Skip to content

Kumbang gua dari Karst Maros, Sulawesi Selatan

February 8, 2011

Salah satu kumbang gua (illustrasi)

Selama beberapa dekade, penelitian biologi gua di Maros telah menambah daftar panjang kekayaan biodiversitas di Indonesia khususnya biodiversitas gua.

Sejak tahun 80-an, ekspedisi para caver dan peneliti Perancis di kawasan ini telah berkontribusi banyak pada pengungkapan kekayaan biodiversitas di kawasan eksotik ini.

LIPI dimulai tahun 2001, telah berkolaborasi dengan berbagai peneliti dari luar negeri juga telah secara terus menerus melakukan kegiatan penelitian di kawasan ini. Salah satu kekayaan yang menarik dan belum banyak dilirik adalah temuan beberapa jenis kumbang khas gua yang menghuni kegelapan gua-gua di Maros.

Hanya di Maros

Padah tahun 1990, Thiery Deuve melaporkan satu jenis baru yaitu Mateuius troglobioticus Deuve 1990 yang merupakan jenis kumbang daratan yang ditemukan di beberapa gua di daerah Maros. Kumbang ini ditemukan di gua-gua di sekitar Bantimurung.

Jenis ini merupakan marga baru Mateuius yang merupakan nama yang diberikan untuk seorang penelilti Dr. Mateu yang ada di Amerika.

Namun pada tahun yang sama Thiery Deuve merubah nama marga baru tersebut menjadi Mateuellus. Sehingga sejak saat itu nama jenis kumbang tersebut adalah Mateuellus troglobioticus.

Kemudian, ketika ekspedisi kerjasama MNHN Paris, NHM London, IMEDEA Spanyol dan MZB, Indonesia ditemukan beberapa koleksi baru kumbang di beberapa gua.

Pada tahun 2010, Deuve kembali mempublikasikan artikel pendek tentang deskripi tentang temuan anak jenis baru yakni Mateuellus troglobioticus faillei Deuve, 2010 yang merupakan anak jenis yang berbeda dari jenis yang di kenal di kawasan Bantimurung.

Anak jenis ini diyakini dari populasi berbeda karena ditemukan di gua yang jauh dari Bantimurung yakni di daerah Menge, sekitar Gunung Bulusaraung.

Anak jenis ini sendiri didedikasikan untuk kolektor kumbang ini yakni Arnaud Faille salah satu ahli kumbang yang saat ini sedang menempuh PostDoc di Munich, Jerman.

Kumbang air

Pada tahun 1996, Spangler seorang peneliti Smithsonian Institution Washingthon mempublikasikan temuan marga dan jenis baru kumbang air dari Maros. Kumbang ini masuk dalam kelompok Coleoptera dari famili Noteridae.

Dalam jurnal Insecta Mundi Vol. 10 (1-4), Spangler mengusulkan marga baru untuk kumbang dari Maros ini dengan nama Speonoterus. Asal kata nama tersebut sendiri diambil dari bahasa Yunanai “Speos” yang artinya gua dan “noterus” yang merupakan nama marga yang menjadi acuan dari famili “Noteridae”. Secara umum, nama ini berarti marga dan jenis dari famili Noteridae yang menghuni gua.

Sebagai dasar penamaan marga tersebut, ditentukan jenis tipe yang dipakai sebagai dasar dari genus Speonoterus, jenis tersebut dikenal sebagai Speonoterus bedosae Spangler 1996.

Jenis tersebut merupakan jenis yand didedikasikan untuk Dr. Anne Bedos yang merupakan salah satu kolektor kumbang gua tersebut ketika melakukan perjalanan ke daerah Mallawa pada tahun 1985. Dari salah satu gua di Mallawa tersebut beliau mengkoleksi beberapa ekor jenis tersebut.

Kumbang ini hidup di gua yang hanya memiliki panjang sekitar 50 m, dengan beberpa kolam air di dalamnya namun tidak ada aliran air. Pada saat itu, teramati sekitar 12 kumbang yang sedang merayap di dasar genangan air sekitar 30 meter dari mulut gua. Dilaporkan juga, jenis ini teramati tidak pernah berenang (Spangler 1996).

Kumbang khas

Setelah temuan beberapa jenis tersebut, pada tahun 2001, Deuve juga mempublikasikan jenis baru yaitu Eustra saripaensis yang merupakan salah satu jenis kumbang yang hanya ditemukan di satu gua yaitu Gua Saripa.

Karena hanya ditemukan di satu gua, jenis ini diberi nama sesuai dengan nama gua tersebut yakni “saripaensis”.

Kumbang berukuran kecil ini mempunyai jumlah yang sangat sedikit. dalam setiap temuan biasanya hanya teramati satu individu. Mereka hidup di tempat yang khas yakni lorong gua yang mempunyai bahan organik yang tersebar seperti di kayu lapuk atau bambu lapuk.

Ancaman

Keberadaan kumbang-kumbang ini tentu saja tidak lepas dari berbagai ancaman. Salah satu ancaman yang cukup nyata di gua-gua di daerah Maros adalah kegiatan penelusuran gua yang kurang ramah seperti perilaku membuang sampah plastik atau sisa karbid di dalam gua.

Gua Saripa, sebagai satu-satunya habitat kumbang Eustra saripaensis merupakan salah satu gua yang sering dikunjungi berbagai kalangan untuk kegiatan penelusuran gua.

Gua yang mempunyai kekayaan dan keunikan biodiversitas ini terletak di lokasi yang sangat mudah di capai dan mudah dikunjungi dan terletak di luar kawasan taman nasional sehingga upaya perlindungan terhadapa keberadaan kumbang-kumbang ini sangat minim.

Sedangkan jenis lain, karena ditemukan di beberapa gua masih mempunyai harapan dan mempunyai tingkat ancaman yang lebih rendah dan sangat berbeda dengan kondisi Gua Saripa.

Sehingga, diperlukan kesadaran dan upaya nyata khususnya dari para penelusur gua untuk lebih ramah dan memperhatikan etika penelusuran gua yang menjadi pegangan para penelusur gua.

Dengan tidak membuang sampah plastik atau sisa karbid sembarangan di dalam gua, setidaknya telah berkontribusi menjaga keseimbangan ekosistesm di dalam gua, selain itu melakukan penelusuran dengan ramah tidak merusak dan mengotori lingkungan gua juga upaya konkrit untuk menuju pelestarian.

Jadi, sekecil apapun hewan yang ada di dalam gua sudah sepantasnya mereka di beri hak untuk hidup dan meneruskan proses regenerasinya. Jangan sampai kita mencabut hak mereka untuk melangsungkan proses hidup mereka dengan tindakan-tindakan yang konyol.

Cave softly!!

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: