Skip to content

Hilangnya penyerbuk di muka bumi

February 21, 2011

Artikel ini sangat menarik dan “mendobrak” kelalaian kita, manusia, khususnya bangsa Indonesia yang abai dengan biodiversitas dan dampak perubahan iklim terhadapnya. Ini hanya sepenggal dari “ecosystem services” yang diberikan oleh biodiversitas yang ada di muka bumi ini. Lantas, masihkah kita abai dengan keberadaan biodiversitas disekeliling kita, sementara dampak perubahan iklim sudah menunjukkan tanda-tandanya di depan mata dan kita mungkin “sudah” terlambat untuk mengantisipasi apalagi mempelajarinya.

Bagaimanapun para taksonom dan ekologis harus berjibaku dengan fenomena ini. Hilangnya lebah, sebagai salah satu penyerbuk bunga tentu saja akan memberikan dampak ekonomi akibat dari “penyerbukan” yang tidak lagi gratis. Mereka harus mencari jalan untuk “menggantikan” lebah jika hal ini terus berlanjut. Kata Einstein, bumi hanya mampu bertahan selama 4 tahun tanpa lebah.

Selain lebah, kita mungkin perlu menengok dan memberi perhatian kepada kelelawar dan habitatnya yang banyak di gua-gua serta burung-burung yang berterbangan membantu penyerbukan dan menyebarkan biji. Bagaimanapun, biodiversitas menjadi bagian yang tak terpisahkan dari manusia. Masihkan kita mengabaikannya dan menganggap hanya sebagai ‘penghias’ muka bumi ini.

Kita harus berterima kasih kepada Lebah, kelelawar burung dan hewan-hewan dan tumbuhan yang telah melengkapi dan memberi manfaat bagi “kesejahteraan” manusia. Masihkah kita abai pada mereka?

Re-post dari Kompas (21/02/2011):

Tiada Lebah, Tiada Kehidupan

Ahmad Arif

”Jika lebah musnah dari muka bumi ini, manusia hanya sanggup bertahan selama empat tahun. Tak ada penyerbukan, tak ada tanaman, tak ada binatang lagi, tiada lagi manusia.” (Albert Einstein)

Ungkapan fisikawan Albert Einstein ini barangkali terlalu menyederhanakan, tetapi sebenarnya sangat masuk akal. Tanpa lebah, tak akan ada penyerbukan—setidaknya prosesnya akan berkurang drastis. Tiada penyerbukan berarti tiada makanan. Bagaimana manusia bisa bertahan tanpa makanan?

”Memang ada beberapa cara lain untuk membantu penyerbukan, tetapi lebah tetap yang terbaik. Setidaknya 90 persen penyerbukan tanaman biji-bijian dibantu lebah,” kata Warsito, ahli serangga Pusat Penelitian (P2) Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Namun, dunia saat ini terancam kehilangan lebah.

Salah satu fenomena terbaru adalah terjadinya colony collapse disorder (CCD). Dalam setahun sejak dilaporkan pada tahun 2007, CCD telah memunahkan sepertiga lebah (Apis mellifera) di Amerika Serikat dan menghabisi jutaan koloni di seluruh dunia (Alison Benjamin dan Brian McCallum dalam A World Without Bees, 2008).

Pada tahun 2009, Pemerintah AS melaporkan terjadi penurunan koloni lebah hingga 29 persen. Penurunan misterius lebah itu juga telah dilaporkan di Eropa, Jepang, China, dan sejumlah negara lain sehingga mengancam pertanian tanaman yang bergantung pada lebah penyerbuk.

Fenomena CCD masih belum jelas penyebabnya hingga kini. Namun, bisa dikenali dari gejalanya, yaitu sarang-sarang yang ditinggalkan lebah pekerja dan menyisakan sang ratu serta bayi lebah yang kelaparan dan akhirnya mati. Sejumlah peneliti menduga, CCD disebabkan hilangnya kemampuan navigasi lebah akibat perubahan iklim sehingga mereka tidak mampu menemukan jalan pulang ke sarang. ”Padahal, lebah serangga genius yang memiliki navigasi canggih. Kehilangan kemampuan navigasi bisa jadi akhir bagi lebah,” kata Warsito.

Sebagian ilmuwan menduga hal itu karena pestisida dan perubahan lingkungan.

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia?

Musim tanpa bunga

Pada setiap awal musim kemarau (Juni) hingga awal musim hujan (Desember), Kebun Raya Bogor biasa dipenuhi koloni lebah hutan (Apis dorsata). Pada bulan-bulan itu, Kebun Raya Bogor biasa ramai oleh dengung kepak sayap lebah hutan. Namun, suasana tiba-tiba berubah pada tahun 2010. Nyaris sepanjang tahun tak terdengar dengung Apis dorsata di sana. Peneliti lebah dari P2 Biologi LIPI, Sih Kahono, yang sejak 1993 meneliti lebah hutan di Kebun Raya Bogor, terkaget-kaget dengan situasi ini.

”Saya melihat beberapa peristiwa yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Irama alam kacau. Beberapa tanaman tidak berbunga. Ratusan ribu lebah dari 40 koloni yang biasanya muncul serempak dan pergi bersama-sama tak terjadi lagi,” kata Kahono.

Sepanjang tahun 2010, nyaris hanya 10 koloni yang datang. Itu pun jumlah lebah per koloni menurun drastis, nyaris separuhnya. Mereka juga tidak datang serempak. Sebagian yang bermigrasi kembali lagi. Bahkan, hingga Februari 2011, masih ada yang tinggal di Kebun Raya. ”Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Mereka gagal bermigrasi. Lebah sepertinya kebingungan membaca iklim. Mereka mungkin tidak tahu harus pergi ke mana. Bisa jadi itu pertanda CCD,” katanya.

Bagi Kahono, fenomena ini adalah pertanda masalah lebih besar. Perilaku lebah yang sudah terbentuk sekian lama menjadi kacau karena ritme alam berubah. ”Setiap hewan atau satwa dibekali kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan. Namun, tidak semua bisa. Kalaupun bisa, butuh waktu. Bisa jadi lebah termasuk yang akan gagal beradaptasi,” katanya.

Apalagi, selain perubahan iklim, lebah juga mengalami desakan yang luar biasa karena rusaknya habitat. Pestisida menjadi ancaman yang paling ganas, selain pembalakan hutan. Kahono mengatakan, sejauh ini belum ada penelitian yang rinci memetakan penurunan populasi lebah di Indonesia. Namun, dari penelitian intensif di sejumlah sarang sejak 10 tahun terakhir, Kahono menemukan penurunan jumlah koloni dan anggota tiap koloni sebanyak 30-50 persen.

Kuntadi, peneliti lebah di Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Kehutanan, mengatakan, lebah merah (Apis koschevnikovi) sekarang hanya ditemui di Kalimantan. ”Di Sumatera tidak ada lagi,” katanya.

Selain itu, lebah kerdil (Apis andreniformis) juga terancam punah. ”Lima tahun lalu, warga Ujung Kulon mengaku melihat Apis andreniformis. Dari deskripsi morfologinya memang benar. Namun, saya tidak bisa menemukan,” kata Kahono.

Fenomena sulit lebah alam ini juga dialami oleh lebah ternak. ”Tahun ini produksi madu di peternakan sangat turun,” kata Kuntadi, yang memelihara 150 koloni lebah eropa (Apis mellifera). Tiap koloni terdiri dari sekitar 10.000 lebah.

Setahun terakhir, tiap minggu, Kuntadi mesti memberi gula 150 kg untuk tambahan pakan lebah. ”Bukannya untung, justru merugi. Karena itu, banyak peternak yang mengurangi lebah mereka hingga separuh karena sulitnya cari bunga,” katanya.

Lalu apa jadinya jika lebah benar-benar punah?

Penyerbukan buatan

”Saya mendapat laporan di sekitar Gombong, Jawa Tengah, petani harus membantu penyerbukan tanaman melon dengan tangan karena lebah bangbara (Xylocopa spp) sudah sangat jarang,” kata Kahono.

Dalam skala besar, fenomena Gombong ini mengingatkan pada situasi di selatan Sichuan, China, saat ribuan orang dibayar untuk membantu penyerbukan buah pir. ”Setiap April, ribuan orang membawa galah bambu yang ujungnya ditempeli bulu ayam untuk membantu penyerbukan buah pir. Ritual ini terpaksa dilakukan setelah pestisida memusnahkan lebah di sana,” sebut Alison Benjamin (2009). Alison menyebutkan, penyerbukan buatan itu juga tak sepenuhnya sukses, selain juga membuat ongkos produksi pangan menjadi tidak rasional lagi.

Dari lebah kita bisa membaca, perubahan iklim benar-benar telah hadir. Tak hanya lebah yang terancam, bahkan kehidupan manusia itu sendiri dalam ancaman besar, sebagaimana diperingatkan Einstein, seberapa lama kita mampu bertahan tanpa lebah?

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: