala dan memasang penyangga leher. Namun saya dalam hati sudah bertekad, kalau saya tidak memasang dan tidak mengalahkan “kasihan’ saya sama kojek, saya justru bisa menjerumuskan kojek ke penderitaan yang lebih dalam di kemudian hari.

Saya hanya bilang sama kojek, kalau saya tidak bisa membiarkan lama-lama aku kasihan sama kamu karena kesakitan. Tapi saya harus memasang penyangga ini, dan kamu akan kesakitan untuk beberapaw waktu. Jadi, aku harus mengalahkan itu semua dan kamu harus menahan kesakitan itu untuk waktu beberapa saat. Untuk menahan itu, saya hanya mempersilakan dia untuk misuh-misuh sepuasnya untuk menahan sakit dan melampiaskan semuanya. Hanya dengan itu saya bisa memasukan penyangga leher itu di bawah lehernya.

Usaha yang sangat tidak mudah. Keterbatasan kemampuan tenanga, tempat dan yang paling penting adalah mental yang sudah tinggal secuil.

Namun itu semua harus kita hadapi, bagaimana kita bisa menggunakan apa yang ada, tenaga yang secuil, tempat yang sempit dan mental yang secuil untuk tetap bisa berfikir logis dan tidak dibutakan oleh kepanikan yang justru dapat menjerumuskan ke penderitaan yang lebih jauh.

Bagimana saya harus berjuang dengan rasa kasihan sekaligus harus berjuang memberikan yang terbaik, baik dengan pisuhan, umpatan atau apapun supaya penyangga itu terpasang. Saya hanya ingin, kita menyelesaikan semua ini dengan keluar bersama dari K20.

Saya hanya bisa berharap, semoga kita masih bisa bertemu dengan matahari, hari itu juga.

Bersambung…..

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: