Skip to content

K20 Maros, harapan mulai datang (Bag.4)

October 24, 2010

Setelah saya berjuang habis-habisan untuk mengumpulkan energi dan mental saya harus terus berjuang agar penyangga leher ini bisa terpasang pada tempatnya. Bagaimanapun caranya, yang penting penyangga itu harus terpasang. Saya hanya bisa meminta kojek untuk misuh sepuasnya agar bisa menahan sakit yang menderanya.

Misuh-misuh

Entah kojek misuh atau mengerang, yang jelas, ketika perlahan saya harus mengangkat kepalanya, dalam waktu bersamaan saya harus memasukkan penyangga leher. Tidak cukup sekali dua kali saya melakukaan itu. Usaha yang pertama gagal, baru sedikit saya mengangkat kepala kojek, tenaga saya sudah langsung habis ketika mendengar kojek semakin keras mengaduh dan misuh yang bercampur aduk.

Usaha yang kedua masih belum berhasil, tangan kiri sya berhasil mengangkat tapi tangan kanan saya gagal memasukkan penyangga ke bawah leher belakang. Saya harus menunggu lagi utnuk mengembalikan tenaga, menyatukan nyali yang tercerai berai dan menyingkirkan belas kasihan yang dengan berat hati harus aku buang saat itu juga.

Akhirnya, saya berhasil memasukan penyangga leher ke tempat yang semestinya meskipun saya tidak tahu benar salahnya, karena itu hasil diskusi dengan kojek dan kondisi darurat yang harus saya segera ambil langkah darurat.

Setelah selesai memasang penyangga dan sedikit memberi keamanan pada kondisi kojek, saya harus sedikit lagi memberi kenyamanan untuk meletakkan dia dalam posisi yang yang lebih nyaman.

Saya harus mengangkat pantatnya agar bisa tersangga di teras sempit. Sementara, sempitnya ruang dan sisa tenaga yang tinggal sepotong menjadikan usaha itu tidak mudah.

Untuk berdiri saja, teras tersebut tidak cukup tempat apalagi untuk mengangkat yang memerlukan posisi yang nyaman. Saya harus mengantisipasi itu semua, hanya adrenalin yang bisa menahan saya tetap bisa berdiri dan mengangkat.

Sementara, cover kojek bagian pantat sudah basah oleh air yang saya duga dia sudah kencing (ngompol) dari tadi. Semua itu tidak menghalangi saya untuk bisa memberikan yang terbaik buat kojek.

Satu orang turun

Ketika, saya sudah selesai menempatkan kojek pada posisi yang nyaman, akhirnya satu orang turun dan observasi untuk proses rescue-nya.

Saya agak lega ketika ada rekan yang turun, tapi teras tetap tidak cukup untuk bertiga, berdua saja sudah susah apalagi untuk ditambah satu orang lagi. Akhirnya, dia masih dalam posisi menggantung di tali yang dia pakai. Sambil mencari tempat untuk membuat tambatan buatan.

Setelah selesai, saya bicara sama kojek kalau saya harus naik ke permukaan. Karena saya kepikiran sopir yang antar saya pasti belum sarapan sejak pagi buta tadi. Saya bilang ke kojek kalau sudah ada orang yang bisa bantu dia dan menemani dia.

Saya hanya akan keluar sebentar untuk memastikan sopir dan tentu saja sarapan. Saya masih ingat supir dan ingat sarapan sementara kojek masih saja mengerang meskipun suaranya sudah lirih.

Tapi kojek tidak pernah mengijinkan saya untuk keluar, dia hanya mau saya yang nungguin dia sampai kita keluar nanti. Saya tidak bisa apa-apa ketika kojek meminta saya untuk menyelesaikan semua kejadian itu bersama-sama.

Akhirnya sama cuma pesan sama teman yang turun untuk urus, sopir saya yang belum sarapan.

Kita bertiga yang ada dibawah, masih harus menunggu ‘stretcher’ yang belum datang, karena harus ambil dulu di BASARDA Makassar. Sehingga kita harus menunggu untuk waktu yang belum saya tahu.

Sementara sambil menunggu, saya hanya bisa menyuapi kojek ketika dia butuh minum dan menghibur dia bawah semuanya akan berakhir dengan baik. Kita bisa caving lagi nanti suatu saat. Yang paling penting, kita bisa keluar dengan selamat dari kedlaman K20 ini.

Saya akan bercerita bagaimana kita memindahkan kojek dari teras ke stretcher, kemudian menarik dia keluar, bagaimana dia misuh-misuh dan marah-marah karena tarikan stretcher sangat tidak nyaman. Kemudian, bagaimana kita harus memasang stretcher agar bisa digunakan untuk hauling dan bagaimana stretcher itu dalam posisi lebih rendah di bagian kepala dan harus diperbaiki.

Bagaimana runtuhan kecil karena stretcher yang menggesek dinding, dan kojek harus saya lindungi mukanya dengan bandana agar tidak kemasukan kerikil batu.

Bersambung……

Advertisements
2 Comments leave one →
  1. Sunu permalink
    October 24, 2010 3:54 pm

    Aku pernah mengalami mendampingi korban kecelakaan gua. Dan saat itu aku juga sampai pada situasi batin yang belum pernah kualami sebelumnya, karena terus menerus mendengar rintihan dan tangis kesakitan. Betul-betul melelahkan jiwa. Apalagi raga ini juga tidak diisi apapun, hanya beberapa tegukan air, lebih dari enam jam.
    Tapi, membaca pengalamanmu, aku merasa apa yang aku alami itu sungguh tidak dapat disejajarkan. Salut, sungguh salut dan kagum, buat Aock dan Kojek. Semangat hidup berdampingan dengan solidaritas, keduanya muncul dari dua orang sahabat.
    Jika ada yang punya kemampuan melihat aura, pasti dari dalam gua terpancar cahaya yang kuat dan bisa mempengaruhi semangat orang lain.

  2. October 25, 2010 10:25 am

    Begitulah pak dhe, ada banyak hal yang harus pelajari lagi ketika teori dan teknik rescue belum lah cukup ketika kita harus dihadapkan pada kondisi yang harus benar-benar memporak-porandakan mental dan keberanian.

    aku angkat jempol buat Indra Wahyudi, rescuer pertama yang membawa kojek hingga ke posisi teras yang cukup sempit, dmana dia harus mengayun dengan membawa beban kojek. aku tidak bisa membayangkan, keberanian, keteguhan mental, kemampuan teknik, endurance, yang saat itu berkumpul menjadi satu hingga kojek bisa berkumpul sama kita semua.

    Semua rekan-rekan yang melakukan proses penyelamatan dari Makassar, mereka telah memudarkan bayangan gelap saya di kegelapan ketika kita perlahan mulain naik bersama stretcher…. kerjasama, kemampuan penyelesaian masalah dan smuanya .. adalah bagian yang tidak bisa saya lupakan …

    untuk itulah, saya menuliskan apa yang saya rasakan dan alami sehingga semoga bermanfaat dan ada pelajaran yang bisa dipetik buat kita semua…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: