Skip to content

Kalacemeti Jawa, mengapa mereka terpisah?

December 13, 2010

Peta Asia Tenggara dengan Sundaland Core dari Smyth dkk. 2007 di "overlay" dengan peta sebaran Stygo (bundar hitam) dan Charo (segitiga hitam)

Buat saya, pulau Jawa merupakan salah satu pulau yang menarik selain karena sebagai pulau dimana saya dilahirkan, tapi sekaligus memiliki tantangan yang harus memeras otak.

Dalam biologi ada ilmu yang disebut dengan biogeografi dimana ilmu ini mempelajari bagaimana suatu organisme tersebar dan bagaimana hubungannya dengan sejarah geologi atau sejarah bumi di suatu kawasan.

Ketika kuliah, saya tidak pernah memperhatikan materi kuliah khususnya biogeografi dan belum menemukan dimana asiknya “makanan” satu ini.

Sekarang saya sedang bertanya-tanya bagaimana Pulau Jawa ini terbentuk dan bagaimana pengaruhnya terhadap sebaran binatang khusunya kalacemeti.

Dan sekarang pula, saya baru menyadari mengapa di awal semester kuliah di Biologi UGM diajarkan mata kuliah Geologi. Bagaimana mengenal batuah dan mengenal jaman di Geologi meskipun semua itu menguap juga. Karena saat itu hanya menghafal dan menghafal dan belum menemukan esensinya kenapa harus ini dan itu.

Sejarah Jawa

Banyak peneliti bidang geologi khususnya bidang lempeng tektonik, menyepakati kalau Pulau Jawa mempunyai sejarah geologi yang menarik. Pulau Jawa terbentuk tidak sekonyong-konyong seperti yang ada saat ini dari barat di Ujung Kulon dan di timur Semenanjung Blambangan. (Ahli geologi meyakini kalau Jawa bagian barat lebih tua dari Jawa Bagin timur silakan lebih lengkap ikuti ulasan pak Rovicky di Dongeng Geologi).

Pulau Jawa tersusun oleh batuan dasar yang berbeda asal-usulnya dan mempunyai umur yang berbeda satu sama lain. Salah satu yang menarik adalah, Jawa bagian barat diperkirakan merupakan bagian dari Akhir Cretaceous  dan menjadi bagian inti dari Sundaland (Sundaland Core).

Sedangkan Jawa bagian timur, diyakini baru bergabung dengan Jawa bagian barat lebih belakangan sehingga membentuk Jawa seperti saat ini.

Jawa bagian timur diyakini berasal dari pecahan kecil benua yang terpecah dari Australia yang oleh beberapa peneliti disebut dengan “East Java Microcontinent” (Baca: Smyth dkk. (2007); Clements & Hall (2007) dan Sribudiyani dkk. 2007) yang konon mulai menabrak Jawa setelah Cretaceous atau sekitar 100-70 juta tahun lalu.

Satu sesar purba yang membentang dari Jawa sampai Meratus yang dikenal dengan Luk Ulo-Meratus seperti menjadi batas antara Jawa Bagian barat dan Jawa timur  dan diperkirkan menjadi tepi selatan Jawa pada pertengahan Eocene. Konon, sesar purba ini kini membentang ke utara timur membelah laut Jawa sampai ke bagian tenggara Kalimantan.

Kemudian  proses magmatisme dan volcanisme berkombinasi menyusun komposisi yang berbeda hingga terbentuk Jawa seperti saat ini. Dengan berbagai macam proses yang terjadi, memungkinkan adanya mekanisme terjadinya isolasi beberapa Biota yang ada di Jawa (Cracraft 1998).

Lantas, bagaimanakah fenomena ini berpengaruh terhadap sebaran dan evolusi binatang di Pulau Jawa? Mungkin kita bisa lihat dari fenomena kalacemeti…

Siapa

Saya hanya bisa berandai-andai dan dimungkinkan pengandaian saya dan interpretasi saya ini salah dan tidak masuk akal oleh beberapa kalangan.

Karena apa yang terjadi di Pulau Jawa sudah sangat tua dan puluhan bahkan ratusan juta tahun lalu. Namun, semua itu bisa terjadi dan semua bisa menjadi spekulasi yang rasional.

Kalacemeti dikenal mulai dimuka bumi ini sejak 320 juta tahun lalu, alias ketika waktu itu benua besar Gondwana masih menjadi satu kesatuan. Fosil kalacemeti yang ditemukan juga bervariasi, bahkan serpihan yang diperkirakan milik kalacemeti sudah ada sebelum 320 juta tahun lalu.

Fosil kalacemeti yang jelas bentukannya ditemukan sekitar 115 juta tahun lalu,artinya Jawa belum terbentuk dan Fosil ini ditemukan di Amerika Selatan jauh di Brazil sana. Mungkinkah fosil kalacemeti ada di Jawa atau Nusantara, mungkin saja.

Sebagai bagian karya imaginasi, sebut saja sebuah keluarga Charontidae yang menghuni bentangan dari Asia Tenggara sampai Austalia. Dan keluarga ini mempunyai dua anak sebut saja Charo dan Stygo.

Konon, Stygo hanya tinggal di Burma, semenanjung Malaya, Sumatra dan Jawa. Sedangkan kerabatnya Charo lebih kosmopolit yang tersebar dari utara Australia, New Guinea, Sulawesi dan pulau-pulau di Maluku bahkan sampai Filipina dan Jawa.

Meskipun berkerabat, sangat jarang mereka ditemukan hidup bersama-sama. Mereka hanya hidup berdampingan di kawasan yang sangat sempit dan hanya ditemukan di gua-gua Tuban di Jawa Timur.

Sedangkan di tempat lain, mereka cenderung saling menghindar dan tidak pernah ditemukan bersama-sama hidup dalam satu kawasan atau dalam satu gua.

Sejarah

Sebagai gambaran bagaimana sejarah mereka, anggap saja sebelumnya keluarga Charontidae mempunyai rumah terapung yang disebut dengan Gondwana, karena ada sesuatu hal rumah terapung itu pecah menjadi beberapa bagian sebut saja beberapa bagian ini menjadi bagian selatan tibet, Birma, Semenanjung Malaya dan Sumatra serta bagian kecil Jawa bagian barat dan Sulawesi Bagian barat.

Pecahan ini terpisah dari rumah Induk Gondwana diperkirakan sekitar 200juta tahun, mengapung ke utara dan membentur Eurasia. Di dalam rumah sempalan inilah terbawa salah satu anggota Charontidae yakni Stygo.

Sedangkan, Charo kerabatnya masih tinggal di rumah induk Gondwana yang kemudian juga terpisah dari Australia dengan terpisahnya New Guinea dan beberapa pulau kecil sekitar 50juta tahun lalu. Dari sini, Charo mulai berkembang dan beranak pinak dan menyebar dari New Guinea dan beberapa juga terbawa bersama bagian timur Sulawesi.

Sementara itu, Stygo yang menghuni Jawa bagian barat telah anteng tinggal disitu.

Sampai akhirnya, sempalan rumah induk yang membawa Charo membentur Jawa bagian barat dan membentuk rumah yang disebut pulau Jawa saat ini.

meskipun saat ini mereka tinggal di rumah besar bernama Jawa, tetapa Stygo dan Charo tetap menghuni rumah petaknya masing-masing kecuali di derah Tuban mereka berbagi kamar.

Sebaran

Dari sini, saya berimaginasi, bahwa sebaran apa yang ada saat ini tidak lepas dari pengaruh sejarah geologi Jawa yang begitu menarik dan rumit.

Stygo benar-benar tenang, hidup sejahtera menghuni Jawa bagian barat tersebar ke timur sampai di bukit menoreh dan ke timur laut sampai ke Grobogan dan Tuban.

Sementara Charon, dia tidak pernah menginvasi sampai jauh kebarat menghuni gua-gua di Jawa bagian barat. Sepertinya mereka tetap tenang menghuni pecahan benua di bagian selatan Jawa yang tersebar dari Gunung Kidul ke timur sampai bali dan jauh ketimur sampai Papua. Sedangkan di Jawa bagian timur di belahan utara, Charon ditemukan di bagian pantai utara Jawa, dari Tuban menyeberang sampai Pulau Madura dan Kangean.

Selain proses  geologi yang terjadi di Jawa, sperti yang diungkapkan sebelumnya proses magmatisme dan vulkanise juga memungkinkan sebaran seperti apa yang ada saat ini. Selain faktor tersebut, pengaruh naik turunya muka air laut beberapa kali juga diyakini menjadi kejadian penting terhadap terbentuknya pola sebaran kalacemeti di Jawa dan Nusantara secara umum.

Dari Jawa inilah, saya melihat Jawa benar-benar menarik untuk dikaji lebih jauh. Inilah sekelumit imaginasi saya yang harus terus saya kembangkan dan saya perkuat dengan data-data yang lebih kuat dari sejarah evolusi, jam molekuler dan fosil.

Jadi, bagaimana dengan binatang kesayangan anda??

Reff:

  1. Clements, B. & Hall, R., 2007. CRETACEOUS TO LATE MIOCENE STRATIGRAPHIC AND TECTONIC EVOLUTION OF. In Proceeding, Indonesian Petroleum Association, 31st Annual Convention & Exhibition, May 2007.
  2. Sribudiyani et al, 2006. THE COLLISION OF THE EAST JAVA MICROPLATE AND ITS IMPLICATION FOR HYDROCARBON OCCURRENCES IN THE EAST JAVA BASIN. In Twenty-Ninth Annual Convention & Exhibition, October 2003.
  3. Smyth, H. et al., 2003. Volcanic origin of quartz-rich sediments in East Java. In Indonesian Petroleum Association. Proceedings 29th Annual Convention, Jakarta. p. 541–559. Available at: http://searg.rhul.ac.uk/pubs/smyth_etal_2003.pdf.
  4. Smyth, H.R. et al., 2007. The deep crust beneath island arcs : Inherited zircons reveal a Gondwana continental fragment beneath East Java , Indonesia. Earth and Planetary Science Letters, 258, pp.269 – 282.
Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: