Skip to content

Hidup di dunia sunyi yang gelap

December 3, 2010
Kesunyian dan kegelapan seperti sebuah keabadian.  

Mengapa kita merasa waktu berhenti berdetak ketika kita merebahkan diri di tempat yang sunyi dan gelap.

Tak setitik pun cahaya yang bisa kita temukan manakala kita terjerumus di kegelapan gua-gua yang mengular di dalam bumi. Telapak tangan di depan mata tak sedikitpun menampakkan bentuknya. lantas bagaimana kita bisa mengenal sekeliling kita kalau ujung jari di depan mata saja tidak dapat tertangkap retina kita. Gelap pekat yang hanya mewarnai lensa mata.

Sementara kesunyian hanya dilengkapi dengan melodi tetesan air yang harus patuh mengikuti hukum gravitasi yang kekal.

Lantas bagaimana makhluk hidup di kegelapan itu hidup, mengenal lingkungan dan melanjutkan takdir meneruskan silsilahnya.

Gua merupakan salah satu contoh dimana kesunyian dan “keabadaian” ini berada, keabadian kegelapan telah menciptakan satu keunikan kehidupan tersendiri yang kadangkala kita tidak pernah membayangkan ada bentukan atau fenomena kehidupan lain di dalam sana.

Hidup dalam gelap

Kegelapan gua bukanlah satu tempat yang sunyi dari kehidupan, berbagai macam kehidupan ditemukan di dalam sana. 

Dari binatang berukuran satu milimeter sampai kelelawar dan burung terbang yang mampu bermanuver menyusuri lorong-lorong gua yang gelap.

Lantas bagaimana binatang-binatang tersebut hidup di dalam gua?

Binatang-binatang yang hidup di dalam gua didominasi oleh binatang yang tidak bertulang belakang atau binatang-binatang kecil seperti jangkrik, laba-laba, kalacemeti, kalajengking, lipan, kecoak atau binatang mini yang banyak menghuni lantai gua.

Mereka ditemukan di berbagai sudut gua dari lantai gua yang lembab dan basah, dinding gua yang kecoklatan dan basah atau langit-langit gua yang kadang sulit dilihat karena tinggi sehingga tidak dapat diamati. Selain itu sungai-sungai yang mengalir di dalam gua dan kolam-kolam atau bahkan danau menawarkan kehidupan lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Binatang-binatang ini hidup dan melanjutkan keturununannya dengan cara-cara yang unik. Kondisi lingkungan gua yang gelap mampu mereka atasi dengan menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut.

Karena kondisi yang gelap abadi, binatang gua tidak memerlukan mata untuk melihat lingkungan atau bahkan menemukan pasangannya. Sehingga, terkadang ditemukan binatang gua tidak mempunyai mata sama sekali atau matanya mengecil.

Untuk mengantisipasi kegelapan, beberapa binatang mengembangkan organ tubuh lain salah satunya adalah antena atau sungut. Sungut-sungut binatang gua bahkan bisa mencapai 10 kali panjang tubuhnya. Selain itu, sungut-sungut ini terkadang dilengkapi dengan ‘rambut-rambut’ halus yang berperan sebagai alat sensor untuk mengenali lingkungannya seperti keberadaan pemangsa, pakan atau bahkan pasangan untuk berkembang biak.

Binatang gua juga mempunyai alat gerak seperti kaki yang kadang lebih panjang dari kerabatnya yang hidup di luar gua. Permukaan tubuh dilengkapi dengan ‘rambut-rambut” halus yang sangat peka sebagai salah satu cara untuk bertahan hidup.

Warna tubuh yang pucat karena kekurangan pigmen tubuh menyebabkan binatang gua tampak lebih pucat sampai berwarna putih atau bahkan transparan sehingga aliran darahnya pun dapat diamati dengan jelas.

Umur panjang

Beberapa binatang gua juga diyakini mempunyai kemampuan untuk bertahan hidup dalam kurun waktu yang cukup lama. Kondisi lingkungan gua yang minim makanan menyebabkan binatang-bintang gua harus menyesuaikan diri dengan memperlambat laju metabolisme jika dibandingkan binatang di luar gua. 

Salah satu contoh binatang gua yang berumur panjang adalah salamander gua Proteus anguinus yang banyak ditemukan di gua-gua di Eropa tengah seperti Slovenia, Slovakia, Italia bagian untara dan diperkirakan juga hidup di Montenegro.

Salamamder gua ini mempunyai rata-rata umur yang mencapai 75 tahun, beberapa individu bahkan dapat mencapai ratusan tahun. Mereka hidup di sungai-sungai di dalam gua yang masuk kawasan Dinaric Karst yang membentang di Slovenia ke arah utara timur.

Selain salamander gua, beberpa jenis kalacemeti mempunyai umur yang relatif panjang. Untuk mencapai umur yang siap untuk bereproduksi, baru bisa dicapai sekitar umur satu sampai dua tahun.

Terbang dalam gelap

Dalam kegelapan gua, kelelawar gua yang sering ditemukan hidup di langit-langit gua mampu bermanuver tanpa mereka menabrak dinding atau ornamen gua. Mereka mampu meliuk-liuk menghindari hambatan yang ada di depan mereka tanpa mereka menabraknya. 

Inilah salah satu kelebihan kelelawar, meskipun mereka hidup di lorong gua yang dalam, mereka mampu keluar setiap menjelang senja untuk mencari makan. Kemudian menjelang fajar, mereka kembali ke tempatnya tanpa sedikitpun salah tempat.

Kelelawar diyakini banyak orang mempunyai kemampuan navigasi yang menakjubkan. Kemampuan navigasi ini dikenal dengan echolocation yaitu mengenal lingkungannya dengan cara memancarkan gelombang pendek yang dapat diterima kembali kalau menabrak benda atau halangan yang ada di depannya. Salah satu teknologi manusia yang mengadopsi kemampuan ini adalah sonar, yang banyak digunakan di kapal-kapal.

Dengan kemampuan ekolokasinya, kelelawar dengan lihai menghindari ornamen-ornamen yang tersembunyi dalam kegelapan gua.

Binatang berbeda-beda

Di dalam gua, ada banyak binatang yang hidup di dalamnya. Mungkin kita tidak pernah membayangkan kalau dalam kegelapan gua, ada binatang yang hidup meskipun banyak cerita takhayul yang meyakini bahwa gua merupakan salah satu sarangnya hantu atau bahkan harimau dan ular-ular sebesar pohon kelapa. 

Itulah salah satu gambaran manakala saya mendatangi gua-gua yang kadang jauh dari peradaban. Penduduk lokal begitu dramatis menggambarkan kehidupan di dalam gua, meskipun tidak dipungkiri kalau berbagai macam ular dapat hidup di dalam gua.

Namun ada kehidupan lain selain ular dan harimau yang mungkin hanya menggunakan sebagian kecil bagian gua hanya untuk ‘berteduh’. Kehidupan berbagai macam binatang ini banyak tidak diketahui meskipun di dalam gua wisata yang banyak menggunakan penerangan sekalipun.

Di lantai gua yang di langit-langit guanya dihuni oleh kelelawar, ditemukan kehidupan yang lebih menakjubkan. Jutaan binatang-binatang mini bergerak kesana kemari dengan kerapatan yang menakjubkan.

Kumbang kotoran banyak ditemukan di kotoran kelelawar yang menumpuk di lantai gua. Selain itu kecoak dan tungau yang jumlahnya puluhan juta dalam setengah meter persegi menumpuk dan saling bertindih seperti berebut mencari makan.

Di dalam kotoran kelelawar ini, setiap lapisannya mempunyai kerapatan dan keanekaragaman binatang yang berbeda-beda. Lapisan guano di bagian atas yang masih baru banyak dihuni oleh tungau yang berukuran sekitar 3-5 mm, di lapisan bawahnya sekitar 5-10 cm, jumlah tungau berkurang dan ada beberapa jenis ekor pegas (Collembola) yang menghuni lapisan tersebut.

Selain itu, binatang berukuran besar seperti jangkrik atau kecoak hilir mudik kesana kemari untuk mencari makanan.

Di salah satu gua di Nusakambangan, tumpukan guano lebih banyak dihuni oleh sekumpulan kecoak, sementara jangkrik gua menghuni bagian lain gua yang tidak banyak dihuni kecoak. Hal yang sama juga saya temukan di beberapa gua di Tuban salah satunya di Gua Ngerong dimana jutaan kecoak menghuni salah satu lorong gua, namun jangkrik gua tidak ditemukan di gua tersebut.

Ini salah satu bentuk interaksi binatang di dalam gua, dimana binatang bersaing satu sama lain untuk mengeksploitasi sumber pakan yang ada. Kelompok yang tidak mampu berkompetisi akan tersingkir dan memilih ‘relung’ yang berbeda dengan pesaingnya.

Merayap di dinding

Selain di lantai gua, binatang seperti laba-laba (Araneae), kalacemeti (Amblypygi), jangkrik (Rhaphidophora), lipan (Scutigeromorpha) dan binatang lain menghuni dinding-dinding gua mencari mangsangnya. 

Kalacemeti yang banyak ditemukan di gua-gua di Indonesia, banyak ditemukan merayap di dinding gua yang terkadang berukuran fantastis. Mereka mencari mangsa seperti jangkrik, kecoak yang berkeliaran di dinding gua.

Dengan sungut yang merupakan salah satu modifikasi sepasang kaki paling depan, kalacemeti mendeteksi keberadaan mangsanya. Rambut-rambut halus yang ada di tiga pasang kakinya, membantu sungutnya memantau perubahan tekanan udara yang membantu dimana dan kapan mereka harus menyergap mangsanya.

Selain itu, lipan yang mempunyai kaki panjang bergerak cepat begitu mereka merasa terganggu. Namun, lipan yang sedang menyantap mangsanya seperti jangkrik, tidak pernah merasa terganggu meskipun kita berada di dekatnya.

Di dalam air

Selain binatang yang hidup di darat, binatang-binatang air juga bermacam-macam dan sangat menarik. 

Di sungai bawah tanah, berbagai macam udang kepiting banyak ditemukan hidup di dalamnya. Udang gua yang matanya mengecil seperti jenis yang ditemukan di gua-gua Gunung Kidul, mempunyai keunikan mata yang mengecil dan berwarna putih. Jenis yang diberi nama Macrobrachium poeti ini ditemukan hidup di Gua Gilap, Gua Sodong dan gua-gua lain. Udang ini diberi nama poeti karena tubuhnya yang berwarna putih.

Selain udang, kepiting gua juga banyak ditemukan hidup di kolam-kolam air seperti kepiting jacobson yang ditemukan di gua-gua di Gunung Kidul juga yaitu, Karstarma jacobsoni yang sebelumnya bernama Sesarmoides jacobsoni.

Kepiting yang sangat unik ditemukan di perairan dalam gua di salah satu gua di Muna, Sulawesi Tenggara. Kepiting yang berkaki sangat panjang ini hidup di air payau. Kepiting yang kemudian diberi nama Sulaplax ensifer ini memiliki tubuh transparan dengan capit yang ditumbuhi “rambut-rambut” halus.

Selain udang dan kepiting, ikan gua juga banyak ditemukan di danau maupun di sungai bawah tanah. Ikan-ikan ini kadang berwarna putih atau kepucatan dan bahkan tidak bermata sama sekali seperti ikan yang ditemukan di Maros, Sulawesi Selatan.

Ikan gua ini hidup di dalam danau yang ada di dalam gua yang terisolasi dengan perairan yang ada di luar gua. Sehingga ikan-ikan ini mempunyai bentuk yang sangat unik yang berbeda dengan umumnya ikan di luar gua.

Terancam

Itulah sekelumit kehidupan yang ditemukan di kegelapan gua yang sunyi. Masih begitu banyak kehidupan yang belum banyak dikenal di Indonesia. Ilmu pengetahun belum mencatat keberadaan mereka di dalam jurnal-jurnal ilmiah. Sehingga masih dibutuhkan banyak upaya untuk mengungkap itu semua sehingga kita mengenal dan mengerti sehingga kita merasa perlu untuk menjaganya. 

Dengan minimnya pengetahuan tentang kehidupan gua, perkembangan kemajuan jaman menyebabkan manusia bersinggungan dengan kesunyian kegelapan gua.

Aktifitas manusia seperti penambangan batu gamping, wisata gua, penambangan fosfat dan perubahan fungsi lahan menjadi ancaman tersendiri meskipun masih banyak misteri yang belum terungkap namun ancaman kehancuran telah menghadang di depan mata.

Sudah selayaknya kita untuk lebih banyak mengungkap kehidupan gua sehingga kita mengetahui dan mengenal kehidupan yang ada di dalamnya sehingga upaya perlindungan dan pelestarian dapat diperjuangkan.

Semoga kehidupan di kegelapan gua Indonesia masih tetap terjaga.

********

Oleh Cahyo Rahmadi
Peneliti Puslit Biologi LIPI dan penelusur gua

*Artikel ini merupakan artikel versi asli dari artikel yang dimuat di INTISARI Edisi Desember 2010.

Artikel ini juga dapat dibaca di INTRA LIPI

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: