Skip to content

Krisis biodiversitas dan tantangannya

December 8, 2010
Tahun ini merupakan tahun penting buat biodiversitas di muka bumi ini, karena PBB telah menetapkan tahun 2010 sebagai International Year of Biodiversity (IYB)

Indonesia sebagai negara ‘mega-biodiversity’  perlu mengambil langkah untuk menghadapi isu perubahan iklim dan hilangnya biodiversitas.

Sebagai negara yang kaya biodiversitas sudah selayaknya negara memberi perhatian kepada isu yang satu ini. Kita terkadang selalu terbuai dengan segala kekayaan yang kita punya namun tidak pernah sadar untuk mengungkap seberapa besar kekayaan itu sebenarnya.

Kita terlalu asyik mengeksploitasi kekayaan itu tanpa kita mengerti apa dan bagaimana karakteristik kekayaan yang kita punya tersebut. Kita tidak pernah peduli, sampai kapan kekayaan itu bisa kita nikmati.

Kekayaan biodiversitas kita masih banyak yang belum diketahui. Jumlah pasti kekayaan jenis satwa liar baik hewan bertulang belakang maupun tidak bertulang belakang pun masih dalam angka kisaran. Belum kekayaan flora dengan potensi yang belum banyak tersentuh.
Saat ini, diyakini baru sebagian kecil kekayaan biodiversitas yang telah diungkap dan diberi nama secara pasti. Sementara, laporan kepunahan berbagai organisme di muka bumi juga semakin cepat seiring meningkatnya ancaman karena aktivitas manusia maupun perubahan iklim.

Baru-baru ini dilaporkan, seperlima jumlah tumbuhan dimuka bumi terancam kepunahan seperti yang dilaporkan oleh Royal Botanic Garden Kew, Natural History Museum London dan IUCN beberapa waktu lalu seperti yang dirilis di laman IUCN (29/09/2010).

Kepunahan biodiversitas bukan merupakan isu isapan jempol belaka. Jenis-jenis yang sudah diketahui telah banyak yang dinyatakan punah. Sementara jenis yang belum sempat dikenal pun sudah punah sebelum sempat dikenali apalagi dimanfaatkan manusia.

Biodiversitas dan fungsi
Sebagai salah satu komponen ekosistem, biodiversitas mempunyai peran yang tidak bisa diabaikan, namum terkadang kita selalu tidak peduli dengan keberadaannya di sekeliling kita.

Biodiversita mempunyai fungsi dan pelayanan ekosistem yang tidak dengan mudah bisa dihitung secara ekonomis. Namun, fungsi dan pelayanan itu nyata adanya untuk menjaga fungsi penting kelangsungan pelayanan ekosistem yang berimbas pada kelangsungan hidup manusia.

Namun kita tidak pernah menyadari itu semua, karena kita tidak perlu membayar oksigen yang kita hirup yang dihasilkan oleh tumbuhan. Kita tidak perlu bersusah payah menyerbukkan buah durian agar bisa kita nikmati karena sudah ada kelelawar yang mengurusnya. Kita sebenarnya tidak perlu sibuk dengan abrasi dan ancama Jakarta terendam kalau kita membiarkan semua pantai dipagari oleh pohon bakau.

Kita tidak perlu bersusah payah mencari air di musim kering kalau masih ada hutan di sekelililng kita. Itulah sebagian pelayanan ekosistem yang diberikan oleh biodiversitas namun kita tidak pernah peduli dengan itu karena itu semua kita nikmati tanpa harus kita membayarnya.

Krisis
Ditengah hiruk pikuk bencana lingkungan yang marak akhir-akhir ini, kita tidak menyadari kalau keserakahan kita mengeksploitasi biodiversitas telah kita petik saat ini.

Banjir dari selatan yang mengancam menenggelamkan Jakarta di 2050 sebagai akibat alih fungsi hutan di hulu sungai yang mengalir membelah Jakarta. Sementara ancaman dari utara, pohon bakau telah ditebang dan berubah menjadi bangunan-bangunan yang ditempatkan pada kawasan yang semestinya diperuntukan sebagai kawasan hijau.

Maraknya penyakit demam berdarah, malaria dan penyakit lainnya di beberap daerha bisa jadi disebabkan tokek maupun cicak yang dulu banyak ditemukan di rumah-rumah sudah berpindah ke meja makan atau botol-botol obat. Sehingga nyamuk membengkak populasinya karena sudah tidak ada lagi pemangsanya.

Banjir bandang dan longsor di beberapa daerah merupakan salah satu dampak maraknya pembabatan hutan yang telah memusnahkan biodiversitas di berbagai tingkat piramida makanan.

Itulah sekelumit bencana sebagai dampak krisis biodiversitas di negeri ini yang secara dramatis menjadi bencana ekologi yang tak terkira.

Tantangan
Taksonom sebagai tulang punggung untuk mengungkap kekayaan biodiversitas Indonesia masih sangat minim jumlahnya. Dengan berbagai kelas tumbuhan dan hewan yang ada di bumi nusantara ini, jumlah taksonom di Indonesia tidak sebanding untuk mengungkapkan semuanya.

Ditambah lagi dengan minimnya perhatian pemerintah terhadap para taksonom yang masih tersisa saat ini di museum maupun herbaria yang jumlahnya tidak banyak di indonesia. Peran akademisi di universitas pun masih sangat kurang untuk menjadi tulang punggung “pendobrak” kekayaan biodiversitas kita.

KIta baru tersadar ketika semua yang ada sudah hilang di bumi nusantara ini. Kepunahan jenis-jenis satwa liar seperti harimau dan gajah akibat meningkatnya konflik dengan manusia menjadi salah satu isu yang perlu diperhatikan.

Di sini, taksonom sebagai orang yang bisa membantu konservasionis hendaknya lebih berperan menyuarakan pentingnya perlindungan dan pelestarian biodiversitas dan ekosistemnya di Indonesia.

Sudah saatnya, ditengah ancaman kepunahan dan krisis biodiversitas ini kerjasama bahu membahu semua pihak seperti taksonom, konservasionis, pemegang kebijakan, akademisi dan pihak swasta ditingkatkan berpacu dengan perubahan lingkungan yang semakin meningkat akhir-akhir ini.

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: